CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Pergi Meninggalkan


__ADS_3

...Benarkah sudut hatinya merasakan kehampaan saat ini?...


Semenjak kepergian Isabel, Erich merasa ada sesuatu yang hilang dalam menjalani hari-hatinya. Mungkin bukan hanya lenyapnya segelas kopi buatan Isabel saja yang membuatnya hampa, namun secara tidak sadar kehadiran gadis itu pun rupanya membawa suasana lain dalam dirinya.


Erich akui, kehadiran Isabel memang tak lama, hanya sekedar pengganti Retno untuk sementara waktu. Namun siapa sangka jika kehadiran singkat gadis itu justru menjadi bomerang tersendiri bagi Erich.


Ck, mengapa dia datang, jika untuk pergi.


Erich termangu, kedua tangannya bertumpu pada dagu. Ia habiskan waktu dimeja kerja untuk melamun. Cukup banyak pekerjaan menunggu, namun pria itu sama sekali tak ingin menyentuh benda-benda yang justru membuatnya sakit kepala.


Ck, lagi pula kenapa aku jadi memikirkannya? Bukankah wajar jika dia pergi, sebab posisinya dia hanya untuk menggantikan bu Retno yang sakit hingga sembuh.


Ketukan pintu dari arah luar membuyarkan lamunan Erich. Pria muda itu terkesiap hingga spontan bersuara, "Masuklah."


"Selamat pagi, tuan." Wajah Retno muncul dari balik pintu yang terbuka. Perempuan paruh baya itu mengulas senyum manis dengan membawa sebuah nampan dikedua tangan.


Erich pun membalas senyuman Retno. Dalam hati terselip kecewa. Bukannya tak senang dengan kehadiran Retno, hanya saja ia masih menginginkan Isabel yang membersihkan ruangannya.


"Cih, apa aku sebegitu menyayangkan kepergiaannya."


Erich sendiri tak menyangka jika kedatangan Isabel cukup berpengaruh pada suasana hatinya. Tentu ia masih mengingat jelas bagaimana ia memaki gadis itu dihari-hari pertamanya bekerja. Gadis cerobok. Mungkin itu kalimat paling tepat yang Erich tujukan pada Isabel kala itu. Gadis yang ia fikir minim pengalaman kerja hingga dipastikan tak mampu mengimbangi cara kerjanya yang selalu menuntut kesempurnaan. Namun semua berbeda. Isabel bukanlah gadis lemah, ia pekerja keras dan terus berusaha bisa disandingkan dengan Retno yang hasil kerjanya tak perlu diragukan lagi.


"Kopinya tuan." Ucapan Retno lagi-lagi membuyarkan lamunan Erich yang semuanya tentang Isabel. Erich pun menganggukkan kepala, kemudian menatap nanar secangkir kopi buatan Retno yang bukan lagi membuatnya berselera.


Ya tuhan, aku benar-benar merindukan kopi buatanmu, Isabel.


💗💗💗💗💗


Ratih dan Isabel benar-benar merencanakan secara matang kepergiannya kali ini. Ratih sendiri mengatakan jika akan tetap mengikuti Isabel kemana pun gadis itu berada. Begitu pun dengan Thomas yang sedang bersembunyi di suatu tempat. Ia akan siap siaga dan bergerak dengan cepat saat Isabel sudah memberi aba-aba.


"Bibi, bagaimana." Isabel setengah berbisik pada Ratih. Gadis itu tengah mengamati keadaan sekitar kediaman megahnya dari jendela sebuah ruangan yang berada di lantai dua.

__ADS_1


"Tunggu sebentar." Ratih keluar ruangan untuk memastikan kembali keadaan. Perempuan itu sudah mendengar jika Arum dan putrinya akan mengunjungi pesta kolega bisnis. Jika keduanya benar-benar dipastikan sudah keluar, maka rencana pun akan siap dijalankan.


Isabel harap-harap cemas menunggu informasi selanjutnya dari Ratih. Ia tak hentinya mengucap doa dengan penuh pengharapan dan air mata agar dirinya dan sang ayah bisa keluar dari rumah ini tanpa dipergoki oleh sang ibu tiri.


Tap, tap


Isabel menegang, namum ia pun menghela nafas dalam saat Ratihlah yang sedang mendekat jearahnya.


"Bagaimana?"


"Beres. Nyonya dan putrinya sudah keluar sepuluh menit yang lalu nona. Sekarang bibi akan menjalankan rencana pertama kita. Berdoalah. Semoga tuhan mempermudahkan semua jalannya."


Isabel menatap haru pada Ratih. Selama ini, hanya Ratih-lah satu-satunya orang di rumah ini yang perduli padanya. Bahkan hingga detik ini, paruh baya itulah yang siap menjadi tameng untuk bisa membebaskannya.


