CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Terlupakan


__ADS_3

...Ini tidak boleh terjadi....


Sekuat tenaga Erich berlari. Pria itu bahkan tak perduli saat tubuhnya menubruk tubuh orang lain yang juga melintas di jalan yang sama dengannya. Deru nafasnya mulai tak beraturan. Lelah tak lagi dirasa. Erich lekas menaiki lift yang mempercepat langkahnya untuk bisa sampai ke lantai di mana ruangan Isabel berada.


"Sial, kenapa lift kali ini bergerak lambat sekali," rutuk Erich seraya menggedor pintu lift dengan tak sabaran.


"Ya tuhan, andai punya sayap, aku pasti akan sampai lebih cepat." Mondar mandir tak karuan. Bibir Erich bahkan nyaris berteriak, sebelum akhirnya pintu lift itu terbuka.


Berlari dan terus berlari hingga tak terasa ruangan tempat Isabel berbaring beberapa hari ini sudah berada di depan mata. Beberapa tenaga medis tampak berdiri di depan pintu ruangan. Perasaan Erich kian tak karuan. Ia segera masuk ke dalam ruangan, lantas memastikan apa yang sebenarnya terjadi.


"Tuan Erich ada ---" Ucapan seorang dokter itu terhenti saat Erich justru menerobos masuk ke dalam ruangan tanpa memperdulikannya.


"Isab--bell.." Erich terpaku sejenak. Bibirmya yang baru saja menyebut satu nama dengan bibir bergetar itu, terperangah saat sosok gadis yang terbaring di atas ranjang perawatan itu telah membuka mata.


Tanpa aba-aba, pria tamban itu berlari mendekat dan spontan memeluk tubuh sang gadis yang tengah terbaring itu sebagai luapan kebahagian.


"Isabel.., kau sudah bangun? Aku kira, aku kira kau.." Erich tak mampu melanjutkan ucapannya, pria itu justru menagis seraya menatap kedua mata Isabel yang juga berkaca-kaca.


"Te-terimakasih," ucap Isabel terbata. Tubuh gadis itu masih terlihat lemah. Hanya kerjapan mata dan senyum tipis yang terukir di bibir yang bisa gadis itu lakukan.


"Jangan banyak bicara dulu Isabel. Tubuhmu masih sangat lemah." Dengan gerakan seringan kapar tanpa sadar Erich mengusap bibir mungil Isabel yang hendak berbicara.


"Maaf," lirih Erich setengah terkejut atas sikap spontan yang ia lakukan sementara Isabel menanggapinya dengan tersenyum tipis.


"Tuan,maaf. Sebenarnya kami pun ingin menyampaikan jika Nona Isabel sudah sadar dan kondisinya semakin membaik." Seorang Dokter yang tadi sempat diabaikan keberadaannya oleh Erich, menyusul masuk ke dalam ruangan.


"Oh, maaf dok. Tadi bahkan saya tidak sempat melihat anda."

__ADS_1


Jawaban Erich seketika membuat sang dokter berkacamata minus itu tersenyum kecut. Mungkin tak terima mengingat postur tubuhnya yang tinggi besar, masih bisa dikatakan tak terlihat oleh seorang pria muda yang nyatanya lebih gagah dari pada dirinya.


"Baiklah, tuan. Untuk sementara waktu biarkan pasien beristirahat . Jangan ajak bicara lebih dulu guna mempercepat proses pemulihan dan --" Sang dokter lekas mengunci mulut begitu mendapat tatapan tajam dari sang lawan bicara.


"Em, lakukan saja apa yang ingin tuan lakukan. Tapi saya harap Nona Isabel rutin mengonsumsi obat dan vitamin yang diberikan, lagi-lagi untuk mempercepat proses pemyembuhan. Maaf jika sudah menganggu waktu istirahat anda, nona Isabel. Saya permisi," pamit sang dokter dengan kepala menunduk, engan bersitatap dengan Eroch yang seolah ingin menelannya hidup-hidup.


"Pergilah," jawab Erich dengan sudut bibir terangkat, menahan tawa.


"Kau dengar ucapan dokter?"


Isabel mengerjap mata seolah mengatakan 'Ya'.


"Kau tidak boleh banyak berbicara dan bergerak untuk mempercepat proses penyembuhan."


Isabel tersenyum tipis. Sepasang bola mata bening itu memberi tatapan menghangatkan yang ia tunjukan untuk Erich. Seorang pria yang rela pasang badan demi dirinya.


"Te-terimakasih." Satu kata itu kembali terucap dari bibir pucat Isabel.


Erich tersipu. Ia bahkan sempat membuang wajah, menutupi senyum tipis yang terukir di bibir agar tak ditangkap basah oleh Isabel.


"O, ya. Aku yakin kau pasti senang. Aku akan membawa seseorang yang teramat spesial di hadapanmu. Seseorang yang sangat berharga dan juga yang paling kau rindukan." Sebenarnya ini hanyalah strategi Erich untuk mengalihkan kecanggungan yang sempat tercipta di antara dirinya juga Isabel.


Praja diwangka-lah yang menjadi tempat pengalihannya kini dan Ya tuhan, apa yang terjadi.


"Siapa?"


Erich spontan menelan ludah saat Isabel menunjukan raut wajah penasarannya.

__ADS_1


Bukankah Ia berlari seorang diri dan..


Aku bahkan melupakan keberadaan Ayah Isabel yang nyata-nyata duduk di sampingku. Duh bagaimana ini?


"Kak Erich, si-siapa orang yang kakak maksud?"


Sial, mampus aku. Kenapa ayahmu sampai tertinggal Isabel? Lalu aku harus menjawab apa sekarang?


"Kak Erich."


"Em, sebentar. Kau beristirahatlah," titah Erich seraya mengusap lengan Isabel. Memohon pada tuhan agar sang gadis melupakan ucapannya beberapa saat lalu tentang kejutan. "Aku akan keluar sebentar, aku janji tidak akan lama," sambung Erich yang hendak beranjak namun tangannya di tahan oleh Isabel.


"Kenapa? Kakak bahkan belum menjawab pertanyaanku."


Sial, Erich tak mampu menatap mata yang sudah berkaca-kaca itu.


Bodoh.


Erich tak henti merutuki kebodohannya sendiri, terlebih Isabel kini mengurung pergerakannya dengan tatapan memohon seolah meminta kejelasan.


Sementara itu dilain tempat.


"Atas nama tuan Erich, saya meminta maaf atas sikap kekurang sopanan yang beliau perbuat." Agung membimbing langkah Praja untuk kembali duduk di kursi roda selepas perginya Erich.


Praja tersenyum lantas berucap, "Tidak masalah, mungkin kecemasannya pada putriku yang terlalu tinggi membuatnya bersikap seperti ini." Bukan marah, Praja justru merasa senang sebab telah menemukan seorang pria yang begitu bertanggung jawab atas keselamatan putrinya.


Agung tak lagi bicara. Ia mendorong kursi roda yang di duduki Praja untuk kembali ke rumah sakit.

__ADS_1


Selepas kejadian ini aku berharap jika tuan Praja tidak akan memecat anda dari daftar calon mantu, tuan Erich.


Tbc.


__ADS_2