
Mirip dengan Anastasya dan memiliki toko bunga.
Selama beberapa waktu fikiran Zara dipenuhi satu kalimat yang membuat kepalanya serasa mau pecah. Selepas berbicara dengan sang putra, Perempuan itu memasuki kamar, memilih untuk menyepi.
Ah, kenapa semenjak sarapan bersama di pulau xx, fikirannya terus tertuju pada Sekretaris baru putranya sendiri. Wajah cantik yang memiliki struktur wajah mirip seperti Anastasya, tak ayal membuat jiwanya tergugah. Terlebih saat Ernest menambahkan jika gadis bernama Natasya itu juga memiliki toko bunga. Toko bunga, dulu Anastasya pun sempat memilikinya.
Zara duduk termenung di bibir ranjang. Ingin abai, namun dari sanubari terdalam seperti ada yang menggelitik dari dalam dan memintanya untuk lebih mengenal sosok gadis yang sepertinya mulai disukai oleh putranya itu.
"Kenapa aku jadi penasaran, lagi pula jika Ernest menyukai gadis itu bukankah aku juga harus mengetahui latar belakang keluarganya?." Zara terdiam. Ia kembali mengingat pahatan wajah Natasya. "Tapi kenapa wajahnya sangat mirip dengan Kak Anastasya, ya meski pun ada sedikit perbedaan." Sepasang mata bening, hidung mungil, dan bibir tipis. Struktur wajah Anastasya dan Natasya memang serupa, hanya saja ada sedikit perbedaan di area mata. Jika Anastasya memiliki tatapan sayu, berbeda dengan Natasya yang memiliki bola mata bening dan tajam.
Mendadak kepala Zara semakin berdenyut, ia memilih untuk merebahkan diri di atas ranjang dan beristirahat. Sepasang matanya terpejam, namun perempuan itu dapat mendengar jika pintu kamar dibuka dari luar.
"Sayang," panggil seseorang yang tak lain adalah Arka.
"Ya," jawab Zara lirih namun tetap terbaring di ranjang.
Begitu mendapati sang istri berbaring di jam seperti ini membuat Arka cepat mendekat.
"Sayang, kau kenapa. Sakit?." Tergopoh Arka mendekati ranjang dan membungkuk untuk memeriksa kondisi istrinya. Meraba kening dan memberi ciuman di bibir. Pria itu takut jika ada sesuatu yang terjadi pada belahan jiwanya.
"Em tidak, aku hanya sedikit lelah jadi memutuskan untuk beristirahat." Zara lekas merubah stelan wajah menjadi ceria. Di depan Arka dirinya selalu berusaha untuk terlihat bahagia meski terkadang ia harus menutupi beban dari pandangan mata sang suami.
Hidup dengan Arka tentu suatu kebahagiaan baginya. Menikah dengan pria yang mencintainya sekaligus dikaruniai tiga buah hati yang tampan dan cantik yang semakin menyempurnakan hidupnya. Akan tetapi siapa yang tau jika dihati terdalamnya perempuan itu seakan memiliki beban berat ketika menginjak setiap fase kehidupan dalam berumah tangga bersama Arka.
Rupanya Anastasya masih menjadi alasanya. Selama Zara belum menemukan dan mendengar kabar kehidupan Anastasya, rasa bersalah akan tetap bersarang dalam dada dan akan pernah musnah.
Sedalam itulah rasa bersalah Zara. Disetiap kebahagiaan dirinya bersama Arka, ketahuilah jika segumpal tangis yang perempuan itu simpan ketika mengingat Anastasya, perempuan yang sudah memiliki jasa besar dalam hidupnya.
"Benarkah?." Arka kembali meraba kening sang istri. Tidak panas, gumamnya.
"Baiklah, tapi aku tidak bisa menemanimu di rumah. Aku dan Rangga akan menemui klien di suatu tempat." Pria dengan stelan jas berwarna Navy itu melabuhkan satu kecupan di kening sang istri. Sepasang mata tajamnya menatap sang istri dengan hangat, sebuah pandangan yang tak pernah berubah semenjak keduanya menikah. Zara akui, Arka tak pernah berubah. Diusianya yang kian bertambah dan semakin banyak hari yang mereka lewati bersama, segala bentuk perhatian dan kasih sayang yang tercurah tak pernah berubah.
"Sayang, apa kau mencintaiku?." Satu pertanyaan yang keluar begitu saja dari bibir Zara, yang mana membuat Arka mengerutkan kening.
"Tentu saja. Apa kau meragukan rasa cintaku padamu selama ini?." Arka terlihat tidak suka begitu mendengar pertanyaan sang istri.
__ADS_1
Zara tergelak. Ia usap lembut rahang kokoh sang suami yang tiba-tiba mengeras akibat emosi.
"Maaf, aku hanya bercanda."
"Dan itu sama sekali tidak lucu, sayang."
Sejenak Zara menyesali ucapannya. Akan tetapi sudah terlanjur terjadi dan tigal seperti apa usahanya untuk meluluhkan hati sang suami yang mulai tersulut emosi.
Sepasang tangan kecil itu mulai meraba bagian dada sang suami. Arka masih diam, tak memberi respon apa pun namun terlihat menikmati. Lebih berani lagi, Zara menciumi seluruh bagian wajah sang suami dan berakhir di bibir sensual sang pria. Ah, bibir yang membuat Zara candu dan tergugah untuk terus mennyesapnya.
