CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Siapa Dia?


__ADS_3

Waktu masih menunjukan pukul 07;35 menit begitu Natasya menginjakkan kaki di sebuah lobi perusaan seraya mendekap sebuah map. Hari ini dia akan melamar pekerjaan atas rekomendasi Emely, teman barunya.


Sekali lagi ia memastikan logo perusahaan yang tercetak besar di sisi kanan pintu masuk gedung.


Ya, benar. Ini nama Perusahaan yang semalam Emely sebut.


Sejujurnya Natasya sendiri tak yakin. Akan tetapi sedari semalam Emely terus mendesak, memintanya untuk mengajukan lamaran kerja di Atmadja group.


Jam kerja memang belum dimulai, Natasya pun memilih duduk di kursi tunggu sementara petugas resepsionis berdiri di balik meja kerjanya.


Ketika Natasya memutuskan untuk bekerja, tentu Anastasya merasa keberatan. Sang Ibu berharap jika putrinya hanya akan membantu pekerjaannya di toko bunga. Menemaninya sekaligus menjadi teman bicaranya. Akan tetapi, keinginan sang putri pun tak kuasa ia cegah.


Saat Tasya meminta Izin seraya menangkupkan kedua tangan layaknya memohon, Anastasya tidak bisa berkata 'Tidak'. Sang Ibu pun mengizinkan, namun tetap membuat peraturan khusus yang wajib dipatuhi oleh sang putri.


Belasan menit berlalu, seluruh karyawan tampak berbaris rapi. Di tempat duduknya, Tasya pun ikut berdiri, menatap sekeliling ingin tau apa yang sebenarnya terjadi.


Rombongan pria berbadan tegap memasuki pintu utama gedung. Rupanya para petinggi perusahaan datang dan mendapatkan sambutan dari seluruh karyawan. Selepas para petinggi perusahaan berlalu, rupanya para karyawan masih tetap berdiri di tempat. Alunan lagu kebangsaan diputar. Memenuhi seluruh penjuru ruangan. Seluruh karyawan menyentuhkan tangan ke dada, sementara bibir bergerak mengikuti alunan lagu.


Tasya seakan terhipnotis. Menatap sekeliling, bukan hanya para karyawan, namun beberapa orang yang ada di dalam gedung pun melakukan hal sama. Spontan ia pun mengikuti. Berdiri tegap, menempelkan telapak tanggan di dada dan menyanyikan lagu kebangsaan.


Bibir gadis itu mengulas senyum simpul. Meski bukan terlahir di tanah air, namun selama ini ia selalu mempelajari tentang negara kelahiran ke dua orang tuanya dari internet dan buku-buku sejarah pemberian mendiang Ayahnya.


Bahkan banyak lagu-lagu kebangsaan yang juga dihafal Natasya, dan kini ketika dirinya benar-benar hidup di tanah air, hal yang sudah ia pelajari dulu rupanya sangat memberi manfaat untuk dirinya juga pekerjaannya kelak.

__ADS_1


Para pekerja mulai berkutat dengan rutinitas masing-masing. Tasya lekas menghampiri meja resepsionis, untuk menpercepat proses pendaftaran kerja.


Senyum terukir dari perempuan dengan take name Lestari yang tersempat di pakaian depan sang resepsionis. Ia pun meminta pada Tasya untuk memberikan berkas pendaftaran kerja pada bagian personalia. Gadis itu pun mengikuti arahan, memberikan lampiran dan data diri pada HRD dan tinggal menunggu konfirmasi lanjutan.


Natasya bernafas lega. Setidaknya berkas lamaran kerja sudah berhasil ia kumpulkan. Entah akan diterimanya dia atau tidak, ia pun tak bisa berbuat banya.


"Lagi pula masih ada wawancara juga beberapa tahapan lagi yang harus dilalui." Natasya bergumam begitu akan keluar dari pintu utama gedung Atmadja group. Selepas ini ia akan ke toko bunga. Bertemu sang Ibu juga membantunya berjualan.


Entah karna terlalu asik melamun atau tak memperhatikan jalan, Natasya tanpa sengaja bersenggolan dengan seorang pria yang rupanya juga terkejut dan tak sempat menghindar.


Gadis itu sontak membungkukkan separuh badan. Ia juga sempat mengintip dari sudut mata jika seseorang yang senggol, mengenakan stelan jas resmi dan memiliki postur tubuh tinggi besar.


"Maaf, Tuan. Saya tidak sengaja."


Pria itu masih terdiam, dan mengatur detak jantungnya akibat rasa terkejut.


Dalam hati, Natasya berharap jika pria tersebut bukanlah salah satu petinggi perusahaan Atmadja group. Jika iya, maka Natasya bisa memastikan bila ia tak akan lolos dalam tes.


"Tidak apa-apa. Sudah, jangan membungkuk seperti itu?."


Ucapan sang pria membuat Natasya mulai menegakkan kepala secara perlahan meski pun takut. Saat gadis itu memberanikan diri menatap seseorang yang menjadi korbannya, rupanya pria itu juga sedang melakukan hal yang sama.


Siapa dia?.

__ADS_1


Bukan sosok pemuda, namun sosok pria matang-lah yang kini berdiri tak jauh dari Natasya. Dahi gadis itu mengernyit, mendapati sang pria yang seolah tak berkedip saat melihat wajahnya.


"Tuan, maafkan saya. Mungkin saya terlalu ceroboh, hingga tidak memperhatikan jalan dan sampai menabrak anda."


Pria itu masih terdiam, seraya menatapnya lekat.


"Tuan," panggil pria di sampingnya yang mungkin saja bawahan sang pria yang kini masih menatap Natasya tanpa kedip.


"Tuan."


Kali ini pria itu mulai mengerjap dan seperti baru tersadar dari lamunan.


"Tidak apa-apa. Mungkin aku juga yang sedang tidak memperhatikan jalan." Pria itu tersenyum samar menatap Natasya, sebelum akhirnya melanjutkan lagi perjalanan.


Natasya pun demikian, ia kembali meneruskan langkah sesuai dengan rencananya mengunjungi toko bunga Ibunya.


Sementara itu seorang pria yang baru saja tersenggol Natasya, berjalan memasuki gedung Atmadja group dengan fikiran justru tertuju pada gadis yang baru saja ia temui.


Siapa dia, kenapa wajahnya hampir mirip dengan...


Pria itu menghela nafas dalam. Entah mengapa, walau hanya sekedar menyebut namanya saja, ia tak kuasa.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2