CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Tentang Kegalauan Ernest Yang Tak Berkesudahan


__ADS_3

Sebuah tempat dengan pemandangan asri rupanya menjadi tempat bagi Ernest untuk menenangkan diri. Semenjak pesta resepsi Erich, Ernest memilih untuk menghilang. Menuju sebuah tempat di mana hanya dirinya dan ketenangan.


Angin bertiup sepoi-sepoi, nyaris membuat sepasang mata Ernest terpejam. Rasa katuk mulai menyergap selepas beberapa jam ia habiskan waktu untuk melamun. Berbaring disebuah ayunan rotan dengan suasana pantai yang menyejukan mata.


Erich, bukankah kita saudara kembar? Namun kenapa nasib kita selalu berbeda.


Ernest masih terus meratapi nasib. Mungkinkah ia iri dengan kebahagiaan saudaranya sendiri? Ah, tentu tidak. Ernest tak berfikiran sedangkal itu. Ia sadar jika takdir setiap insan berbeda-beda meski dilahirkan dari rahim yang sama.


Sudut bibir pria tampan itu tertarik. Ia tersenyum, seperti mengingat sesuatu yang baginya lucu.


"Aku yakin jika kebahagiaan yang kau dapat saat ini adalah buah dari kesabaranmu." Ernest bergumam. Rupanya ia masih mengingat beberapa kejadian yang masih membekas jelas diingatan tentang saudara kembarnya.

__ADS_1


Dulu, nasib Erich pun serupa dengannya. Erich sempat dikecewakan Sandara. Luka batin itu seakan menganga saat Sandara dan Ernest selalu menunjukan kemesraan di hadapan Erich yang semula memang memiliki perasaan khusus pada Sandara.


Erich mengalah. Memilih merantau ke kota XX demi menjauhi Sandara dan juga rasa kecewanya. Dan beberapa tahun berlalu, nasib justru berbalik. Erich dinaungi kebahagiaan sedangkan Ernest dalam keterputusasaan.


Ah, begitulah jika hidup di dunia. Semua sudah menjadi suratan sementara kita hanya menjalankan.


Erich memandangi ombak yang bergulung dan saling berkejaran. Sudah cukup lama ia tak menghabiskan waktu di tempat setenang ini. Pekerjaan dan semua yang berhubungan dengan Sandara, menjadi rutinitasnya setiap hari. Bahkan diakhir pekan pun terkadang tak mempunyai waktu untuk sendiri. Sandar seakan menguasai hampir separuh waktunya. Itulah yang terkadang membuat Ernest jengah dan ingin menyerah.


Pria bertubuh tegap itu mulai melangkah, menuju bibir pantai dengan hamparan pasir putih. Kaki polosnya mulai menyentuh pasir dingin dan berair.


Sudah lama aku tidak bermain pasir seperti ini.

__ADS_1


Erich merasakan dirinya benar-benar bebas. Tanpa ragu ia pun melangkah mendekati gulungan ombak yang mulai membasahi bagian kakinya.


Di tempat ini tak ada siapa pun selain dirinya. Vila yang berada di pinggir pantai memang aset keluarga Atmadja yang tak dipergunakan untuk umum. Itulah yang membuat Ernest merasa bebas tanpa batas. Ia bisa berteriak atau bahkan ingin tertawa seperti orang gila, tak akan melihat apa lagi mengabadikannya.


Ernest berjongkok. Ia mengumpulkan beberapa kerang berukuran mungil kemudian menggabungkannya hingga menyerupai bentuk separuh hati. Ernest tersenyum getir. Dalam keadaan seperti kenapa dirinya terlihat seperti pria paling menyedihkan di muka bumi ini.


Tak ingin berlarut dalam rasa sakit. Erich beranjak, meninggalkan ukiran kerang yang kini bahkan porak poranda diterpa ombak. Hilang tanpa sisa.


Sama seperti Erich, aku pun ingin bahagia. Bertemu seorang gadis yang membuatku berdebar, walau hanya dengan menyebut namanya.


Tbc.

__ADS_1


Maaf, malam ini up nya sedikit. Mohon dimaklumi. Terimakasih


__ADS_2