
Pasca kejadian penamparan, Isabel memilih menghindar. Enggan bertemu apalagi menyapa Ibu dan saudara tirinya. Hatinya terlalu sakit walau hanya sekedar mengingatnya. Mereka sudah menorehkan luka terlampau dalam. Hingga Isabel sendiri tak yakin jika bisa bertahan di rumahnya sendiri untuk waktu yang lebih lama lagi.
Kembali berkutat dengan pekerjaan, Isabel bisa sedikit melupakan beban dihidupnya. Berkumpul dan bercengkerama bersama rekan kerja, membuat senyum dibibirnya tak pudar. Sesekali mereka pun berbagi makanan dari wadah bekal yang sempat dibawa. Tak ada persaingan, sesama rekan nampak saling bahu membahu dan bekerja secara disiplin. Isabel pun merasa nyaman, tak memiliki banyak kendala seperti yang sempat ia takutkan saat hari pertama bergabung.
Erich pun demikian. Isabel kini cukup bisa bernafas lega. Pasalnya Erich cukup baik memperlakukannya. Cukup jauh berbeda saat pertama kali ia datang. Meski masih tak banyak bicara, namun bentak dan cacian, kini jarang terlontar dari bibir pria itu yang ditujukan untuknya.
"Tuan Erich sebenarnya orang yang baik. Hanya saja beliau selalu menuntut kesempurnaan dari para pekerjanya, tanpa terkecuali." Retno selalu megingatkan, meski sejujurnya Isabel tak pernah mengungkit apa pun tentang perlakuan atasannya itu padanya. Akan tetapi dari raut wajah tertekan sang gadis, membuat paruh baya itu yakin jika Isabel cukup kesulitan mengimbangi cara kerja sang tuan.
Kini, setelah beberapa minggu bersabar dan terus belajar. Erich mulai melunak. Pria itu bahkan meminta Isabel untuk menemani waktu petangnya untuk sekedar mengobrol dan menghabiskan secangkir kopi hasil racikannya.
Lengkung tipis Isabel mengukir senyuman yang begitu manis. Ia cukup mengagumi sosok Erich. Meski terlihat dingin dan angkuh, namun Erich merupakan sosok pekerja keras juga disiplin. Berdedikasi tinggi sekaligus patut menjadi panutan para pekerjanya.
"Isabel." Gadis itu terkesiap. Lamunannya buyar seiring suara cempreng yang menyapa indra pendengarnya.
"I-iya." Isabel gelagapan dan mendapati seorang Starla sudah berdiri dihadapannya.
"Tuan Erich meminta kopi seperti biasa."
"Siap." Gadis lekas berlari menuju pantry. Bukankah lebih cepat membuatnya maka akan lebih baik juga nasibnya. Ditatapnya segelas kopi itu dengan senyuman. Setidaknya masih ada sesuatu yang bisa dibanggakan darinya dan bahkan seorang Erich pun sepertinya menyukai kopi racikannya.
Setidaknya, kaulah yang menjadi penyelamatku dari bos galak itu.
Isabel terkekeh dalam hati. Kemudian membawa secangkir kopi itu segera keruangan Erich.
💗💗💗💗💗
"Ehem."
Erich berdehem, yang mana membuat Isabel yang hendak mendaratkan secangkir kopi kemeja tuannya nyaris terlonjak.
Dasar.
Gadis itu menggerutu, namun tetap di dalam hati mengingat tak memiliki keberanian untuk mengucapnya secara langsung.
__ADS_1
Kau bisa dicepat dengan tidak manusiawi andaikata sampai kelepasan memakinya.
"Permisi tuan." Isabel menundukan kepala dan hendak keluar ruangan.
"Tunggu!"
Hem
Isabel mendongak, menatap sang tuan. Disaat bersamaan pandangan keduanya pun berpaut.
"Turunkan pandanganmu."
"Baik, tuan." Isabel spontan menundukan kepala.
Diluar dugaan Erich justru memindai penampilan Isabel. Menatapnya dari ujung rambut hingga sepatunya. Menyisir lagi dan berhenti dijemari Isabel yang berpautan.
Mana cincinya? Kenapa tidak ada?
