CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Firasat


__ADS_3

...Perasaan macam apa ini?...


Erich nampak gelisah. Mondar mandir di balkon kamar dengan penampilan paripurnannya. Stelan jas lengkap dan sepatu mengkilap menutup tubuh sempurnanya. Rambut yang disisir rapi, kian menunjukan aura kepemimpinannya. Hanya saja penampilan paripurnanya tak ditunjang dengan suasana hatinya. Wajah tampanya nampak tertekuk, seolah tengah menyimpan beban.


"Tuan." Erich menghela nafas dalam saat seorang pelayan memanggil namannya dari balik pintu kamar yang masih tertutup rapat.


"Ya."


"Sarapan sudah siap, tuan."


"Baiklah, aku akan turun." Erich membuka laci di mana koleksi arlojinya tersimpan rapi. Memilihnya sesuai warna jas, lantas melingkarkannya dipergelangan tangan.


Sekali lagi Erich memastikan penampilannya di depan cermin. 'Cukup sempurna' gumamnya memuji diri sendiri.


Pria dengan stelan jas berwarna abu itu keluar dari kamar. Menuruni satu persatu anak tangga dan bergabung dengan para penghuni rumah lainnya untuk sarapan di meja makan.


"Tuan," Sapa Retno yang masih berdiri di samping kursi meja makan. Perempuan paruh baya itu sudah terlihat rapi, mengingat ia dan sang putri akan diboyong Isabel kembali ke ibukota.


Erich tersenyum tipis lantas mengangguk. Ia juga mempersilahkan lainnya untuk sarapan.


Erich menatap Isabel. Gadis kembali berpenampilan seperti sedia kala. Wig, kaca mata, dan kumis tipis menyempurnakan penyamarannya. Terlebih celana jis dan kemeja kebesaran yang membalut tubuh mungilnya, membuat gadis itu terlihat seperti lelaki tulen pada umumnya.


"Aku akan mengantar kalian sampai ke bandara." Terdengar bukan penawaran tetapi lebih mirip pemberitahuan. Isabel dan Retno sepontan saling pandang. Semalam bahkan tidak ada pembicaraan apa pun. Pria itu memilih ke ruang kerjanya selepas makan malam. Memang Erichlah yang mengurus tiket penerbangan dan segala macamnya, tetapi gadis itu tak menyangka jika pria itu akan perduli apalagi sampai mengantarkannya.


"Tapi, "

__ADS_1


"Kenapa? Kau takut jika aku bersekongkol dengan orang-orang suruhan ibumu?"


Isabel terdiam. Bukan begitu maksudnya.


"Kau takut jika aku justru membawamu pada ibumu itu?"


Isabel mendengus. Kurang suka dengan ucapan Erich yang terus menyebut Arum sebagai ibunya. Ya, benar. Arum memang ibunya, tetapi hanya ibu tiri yang sama sekali tak memiliki hati.


"Tolong, jangan panggil dia dsngan sebutan 'ibuku'. Aku tidak suka mendengarnya.


Eric terhenyak. Sadar, jika ucapannya salah.


"Maaf."


💗💗💗💗💗


Kuda besi yang membawa Erich dan Isabel melaju kencang menuju arah bandara yang dikemudikan oleh supir. Tak ada perbincangan apa pun. Para penumpang seolah sibuk dengan fikiran masing-masing. Sedangkan Retno dan putrinya berada di mobil yang berbeda dengan dibawa seorang supir pula.


Isabel memilih menatap kearah jalanan. Membawa Retno pulang menjadi misi pertamannya. Sedangkan misi kedua, adalah merebut harta dari tangan Arum yang memang menjadi haknya.


Jika misi kali ini ia datang seorang diri, namun ia tak yakin jika akan bergerak seorang diri pada misi kedua nanti. Seperti ucapan Erich, tetap siaga itu penting, mengingat orang-orang Arum yang mungkin saja masih berkeliaran diluaran sana.


Sementara itu di sudut kursi penumpang lain, Erich masih tak mampu mengurangi kadar kecemasan yang sedari tadi menghinggapinya. Entah bermula dari mana rasa cemas itu muncul, Erich tak tau pasti.


Kendaraan mulai memasuki area parkir bandara. Masih tak ada perbincangan di antara keduanya. Begitu tangan Isabel menyentuh handle pintu mobil bersiap untuk membukanya, Erich menarik tangan gadis tersebut bermaksud menghentikan pergerakannya.

__ADS_1


"Berhati-hatilah," pesan Erich spontan. Isabel terpaku sesaat. Antara terkejut dan bingung secara bersamaan.


Erich sendiri tak menyesal mengucapnya, terlebih satu tangan pria itu masih memegang tangan Isabel seolah menahannya untuk pergi.


Supir pribadi Erich sudah membuka pintu mobil untuk tuannya, disusul dengan pintu untuk Isabel.


"Tentu. Terimakasih atas bantuan dan tempat tinggalnya. Sungguh saya tidak akan pernah melupakan kebaikan anda." Isabel berucap tulus. Jika tanpa Erich, entah seperti apa keadaan Retno beserta putrinya. saat ini.


"Tetap waspada dan amati pergerakan orang-orang yang berlalu lalang di sekitarmu." Erich memperingatkan kembali. Isabel menganguk faham, lantas keduanya keluar dari kendaraan.


Disatu mobil lainnya tanpak Retno dan putrinya sudah turun. Seorang supir mengeluarkan beberapa koper milik Retno dari bagasi. Setelah memastikan tak ada yang tertinggal, Retno ikut bergabung dengan Isabel juga Erich untuk memasuki lobi bandara.


Erich mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tak ada yang mencurigakan, fikirnya. Ia mulai berjalan, mengekori langkah Isabel yang nampak bersemangat hendak melakukan perjalanan.


Erich tak didampingi siapa pun. Tanpa pengawalan, hanya sang sopir yang tetap menunggu di samping . Semua di luar skenario. Rencana awal ia hanya ingin melepas kepergian Isabel dan Retno hanya sampai area parkir, namun Entah mengapa saat ini Erich justru ingin mengantar juga memastikan keselamatan mereka hingga memasuki pesawat.


Sebegitu perdulinyakah dia? Entahlah. Atau Erich tak rela jika Isabel pergi?. Pria itu pun tak tau pasti akan jawabnya.


Semula Erich membimbing langkah, ketiga perempuan itu berjalan mengekorinya. Kini perasaan Erich kian was-was. Pria itu merasa tak tenang saat mulai memasuki lobi bandara. Pandangannya menyapu kesegala arah. Mencari-cari sesuatu yang sekirannya ganjil di matanya. Nihil, sama sekali tak ada yang mencurigakan. Semua orang yang berlalu lalang, saling acuh dan sibuk dengan urusan mereka masing-masing.


Hingga pandangan Erich mengarah pada Isabel yang nyatanya justru berjalan paling akhir di antara keempatnya, bertepatan dengan seseosok tubuh berpakaian serba hitam yang tiba-tiba menyergap sang gadis yang spontan membuat Erich berteriak.


"Awass....." Disusul dengan teriakan saat saat sebilah senjata tajam menancab disalah satu tubuh seseorang.


Tbc.

__ADS_1


Siapakah kiranya yang tertutusuk? 😱


__ADS_2