
Di tempatnya Natasya hanya bisa terdiam saat Ibu dari sang atasan tiba-tiba memeluknya. Terlebih perempuan anggun tersebut mendekat tubuhnya dengan sangat erat, seperti memeluk seseorang yang sudah sangat lama ia rindukan. Meski terkejut, isi fikiran gadis tersebut juga dipenuhi tanya. Kenapa Zara tiba-tiba ingin memeluk dirinya, gadis yang sejatinya tak mengenal dirinya secara dekat?.
Sementara itu, Zara sampai memejamkan mata ketika tubuhnya saling melekat dengan Natasya. Perempuan itu begitu meresapi, dan merasa jika seseorang yang ia peluk adalah Anastasya. Hatinya basah, seiring kebenaran yang terbuka. Dalam pelukan Natasya, setiap momen yang pernah ia lalui bersama Anastasya seperti terulang. Pertemuan keduanya di depan pemakaman, Anastasya yang menolong dirinya saat diusir sebab tak mampu membayar kost, dan begitu banyak peristiwa lain seperti kembali hadir memenuhi fikiran Zara.
Zara kian terhanyut. Ia masih memeluk Natasya namun sebisa mungkin menyimpan tangisnya. Rupanya tanpa kedua perempuan itu sadari, Ernest sudah berdiri di depan pintu ruangan, dan dirinya melihat apa yang sedang Ibu serta Sekretarisnya lakukan.
Dahi pria tampan itu berkerut, dalam hati seperti sedang berfikir sebenarnya apa yang sedang terjadi pada kedua perempuan tersebut. Natasya dan Ibunya berpelukan?. Sedangkan yang Ernest tau jika kedua perempuan tersebut tak sedekat itu. Apa ini hanya kejadian yang tak disengaja.
Sejenak Ernest terpaku. Fikirnya kembali dipenuhi tanya saat belukannya tak terlepas untuk beberapa saat ditambah sepasang mata sang Ibu yang terpejam seolah benar-benar meresapi apa yang sedang perempuan itu lakukan.
Tak ingin tertangkap basah, Ernest mundur dan kembali masuk ke ruangan.
💗💗💗💗💗
Sekembalinya dari pertemuan bersama Ernest dan Natasya, Rangga tak langsung menuju ke kediamannya. Pria itu justru mendatangi sebuah rumah yang beberapa tahun sebelumnya kerap ia datangi.
"Di mana Roi," tanya Rangga pada seorang pria yang merupakan salah satu pengawal dari sang pemilik rumah.
"Tuan Roi sedang berada di ruang kerja. Mari saya antar, Tuan." Pria tersebut menawarkan.
"Baik."
Keduanya pun melangkah, menuju sebuah ruangan di kediaman beberapa lantai tersebut yang merupakan ruangan kerja Rio.
Pengawal yang melangkah mensejajari Rangga, menghentikan langkah di depan sebuah pintu ruangan.
"Tunggu sebentar, Tuan." Pria tersebut lantas mengayunkan keempat ruas jari tanggan untuk mengentuk pintu.
"Tuan, Tuan Rangga datang untuk berkunjung."
Senyap, tak ada jawaban.
"Tuan," ucap sang pengawal diiringi ketukan pintu.
"Ya, tunggu sebentar." Suara dari dalam membuat ke dua pria di luar menghela nafas.
Seiring derap langkah, pintu pun terbuka. Seraut wajah seorang pria menata penuh tanya pada Rangga.
__ADS_1
"Ada apa?." Pria tersebut bertanya. Pintu masih sedikit terbuka, dan sepertinya pria tersebut masih enggan menyuruh tamunya untuk masuk.
"Aku ada keperluan sedikit denganmu."
"Sedikit?." Pria bernama Roi itu tersenyum miring menanggapi jawaban sang tamu.
