
Pagi yang cerah. Semua insan pengisi dunia antusias mengisi hari dengan berbagai aktifitas. Tak berbeda dengan Ernest. Selepas kembali dari kota xx untuk menghadiri acara pertunangan saudara kembarnya, pria muda itu kembali menjalani rutinitas bekerja di perusahaan milik sang Ayah.
Senyuman selalu tersungging di bibir saat para karyawan menundukan kepala kepadanya. Ernest berjalan begitu gagah menyusuri lantai dasar gedung sebelum memasuki lift menuju ruang kerjanya.
Saat pintu lift terbuka, seraut wajah cantik menyambutnya. Ernest menghela nafas. Sandara muncul tiba-tiba dengan senyuman terulas di bibir mungilnya.
" Pagi Sayang," sapa Sandara begitu lembut. Gadis itu mengulurkan tangan, berharap sang kekasih menyambutnya.
"Pagi juga, Cinta." Ernest menyambut uluran tangan sang kekasih. Sandara tersenyum kian cerah. Keduanya menyusuri lorong seraya bergandeng tangan menuju ruang kerja Ernest.
"Sayang, kau sudah sarapan?" Tanya Sandara begitu memasuki ruangan. Ruangan Erich didesain khusus. Cukup luas dan terasa nyaman. Sementara Sandara yang menjabat sebagai Sekretaris pribadinya, bekerja disatu ruangan yang sama dengannya.
"Em, belum." Ernest lekas menghampiri meja kerjanya, meninggalkan Sandara yang memilih duduk di sofa seraya membuka kotak bekal yang sengaja gadis itu persiapkan seperti hari-hari biasanya.
"Sayang, apa saja agenda kita hari ini?" Ernest menatap tumpukan map di atas meja. Huft, pria itu menghela nafas. Sepertinya hari ini ia akan melewati waktu malamnya untuk lembur.
"Kita ada rapat penting dengan para pemilik saham, mengantikan Tuan Arkana. Juga menghadiri jamuan makan siang dengan para kolega utusan dari Barathama Corp." Sandara menjelaskan sementara Ernest tampak menganggukkan kepala.
Sandara tersenyum tipis. Ia pun membuka bekal dan menata peralatan makan yang akan ia gunakan untuk sarapan bersama Ernest.
Sandara menunggu, ia juga menuangkan air mineral ke dalam dua gelas kaca seraya melirik dari ekor mata, memperhatikan gerak gerik Ernest yang masih tak berpindah dari meja kerjanya.
__ADS_1
Sandara mendengus. Ia menghela nafas dalam kemudian berucap, "Sayang, ayo kita sarapan. Aku sudah benar-benar lapar," rengek Sandara sembari mencengkeram pelan bagian perutnya.
"Tunggu sebentar," jawab Ernest tanpa mengalihkan pandangan dari lembaran berkas.
Sandara terbelalak, tak percaya. Ernest bahkan mengabaikan keberadaannya.
"Sayang, ayo. Aku benar-benar lapar sekarang," rajuk Sandara yang tak terima saat diabaikan.
"Em, bagaimana jika kau sarapan saja lebih dulu. Aku akan menyelesaikan pekerjaan ini sebentar." Pandangan Ernest hanya terpaku pada tumpukan map dan lembaran kertas yang berserak di meja kerja. Hanya dua hari mengambil jadwal cuti, namun tanggungan pekerjaan yang dilimpahkan Arkana padanya seolah terus melambai dan berteriak untuk lekas digarap. Ernest sendiri yang notabene seorang yang produktif dan pekerja keras, tak ingin abai. Tugas yang dilimpahkan sudah seperti amanat yang tak bisa begitu saja ia sepelekan.
Begitu mendengar jawaban Ernest, Sandara sontak mengepalkan kedua tangan. Giginya saling bergesekan seolah menahan rasa geram yang tak mampu untuk ia tahan.
"Apa maksudmu, sayang? Kau memintaku untuk makan lebih dulu, apa aku tidak salah dengar?" Tersenyum miring, San bahkan berdecak dan geleng-geleng kepala. Tak habis fikir dengan jalan fikiran sang kekasih.
"Cinta, aku mohon, jangan memancingku dalam situasi seperti ini. Makanlah lebih dulu dan sisakan untukku."
Brak.
Tanpa diduga, Sandara bangkit seraya menggebrak meja. Ernest terkesiap. Pria itu mengernyit, saat Sandara bangkit dengan mata membulat sempurna serta kedua tangan berkacak pinggang.
