
Di dalam ruang perawatan Erich mendadak gelisah. Beberapa saat lalu ia meminta Isabel untuk pulang, namun kini ia menginginkan gadis itu untuk tetap di sampingnya.
Cih, perasaan macam apa ini? umpatnya dalam hati.
Erich melirik pada Agung yang duduk seraya memeriksa ponsel dalam gengaman.
"Katakan pada perawat, aku ingin pulang."
Agung mendongak, menyimpan benda pipih itu dalam saku jas kemudian menatap Erich penuh tannya.
"Pulang? Anda ingin pulang? Tetapi bagaimana dengan luka tuan?"
Ck
Erich berdecak.
"Lukaku terbilang ringan dan sepertinya tak perlu mendapatkan perawatan secara intensif di tempat ini. Rawat jalan mungkin akan menjadi alternatif yang tepat." Terdengar seperti bukan penawaran namun lebih tepatnya perintah. Agung menghela nafas dalam. Rupanya sifat keras kepala sang tuan bukan hanya tentang pekerjaan tetapi juga keinginan hatinya.
Luka Erich memang tidak cukup parah. Tetapi luka bekas tusukan itu cukup dalam dan harus mendapatkan jahitan. Darah yang keluar juga tidak banyak, namun wajah Erich begitu pucat selepas kejadian. Bisa saja pria itu syok akibat kejadian mengejutkan yang baru saja dialaminya dan Agung sadar jika sang tuan butuh penanganan.
"Tapi, apa tuan benar-benar merasa lebih baik sekarang?" Ragu, sekali lagi Agung bertanya untuk memastikan.
Erich setengah melotot kemudian sigap bangkit dari ranjang perawatan dan menggerakkan bagian tubuhnya terkecuali lengan di bagian yang terluka.
"Nah, seperti yang kau lihat. Aku baik-baik saja." Seperti bocah, Erich percaya diri memamerkan kondisi tubuhnya terkini pada Agung yang justru menanggapinya dengan bibir berkedut, menahan tawa.
Sejak kapan Tuan Erich berubah menggemaskan seperti bocah begini?
__ADS_1
"Kenapa tertawa? Kau fikir aku lucu?" Erich berkacak pinggang dan membuang muka, tak terima dengan respon yang ditunjukan oleh Agung.
"Maafkan saya tuan. Baiklah, jika anda menginginkan maka saya akan meminta pada dokter untuk membawa anda pulang."
"Hem, tinggal bilang begitu saja apa susahnya." Erich berdecak. Kembali duduk di ranjang perawatan sembari bersedekap dada.
Agung pun bergerak. Begitu sudah keluar dari euang perawatan, pria itu geleng-geleng kepala. Tak habis fikir dengan sikap tuannya.
"Dia sudah dewasa, tapi akhir-akhir ini sifatnya berubah seperti bocah." Agung lekas mencari tenaga medis untuk lebih cepat mengabulkan keinginan tuannya sebelum pria itu kembali merengek bak bayi besar.
💗💗💗💗💗
Isabel memejamkan kedua matanya sejenak. Di dalam kamar tamu yang semalam ia tempati, gadis itu tengah meresapi peristiwa beberapa jam lalu yang baru saja menimpannya.
Kenapa tuan Erich yang terluka dan bukan aku saja, sebab nyawakulah yang mereka inginkan.
"Pasti sangat sakit," gumam Isabel masih dilanda kekhawatiran.
Isabel kembali mengenakan pakaian pemberian Erich. Gadis itu tak mengira jika pada detik ini dirinya masih berada dikediaman mewah milik pria yang sejatinya masih cukup asing baginya.
Sedang bertarung dengan fikirnya, tiba-tiba ponsel milik Isabel yang tergeletak di nakas, bergetar.
Gadis itu terkesiap, bersamaan dengan raut sedih yang tergambar jelas di wajahnya. Sang Ayah mengirimkan sebuah pesan. Bertanya kabar dan keadaannya. Bulir bening sontak mengalir tanpa bisa dicegah. Seperti ikatan batin yang terpaut kuat, sang ayah seolah bisa merasakan jika sang putri dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Tak ingin membuat sang ayah bertanya-tanya, Isabel pun lantas membalas pesan dan mengatakan jika sang ayah tak perlu khawatir. Hanya saja gadis itu masih enggan mengatakan kapan dirinya akan kembali ke ibu kota.
Ponsel dalam gengaman Isabel nyaris terlepas saat ketukan di pintu membuatnya terkejut.
__ADS_1
Isavel bergegas meraih gagang pintu dan menemukan seraut wajah perempuan paruh baya yang ia kenal sebagai pelayan di kediaman Erich.
"Ada apa, bi."
"Maaf nona. Di bawah ada tuan besar dan nyonya yang baru saja datang dan beliau mengatakan jika ingin bertemu juga menyapa nona."
Glek.
Isabel menelan ludahnya susah payah. Tak mengira jika saat ini dirinya akan dihadapkan pada masalah besar. Bertemu dengan orang tua Rangga. Demi tuhan, dia belum siap. Isabel takut. Keluarga Erich pasti marah besar jika tau kejadian yang sebenarnya.
"Nona, ayo. Tuan besar dan nyonya sudah menunggu." Perempuan paruh baya itu mulai menyentuh lengan Isabel, meminta sang gadis untuk lekas bergerak.
"T-tapi, bi. Sa-saya takut." Wajah Isabel bahkan pucat pasi pun telap tangannya yang berubah dingin.
"Jangan khawatir. Nona bisa menjelaskan dengan perlahan. Bukankah ini suatu kecelakaan. Jadi tuan dan nyonya pun tidak bisa sembarangan menyalahkan anda," ucap pelayan itu seolah menenangkan, meski nyatanya tak sedikitpun mengurangi ketakutan pada diri Isabel.
Isabel tak berdaya saat tangannya digengam untuk keluar kamar. Beberapa kali menutup mata dan menghirup nafas dalam saat suara pria dan wanita mulai tertangkap indra pendengarnya.
Suara riuh itu berubah senyap bertepatan dengan Isabel yang menginjakkan kakinya di ruang tamu. Gadis itu mendongak, nyalinya benar-benar menciut saat beberapa pasang mata tengah menatapnya tajam.
Isabel ingin menangis. Bahkan sekujur tubuhnya ikut gemetar. Terlebih saat sepasang matanya bertabrakan dengan dua pasang mata pria dan wanita paruh baya, yang gadis itu yakini sebagai orang tua dari Erich.
Tamatlah Riwayatmu, Isabel.
Tbc.
Isabel
__ADS_1