CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Undangan Makan Malam


__ADS_3

Pagi yang cerah. Sinaran mentari serta kicauan burung menjadi pandangan indah bersendiri bagi para penduduk bumi untuk menyambut hari. Tak terkecuali Ernest. Pria berpostur tubuh tinggi tegap itu sedang berdiri di dekat jendela kamar, sementara kedua tangannya sibuk mengancing lengan kemeja yang ia pakai.


Pagi ini wajah pria tampan itu terlihat lebih segar dari hari biasa. Sesekali ia bersiul dan berdendang dengan bibir mengumam. Kentara jelas jika pria muda itu sedang diliputi kebahagiaan.


Selepas memakai arloji dipergelangan tangan, Ernest mematut penampilan di depan cermin. Hanya tinggal memakai jas sebagai sentuhan terakhir.


"Nyaris sempurna," puji Ernest untuk dirinya sendiri. Tersenyum simpul, pria dengan tinggi badan 189 sentimeter itu menepuk-nepuk pakaian bagian depannya sebelum keluar dari kamar.


Ernest menuruni tangga, ikut bergabung dengan keluarganya yang sudah berkumpul di meja makan.


"Wah, putraku terlihat tampan sekali pagi ini." Baru saja muncul, Zara sudah memuji putranya. Arka tersenyum samar, dan Emely tersenyum menggoda.


"Ibu, akhir-akhir ini aku merasa ada yang berbeda dari Kak Ernest tapi apa ya?." Emely menatap pada sang Kakak sementara yang ditatap hanya acuh. Menduduki sebuah kursi yang sudah dipersiapkan pelayan kemudian ikut menikmati sarapan.


"Emely, ayo lanjutkan sarapanmu," titah Arka yang tak suka jika putra putrinya makan sembari berbicara.


"Baik, Ayah." Meski patuh namun pandangan Emely masih tertuju pada Ernest. Ia seperti sedang menilai penampilan serta tingkah laku sang Kakak akhir-akhir ini. Wajah tampan itu terlihat lebih segar dan sering tersenyum. Penampilannya dulu yang terkesan sembarangan kini terlihat cukup rapi meski rambut panjangnya tetap dipertahankan. Sang Kakak seperti kembali pada masa sebelum dikecewakan oleh Sandara. Ernest sudah kembali seperti sedia kala. Akan tetapi siapa yang sudah membuatnya kembali, diri sendiri ataukah berasal dari orang lain?.


"Emely, jangan melamun saat makan," teguran dari Ernest membuat Emely geragapan. Ia hendak merutuk sang Kakak yang sudah membuatnya terkejut namun ia urungkan selepas mendapat tatapan tajam dari sang Ayah.


"Lanjutkan makanmu jika tidak ingin terlambat kuliah."


"Baik, Ayah." Lagi-lagi Emely tak berani membantah.


Mereka makan dalam diam, hanya denting piring beradu dengan garpu lah yan terdengar.


Ernest mengusap sudut bibirnya dengan tisu sebelum bergerak untuk bangkit. Zara yang melihat putrinya hendak pergi, menghentikan pergerakannya.


"Ernest, tunggu sebentar." Zara bangkit kemudian meraih kotak bekal yang tak berada jauh dari jangkauan kemudian memasukkan beberapa potong rosi isi ke dalam wadah tersebut.


"Ada apa, Ibu?." Tentunya pergerakan Zara tak luput dari tatapan putranya. Bukankah ia sudah sarapan, lalu bekal roti isi itu untuk siapa?.

__ADS_1


"Berikan ini pada Natasya," titah Zara saat memberikan kotak bekal berwarna merah muda itu pada putranya.


"Hah, Natasya?." Ernest dan Emely bertanya serempak.


"Ya, Natasya."


"Kalau dia sudah sarapan?."


"Berikan saja. Katakan itu dari Ibu, Natasya pasti akan memakannya meski sudah sarapan." Ernest yang terlihat ragu tak kuasa untuk menolak. Ia pun menerima kotak bekal berwarna merah muda tersebut dengan perasaan yang ... Entahlah. Sementara Emely, gadis itu justru terlihat bingung. Ia tatap secara bergantian sang Kakak dan Ibhnya yang memasang ekspresi berbeda. Jika Ibunya senang, berbeda dengan Ernest yang nampak terbebani.


Aku yakin warna kotak bekal itu lah yang membuat Kak Ernest ogah-ogahan menuruti permintaan Ibu.


💗💗💗💗💗


Ernest menelan salivanya berat saat pintu lift khusus menuju ruang kerjanya terbuka. Kenapa daadanya tiba-tiba berdebar tak karuan, berbeda dengan hari-hari biasanya.


