
Berbeda Ernest berbeda pulang dengan yang dilakukan Rangga. Pria itu memilih untuk tetap di rumah bersama Anastasya, menghabiskan malam dengan bercerita. Kesedihan Rangga yang tertangkap mata oleh Anastasya pada saat menatap foto-foto keluarganya di dinding, membuat Anastasya berniat untuk menceritakan kehidupan di masa lalunya bersama Kenan. Tak ada tujuan apa pun, perempuan itu hanya ingin jika tidak ada rahasia apa pun di antara mereka untuk kedepannya.
Di keremangan malam, Anastasya duduk saling berdampingan. Menatap kerlip bintang diantara pekatnya langit malam.
Anastasya yang pada malam itu tanpa sengaja melihat Rangga sedang menatap album foto keluarganya, merasa perlu meluruskan apa yang ada, sehingga jika keduanya menikah kelak tidak akan ada lagi ganjalan sampai berimbas pada kehidupan pernikahan mereka dikedepannya.
"Dalam dua puluh tahun lebih hidup pernikahan kami, pasti banyak yang sudah kami lalu. Antara sedih dan bahagia, mungkin sama rata pernah kami rasa." Anastasya membuka pembicaraan. Sejak beberapa saat lalu, mulut kedua insan itu seakan terkunci. Antara ragu atau pun bimbang untuk memulai pembicaraan.
"Mungkin tidak seperti yang kau bayangkan, kami dua insan yang tanpa sengaja dipertemukan nyatanya sama-sama memiliki luka dalam kehidupan pernikahan kami sebelumnya."
Rangga, pria itu diam namun sejatinya mendengarkan setiap kalimat dari perempuan yang kini duduk di sampingnya. Ya, dirinya memang terbakar cemburu kala foto Kenan masih terpajang begitu banyak di rumah Anastasya. Akan tetapi bukankah hal tersebut wajar, mengingat setatus janda untuk Anastasya bukanlah karna dipisahkan oleh seseorang tetapi dipisahkan oleh maut. Jadi lumrah jika Foto mendiang Kenan tetap dibiarkan terpajang meski sejatinya ia berharap jika foto-foto keluarga bahagia itu menghilang dari pandangan.
"Sejak perceraian resmi aku dan Arka juga setelah menolakmu saat itu, aku memilih pergi. Pergi jauh dengan harapan tak pernah bertemu lagi dengan orang-orang yang aku kenal di masa lalu." Anaatasya masing mengingat saat-saat itu. Harta benda dari Arka ia tolak. Begitu pun dengan berbagai fasilitas yang mantan suaminya itu tawarkan. Anastasya benar-benar menghilang. Menjauh dari kehidupan sosialitanya sebagai mantan model sekaligus istri konglomerat.
"Segala akses komunikasi aku tutup. Baik dari Zara, Arka atau siapa pun, hanya surti lah satu-satu orang yang kerap aku beri kabar saat itu, namun seiring berjalannya waktu aku pun menghapus kontak surti dan menganti nomor ponselku." Anastasya tertunduk, dan hal tersebut tak luput dari pandangan Rangga.
"Untuk menyambung hidup aku bekerja di sebuah rumah makan dengan gajih yang lumayan. Aku tinggal disebuah sebuah rumah sederhana yang aku beli dari hasil penjualan perhiasan yang aku punya sebelum menikah dengan Arka." Ucapan Anastasya terjeda, perempuan itu menghela nafas dalam. "Di rumah makan tersebutlah pada akhirnya aku dipertemukan dengan mendiang Kak Kenan." Pertemuan yang tentu tak akan Anastasya lupa sampai kapan pun. Pria menakutkan yang selalu datang nyaris tengah malam untuk membeli makanan.
__ADS_1
"Kau tau, semua berjalan tanpa dugaan kami berdua. Kami yang nyatanya pernah terluka, seakan memiliki keterikatan satu sama lain dan merasa nyaman saat bersama. Mungkin dari sana lah benih-benih cinta itu muncul sampai Kak Kenan memberanikan diri untuk meminangku."
