
Semilir angin malam serasa menyapu lembut kulit tubuh yang tak tertutup pakaian. Sepasang muda mudi tengah duduk berdampingan seraya menatap langit yang bertabur bintang.
"Maaf jika lancang. Aku memang tak tau banyak tentang kehidupanmu. Tapi entah mengapa selepas kejadian ini, aku pun mulai penasaran dan ingin mengetahuinya lebih dalam." Mungkin lebih tepatnya Erich tak mampu lagi memendam rasa penasarannya akan kisah hidup seorang gadis yang duduk di sampingnya kini. Bukan tanpa sebab, selepas kejadian yang bertubi-tubi menghampiri hingga menyeret dirinya, membuat Erich keukeuh untuk mengulik kehidupan sang gadis secara mendalam tanpa berniat mencampuri urusan pribadinya.
Gadis itu hanya tersenyum tipis dan lamtas menjawab, "Untuk apa?"
Erich mengernyit.
"Maksudmu?"
"Jangan katakan jika anda ingin mengetahui tentang kehidupan saya sebab merasakan iba?"
Glek. Erich menelan saliva. Bukan, bukan seperti itu maksudnya. Hanya saja, ah hanya saja Erich pun tak tau pasti alasan pasti yang melandasinya menanyakan semua itu.
Isabel menghela nafas. Melihat Erich yang kesulitan memberi jawaban membuat gadis itu tersadar, Erich adalah orang baru baginya. Mungkin saja pria itu bertanya hanya sekedar ingin tau dan bukan karna ada maksud lain.
"Hidup yang saya jalani, berat dan mungkin orang misterius yang sudah melukai anda pun adalah orang-orang dari ibu tiri saya."
"Ya, aku sudah bisa menebaknya. Akan tetapi alasan apakah yang melandasi mereka melakukan hal mengerikan itu padamu?"
Angin bertiup cukup kencang. Isabel merasakan hawa dingin mulai menusuk hingga ketulangnya. Ia mengusap-usap kedua telapang tangan dan kedua lenganya yang tak tertutup pakaian.
"Tunggu sebentar." Erich bangkit, berjalan cepat masuk kedalam rumah hingga beberapa saat kembali dengan membawa sesuatu dalam dekapannya.
__ADS_1
"Ini, pakailah," titah Erich seraya mengulurkan sesuatu yang sempat ia dekap yang tak lain selembar sweter yang terasa hangat saat menyentuh kulit. "Angin bertiup kencang dan kau pasti kedinginan," tambah pria itu saat sweter yang ia bawa sudah berpindah tangan.
Isabel tertegun sejenak. Saat pakaian berbahan lembut itu menyentuh tangan. Kini bukan hanya tubuhnya yang menghangat tetapi juga hatinya. Entah sudah berapa lama dirinya tak lagi mendapatkan perhatian-perhatian kecil seperti yang baru saja Erich lakukan. Namun gadis itu pun tak ingin besar kepala. Erich sebagai pemilik rumah pasti merasa iba saat dirinya kedinginan. Lagi pula jika ia sakit, bukankah Eich juga yang akan direpotkan?.
"Terimakasih."
"Heem."
Terdengar langkah kaki dari arah punggung keduanya. Saat Isabel menoleh kearah suara, gadis itu mendapati seraut wajah bibi pelayan yang tersenyum seraya membawa sebuah nampan berisi dua cangkir minuman.
"Bibi," sapa Isabel dengan tatapan penuh tanya.
"Bibi membawakan coklat panas untuk tuan muda dan nona." Sigap perempuan setengah baya itu mendaratkan nampan di antara keduan insan yang tengah duduk seraya menikmati hangatnya suasana malam.
"Sama-sama, saya permisi tuan, nona." Bibi pelayan menunundukan kepala kemudian berlalu pergi meninggalkan kedua insan yang masih saling terdiam.
"Bisa kita sambung pembicaraan tadi?"
Isabel mengangguk. Sementara Erich menyesap coklat panas yang dibuatkan oleh bibi pelayan.
"Dulu hidup keluargaku begitu bahagia seperti keluarga lain pada umumnya."Isabel menjeda ucapannya sejenak, menghalau rasa sesak yang mulai menghimpit dada. "Tetapi setelah seseorang datang, kebahagiaan itu perlahan sirna hingga berganti menjadi penderitaan."
Isabel mengingat jelas peristiwa di mana Ibunya datang membawa seorang perempuan dan putri kecilnya dengan pakaian kumal. Arum begitu ibunya memperkenalkan, kemudian putri di samping perempuan itu memperkenalkan diri.
__ADS_1
"Namaku lara, Larasati." Gadis kecil yang lebih tinggi dari Isabel itu mengulurkan tangannya yang dekil terkena debu. Isabel tak menolak, tak merasa jijik dan menyambut uluran tangan larasati yang rupanya memiliki usia beberapa tahun di atasnya.
"Mendiang ibu menolong mereka karna rasa kemanusiaan. Memberikan mereka makan, sandang dan tempat tinggal yang layak. Aku bahkan tak mengira jika kebaikan ibu justru dibalas pengkhianatan sedemikian rupa. Ayah memiliki banyak usaha dan harta yang lumayan. Mungkin dari beberapa kelebihan ayah itulah yang membuat Ibu Arum terpikat hingga melakukan segala cara untuk mendapatkan ayah."
Erich tampak khidmat mendengarkan cerita Isabel. Jadi benar, Isabel berasal dari keluarga terpandang?.
Mengalirlah seluruh cerita dari bibir Isabel. Gadis itu membuka kembali memori masa lalu yang begitu menyakiti hatinya. Mulai dari pengkhianatan Arum dan sang Ayah yang membuat Ibunya menderita hingga meninggal. Selalu dibeda-bedakan dalam hal apa saja dengan larasati juga perlakuan buruk lain hingga menghilangkan jejak Isabel sebagai putri sekaligus pewaris seluruh kekayaan Praja diwangka. Tak sampai di situ, kecelakaan yang menyebabkan sang Ayah pun tak luput ia sampaikan. Menurut Isabel sosok Erich sendiri sepertinya pria yang bisa dipercaya dan bisa menjaga rahasia untuk dirinya sendiri. Lagi pula Isabel sudah tak kuat jika terus memendamnya seorang diri. Lelah hati dan fikiran terkadang membuat gadis itu ingin menyerah. Mengakhiri hidup untuk menyusul sang ibu agar tak lagi merasakan pedihnya kehidupan dunia ini.
"Hidup dikelilingi para pengkhinat membuatku nyaris tak percaya pada siapa pun. Selain Bi Ratih yang selama ini memang sudah mengurusku."
Pandangan Erich tertuju pada wajah cantik Isabel yang dikedua bola mata indahnya sudah nampak berkaca. Pria itu sadar, jika gadis di hadapannya ini adalah sosok yang kuat. Mungkin melebihi dirinya yang seorang pria. Ingin sekali memeluk dan mengucapkan kata penyemangat namun Erich sadar, saat ini belumlah waktunya.
"Polisi sudah membekuk tersangka penusukan. Jika kau ingin, kita bisa melihatnya di rumah tahanan. Aku sempat berfikir apakah kalian saling kenal atau bahkan lebih dari itu."
Isabel terlihat menghela nafas. Tak ingin menerka atau pun membayangkan sosok wajah yang sudah dengan tega ingin menghabisi nyawanya.
Akan tetapi jika ia menolak, maka seumur hidup dirinya pun akan dibuat penasaran.
"Bagaimana?" Erich memperjelas.
"Baiklah."
Tbc.
__ADS_1