CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Hati Ernest Part. 2


__ADS_3

Kekalutan yang dialami Ernest membuat pria muda itu kembali mengingat memori beberapa tahun silam diawal-awal hubungan antara dirinya dan Sandara terjalin.


"Namaku Ernest, siapa namamu?" Gadis manis dengan pakaian sederhana yang beberapa kali Ernest temui di yayasan, membuat pria itu tak tahan untuk tak berkenalan dan menyapa lebih dulu. Satu tangan Ernest sudah terulur, di hadapan gadis manis yang menatapnya seraya mengernyit, bingung.


Ragu-ragu gadis itu pun mengangkat tangan, hingga keduanya berjabat.


"Nama saya Sandara, tuan."


Tangan keduanya berjabat cukup lama, hingga Sandara berinisiatif untuk melepaskan tangan lebih dulu.


"Em, maaf." Ernest dibuat salah tinggkah. Ia bahkan menggaruk kulit kepalanya yang tak gatal guna mengurangi kegugupan.


Gadis berlesung pipi itu hanya mengulas senyum tipis kemudian berucap, "Maaf, apakah ada sesuatu hal yang anda perlukan?" Sandara kebingungan, pasalnya Ernest seolah sedang menghalangi jalannya.


"Oh, tidak tidak. Maaf jika tindakanku mengusik kenyamananmu. Aku hanya ingin berkenalan denganmu, itu saja." Ernest memberi alasan.


Sandara mengangguk faham meski tersirat sejejak keraguan. Gadis itu pun menundukan kepala dan berlalu pergi. Meninggalkan Ernest selepas beberapa saat menunggu sang pria untuk kembali berbicara, tapi nyatanya tak ada sepatah kata pun keluar dari bibirnya.


Ernest menatap punggung gadis yang berjalan menjauhinya. Sudut bibirnya terangkat. Rasa penasaranya menghilang selepas bisa berkenalan dan mengetahui nama gadis yang beberapa minggu ini mengusik hatinya.


Kesadaran Ernest kembali saat Erich menepuk bahunya.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan di sini. Ayo, bukankah hari ini masih banyak agenda yang perlu kita selesaikan." Erich memantau gerak gerik sang saudara kembar yang terlihat mencurigakan selepas beberapa waktu lalu pamit kepadanya untuk pergi ke toilet. Ernest tersenyum tanpa alasan, yang mana membuat Erich justru bergidik ngeri. Ia pun menatap ke arah sekitar, apa mungkin Erich tertempel makhluk abstrak?


Bugg


Cukup keras Erich menendang kaki Ernest hingga membuat pria muda itu mengaduh.


"Aw, gila. Kenapa kau menendang kakiku?" Pekik Ernest seraya membekap bagian kakinya yang terasa ngilu.


"Aku fikir kau kerasukan setan hingga tersenyum sendiri seperti orang gila." Erich mengelengkan kepala. Tanpa kata ia meninggalkan Ernest untuk lekas pergi dari yayasan. Tugasnya sudah selesai dan masih banyak pekerjaan yang akan ia lakukan. Begitu hati Erich berbicara.


"Sial, dasar saudara tidak sopan. Kau sudah menendangku, sekarang malah meninggalkanku. Erich, tunggu! Kakiku sakit karnamu, tunggu aku!" Ernest terus mengumpat dan memangil Erich meski tak dihiraukan. Tertatih, Ernest menyeret langkah untuk bisa mengejar langkah saudara kembar yang sudah menunggunya di area parkir.


Seolah mendapatkan durian runtuh, di saat Ernest datang berkunjung, di situ pulalah ia kembali bertemu Sandara yang rupanya menjadi perwakilan mahasiswi dari sebuah Univertas yang membentuk lembaga badan amal yang nantinya akan diberikan kepada beberapa yayasan.


Seperti air mengalir, hubungan kedua insan yang semula kaku perlahan mencair. Ernest begitu getol untuk mendekati Sandara. Menyapa dan bahkan meminta nomor ponsel pribadi. Sandara tak keberatan. Rupanya gadis itu pun membuka ruang bagi seorang Ernest untuk masuk ke dalam hatinya.


