CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Mendapat Izin


__ADS_3

Permintaan Natasya untuk mengunjungi makam sang Ayah rupanya mendapat tanggapan positif dari sang Ibu. Rencananya Ibu dan Anak itu akan melakukan perjalan bersama dan akan diagendakan pada dua hari kedepan tentunya setelah Natasya mendapatkan izin dari Ernest.


Seperti pagi ini, setelah bersiap dan mengendarai kuda besinya menuju gedung Atmadja Group rencananya Natasya akan menemui Ernest dan meminta izin untuk sementara waktu. Meski ia sendiri tak yakin jika atasannya tersebut akan memberi izin.


Maju, mundur. Antara ragu untuk menghadap namun lebih akan menyesal lagi jika sampai hari ini ia belum jua meminta izin pada Ernest sedangkan tiket penerbangan sudah dipesan.


"Duh, bagaimana ini?." Natasya hilir mudik di depan pintu ruang kerja sang atasan. Hendak mengetuk namun ragu. Sedangkan saat ini, tepat enam puluh menit lalu keduanya lepas makan siang bersama namun Natasya belum punya keberanian untuk sekadar mengucapkan keinginannya. Izin untuk beberapa hari kedepan guna mengunjungi makam sang Ayah di Negara XX.


"Bagaimana kalau Tuan tidak mengizinkan?." Natasya bermonolog. Sepertinya ia berusaha mencari waktu yang tepat namun ia masih saja tak berani bicara sampai lebih dari waktu jam makan siang.


"Duh, jangan sampai waktu kerja hari ini habis tapi aku belum juga berani mengatakannya. Bisa hancur semua rencana." Natasya kesal pada diri sendiri. Memang apa yang ia takutkan dari Ernest. Toh akhir-akhir ini karna masalah orang tuanya membuat mereka menjadi lebih dekat.


Beberapa saat berlalu dan Natasya masih bertahan dengan kegiatan tidak bergunanya. Hilir mudik di depan pintu ruang kerja Ernest. Sesekali gadis itu melamun, dan tiba-tiba lamunan gadis itu buyar selepas pintu ruangan Ernest terbuka.


"Natasya, apa yang sedang kau lakukan?." Ernest yang baru muncul dari balik pintu yang terbuka, menatap heran pada sang Sekretaris yang berdiri di depan pintu ruang kerjanya. Sedangkan pria itu sama sekali tak mendengar adanya ketukan pintu atau pun panggilan dari luar.


Natasya tersenyum kikuk. Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal akibat ditatap oleh sang atasan dan sukses membuatnya makin salah tingkah.


"Kau ini kenapa?." Ernest bingung, terlebih Natasya masih belum mau bicara.


"Em, saya hanya ingin meminta izin."


"Izin?." Ernest mengerutkan kening. "Izin untuk apa?."


Walau takut, pada akhirnya Natasya memberanikan diri. Gadis itu meminta untuk masuk ke ruang Ernest agar mudah untuk berbicara tanpa didengar orang lain.


Natasya mulai menjelaskan perihal lamaran Rangga pada Ibunya kemudian rencananya untuk mengunjungi makan sang Ayah di Negara XX. Ernest terlihat memperhatikan dalam setiap penjelasan Natasya. Ia diam dan hanya mendengarkan sampai gadis di depannya itu selesai berbicara.


"Saya mohon agar Tuan bisa memberi izin selama dua atau tiga hari." Sebenarnya gadis itu sanksi jika sang atasan akan memberi izin. Sebab rencananya terbilang mendadak, dan untuk seluruh tugasnya entah akan berpindah pada siapa andai ia tinggalkan.

__ADS_1


Ernest masih diam namun terlihat jika pria taman itu menghela nafas dalam.


"Kau hanya ingin pergi dengan Ibumu?."


Pertanyaan Ernest sontak membuat Natasya mengangguk.


"Benar, Tuan. Saya dan Ibu."


