
"Bertahanlah Isabel, aku mohon." Untuk kesekian kali kalimat serupa terucap dari bibir Erich yang dengan setia mendekap tubuh Isabel yang terbaring tak berdaya di atas pangkuannya.
"Kenapa lama sekali? Tambah kecepatan. Apa kau tidak lihat jika Isabel mengeluarkan banyak darah," maki Erich pada supir pribadinya yang menurutnya begitu lamban mengemudikan kendaraan. Padahal sang supir sudah melajukan kendaraan secepat mungkin. Menyalip pengendara lain agar cepat menuju rumasakit.
"Isabel bertahanlah, aku mohon." Gadis dalam pangkuan itu sudah tak merespon. Erich menepuk pipi sang gadis, berusaha membangunkan. Akan tetapi sayang, sepasang mata bening yang tadi masih terbuka, perlahan menyipit hingga kini terpejam sempurna.
"Tidak!! Isabel, aku mohon bertahanlah. Aku mohon bertahanlah!! Erich meraung.
💗💗💗💗💗
"Dokter, cepat selamatkan dia." Erich berlari dengan mengendong tubuh Isabel. Tim medis bergerak sigap. Memindahkan tubuh Isabel ke atas brankar dan lekas membawanya ke ruang Instalasi gawat darurat.
Erich yang tak sabaran berniat untuk ikut masuk ke dalam ruangan, akan tapi seorang tim medis spontan mencegahnya.
"Kenapa ditahan? aku ingin melihat prosesnya lebih dekat." Tak terima, Erichbahkan mendorong tubuh seseorang yang berusaha mengunci pergerakannya.
"Maaf tuan. Kami hanya menjalankan prosedur. Akan lebih baik jika tuan menunggu di jajaran kursi yang disediakan. Jangan khawatir dan percayakan semua pada kami, tim medis yang bertugas." Pria berkacamata itu menepuk pundak Erich sebelum berlalu pergi meninggalkan Erich menuju ruangan di mana Isabel berada.
Erich yang mulai tersadar itu menghela nafas berulang. Menetralkan hawa panas yang sempat menjalar di tubuh terutama otak. Erich yang biasanya pandai mengontrol emosi diri, mendadak kesetanan saat mendapati Isabel tak berdaya dengan luka tusuk di bagian perutnya.
__ADS_1
"Arum, aku benar-benar tidak akan memaafkanmu," desis Erich seraya meraup kasar wajahnya. Pria itu tampak frustrasi. Ingin rasanya ia memutar waktu, merubah takdir hingga kondisi seperti ini tak akan terjadi. Tetapi tiada guna, semuanya sudah terjadi.
Erich menjatuhkan bobot tubuh di atas kursi tunggu. Seorang diri ia menunggu Isabel dengan tak henti merapalkan doa.
"Andai aku bisa mencegah perempuan sialan itu untuk memelukmu, maka hal ini tidak akan pernah terjadi Isabel. Sekarang kita pasti sedang duduk bersama dan tidak di rumasakit seperti ini Isabel." Erich menjambak rambutnya frustrasi. Lebih frustrasi lagi saat menatap kearah kemeja yang membalut tubuh bagian depannya yang hampir dipenuhi noda darah Isabel.
"Ya tuhan, kau pasti sangat kesakitan Isabel." Terasa sesak di dada saat Erich mengarahkan pandangan ke pintu ruang Instalasi gawat darurat yang masih tertutup. Ia menangkup wajah dengan kedua tangan. Tak sanggup membayangkan kesakitan yang dialami Isabel atas luka yang gadis itu derita.
"Bersabarlah, Ayah tau gadis itu kuat. Dia pasti bisa melewati semua prosesnya." Arka menepuk bahu sang putra yang terlihat begitu terpukul. Sam juga ikut bersamanya. Kedua pria dewasa itu duduk bergabung. Tak bisa berbicara banyak mengingat kondisi putranya yang masih kacau dan mudah emosi.
Pintu ruangan terbuka. Seorang dengan pakaian serba putih keluar. Erich dan Arka spontan bangkit dan mendekat.
"Kondisi pasien masih belum sadarkan diri. Kondisinya begitu lemah akibat terlalu banyak mengeluarkan darah."
Tubuh Erich seakan melemah dan tak bertenaga. Ucapan sang dokter seakan meremukkan tulang-tulang dalam tubuhnya. Tubuh Erich merosot ke lantai. Gemetar akibat dihantui rasa bersalah.
"Dokter, upayakan apa pun untuk bisa menyelamatkan nyawanya. Lakukan tindakan apa pun agar nyawa gadis itu bisa tertolong." Arka mewakili sang putra yang sepertinya begitu syok hingga tak mampu berkata-kata. Sebagai orang tua, dengan mata kepalanya sendiri ia menyaksikan bagaimana sang putra selemah dan sekacau ini oleh sebuah keadaan. Terlebih pada seorang gadis asing. Arka menghela nafas dalam, ia bimbing tubuh sang putra untuk bangkit dan mendudukannya di sebuah kursi.
"Baik, tuan. Kami akan berupaya semaksimal mungkin, akan tetapi ada suatu hal yang ingin saya sampaikan."
__ADS_1
"Tentang?" Arka menyipitkan pandangan, menebak kalimat apa yang akan diucap oleh dokter pria itu.
"Pihak rumasakit sudah tidak memiliki stok golongan darah xx yang dibutuhkan pasien. Sementara pasien Isabel yang cukup banyak kehilangan darah, harus mendapatkan pendonor dalam waktu cepat sebelum semuanya terlambat."
Glek.
"Apa, pendonor dengan golongan darah xx dok?" Tanya Arka memastikan.
"Benar tuan sebe--"
"Dokter ambil saja darahku dok, ambil saja darahku. Golongan darah kami sama dok, cepat ambil saja darahku dok, ambil saja darahku!" Erich bangkit dan menguncang-guncang tubuh sang dokter. Pria yang sempat hilang setengah kesadaran itu, langsung tersentak begitu mendengar Isabel membutuhkan darah yang secara kebetulan sama persis dengan golongan darahnya.
Dokter yang tubuhnya tengah diguncang-guncang Erich itu terkesiap. Ia menelan ludah kasar, takut-takut jika pria muda tiba-tiba menghajarnya andai ia menolak permintaannya.
"Ya, baiklah baiklah anak muda. Saya akan dengan senang hati mengambil darahmu demi memperjuangkan nyawa gadis yang sepertinya sangat berharga untuk dirimu." Tak banyak kata, dokter tersebut lekas menarik lengan Erich dan membawanya masuk ke dalam ruangan. Hingga beberapa saat kemudian.
"Aw, ayah.... Tolong....! Aku takut jarum, aku takut jarum! Tolong ayah, gantikan posisiku. Aku tau darah kita sama. Cepat tolong aku, aw...." Suara itu kian melemah hingga berubah senyap. Di jajaran kursi tunggu. Arka dan Sam membekap mulut, menahan tawa. Ia tau jika sedari kecil Erich takut pada jarum suntik. Dan ini kali pertama ia tanpa sadar menyanggupi sebuah permintaan yang tanpa sadar mengacaukan dirinya sendiri. Hehehe, terima saja kebucinanmu Erich.
Tbc.
__ADS_1