"Aku tidak percaya jika kau sudah benar-benar berubah, sayang. Kau seolah membangun jarak di antara kita dan selalu memiliki alasan untuk menjauh dariku. Katakan! Katakan apa salahku padamu, Ernest. Katakan!" Seperti kesetanan, Sandara setengah berteriak dan berdiri di hadapan Ernest dengan berurai air mata. Sedangkan Ernest sendiri dibuat terperangah. Terkejut dan kebingungan dengan reaksi spontan yang ditujunkan oleh sang kekasih tepat di hadapannya.
__ADS_1
Pria itu pun bangkit dari posisinya. Berniat untuk menenangkan dan memeluk tubuh sang kekasih yang bergetar, namun tanpa diduga sang gadis justru menepis kedua tangannya.
"Berhenti berpura-pura perduli padaku, Ernest. Hubungan kita memang sudah terjalin begitu lama, jadi wajar jika kau mulai bosan dan ingin berpaling dariku."
Ernest yang semula tenang kini mulai tersulut emosi. Ia menatap garang Sandara yang seolah menjadi pihak paling tersakiti di antara hubungan yang tengah dijalani. Bertahun lama menjalin kasih, siapa yang tak tau akan kemesraan mereka berdua. Begitu dekat hingga nyaris tak bisa dipisahkan. Akan tetapi siapa yang mengira jika seiring berjalannya waktu hubungan keduanya mulai merengang. Percikan cinta yang dulu membara, perlahan meredup bahkan nyaris padam saat kerikil-kerikil tajam mulai menghalangi langkah kaki keduanya.
"Kau fikir aku main-main dengan perasaanku selama ini, Cinta. Kau fikir hubungan yang kita jalani bertahun ini tak serius, tak ada tujuannya?" Nafas yang memburu serta tatapan yang menghunus tajam sempat meredupkan nyali seorang Sandara. Jarak yang hanya beberapa jengkal membuat Sandara tak kuat menatap sepasang mata tajam Ernest yang seolah sedang mengulitinya.
Sandara membuang muka. Tetap memasang wajah angkuh di hadapan pria yang ia cinta.
"Jika akhir-akhir ini kau terkesan abai dan menjauh, aku masih bisa menerima. Akan tetapi saat kau tak membawaku dalam pesta pertunangan Erich, sungguh aku tak terima. Kau seolah tidak menganggapku sebagai orang yang penting dalam hidupmu, lalu kau anggap aku ini apa?"
Ernest bungkam, hanya menatap sepasang mata Sandara lekat tanpa berniat menjawab pertanyaan sang kekasih.
"Katakan, Ernest. Kau anggap diriku ini apa? Diriku ini siapa dalam hidupmu?"
Lagi, Ernest hanya diam dan hanya tatapan mata tajam sebagai jawaban.
Dada Sandara naik turun seiring helaan nafas. Pandangan keduanya masih berpaut hingga beberapa saat sampai Sandara sendiri memilih untuk memalingkan wajah.
"Seperti yang kau tau, Cinta. Di sini bukan akulah yang berubah, tetapi kau! Keposesifan dan prasangkamu itulah yang justru menjadi musuh terbesar dalam dirimu. Kau semakin mengekangku bahkan menuduhku dengan prasangka-prasangka burukmu yang sama sekali tak terbukti kebenarannya. Sementara kau, justru menuduhku dan mengklaim jika dirikulah yang harus disalahkan dalam kisruhnya hubungan percintaan kita. Sadarlah, Cinta. Sebenarnya kau hanya sedang mencari pembenaran. Kau selalu menyalahkanku tapi menganggap dirimulah yang paling benar dan kau tau itu? Aku amat sangat membencinya. Sekalipun kau gadis yang paling aku cinta, maka aku pun tidak akan segan-segan untuk melepasnya." Ernest berpaling, memutar tumit lantas berlalu pergi. Langkah lebarnya membawa Ernest untuk keluar dari ruang kerjanya yang terasa begitu menyesakkan dada. Ia bahkan abai saat Sandara terus memanggil namanya.
__ADS_1
Berapa banyak lagi yang harus aku korbankan untukmu, Sandara. Aku sudah membangkitmu dari kubangan kemiskinan, menjadikanmu ratu hingga memberimu banyak kemewahan. Apartemen, pekerjaan bahkan pakaian pun kau tak perlu susah-susah membelinya, tapi apa yang ku dapat. Kau bahkan mengecewakanku sedemikian rupa. Membawa nama keluargaku yang kau jadikan alasan menjadi pemicu kerengangan hubungan kita. Ketahuilah Sandara. Sekalipun kau adalah gadis yang paling kucinta, tapi posisimu tak jauh berharga dari pada keluargaku. Ku harap kau bisa memahami hal itu.
Tbc.