Sandara adalah mahasiswi semester awal yang tinggal di sebuah kontrakan dan tak lagi memiliki sanak saudara. Begitulah pengakuan Sandara saat Ernest bertanya tentang diri dan juga keluarganya. Tubuh Ernest tersentak, ia terkesiap. Terlebih saat Sandara bercerita dengan mata berkaca-kaca. Tentu Ernest bisa merasakan penderitaan yang gadis itu rasakan.


Satu bulan berlalu. Dari pendekatan yang Ernest lakukan, rupanya membuahkan hasil yang memuaskan. Sandara menerima cintanya. Hingga tanpa berkompromi pria itu berjanji untuk membahagiakan sang gadis tak akan membuatnya merasa sedih.


Sandara yang sebelumnya bekerja menjadi pelayan di sebuah gerai makanan cepat saji untuk membiayai kuliah dan hidupnya, kini mulai dimanjakan oleh Ernest. Tanpa ragu pria muda itu menyewa satu unit apartemen untuk Sandara tempati. Gadis itu pun tak lagi bekerja menjadi pelayan saat Erich memberinya sebuah ruko yang kemudian disulapnya menjadi toko boneka.

__ADS_1


Sebagai kekasih Ernest hidup Sandara begitu dimanjakan. Tempat tinggal dan biaya hidup tak lagi gadis itu pusingkan. Hidupnya kini berubah. Hari-harinya hanya diisi dengan kuliah dan mengurus toko boneka. Dari hasil tokolah uang itu digunakan untuk biaya sehari-hati, itu pun Ernest masih memberi uang setiap bulannya yang dikhususkan untuk biaya makan Sandara.


Hidup terkadang seperti mimpi. Tentu hanya bagi manusia yang beruntung.


Ernest bahagia. Dia benar-benar bahagia saat berhasil memenuhi janjinya untuk terus membahagiakan Sandara. Dari semua yang ia berikan, tentu pria itu tak keberatan. Asalkan Sandara selalu mencintainya.


Prahara sempat terjadi saat Ernest mendapati gelagat yang mencurigakan antara kekasihnya dan Erich, saudara kembarnya. Entah kejadian apa yang membuat Sandara terlihat dengan Erich yang notabene begitu cuek dengan perempuan. Erich tak pernah dekat dengan gadis mana pun. Akan tetapi akhir-akhir ini baik Erich dan Sandara terlihat cukup dekat yang mana membuat Ernest curiga.


Benar saja, perlahan namun pasti Ernest bisa mencium adanya Affair antara Kekasih dan saudara kembarnya. Ernest luar biasa murka. Perang dingin pun tak terelakkan lagi. Hubungan saudara yang dulunya sangat dekat, kini seperti musuh, hingga Erich pun mengalah dan pergi ke kota xx untuk merintis bisnis.


Tenggelam dalam memori masa lalu membuat Ernest menghela nafas dalam. Dari kejadian tersebutlah hidup kedua anak kembar itu terpisahkan. Ernest kala itu yang masih terbelenggu dalam egonya, abai saat Erich memutuskan pergi dan merintis karirnya seorang diri tanpa bimbingan sang Ayah.


Beberapa tahun berlalu barulah Ernest sadar. Pertengkaran yang terjadi antara dirinya dan Erich seharusnya bisa dicegah andai saja diselesaikan dengan kepala dingin tanpa mendahulukan emosi. Penjelasan yang ia dengan hanyalah dari satu sudut, Sandara. Sementara Erich yang berniat ingin ikut menjelaskan, justru terpojok santan Ernest lebih dulu percaya akan semua ucapan yang dilontarkan Sandara. Erich pun menyerah sebab menyangkal pun percuma.


Ernest memejamkan mata saat memori itu seakan memenuhi otak. Sandara yang dulu sangat jauh berbeda dengan saat ini. Permintaan sang gadis turuti rupanya menjadi bomerang bagi dirinya sendiri.


"Sekarang justru kaulah yang sudah lebih dulu menemukan kebahagian, Erich. Sementara diriku..." Ernest tak mampu merampungkan ucapannya sendiri.


Berharap segera menemukan kebahagiaan dengan memacari Sandara, nyatanya apa yang ia dapat? Kebahagian? Bulshit. Sandara bahkan terkesan hanya perduli pada dirinya sendiri. Sementara bagi sebuah hubungan bukanlah tentang diri sendiri tetapi juga tentang diri orang lain. Orang lain yang selama ini kau pilih untuk mewujudkan satu mimpi yang sama.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2