
Pulang dengan membawa kekecewaan, begitu kiranya yang dirasa Erich saat ini. Bukan kecewa pada Isabel, tetapi pada dirinya sendiri.
Bodoh. Memang siapa diriku sampai-sampai menawarkan bantuan pada seseorang yang sama tak mengsekaliinginkannya.
Erich memasuki kediaman orang tuanya dengan langkah lebar. Wajah pria itu tampak datar dan tak ada sedikitpun senyum yang menghiasi bibir sensualnya.
Ernest yang nyatanya berada di salah satu sudut ruangan yang dilalui Erich, seketika tersenyum penuh arti saat mendapati wajah masam sang saudara kembar. Ia pun tak tahan untuk lekas menggodanya.
"Hai Brother. Bukankah kau baru saja berkencan? Tetapi kenapa kau cepat sekali pulang dan dengan wajah tertekuk seperti itu pula?" Ernest bahkan terkekeh geli, yang mana membuat saudara kembarnya itu kian sebal.
Erich memilih tak menanggapi dan kembali mengayunkan langkah menuju kamarnya, namun dengan cepat Ernest menahannya.
"Tunggu sebenentar. Aku bahkan belum selesai bertanya Brother."
Erich menghela nafas. Menatap datar Erich yang berada tepat di hadapannya seolah menahan langkah kakinya.
"Apa lagi yang ingin kau tanyakan. Aku bahkan tak berminat untuk menjawab pertanyaan yang akan keluar dari bibirmu." Erich berada dalam mode menyebalkan saat ini di mata Ernest. Ernest cukup faham jika sikap saudara kembarnya ini kerap berubah-ubah sesuai dengan suasana hatinya. Ia bisa mendadak ramah juga spontan berubah super ketus jika sedang diliputi masalah. Akan tetapi, seperti apa pun sifat dan sikap Erich, ia tetaplah saudara terbaik bagi seorang Ernest.
"Katakan, apa kau menyukainya?" Erich mengernyit, tak faham dengan pertanyaan Ernest.
"Maksudmu?"
Ernest berdecak. Ia tak habis fikir.
__ADS_1
"Apa kau menyukai Isabel?"
Terlihat Erich menghela nafas dalam. Ia pun mengalihkan pandangan agar tak bersitatap dengan sepasang mata elang Ernest yang nampak tengah mengintimidasinya.
"Tidak semua isi hatiku bisa kau tau. Jadi tidak usah mencecarku dengan pertanyaan yang bahkan aku sendiri tak tau jawabnya." Erich tak ingin berdebat. Ia menyingkirkan tubuh Ernest yang berusaha menghalangi langkahnya. "Minggir," ketus Erich.
Bukannya marah Ernest justru tergelak dengan tingkah kekanakan saudaranya. Sesusah itukah mengungkapkan sebuah kejujuran.
💗💗💗💗💗
Begitu memasuki kamar, Erich lekas mengunci pintunya dari dalam. Untuk sementara ia tak ingin mendapatkan ganguan dari saudara kembarnya yang menyebalkan itu.
Tubuh Erich lelah pun dengan fikirannya. Ia lekas menanggalkan seluruh pakaian dan berjalan kearah kamar mandi untuk membersihkan diri. Setidaknya dengan menikmati guyuran air dingin di seluruh tubuhnya, dapat mendinginkan suasana hatinya yang sempat memanas pula.
Perasaan apa ini?
Tak tau pasti kapan rasa itu mendadak timbul. Hanya saja setiap melihat gadis itu sedih dan ketakutan, alam bawah sadarnya seolah meminta padanya bergerak cepat untuk bisa melindungi dan menenangkan hingga membuat gadis itu aman.
Terlebih saat Retno menceritakan seperti apa kehidupan Isabel selama ini. Erich merasa bersalah. Ia menyesal sebab pernah beberapa kali memaki dan mengumpat Isabel saat gadis itu pertama bekerja padanya.
Setiap kesalahan itu wajar dilakukan, terlebih bagi orang baru yang sejatinya masih membutuhkan bimbingan.
Maafkan aku, Isabela.
__ADS_1
Erich mengakhiri ritual mandinya selepas merasa tubuhnya kembali segar sekarang. Ia menarik sebuah handuk berwarna putih yang tergantung di dinding guna menutup tubuh polosnya yang masih lembab. Hanya sebatas pinggang sang pria, sementara bagian atas tubuhnya dibiarkan terbuka.
Erich berjalan menuju tempat pakaian. Di depan kaca berukuran besar, ia menatap pantulan tubuhnya sesaat. Tubuh tegap dengan bahu bidang dan otot perut yang berbentuk namun tak berlebihan. Sejenak Erich mengagumi segala yang ada di tubuhnya sendiri. Akan tetapi beberapa detik berikutnya, pria itu menghela nafas dalam seolah sebagai bentuk kekecewaan.
Dalam paras dan tubuh nyaris sempurna ini, ia masih saja sulit untuk menemukan tambatan hati. Apakah ada yang salah dengan dirinya? Entah. Erich bahkan tak tau jawabnya.
Erich sudah mengenakan pakaian santainya saat keluar dari ruang pakaian dan mendapati ponsel miliknya yang tergeletak di atas nakas bergetar. Menunjukan jika ada panggilan masuk.
Pria itu lantas memeriksanya, hingga mendapati nama Retno yang tertera di layar benda pipih miliknya.
"Hallo bu Retno," sapa Erich begitu panggilan terhubung.
"Ha-halo, tuan." Suara jawaban dari seberang. Retno terdengar terbata saat berucap, bahkan perempuan paruh baya itu juga terisak.
Erich terkesiap. Timbul kecemasan seketika di wajah Pria tampan itu.menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi pada Retno.
"Bu, Bu Retno, ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi?" Erich sibuk menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi.
"Tu-tuan," lirih Retno dari seberang.
"Iya, ada apa? Apa yang terjadi?" Erich sampai meninggikan nada bicarannya. Pria itu luar biasa cemas kini, tetapi berubah gemas saat Retno masih saja tak jelas menjawab semua tannya dirinya.
"Ter- terbakar tuan, Terbakar." Retno tak lagi melanjutkan kalimannya tapi justru terisak pilu. Sementara Erich langsung memutuskan panggilan.
__ADS_1
"Aku harus pulang sekarang," gumam Erich setelah tersadar jika ada sesuatu yang tak beres tengah terjadi di rumah pribadinya.
Tbc.