
"Natasya?." Rangga berdiri terpaku begitu melihat seorang tamu yang kini duduk di sofa tamu. Ia terkejut, saat tamu yang datang berkunjung adalah Natasya, putri dari kekasihnya di masa lalu.
"Selamat pagi, Tuan. Senang bisa bertemu dengan anda," sapa Natasya seraya bangkit dari posisinya dan menundukan kepala sebagai tanda penghormatan.
"Pa-pagi, ayo duduklah," jawab Rangga mempersilahkan. Pria itu mendadak gugup namun sebisa mungkin bersikap tenang. Terlebih di hadapan gadis yang notabene adalah Sekretaris dari putra sahabatnya.
"Terimakasih, Tuan." Di sini Natasya terlihat lebih tenang. Entahlah, mungkin gadis berkulit putih itu memang sudah mempersiapkan diri sebelum pada akhirnya mau menginjakkan kaki ke kediaman pria yang dulu pernah merenggut kesucian Ibunya.
Hening menyelimuti. Jika Rangga kebingungan untuk merangkai kata, sedangkan Natasya lebih memilih untuk memperhatikan seisi rumah Rangga meski secara diam-diam.
Terlahir dari keluarga Wiratama. Tentu saja Rangga orang berpunya. Hunian megah, juga kendaraan yang berjajar hampir memenuhi garasi. Luar biasa. Tapi kenapa hanya ada Rangga di rumah ini?.
"Maaf jika saya datang tidak membuat janji lebih dulu."
"O, tidak masalah." Rangga menjawab cepat. "Datanglah, bila kau ingin. Ernest sudah seperti putrku sendiri, dan apa kau datang kemari seorang diri?." Tadi Rangga sempat mencari-cari seseorang yang mungkin saja datang bersama Natasya, tetapi tidak ada siapapun, dan dari mana gadis itu tau alamat rumahnya?.
"Benar, Tuan. Saya memang datang seorang diri."
Keduanya kembali diam. Rangga sendiri merasa tak nyaman dengan situasi seperti ini. Natasya datang ke rumahnya tanpa teman, tentunya hal itu menjadi tanda tanya besar dalam diri sang pemilik rumah yang hanya bisa menebak maksud dari kedatangan Natasya.
__ADS_1
"Tuan Rangga, apakah kedatangan saya menggangu atau menyita waktu anda?." Lagi, Natasya bertanya dengan suara yang terdengar ringan nyaris tanpa beban, dan sukses membuat Rangga merinding.
"Tidak, untuk hari ini aku tak punya agenda apa pun. Jika pun ada, mungkin akan aku geser ke lain hari demi tamu sepertimu."
Natasya mengulas senyum. Oh, begitukan. Ucapan Rangga terdengar manis. Apakah kata-kata manisnya ini yang membuat ibunya dulu bertekuk lutut?.
"Saya datang kemari memang untuk menyita waktu anda sebentar. Tuan tentu sudah mengenal siapa saya, Natasya putri dari pasangan Anastasya dan Kenan Syailendra."
Wajah Rangga mulai memucat. Entah apa yang pria itu sedang rasakan.
"Ya, aku sudah tau tentangmu."
Rangga tercekat. Ia seperti kesulitan untuk bernafas. Benar, rupanya Natasya datang untuk sebuah tujuan.
💗💗💗💗💗
Hamparan bunga berwarna warni, menjadi pemandangan indah saat dipandang mata. Sebuah tamanman buatan yang terletak di halaman belakang kediaman Rangga rupanya menjadi tempat baru bagi Rangga dan Natasya untuk berbicara secara lebih santai.
Rangga bukanlah pria bodoh. Dia bisa melihat aura kemarahan dalam tatapan Natasya saat memandangnya. Pria itu sadar akan kesalahannya, dan kedatangan Natasya kali ini bisa dipastikan jika gadis itu sudah tau akan kisah cinta masa lalunya dengan Anastasya.
__ADS_1
"Kau sudah mendengar kisah kami dulu dari Ibumu?."
"Ya." Natasya menjawab singkat yang mana membuat Rangga menghela nafas dalam.
"Aku sangat mencintai Ibumu, kau harus tau akan hal itu." Rangga menatap Natasya yang duduk berhadapan dengannya. Gadis itu diam namun sorot mata tetap tertuju padanya. "Bahkan sampai detik ini pun perasaanku pada Ibumu tak pernah berubah." Ada rasa getir yang merambat di tubuh. Mengingat akan perasaannya pada Anastasya membuatnya tak berdaya. Anastasya seperti mematri hati, hingga membuatnya tak mampu berpaling.
"Jika cinta, kenapa tak sedari dulu Tuan menikahi Ibuku?."
Menikah, pertanyaan Natasya seakan membuat Rangga tertampan. Terasa begitu sakit dan berbekas.
"Andai bisa kulakukan, pasti sejak dulu sudah kulakukan." Rangga tak menyangka jika putri Anastasya ini memiliku keberanian luar biasa untuk memojokkannya. "Keadaanlah yang memaksa kami berpisah. Meski sekuat tenaga kugapai Ibumu dan berusaha untuk menikahinya, namun tetap saja gagal."
"Anda terlalu pintar beralasan." Entah sikap Natasya kali ini benar atau salah. Kedatangannya ke rumah Rangga pun dirahasiakan dari Ibunya.
"Terserah, kau ingin menilaiku seperti apa. Kau pun tak salah jika membenciku." Rangga membiarkan Natasya terus memojokkannya. Biarlah emosi yang mungkin tersimpan dalam diri Natasya ingin dituntaskan. Dicaci atau dimaki, Rangga akan menerimanya.
Natasya diam. Ia masih ingin berdebat namun sadar jika kini ia sedang berbicara dengan orang yang lebih tua dan juga termasuk kerabat atasannya. Itu tidaklah sopan dan tidak baik untuk karirnya.
"Kami tidak pernah bisa bersatu karna orang tuaku lah yang memisahkan. Jika kau befikir aku tidak pernah berjuang untuk mendapatkan restu, kau salah besar Natasya." Rangga tak kuasa menahan air mata. "Aku dipindahkan secara paksa ke Negara Xx, sampai aku berlutut pada Arka untuk menikahi Ibumu karna aku sudah tak punya pilihan lain untuk melindungi Ibumu." Rangga benar-benar menangis sampai membuat Natasya terkejut dan tak enak hati. Gadis itu tak menyangka jika hanya membahas tentang Ibunya saja sudah sukses membuat seorang Rangga Wiratama menitikkan air mata.
__ADS_1
Bagaimana ini?.