
"Nyonya."
Di antara keramaian, seorang perempuan terkesiap begitu mendengar sebuah suara yang cukup ia kenal seperti sedang menyapa. Ia pun berbalik badan, guna menatap seseorang yang beberapa saat lalu seperti sedang memanggilnya.
Perempuan yang tak lain adalah Zara itu terbelalak dan hampir tak percaya, selepas mendapati jika seseorang yang merupakan pemilik dari suara yang ia kenali kini benar-benar berdiri di hadapan.
"Natasya," gumamnya. Zara terpaku, ia benar-benar sedang melihat Natasya sekarang.
"Nyonya," sapa Natasya. Gadis itu pun menatap penuh tanya pada Ibu dari sang atasan yang seperti syok saat bertemu dengannya. Apa mungkin karna mereka bertemu di luar area kantor?.
Zara mengerjap. Teguran Natasya seperti mengumpulkan kembali kesadaran selepas tercerai berai akibat pertemuannya dengan sang gadis secara tidak terduga.
"Na-natasya, kau di sini. Dengan siapa?." Zara menyapu pandang ke sekeliling. Mungkin saja Natasya sekarang sedang bersama Ibunya. Tapi mana?.
Saat ini baik Zara dan juga Natasya bertemu disebuah Mall. Tadinya Zara datang bersama Emely, hanya saja sekarang Emely sedang menemui seorang di lantai lain selepas meminta izin pada sang Ibu.
"Saya datang sendiri, Nyonya."
Jawaban Natasya sontak membuat Zara menghela nafas lega. Jujur ia masih belum siap untuk bertemu dengan Anastasya sekarang.
"Nyonya sendiri, datang ke mari apakah hanya sendiri?." Gadis yang mengenakan T-shirt putih dan celana jins itu bertanya juga mencari-cari ke beradaan seseorang di antara Zara yang mungkin saja ia kenal, namun sepertinya tak ada.
"Tadinya aku bersama Emely, tapi dia pamit ke bawah sebentar untuk menemui seseorang."
Natasya mengangguk, ia mengerti. Sekarang mereka sedang berada di depan toko pakaian dengan brand ternama mancanegara. Awalnya Zara berniat untuk masuk dan mencari beberapa pakaian pria sebelum akhirnya bertemu dengan Natasya.
"Em Natasya, karna tidak ada Emely bisakah kau menemaniku berbelanja?."
__ADS_1
Hah?.
Natasya tentu saja terkejut. Ia tersenyum tipis. Begitu melihat padangan penuh harap dari Zara padanya, gadis itu pun tak mampu untuk menolak.
"Tentu saja, Nyonya." Tentu saja Natasya hanya bisa pasrah.
Sigap Zara meraih dan mengandeng tangan Natasya dan membawanya masuk ke dalam toko pakaian. Sambutan para pramuniaga begitu ramah, terlebih beberapa dari mereka sudah mengenal Zara sebagai pelanggan spesial mereka.
Mensejajari langkahnya dengan Ibu dari sang atasan membuat Natasya tak nyaman. Ia juga takut dianggap tidak sopan. Akan tetapi, bagaimana lagi jika perempuan itu saja tak mau melepaskan gadengan tangan.
Langkah mereka terhenti di depan sebuah manekin, model pakaian pria jenis kemeja non formal yang menurut Natasya pun terlihat keren. Seorang pramuniaga sigap memberi pelayanan. Bicara ini itu dan menjelaskan ukuran serta warna yang tersedia.
"Aku rasa pakaian ini akan cocok dipakai suamiku." Bukan meminta pertimbangan, Zara seperti sudah meyakini jika pakaian yang ia pilih memang sesuai untuk Arka.
Natasya sendiri hanya mengangguk saja. Toh jika suami dari Nyonya di sampingnya ini, dirinya hanya beberapa kali melihat saja namun tidak sampai memperhatikan.
"Natasya, apa kau tau jika Ernest punya saudara kembar?."
Satu pertanyaan yang terucap dari bibir Zara sontak membuat Natasya menganggukkan kepala. Ya, saat pesta perusahaan ia baru mengetahui jika sang atasan memiliki saudara kembar.