Lagi, Ernest menghela nafas dalam kemudian meraih ponsel miliknya di atas meja kerja. Sepertinya pria itu akan menghubungi seseorang. Suasana di dalam ruangan kembali senyam saat Ernest hanya berfokus pada ponsel pribadi yang dipegang sedangkan Natasya terlarut dalam pikirnya sendiri. Gadis itu hanya takut bila Ernest tak memberi izin. Sudah dibayangkan kesedihannya nanti andai pernikahan Ibunya dengan Rangga berlangsung tanpa mengunjungi makam sang Ayah lebih dulu.


"Halo."


"...."


Ernest tampak serius. Ia tetap duduk sedangkan pandangannya tertuju pada beberapa berkas yang ia tanda tangani.


" Bisa gantikan aku untuk beberapa hari kedepan?. "


"Ya. Kau hanya perlu mengikuti semua yang terjadwal diagenda."


" . . . . . . "


"Ya, aku percayakan semua padamu." Ernest memutuskan panggilan. Ia tutup berkas yang semula ditanda tangani dan kini pandangannya beralih pada Natasya.


"Aku memberimu izin asal kau mengizinkan aku untuk pergi bersama kalian."


"Apa?." Natasya terkesiap. "Tu-tuan akan ikut pergi bersama kami ke Negara XX?."


"Ya," jawab Ernest dengan suara ringan. "Kalian perempuan dan hanya berbua. Akan berbahaya jika bepergian keluar negeri tanpa ada satu pun pria yang mendampingi kalian."

__ADS_1


Natasya terperangah. Sebentar, ia bahkan tak yakin jika Ernest akan pergi bersamanya untuk mengunjungi makam sang Ayah.


"Lalu bagaimana dengan perusahaan, dan bagaimana dengan Ayah Tuan nanti jika tau anda pergi bersama saya dan meninggalkan perusahaan." Giila apa?. Natasya tentu tak ingin disalahkan. Ia tau benar resiko besar yang menghadang andai Ernest pergi karna ikut dirinya.


"Jangan khawatirkan hal itu. Ayahku pasti mengerti dan untuk masalah perusahaan, seperti biasa aku sudah membebankannya pada Langit. Dia pasti bisa aku andalkan." Langit, putra Sam sekaligus Asisten pribadi Ernest, pria yang paling bisa diandalkan dalam segala situasi. Akan tetapi Natasya tetap tak enak hati.


"Jadi kita akan berangkat esok hari?." Ernest bertanya saat Natasya diam. Pria itu tau, Sekretarisnya mungkin merasa bingung Namun inilah dirinya. Tak bisa ditebak dan tak bisa dipinta oleh sembarang orang.


"Benar dan kemarin Ibu juga sudah memesan tiket penerbangan."


"Wow," sambar Ernest. "Kau belum meminta izin libur tetapi sudah berani memesan tiket?." Ernest tergelak dan pura-pura geleng kepala.


Wajah Natasya memucat dan tertunduk dalam. Gadis itu sadar jika membuat kesalah. Benar ucapan Ernest. Andai pria itu tak memberi izin, pasti tiket yang dipesan pun hangus.


"Maaf, Tuan."


Ernest, pria rupawan itu menatap lembut Natasya. Ia hanya berniat menakut-nakuti tetapi gadis itu benar-benar ketakutan dan merasa bersalah.


Aku menyukai sifatmu, Natasya.


"Tidak perlu merasa bersalah. Lagi pula kita sudah pasti akan ke XX bersama esok hari 'kan?."


Gadis itu mengangguk.


"Keluarlah, untuk keberangkatan esok hari kita akan membicarakannya lewat telefon."


Wajah Natasya tampak cerah pun sepasang matanya yang ikut berbinar. Gadis itu bangkit, ia sempat berpamitan dan menundukkan kepala pada Ernest sebelum keluar dari ruangan atasannya tersebut.


Izin sudah dikantongi. Kini untuk bisa mengunjungi makam sang Ayah bukan lagi hanya ayalan.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2