"Maaf, sebelumnya tak ada maksud apa pun saat aku menceritakah kehidupan pernikahanku dengan Kak Kenan, hanya saja aku ingin bila kita menikah nanti, tak ada sedikit pun ganjalan dalam dirimu untuk meragukan perasaanku." Rasa Anastasya pada Rangga, tak pernah berubah. Sesungguhnya ia masih mencintai sedari dulu, hanya saja karna terlalu menelan banyak kekecewaan, Anastasya pun memilih untuk menjauhi Rangga. Berharap jika dengan berpisah mereka bisa menemukan jodohnya masing-masing.
Rangga tersenyum simpul. Aepertinya pria itu pun mulai memahami akan inti dari pembicaran malam ini.
"Kak Kenan sudah tiada, begitu pun diriku yang masih ingin melanjutkan hidup dan membahagiakan diriku sendiri." Walau dirinya mencintai Jenan, namun Anastasya sadar, hidup mereka sudah dipisahkan oleh alam.
"Anastasya, aku bisa mengerti kemana arah pembicaraanmu." Kedua tangan Anastasya yang sedari tadi berada di atas meja, pria itu gapai kemudian digengam. "Setelah kita kembali ke Indonesia, Ayo kita mulai menjalani hidup bersama. Menikah, dan hidup berbahagia bersama Natasya. Kita wujudkan mimpi-mimpi indah dulu yang belum tercapai sampai sekarang. Anastasya, setelah ini aku berjanji untuk selalu membahagiakanmu, menyayangi juga mencintaimu setulus hati, dan hanya maut lah yang mampu memisahkan kita." Seperti janji suci, Rangga mengucapnya dengan rembulan dan bintang yang menjadi saksi. Anastasya dibuat haru. Sampai tanpa menyadari jika ada sepasang insan yang memperhatikan mereka dari kejauhan.
Sungguh liburan singkat yang tak mudah dilupakan bagi dua pasangan berbeda usia yang sepertinya sama-sama sedang diselimuti kabut cinta.
Pagi ini mereka kembali melakukan perjalanan untuk pulang ke Ibu kota. Tak banyak persiapan sebab Bibi dan Paman rupanya sudah mempersiapkan berbagai makanan untuk buah tangan.
Pasangan senja itu melepaskan kepergian Anastasya berserta putrinya dengan isak tangis. Meski berat namun pada akhirnya berpisah jua. Lambaian tangan menggiringi kepergian kuda besi yang mengantar kepergiaan Anastasya beserta rombongan menuju Bandar Udara.
Dalam hati Bibi dan Paman, seperti ada yang hilang saat melepas kepergiaan Anaatasya. Semalam, mereka pada akhirnya tau akan siapa sosok Rangga sebenarnya.
__ADS_1
Pria seusia Kenan yang dibawa Anastasya untuk mengunjungi makam Kenan. Sejatinya memang Anastasya tak memperkenalkan secara detail siapa Rangga. Perempuan itu hanya mengatakan jika Rangga hanya seorang teman. Akan tetapi yang pasangan itu temui semalam, nyatanya tak sejalan dengan ucapan Anastasya.
Mereka punya hubungan yang lebih dari sekadar teman, dan Bibi serta Paman menyadari akan hal itu meski hanya lewat pandangan.
"Aku fikir setelah ini Nyonya Anastasya akan menikah lagi?." Sang Bibi berbicara dengan pandangan menatap lurus kedepan. Pandangan kosong ke arah mobil yang membawa pergi Anastasya meski sudah tak terlihat.
"Wajar saja, beliau masih muda," jawab sang suami diiringi helaan nafas dalam.
"Tapi aku merasa tidak rela." Sang Bibi menunduk, ia usap bulir bening yang meleh di pipi dengan kedua telapak tangan.
"Hust, itu hak beliau. Lagi pula Tuan Kenan sudah tiada, dan aku rasa beliau juga membutuhkan sosok pendamping yang bisa menjaga beliau serta Nona Natasya."
Sang Bibi mengangguk patah patah. Ya, dia juga tidak menyalahkan, hanya saja dari sudut hati terdalam dirinya seperti tak rela jika posisi Kenan digantikan oleh orang lain.
"Sudahlah," ucap Paman seranya merangkul sang istri dan menepuk-nepuk lengannya. "Sebagai orang yang lebih tua, kita hanya perlu mendoakan untuk kebahagian mereka. Jika mereka bahagia, kita pun ikut bahagia." Bibi kembali mengangguk. Membenarkan ucapan sang suami sampai sepasang suami istri itu menutupi pintu pagar dan masuk ke dalam rumah.
Tbc.
__ADS_1