CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Tertidur


__ADS_3

"Buatkan aku secangkir kopi lagi."


Gadis berlesung pipi itu terkejut. Apa? Kopi lagi? Bosnya itu bahkan sudah menghabiskan empat cangkir kopi sedari pagi tadi dan kini ia meminta secangkir kopi yang kelima.


Isabel menghela nafas. Sesuka itukah pria dingin itu pada kopi? Dan kenapa harus kopi buatannya?.


"Kenapa? Kau menolak?" Erich bertanya dengan nada ketus. Tak suka melihat Isabel yang banyak berfikir dan lambat bergerak.


"Baik. Akan saya buatkan." Isabel lekas menjauh. Faham akan posisinya yang bisa dipecat kapan saja andai cara kerjanya tak sesuai dengan keinginan sang tuan.


Di pantry dapur Isabel kembali berkutat dengan mesin pembuat kopi untuk yang kesekian kali belum genap sehari ini.


Erich memang tak pernah memprotes apalagi memuji kopi buatannya, namun akhir-akhir ini kenapa pria itu seperti ketagihan dan terus memintanya lagi dan lagi.


"Memang kopi buatanku seenak itu sih," gumam Isabel berbangga diri.


Aroma kopi menguar, menyapa indra penciuman. Isabel mengirup dalam aroma kopi dalam-dalam.


Satu cangkir Americano yang dibuat dengan menggunakan satu shot espresso yang dicampur dengan air panas saja sehingga menghasilkan secangkir kopi yang lebih ringan dan rasanya pun tak terlalu pahit seperti espresso itu rupanya menjadi candu tersendiri untuk Erich. Ah yang benar saja..


Isabel berdecak. Terlalu awal bagimu untuk menyimpulkan segala sesuatu, isabel.


Berjalan cepat, gadis dengan seragam khusus office girl itu memacu waktu untuk mencapai ruang CEO dengan cepat.


Isabel lebih dulu mengetuk pintu, setelah terdengar jawaban barulah gadis itu berani membuka pintu dan memasuki ruangan.


"Silahkan, tuan."


"Heem."


Menunggu. Isabel masih menunggu reaksi sang tuan. Memberinya perintah atau justru membuatkannya kopi kembali sebab kopi yang baru saja ia suguhkan, tak sesuai keinginan.


Senyap. Hanya detak jam dinding yang terdengar.


Satu menit.

__ADS_1


Lima menit.


Hingga lima belas menit Isabel masih berdiri terpaku dan tak bergeser barang seinci pun.


Sial. Kakiku sudah pegal.


"Hei, kau."


Isabel tersentak. Akhirnya sang tuan menyadari keberadaannya setelah limabelas menit waktu berjalan.


"Sa-saya pak."


"Apa kau tak mempunyai lain?" Erich menatap tajam Isabel, yang mana membuat gadis itu langsung tertunduk. "Keluarlah," ucap Erich lagi.


"Ba-baik tuan."


Isabel menundukan kepala pada Erich sebelum keluar dari ruangan.


"Isabel," panggil seseorang yang membuat gadis itu terkesiap.


"Kakak sudah mau pulang?"


"Ya, jam kerjaku sudah habis. Lagi pula staf-staf lain pun sudah meninggalkan kantor."


Starla kini mendekati Isabel.


"Kenapa, apa tuan Erich memarahimu lagi?" Gurat kecemasan nampak di wajah ayu Starla. Dua tahun menjabat sebagai sekertaris Erich membuat gadis itu faham. Erich adalah atasan yang selalu menuntut kesempurnaan pada seluruh bawahannya. Ia pun tak segan memberi sanksi bahkan pemecatan andaikata menemukan stafnya tak bekerja secara profesional atau pun asal-asal.


Dan kini Isabel keluar ruangan Erich dengan wajah pias. Mungkinkah gadis itu melakukan kesalahan?.


"Kau melakukan kesalahan?" Cecar Starla lagi.


Isabel menggeleng dan berucap, "Tidak, kak. Tuan Erich tidak memarahiku."


"O.., baiklah. Aku pulang lebih dulu jika tidak ada apa-apa." Starla melirik ke arah pintu ruangan yang tertutup rapat. "Tuan Erich memang pulang terlambat setiap harinya. Bu Retno cukup faham dan duduk menunggu di kursi sana," Starla menunjuk sebaris kursi yang berada di lorong. "Sampai Tuan Erich pulang."

__ADS_1


Isabel mengarahkan pandangan kearah kursi yang baru saja ditunjuk oleh Starla.


Sepi.


"Aku pulang, maaf tidak bisa menemanimu lebih lama."


"Tidak apa ka, aku baik-baik saja."


Starla mengusap bahu Isabel lembut sebelum melangkah menuju pintu lift.


Isabel menatap sekeliling. Ruangan kini sepi selepas Starla pergi. Di lantai tertinggi gedung memang hanya diisi oleh beberapa staf penting dan sebagian besar dari mereka sudah pergi mengingat berakhirnya jam kerja.


Gadis berkulit putih bersih itu melangkah gontai menuju jajaran kursi yang berada di sisi lorong. Begitu sepi, beruntung sinar lampu terang benderang, setidaknya mengusir sedikit rasa takut yang kerap menghinggapi Isabel saat berada di ruang asing seorang diri.


Duduk bersandar, Isabel mengistirahatkan tubuhnya sebelum kembali berjibaku dengan sapu dan kain pel. Dirogohnya sebuah ponsel usang guna mengusir kebosanan.


Huh, rupanya ponselku tidak cukup pintar, terbukti dengan tidak adanya aplikasi media sosial di dalamnya barang satu pun.


Isabel berdecak. Ponsel miliknya bahkan tak lebih baik dari ponsel milik para pelayan di rumahnya. Tetapi tak apalah, setidaknya masih bisa digunakan untuk menghubungi Bi Ratih andaikata Sang Ayah menanyakan keberadaannya.


Jenuh. Sudah lebih dari satu jam Isabel menunggu, namun tak ada tanda-tanda Erich akan keluar dari ruangannya.


Kantuk mulai menyergap. Gadis manis itu terlihat beberapa kali menguap. Sepasang matanya bahkan terasa berat dan terasa terpejam tanpa bisa ditahan.


Kini Isabel benar-benar tertidur. Duduk di atas kursi dengan sepasang mata terkatup rapat. Wajahnya begitu tenang seolah tanpa beban. Bahkan saat seorang pria mendekat kearahnya pun sama sekali tak mengusik tidur lelap gadis manis itu.


"Apa yang dia lakukan? Bisa-bisanya dia tidur dijam kerja," gumam Erich geram.


Tanpa sadar Erich menatap wajah Isabel lekat. Pipi merah, hidung mancung nan mungil, ditambah bibir mungil kemerahan, membuat paras gadis yang tengah terlelap dalam itu terlihat benar-benar cantik meski tanpa polesan.


Erich lekas mengalihkan pandangan dan membuang fikiran Aneh yang baru saja merasuki benaknya.


"Tidurlah, tidurlah begitu lelap dan bangunlah tengah malam nanti. Itu sebagai hukuman karna kau dengan beraninya tidur saat masih jam kerjamu." Erich menyerigai tipis kemudian berlalu pergi tanpa berniat membangunan Isabel lebih dulu.


Nikmatilah keterkejutanmu nanti, saat terbangun tengah malam dan tak mendapati siapa pun di ruangan ini.

__ADS_1


Erich tergelak dalam hati. Sementara kaki panjangnya melangkah memasuki lift, kemudian tubuhnya menghilang tertelan pintu lift yang tertutup rapat.


__ADS_2