"Ya, seridaknya buka dulu pintumu dan izinkan aku masuk." Tanpa meminta persetujuan, Rangga mendorong tubuh Roi, hingga pintu ruangan terbuka dan dengan cepat ia menerobos masuk.
"Siialan, kau," maki Roi pada Rangga kemudian menutup pintu kembali. Meski terlihat kesal namun Roi membiarkan Rangga masuk dan memeriksa ruang kerjanya seperti biasa.
Jengah, dan malas Roi berjalan menuju sebuah sofa yang kini sudah diduduki Rangga. Di ruangan tersebut Roi tak bekerja sendiri. Ada beberapa pria yang bekerja sesuai keahlian dan rata-rata bekerja dengan menggunakan laptop atau pun barang elektronik canggih lain sesuai bagian.
Sejenak para staf Roi, melirik pada Rangga, pria sekaligus klien yang amat tak asing lagi bagi mereka. Seorang pria yang nyatanya sudah hampir dua puluh tahun menjadi klien sang bos.
"Ada apa lagi?." Roi bertanya sekenanya sembari menyulut sebatang rokok kemudian menghisapnya. (Ya Allah, Kang. Lu kgak puasa?). "Apa masih ada hubungannya dengan perempuan yang selama ini kau cari?." Sambung Roi.
Rangga menghela nafas dalam kemudian berucap, "Jangan di sini. Kita bicara di ruanganmu saja."
Meski enggan, Roi hanya bisa pasrah dan menuruti kemauan Rangga. Mereka berdua lantas menuju ruang kerja pribadi Roi yang letaknya cukup jauh dari ruang kerja para staf.
Rangga menjatuhkan bobot tubuh di sofa. Sementara Roi menutup pintu ruang kerja sebelum menyusul sang klien.
"Jika berhubungan dengan perempuan itu, maaf, aku sudah lelah. Kau tau sendiri, bukan setahun dua tahun aku bekerja, hampir dua puluh tahun memeras otak dan tenaga, tapi apa?. Dia tetap tak terjangkau, seolah seluruh aksesnya sengaja diblokir oleh seseorang. Maaf, Rangga. Aku angkat tangan."
Rangga adalah klien sekaligus teman dekat Roi. Sementara Roi sendiri merupakan seorang mata-mata kelas kakap yang juga penyalur dan pemilik sebuah agen yang menyediakan jasa detektif dan juga peembunuh bayaran.
Meski bisnis yang pria tersebut geluti ilegal, namun selama puluhan tahun berjalan, bisnisnya tetap aman dan tak tersentuh tangan hukum. Roi pria yang cerdas, cerdas dalam berbagai hal, hingga terlampau mudah mengelabui para aparat. Setiap pekerjaan yang melewati agen miliknya selalu mulus tanpa meninggalkan jejak. Tak ayal hal tersebutlah yang menggiring seorang Rangga untuk mencari keberadaan Anastasya hampir dua puluh tahun ini melalui agen milik Roi.
Pada awalnya, semenjak Anastasya menolak kembali padanya, Rangga memang sudah pasrah. Ia berusaha melupakan Anastasya dan ingin melanjutkan hidup. Akan tetapi selepas mendengar jika Anastasya pergi dan seolah menghilang tanpa jejak, Rangga pun mulai tak tenang.
Awalnya Rangga hanya iseng ketika meminta bantuan Roi. Mungkin sekadar ingin mencaei tau di mana wanita itu sekarang tinggal atau menikah dengan siapa perempuan itu sekarang selepas berpisah dari Arka dan menolak kembali padanya.
Akan tetapi jawaban dari Rio, justru membuatnya semakin penasaran. Bagaimana tidak, meski sudah dilacak dengan beberapa alat canggih dan para staf jenius Roi yang bekerja, Anastasya sama sekali tak meninggalkan jejak.