"Ya, Nyonya. Saat pesta perusahaan saya baru mengetahui."
Zara tersenyum tipis.
"Wajah mereka memang mirip, tapi untuk sifat keduanya cukup berbeda." Ada senyum di bibir Zara yang masih terukir jelas. Mungkin saja perempuan itu tengah mengingat sifat kedua putranya yang bertolak belakang.
Natasya sendiri tak menanggapi. Ia takut salah bicara pun ini bukanlah ranah pribadinya untuk ikut campur.
__ADS_1
"Tapi itu dulu, sebelum saudara kembar Ernest menikah." Pandangan Zara tiba-tiba tertuju pada sebuah objek. "Wah, aku rasa pakaian itu cocok jika untuk Erich." Zara kembali mendekat ke arah pakaiaan dan pramuniaga sigap melayani.
"Natasya, kau sudah cukup lama mengenal Ernest 'kan?."
Meski ragu, akhirnya sang gadis mengangguk jua.
"Aku rasa kau pun sudah cukup mengenal style berpakaian putraku itu." Zara terdiam sejenak. "Em, bagaimana jika kau pilihkan pakaian untuk Ernest. Sering bersama tentu cukup membuatmu tau tentang selera pakaian putraku. Bagaimana, kau tentu tidak akan menolak 'kan?."
Natasya menelan salivanya berat. Bagaimana ini? Hendak menolak namun lagi-lagi ia tak mampu. Ia pun hanya pasrah dan meng-iyakan permintaan Zara. Suka tidak suka, meski takut salah, Natasya pun lekas mengambil sesuatu sesuai keinginannya. Sebuah kemeja non formal yang sepertinya hampir mirip dengan milik Ernest yang pernah di pakaian saat berlibur di pulau XX bersama dirinya.
Selepas dari toko pakaian pria. Rupanya Zara kembali membawanya ke dalam toko pakaian wanita. Di sana perempuan itu juga bercerita jika menantu atau istri dari kembaran Ernest tengah mengandung.
Zara seperti kalap. Ia memborong pakaian ibu hamil untuk menantunya yang rupanya masih mengandung di trimester pertama.
Natasya tersenyum tipis. Ah dirinya seperti menemukan sisi lain dari seorang istri pewaris Atmadja group yang amat mencintai keluarganya. Meski seperti menutup diri dari awak media, namun sosok perempuan di depannya ini seperti bukan seseorang yang gila pujian atau pun kehormatan.
Ah, beruntungnya bagi Ernest yang memiliki Ibu hebat seperti Zara. Eh
Natasya kembali melongo. Kini dirinya pun ikut kebagian jatah. Ia juga mendapatkan sebuah gaun berharga wah yang mirip dengan Emely.
Anastasya menolak. Sungguh ia menolak, namun Zara bersikukuh agar gadis tersebut mau menerima. Lagi, Natasya hanya bisa pasrah. Gadis itu mengumpat dalam hati saat Emely masih juga belum terlihat bahkan selepas mereka keluar dari toko pakaian wanita.
"Nyonya tidak membeli untuk nyonya sendiri?." Natasya tentu bertanya. Selepas membeli di toko pakaian wanita tadi sepertinya Zara tak memilih atau pun membeli pakaian untuknya sendiri. Beberapa saat lalu seorang pria berbadan tegap datang dan mengambil alih semua barang belanjaan Zara. Mungkin saja pria tersebut adalah salah salah satu pengawalnya.
"Tidak. Di rumah aku masih memiliki banyak pakaian yang belum sempat terpakai." Zara mengulum senyum. Mengingat sifat Arka yang tak berubah sedari dulu. Dari pada membeli pakaian untuknya, Arka justu lebih senang membeli pakaian untuk sang istri meski mengunakan aplikasi di ponsel. Dan itulah yang membuat Zara jarang sekali membeli pakaian sebab sudah banyak memilikinya di rumah.
Untuk melepas lelah. Zara membawa Natasya ke sebuah coffe shop. Minum kopi dan berbincang sepertinya terasa menyenangkan sembari menunggu putrinya datang.
__ADS_1
Tbc.