Jika beberapa saat lalu Arka tak merespon, namun berbeda halnya dengan saat ini. Pria itu justru bergerak lebih aktif untuk menikmati bibir kemerahan istrinya. Ketika keduanya mulai diselimuti gairah, Arka lekas melepaskan pagutan.
"Kau yang lebih dulu menggodaku, Sayang. Jadi jangan salahkan aku bila tak kunjung mengakhiri." Arka melepaskan dasi, jas dan kemejanya sebelum kembali mengincar bibir mungil yang sudah membengkak akibat ulahnya.
Zara tersenyum. Ia bisa bernafas lega sebab sudah berhasil meluluhkan hati sang suami dan melupakan sejenak masalah yang ada.
💗💗💗💗💗
Selepas percintaan panas, Arka keluar untuk melanjutkan agendanya untuk bertemu Rangga dan klien meski sudah sangat terlambat dari waktu yang ditentukan. Biarlah, Arka tak ambil pusing. Pria itu justru tersenyum puas setelah berhasil menaklukkan Zara di atas ranjang.
Sementara Zara, perempuan itu lekas membersihkan tubuh dan menghubungi kontak seseorang.
Setelah berfikir beberapa jam, keputus inilah yang akhirnya ia ambil.
"Namamu Reza 'kan?."
Tubuh seorang pria muda yang tak lain adalah pengawal junior di rumahnya mendadak tegang sebelum menganggukkan kepala.
"Be-benar Nyonya, Sa-saya Reza." Terbata-bata pria bernama Reza itu menjawab.
"Aku ada pekerjaan untukmu." Beberapa jam lalu Zara bahkan mengendap masuk ke ruang kerja sang suami untuk mencari data diri reza beserta nomor ponselnya.
"Pe-pekerjaan?." Pria itu memberanikan diri untuk menatap wajah sang majikan.
"Ya."
__ADS_1
"Tapi kenapa hanya ada saya seorang tanpa para pengawal lain?." Reza berani juga menyerukan suara hatinya. Itulah yang jadi pertanyaan sejak tadi. Dia hanya mendapatkan pangillan lewat seluler dan meminta bertemu di tempat sepi seperti ini. Terlebih dirinya tak boleh berkata pada siapa pun tentang pertemuannya ini dengan majikannya.
"Karna pekerjaan ini khusus untukmu. Jangan khawatir, aku akan memberimu imbalan yang sama besar dengan kerja kerasmu."
Reza menelan salivanya susah payah. Ia takut dan juga gugup. Ia takut jika Zara hanya akan menjebaknya, hingga ia dikeluarkan dari pekerjaannya saat ini.
"Maaf, tapi pekerjaan seperti apa dulu, Nyonya?."
Zara lekas mengulurkan selembar foto pada Reza, meminta pada pria itu memegang kemudian melihatnya.
"Cari tau tentang kehidupan, latar belakang dan apa pun itu yang berhubungan dengan gadis di dalam foto. Dia bernama Natasya, Sekretaris pribadi Ernest."
Tubuh Reza menegang. Ia berfikir, ada ada apa sebenarnya ini sampai dirinya yang notabene hanya seorang pengawal dan bukan mata-mata, mendapatkan tugas yang melenceng jauh dari pekerjaannya.
"Tapi, Nyonya..."
"Dan tugas yang kau kerjakan sebisa mungkin tak diketahui oleh siapa pun termasuk rekan apalagi suami dan anak-anakku." Zara berubah tegas, tak selembut biasa. Kali ini dirinya harus terlihat serius agar Reza tak berani menolak permintaannya.
"Tapi, Nyonya. Bagaimana mungkin saya bisa bergerak seorang diri tanpa diketahui rekan apalagi Tuan Sam, saya takut, Nyonya." Reza mengiba, ia seperti memohon agar Zara tidak membebankan tugas berat ini padanya.
"Selain membayar hasil kerjamu dengan uang, aku juga akan akan membiayai pendidikan ke dua adikmu sampai lulus perguruan tinggi. Sebuah rumah juga akan menjadi hak milik selepas tugas yang kubebankan berhasil kau kerjakan."
Reza meneguk ludah. Imbalan yang akan ia dapat sungguh menggiurkan, akan tetapi ia pun tak yakin jika bisa melakukan tugas tersebut tanpa hambatan.
"Tapi, saya takut, Nyonya."
"Apa yang kau takutkan?." Sepertinya Zara mulai geram. "Kau hanya perlu mencari data diri gadis itu tanpa diketahui siapa pun. Mudah 'kan?."
Reza diam, dia tetap tidak yakin bisa melakukannya.
"Apa imbalan yang kujanjikan masih kurang?."
"Bukan!." Reza menjawab cepat. "Nyonya, ini bukan sekadar perkara imbalan. Saya takut jika ketahuan, maka karir saya sebagai pengawal keluarga Nyonya akan hancur, begitu pun dengan masa depan saya."
"Jangan khawatir, untuk masalah itu aku bisa membantumu. Yang terpenting, berusahalah untuk bekerja serapi mungkin. Pergi secara diam-diam dan melakukan pekerjaanmu tanpa menimbulkan kecurigaan. Jika kau sudah berusaha namun bisa tertangkap." Zara menjeda sejenak ucapan . "Aku pun akan turun tangan untuk melindungimu."
__ADS_1
Reza bergeming. Ia masih berfikir. Sementara Zara sendiri sudah kehabisan kata. Ia pasrah andai pengawal muda itu menolak. Jika reza tak bersedia, maka mau tak mau dirinya harus mencari jasa detektif untuk memuluskan rencananya.
Tbc.