"Nona, tetaplah di sini. Biarkan bibi bekerja, atau nanti akan ada orang yang menaruh curiga." Ratih memperingatkan.


"Baik."


Ratih mengangguk kemudian berbalik badan.


"Ada apa?"


"Hati-hati."


Ratih tersenyum lembut seraya berucap, "Pasti, doakan bibi."


"Selalu."


Ratih pun membuka pintu untuk lekas keluar dari ruangan. Isabel tergugu begitu punggung Ratih menghilang dari pandangan. Rasa sesak dan kekhawatiran kini melingkupi diri. Sejujurnya ia teramat takut menjalankan rencananya kali ini. Ia takut jika semua rencananya gagal dan Arum pasti akan menyiksanya hidupnya lebih dari selama ini. Sedangkan sang ayah, Arum pasti akan menyetop total pengobatan sang ayah hingga membuat suaminya itu mati secara perlahan setelah puas. Ya tuhan, hanya dengan membayangkan saja tubuh Isabel sudah gemetar hebat.


Tuhan, tolong kami.

__ADS_1


💗💗💗💗💗


"Hai, aku datang dengan minuman hangat dan juga camilan untuk kalian." Ratih dengan tersenyum senang mengulir nampan berisi teh hangat dan juga camilan pada para pelayan yang sedang bersantai di kursi taman belakang.


Beberapa rekan Ratih itu menyambut senang. Tak merasa aneh sebab Ratih pun kerap melakukan hal yang sama sebelumnya.


"Wah, pasti enak." Salah seorang bertubuh tambun tampak antusias dan lekas mengambil beberapa keping biskuit di dalam biskuit.


"Tentu, bukankah malam-malam seperti ini lebih asyik jika digunakan untuk beristirahat dan minum teh hangat."


"Hem, benar." Salah satu rekan lain pun menyambut antusias. Dia bahkan sudah meneguk teh hangat yang sebelumnya sudah dicampurkan bubuk obat tidur oleh Ratih.


"Baiklah, lanjutkan acara bersantai kalian. Aku ingin membuatkan kopi untuk para penjaga di depan. Supaya mereka tak akan ketiduran saat bekerja."


"Ah, baik. Lakukanlah. Bukankah itu sudah menjadi tugasmu," celetuk rekan yang lain seraya tertawa mengejek disusul rekan lainnya.


Ratih hanya menghela nafas dan secepatnya pergi dari hadapan mereka.


Ratih terus membuat minuman untuk para penjaga juga koki yang bekerja dikediaman Praja. Perempuan itu harus memastikan jika tak ada seorang pun penjaga yang terlewat untuk tak meminum kopi atau pun teh buatannya. Ia tak ingin rencananya gagal sebab ketahuan. Jadi ia ingin memastikan lebih dulu jika semua para pekerja sudah tertidur maka rencana kedua pun akan segera dijalankan.


"Sepertinya sudah." Ratih benar-benar berkeliling keseluruh ruangan dan pekarangan rumah. Hasilnya, sungguh sesuai dengan rencana. Seluruh pekerja tampak terlelap dalam, bahkan tak beralih dari tempat Ratih memberinya minum beberapa saat lalu.


Terimakasih tuhan.


Selepas Ratih mengabarkan jika semua aman, Isabel lekas menghubungi Thomas. Tak menunggu lama, sebuah mobil dan satu unit ambulance memasuki gerbang kediaman Praja.


Isabel tak mampu menahan haru saat tubuh sang Ayah diangkat keatas brankar dan di dorong beberapa orang untuk dimasukan ke dalam ambulance.


Isabel tak membawa apa pun selain brankas peninggalan mendiang sang ibu. Ia tak punya banyak waktu atau Arum akan datang dan menggagalkan semua rencana yang sudah ia atur susah payah.


Satu sedan dan Satu unit ambulance itu akhirnya keluar dari gerbang utama kediaman Praja. Di dalam mobil, Isabel menangis dalam pelukan Ratih. Ia masih tak percaya. Semua masih seperti mimpi baginya. Bahkan saat mereka sudah berada dalam pesawat pun, Isabel masih tak yakin jika ia sudah terbebas dari jerat Ibu dan saudara tirinya.

__ADS_1


Isabel termenung, rupanya ia gagal untuk bisa mempertahankan rumahnya. Sebuah rumah yang sejatinya memang dibangun untuknya. Sebuah rumah yang membuatnya selalu dekat dengan mendiang sang ibunda. Sebuah rumah yang begitu banyak menyimpan kenangan manis di masa tumbuh kembangnya. Rumah itu akan ia lepaskan, seiring pergerakan pesawat yang kian jauh meninggalkan kota kelahirannya.


Bersambung guys😘


__ADS_2