"Apa gara-gara..." Ernest menggumam. Langkah kakinya terhenti mendadak. Ia menelan kembali saliva saat meja kerja Natasya sudah terlihat dari tempat dirinya berdiri saat ini.


Langit yang berdiri diam di belakang tubuh Ernest, hanya diam namun pandangannya menyiratkan berjuta tanya. Kenapa sejak berangkat tadi tinggkah Tuannya mendadak aneh, dan apa itu, kotak bekal berwarna merah muda?. Ya, tuhan. Langit tak habis fikir namun tak jua berani berkomentar.


Ernest lebih dulu menghela nafas dalam sebelum kembali melanjutkan langkah. Langit melirik ke arah kotak bekal yang sejatinya sudah terkemas dalam paper bag, hanya saja saat membuka pintu Tuannya, benda itu sudah sempat dilihat olehnya.


Natasya sontak bangkit dari duduk kemudian menundukkan kepala selepas mendengar langkah kaki Tuannya.


"Selamat pagi, Tuan Ernest, dan Tuan Langit," sapa Natasya.


"Pagi," jawab Ernest yang kemudian diikiluti oleh Langit.


Setengah ragu Ernest mengangkat paper bag kemudian mendaratkannya di atas meja kerja Natasya.


"Ini bekal dari Ibuku. Beliau bilang jika kau harus memakannya meski pun sudah sarapan." Tanpa banyak kata pria muda itu melanjutkan langkah untuk memasuki ruang kerjanya.

__ADS_1


Natasya yang masih terkejut, tergagap saat Tubuh Tuannya hampir menghilang di balik Tuan.


"Te-terimakasih, Tuan. Katakan pada Ibu anda, saya mengucapkan terima kasih banyak. Saya pasti akan memakannya."


Suara Natasya yang masih bisa didengar oleh Ernest, membuat sudut bibir pria itu pun terangkat. Ernest tersenyum senang namun ia coba menutupinya dari Langit.


💗💗💗💗💗


Sore ini Rangga kembali menemui Ernest. Selain untuk urusan kerja, Rangga juga ingin bertemu putra dari sahabatnya itu untuk sekadar bertukar cerita. Maklum, selepas curhat panjang lebar saat itu, keduanya tak punya kesempatan untuk bertemu.


Rangga sempat melihat Natasya duduk di kursi kerjanya sebelum ia memasuki ruang kerja Ernest. Natasya hanya menundukkan kepala dan membukakan pintu namun tak menegurnya. Sedangkan Rangga, ia pun diam. Rupanya kecanggungan masih menyelimuti keduanya selepas pembicaraan hari itu. Biarlah, semua mengalir sebagai mana mestinya.


Dari luar ruangan, Natasya bisa mendengar gelak tawa dari ruang kerja atasannya. Rupanya kedua pria berbeda usia itu memiliki hubungan yang cukup dekat. Natasya kembali melanjutkan pekerjaan. Berusaha abai dan fokus hanya pada pekerjaannya. Gadis itu bangkit saat Ernest memintanya menyediakan Minuman serta buah-buahan untuk Rangga meski sejatinya pekerjaan tersebut bisa saja dikerjakan oleh OG. Akan tetapi jika menyangkut tamu-tamu Ernest, pria itu selalu memerintahkan pada Natasya untuk mengerjakannya.


Satu setengah jam berlalu, pintu ruang kerja Ernest menunjukan pergerakan. Tubuh Rangga keluar dengan penampilan tak berubah dari saat memasuki ruangan Ernest beberapa waktu lalu.


Pria itu melewati Natasya begitu saja, namun gadis itu berjalan cepat untuk bisa mengejarnya.


"Tuan, tunggu."


Rangga yang bisa mendengar Natasya memanggilnya sontak menghentikan langkah. Pria itu berbalik badan, dan terkejut begitu mengetahui Natasya mengejarnya.


"Natasya, ada apa?." Rangga tentu dibuat penasaran sebab tak biasanya Natasya seperti ini.


"Malam nanti saya mengundang Tuan untuk makan malam, di rumah. Saya berharap Tuan bersedia untuk datang." Natasya menatap pada Rangga, sementara yang ditatap tentu terkesiap. Undangan, makan malam?.


"Undangan, nanti malam?." Rangga seperti tak percaya.


"Benar, Tuan. Sudi kiranya Tuan untuk datang."


Rangga tak bisa berkata-kata. Ia hanya menggangguk sebagai jawaban.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2