Kontrakan dan sebuah resto tempat perempuan itu terakhir bekerja, memang terdeteksi. Tetapi setelah Anastasya tinggal di sebuah rumah mewah milik seorang pria, tiba-tiba seluruh alat yang digunakan staf Rio bekerja, mati secara serempak. Sedangkan mereka tau jika rumah tersebut sudah di tinggalkan pemilik dan hanya meninggalkan dua orang Art.
Di situ, Roi masih tak ingin kalah. Ia kembali mengerahkan para stafnya untuk bekerja ditunjang alat pelacak dan hacker terbaik yang miliki untuk bisa membobol data diri pria pemilik rumah yang terakhir kali Anastasya tinggali. Akan tetapi, nihil. Semua akses seolah terblokir dengan sendirinya dan terus gagal sampai berjuta kali percobaan. Anastasya pergi tanpa meninggalkan jejak.
__ADS_1
Roi lelah. Ia menyerah, namun karna rasa Iba dan juga banyaknya uang yang Rangga berikan membuat pria itu mau tak mau melanjutkan sampai bertahun-tahun lamanya dan hasilnya tetaplah sama. Gagal.
"Rangga, bunuh saja aku. Bakar saja kantorku, asal kau mengizinkanku untuk menyudahi pencarian ini, aku lelah, benar-benar lelah," ucap Roi pada akhirnya, empat tahun lalu.
Rangga menyerah. Ia tersadar. Mungkin dirinya memang harus mengikhlaskan Anastasya bahagia bersama pria yang memang bukan dirinya.
"Ini bukan tetang Anastasya, tapi tentang gadis ini." Rangga mengulurkan ponsel pribadi miliknya. Rupanya tadi ia sempat mengambil foto Natasya dengan diam-diam.
Roi mengernyit, begitu menatap sebuah gambar dari ponsel Rangga.
"Dia kekasihmu?. Wow, dia terlihat masih sangat muda." Roi terkekeh dan melirik penuh arti pada Rangga.
"Boodoh, dia lebih pantas jadi anak dari pada jadi kekasihku." Rangga seperti tak terima atas tuduhan Roi padanya.
"Bukan begitu, legi pula kau juga masih terlihat tampan dan punya banyak uang. Sekarang yang dipandang gadis bukan hanya dari usia, tapi isi dari dompetnya." Roi kembali terkekeh, yang mana membuat Rangga geleng-geleng kepala.
"Gadis itu Sekretaris Ernest. Salah satu putra kembar dari Arka, sahabatku."
Roi seperti terkesiap.
"Jadi dia kekasih dari putra sahabatmu?."
"Ya, begitulah. Bukan tadi sudah kubilang jika dia lebih pantas jadi anak dari pada kekasih?."
Rio tergelak dan berucap, "Maaf."
"Aku ingin kau cari informasi dan data dirinya secara lengkap dan sejelas-jelasnya. Jangan ada yang tertinggal, dan yang lebih utama adalah data diri kedua orang tuanya. Faham?."
"Gampang, asalkan sepadan." Roi menata Rangga penuh arti.
"Jangan khawatir. Kau pasti tau, aku tak pernah main-main dalam segala termasuk saat membayarmu." Rangga lekas merogoh saku jas dan mengeluarkan lembaran kertas dari dalamnya.
Sebuah cek yang sudah ia tanda tanggani dan tertulis jumlah angka yang membuat Roi tersenyum puas.
"Senang bekerja sama denganmu, Tuan Rangga," ucap Roi seraya menjabat tanggan Rangga.
"Lebih baik kau ucapan kalimat itu selepas merampungkan tugasmu." Rangga bangkit dari posisinya. "Jika hasil kerja kalian memuaskan, masih akan ada bonus dariku yang bisa saja nominalnya lebih besar dari pada yang kuberikan padamu saat ini."
__ADS_1
Roi semakin berbinar sementara Rangga keluar dari ruangan dengan menyimpan harapan besar agar apa yang ia lakukan saat ini menemukan titik terang dari semua praduganya.
Tbc.