CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Nasib Arum


__ADS_3

Tatapan para penghuni lapas terarah pada dua wanita yang digelandang masuk ke dalam salah satu sel diiringi dengan caci makian yang ditujukan utuk petugas.


Arum mengumpat dan memaki petugas bahkan saat kedua tangannya sudah terikat dengan borgol. Perempuan itu dengan tegas sempat menolak saat polisi wanita memintanya untuk menganti gaun mahalnya dengan pakaian khusus tahanan.


Sementara Larasati, gadis itu tampak lebih banyak diam. Wajahnya tertunduk dengan kedua tangan pasrah dibelenggu borgol.


"Lepaskan! Lepaskan aku sekarang atau kalian akan menanggung akibatnya," ancam Arum seraya berontak, ingin terlepas dari kedua petugas yang mengapit tubuhnya.


Tenaga Arum meningkat berkali lipat disaat terhimpit. Ia tak kenal lelah untuk coba melepaskan diri meski semua percuma. Hukuman berlipat sudah menunggunya atas apa yang sudah ia perbuat selama ini.


Saat memasuki sel pun Arum terus berteriak. Mencaci maki petugas serta mengumpat kata-kata kasar yang mana membuat narapidana lain mulai terusik.


"Bedebah sialan," umpat Arum. "Kalian tidak tau siapa aku. Aku bisa saja menuntut kalian dengan pasal perbuatan tidak menyenangkan. Bukan aku yang seharusnya berada di sini tapi kalian," tunjuk Arum.pada petugas lapas yang hanya bisa menggelengkan kepala dalam menanggapi ucapannya.


"Sial, kenapa diam. Ayo keluarkan aku sekarang juga." Arum mendorong-dorong teralis besi hingga menciptakan suara.


"Keluarkan aku!"


"Diam!" Suara seorang sipir menggelegar. Nyali Arum menciut seketika.


"Diam atau kutambah masa tahanmu. Bersikaplah dengan baik dan turuti prosedur yang ada."


Larasati lekas menarik tangan sang ibu untuk menjauh. Dari teralis besi yang mungkin akan menjadi pemicu bertambahnya masa tahanan untuk dirinya dan Arum.


"Ibu, diamlah," titah Larasati begitu sudah mengiring tubuh sang ibu ke sudut ruangan.


"Aku tidak terima. Aku tidak bisa terima kita diperlakukan semena-mena oleh mereka, Lara. Lihat," tunjuk Arum ke arah pakaiannya. "Kita bahkan dipaksa mengenakan pakaian seperti ini. Pakaian apa ini? Kumal, dekil dan bau. Sungguh menjijikan." Arum menatap ngeri pada pakaiannya kemudian melirik ke arah napi lain yang juga memakai pakaian yang sama persis dengan apa yang ia gunakan.

__ADS_1


Beberapa napi lain menatap tak suka pada Arum dan juga putrinya. Terlebih begitu mendengar ucapan penghinaan dari perempuan tersebut yang sepertinya ditujukan untuk napi lain. Salah satu narapidana berbadan tambun serta wajah sangar, mendekat. Tersenyum miring pada Arum begitu jarak mereka semakin dekat.


"Coba ulangi sekali lagi ucapanmu," pinta perempuan itu pada Arum. Sementara Arum sendiri memasang wajah tak perduli bahkan mengabaikan keberadaan perempuan tambun itu didekatnya.


"Hei! Coba ulangi sekali lagi ucapanmu atau tangan ini meluncur ke pipimu."


Diam. Arum tiba-tiba menelan ludah. Suara menggelegar perempuan tambun itu seakan memecah gendang telinga.


"Apa maksudmu? Aku bahkan tidak mengatakan apa pun."


Bugg


Bugg


Dua bogem mentah mendarat di kedua pipi mulus Arum. Perempuan itu bahkan sampai terjengkang akibat kerasnya pukulan yang perempuan tambun itu daratkan.


Larasati berteriak. Ia berusaha keras untuk menolong sang ibu namu nahas, dirinya bahkan ikut dihajar narapidana lain hingga pingsan.


"Berhenti!" Satu teriakan mampu membubarkan aksi anarkis sesama penghuni lapas. Mereka menyudahi aksi, menjauh dari tubuh yang tersungkur mengenaskan di lantai sel tahanan.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


Berbeda kehidupan dengan Arum dan lara, Isabel seakan menemukan kembali kebahagiaan selepas bisa mendekap kembali sang Ayah selepas beberapa waktu terpisahkan.


Kondisi lukanya yang kian membaik membuat tim Dokter mengizinkan gadis tersebut untuk pulang, namun dianjurkan untuk tetap rutin melakukan rawat jalan hingga luka tusukan yang dialaminya benar-benar sembuh secara sempurna.


"Nak, Ayah sudah meminta Paman Thomas untuk menjemput kita. Arum dan Lara sudah di tahan. Akan tetapi untuk sementara waktu rumah kita akan menjadi tempat penyelidikan polisi guna mencari barang bukti yang digunakan Arum untuk melakukan tindak kejahatan. Kita juga tidak bisa tinggal di rumah Nak Erich. Kau tau, putriku?"