Erich menelan ludah. Tiba-tiba gelisah.
Hah.
Gadis itu masih terdiam.
"Pergilah. Tugasmu sudah selesai 'kan?"
Lah??
"Baik, tuan." Isabel lekas berbalik badan dan berlalu pergi. Gadis itu masih menggerutu bahkan saat tubuhnya sudah keluar dari ruangan Erich. Akan tetapi, tetap saja, ia masih setia untuk menggerutu cukup di dalam hati. Bahkan ingin rasanya mencubit bibir sexy Erich dengan gemas, namun sepertinya hanya bisa di dalam mimpi. Sial.
Sementara itu di dalam ruangan CEO.
Erich ingin rasanya memaki diri dan juga tertawa disaat yang bersamaan. Dasar bodoh. Kenapa laporan Agung justru membuat rasa ingin taunya tiba-tiba meluap.
__ADS_1
Seseorang yang Agung kirim untuk mengikuti pergerakan Isabel, memberi laporan yang rupanya tak jauh dari dugaannya.
Isabel tinggal diperumahan Elite yang berada dipusat kota. Namun, utusan itu tidak bisa mendapatkan informasi gamblang mengingat kediaman yang menjadi tujuan sedang melangsungkan acara pertunangan.
Erich kembali dibuat penasaran. Isabel memang meminta Izin, jadi apakah yang melangsungkan pertunangan saat itu adalah Isabel.
*Tetapi kenapa dia tidak memakai cincin? Bukankah seharusnya dipakai sebagai pengikat hubungan.
Ah bisa saja dia melepasnya saat bekerja dan memakainya saat di rumah. Lalu kenapa dia bisa menjadi OG diperusahanku, dan mengantikan Retno yang memang khusus bekerja padaku. Apa dia gadis yang sengaja diselundupkan beberapa pihak untuk mencari kelemahanku*?
Beberapa praduga bermunculan dan membuat Erich sedikit cemas.
Benarkah gadis seperti Isabel berniat buruk padanya?
Jika iya, setidaknya mulai detik ini aku harus waspada.
💗💗💗💗💗
Ratih terpaku menatap kearah lemari usang yang berada di dalam ruang rahasia. Di dalam ruangan berukuran cukup luas yang lebih mirip disebut gudang ini, Ratih menghabiskan beberapa saat waktunya untuk berfikir. Pintu sengaja ia tutup rapat dari dalam. Berharap tak akan ada satu orang pun yang menemukannya.
Semenjak kepergian Laura, Ratih memang menyimpan kunci ruangan dan memberikannya pada siapa pun. Beruntung Praja dan Arum sama sekali tak merasa curiga padanya.
Dibalik semua yang mengira ruangan seperti gudang ini adalah tempat rahasia yang bisa mengubah hidup Isabel kapan saja andai Ratih menyerahkannya.
Yakin jika tak ada siapa pun yang melihat, Ratih membuka lemari usah dengan kunci yang tersimpan di dalam saku pakaian. Membukanya perlahan hingga tak menimbulkan suara.
Sebuah brankas berwarna kuning keemasan seketika menyapa indra penglihatan.
"Aman, terimakasih ya tuhan." Sepasang mata Ratih berkaca-kaca. Puji syukur ia panjatkan. Rasanya begitu bahagia saat melihat brankas yang ia jaga dengan taruhan nyawa masih tetap aman di tempatnya.
Ratih mengeser benda berukuran sedang itu. Menekan beberapa tombol hingga benda yang semula tertutup itu terbuka.
Kembali Ratih menghela nafas lega. Saat mendapati sesuatu di dalamnya masih utuh saat diperiksa. Tak berubah saat terakhir kali memeriksanya sekitar satu tahun lalu.
__ADS_1
"Setidaknya dengan benda peninggalan mendiang Nyonya, bisa membuat masa depan anda lebih baik, Nona." Ratih bermonolog. Mengucap pengharapan akan kehidupan yang layak untuk Isabel.
Ratih menutup brankas itu kembali dan menyimpannya. Disaat yang tepat ia pun akan memberikannya pada Isabel. Tak ingin gegabah dan memastikan semuanya aman barulah ia akan bertindak.