__ADS_1


Gadis itu menggeleng samar ketika sang ayah memberi pertanyaan. Meski ucapannya terdengar lembut namun sang gadis tau jika pertanyaan tersebut sarat akan makna.


Praja mengusap puncak kepala putrinya dengan lembut. Di ruang perawatan yang hanya diisi mereka berdua membuat Anak dan Ayah itu leluasa berbicara.


"Nak Erich seorang pria yang masih lajang, begitupun denganmu. Sebagai seorang Ayah yang bertangung jawab penuh atas dirimu, tentu Ayah melarang keras tindakan putri Ayah yang tinggal satu rumah dengan pria yang.., maaf, dia bukan bagian keluarga kita yang punya tanggung jawab untuk menjagamu."


Isabel sontak menundukan kepala. Tentu ini sama sekali bukan salah Erich, tetapi dirinya. Ia lah yang mendatangi Pria itu untuk meminta bantuan hingga masalah bertubi-tubi datang yang mengharuskannya untuk tinggal di satu rumah yang sama dengan Erich.


"Ta-tapi Ayah, kami tidak melakukan apa pun. Tuan Erich_lah yang selama ini berjasa dan sudah berkorban banyak untukku." Sepasang mata bening itu berkaca. Satu titik, dua titik bulir bening mulai mengalir di sudut mata.


"Sutt. Jangan menangis, putriku." Praja lekas mendekat sang putri begitu melihat gadis tersebut menangis. "Ayah faham, ayah mengerti. Akan tetapi, bagaimana dengan orang lain? Kalian pasti tidak hanya tinggal berdua. Ayah tau akan hal itu, tapi bagaimana dengan penilaian orang lain?" Tangan Praja mengusap bahu Isabel perlahan. Menenangkan saat gadis itu terus menangis. Kehilangan sosok Ibu membuat Praja harus bisa berperan menjadi sosok Ayah sekaligus Ibu bagi putrinya. Menegurnya jika salah dan memberinya semangat saat pilihannya benar.


Lagi, Isabel menganggukan kepala.


"Ya, Isabel faham, Ayah. Akan tetapi, percayalah. Ini bukan kesalah Tuan Erich, tapi akulah yang meminta tinggal di rumahnya," jelas Isabel yang tetap ingin meyakinkan sang Ayah jika sosok Erich tidak bersalah.


"Ya ya. Ayah tau, sangat tau. Nak Erich seperti hero yang sudah begitu banyak berkorban untukmu, putriku. Dia pria yang baik, bahkan sangat baik jika dibandingkan Ayah yang hanya bisa menangis saat mendengarmu terluka tanpa bisa melakukan apa-apa." Praja kembali mendekap tubuh Isabel lebih erat. Ia menangis dalam dekapan putrinya. Praja sempat berfikir jika keadaan kritis yang sempat dialami Isabel, akan membuatnya benar-benar dipisahkan dari putri sematawayangnya. Ia tak mengira jika bisa memeluk putrinya kembali dalam keadaan sadar seperti ini lagi. Maka, begitu mendengar putrinya kembali membuka mata, Praja spontan bersujud syukur. Tuhan menyelamatkan putrinya. Tuhan memberinya kesempatan untuk bisa menyayangi putrinya lebih baik dari sebelum-sebelumnya dan Praja luar biasa bersyukur atas karunia tersebut.


"Hust, Ayah." Mendengar sang Ayah justru tergugu pilu, Isabel lantas mengendurkan dekapan. Ia dorong perlahan tubuh sang ayah hingga dekapan keduanya terlepas. Gadis itu kini bisa melihat jelas sembabnya wajah sang Ayah, yang mungkin saja sebagai luapan rasa sesal yang mendera akibat sakit yang di derita, hinga tak leluasa bergerak untuk bisa membantu dirinya. "Ayah adalah Ayah terbaik yang pernah aku miliki. Ayah juga pria terbaik yang mengajariku untuk tetap kuat meski tertindas." Praja menatap haru pada putrinya. Rupanya, Isabel kecil sudah dewasa, kini. Putri kecilnya yang dulu kerap meminta gendong di punggnnya itu, kini mulai berfikir dewasa seiring usianya yang terus bertambah. Keduanya kembali saling saling mendekap, hingga tanpa sadar seseorang pria yang sedari tadi berdiri di depan pintu ruangan yang sedikit terbuka, membalikkan badan. Urung memasuki ruangan selepas mendegar pembicaraan antara Anak dan Ayah yang sempat membawa-bawa namanya.


Langkah yang lebar membawa tubuh tinggi tegap itu menghilang cukup cepat dari depan pintu ruangan Isabel yang sempat ingin ia tuju. Pria itu mengalihkan tempat tujuan. Duduk di taman untuk sejenak merenungi diri dan menentukan langkah tepat yang akan diambil.


Tbc.


Maaf lambat up guys. Badan kurang fit. Lihat layar sering pusing tak tertahan. Bolong berhari-hari sebenarnya sedih. Tapi mau gimana lagi🀧


Semoga kita senantiasa diberikan nikmat kesehatan oleh yang mana kuasa. Aamiin.

__ADS_1


So, Kesehatan mahal harganya. Dan terimakasih buat yang terus setia dengan CEO KembarπŸ™


__ADS_2