
"Selamat datang Tuan Ernest Surya Atmadja. Saya Natasya. Saya hadir kemari untuk memenuhi panggilan interview dari anda." Suara ceria seorang gadis bernama Natasya itu mau tak mau membuat pandangan Ernest tertuju pada seseorang yang kini duduk di hadapannya. Pria itu menghela nafas dan cepat-cepat mengalihkan pandangan begitu mendapati bibir sang gadis tersenyum manis padanya. Lebih tepatnya senyum ramah.
Ernest menatap lembaran kertas yang dipegang. Jadi gadis inilah yang sempat disebut Emely waktu itu?. Lumayan, rupanya kenalan sang adik mempunyai kemampuan cukup mempuni hingga mampu menggeser beberapa kandidat lain yang mencalonkan diri menjadu sekretaris pribadinya.
"Selamat datang, Nona Natasya. Silakan duduk, senang rasanya melihat anda bisa melangkah sampai pada titik saat ini." Ernest tersenyum tipis. Ia masih meneliti isi data diri seorang gadis bernama Natasya ini.
Heem, lulusan universitas xx rupanya.
Ernest memandagi Natasya sejenak, kemudian fokus kembali pada data diri Natasya.
Tapi dia seperti tidak memiliki paras kebaratan.
Ernest memulai wawancara. Ia berbicara tegas seperti biasa. Ia hanya sesekali tersenyum bahkan sama sekali tak tertawa. Mungkin terkesan menyeramkan bagi para calon pekerja yang datang melamar, namun bagi Natasya itu terbilang wajar.
Gadis itu cukup percaya diri saat menjawab setiap pertanyaan yang dilemparkan oleh Ernest. Tak grogi dan terlihat santai meski sejujurnya tubuh Natasya pun gemetar begitu melihat seorang petinggi perusahaan yang memiliki penampilan jauh dari bayangannya.
Ernest memang rapi. Setelan jas lengkap nan mahal selalu membungkus tubuh tegapnya. Sepatu mengkilapnya pun kian menambah kadar ketampanannya sebagai seirang CEO muda. Akan tetapi rambut gondrong yang pria itu miliki membuat sebagian orang risih dan menyebutnya kurang rapi, dan hal tersebut rupanya juga dirasakan oleh Natasya.
Ernest menganggukkan kepala samar, cukup puas akan jawaban yang diberikan Natasya. Berbeda dengan kedua kandidat pilihan sebelumya, Sikap dan cara bicara Natasya masuk dalam kriteria sekretaris baru sebagai penganti Sandara.
Cih.
__ADS_1
Ernest bahkan ingin meludah begitu menyebut nama Sandara.
"Terimakasih. Kami akan menghubungimu nanti, Nona Natasya." Ernest berbicara dengan suara tenang. "Asisten pribadiku yang akan mengabarinya nanti, diterima atau tidaknya anda bekerja di tempat ini." Pria itu bangkit dan mengulurkan tangan. Natasya pun melakukan hal yang sama. Gadis itu menyambut uluran tangan Ernest dengan wajah mendongak untuk melihat wajah Ernest yang mempunyai tubuh jauh lebih tinggi darinya.
"Terimakasih, Tuan. Saya tidak sabar menunggu kabar." Ucapan Natasya terdengar antusias. Selepas jabatan kedua tangan itu terlepas, Natasya menundukkan kepala dan berbalik badan untuk keluar dari ruangan.
"Semoga kita bisa bertemu kembali." Ernest berucap, namun sayang tubuh gadis itu sudah hilang di balik pintu ruang kerjanya yang kembali tertutup rapat.
Ernest menghela nafas, dan menjatuhkan bobot tubuhnya kembali di kursi kebesaran. Merasakan sensasi rasa asing yang mulai menjalari seluruh tubuh selepas kepergian gadis bernama Natasya dari hadapannya.
Ada apa ini?.
Paras rupawan dengan kulit seputih kapas juga bibir yang mungil, rupanya sukses membuat seorang Ernest kehilangan fokus.
"Tuan Ernest." Sibuk berperang dengan fikiran membuat Ernest tak menyadari jika Langit sudah masuk ke ruang kerjanya. Putra dari Sam itu sudah berdiri tegak di seberang meja kerja. Menatap pada Tuan mudanya yang sedang duduk termenung di kursi kebesarannya.
"Sam, kau datang?." Ernest mengerjap, mengumpulk,an kesadaran selepas termenung memikirkan sosok gadis yang menjadi kandidat terakhir dalam interviewnya hari ini.
"Tuan, bolehkah saya duduk," izin Langit saat Ernest tak jua mempersilahkannya untuk duduk.
__ADS_1
"O, silakan. Maaf, kau harus lama berdiri karna aku." Ernest tergelak, begitu pun dengan Langit. Ke dua pria muda itu memang bukan hanya sebatas atas dan bawahan, namun lebih dari pada itu, mereka sudah selayaknya keluarga. Ernest dan Langit dibesarkan bersama. Jika dibandingkan dengan Erich, Langit malah lebih dekat dengan Ernest. Ernest yang memiliki sifat ramah dan mudah bergaul membuat Langit nyaman dan tak ragu untuk berteman. Sedangkan sikap Erich yang cenderung cuek dan tak banyak bicara, membuat Lagit ragu untuk sekedar mendekat.
"Bagaimana sesi interview terakhir hari ini, Tuan. Apa Tuan sudah menentukan pilihan, siapa dari ketiga kandidat yang sesuai dengan keinginan anda?." Langit menatap pada sang Tuan yang sepertinya tengah berfikir atau mungkin menimang sesuatu yang ada dibenaknya.
"Ketiganya memiliki kelebihan masing-masing juga kemampuan yang mempuni, namun ada satu kandidat yang terlihat lebih menonjol di antara yang lain." Ernest seperti sudah menemukan calon yang cocok untuk menjadi sekretaris pribadinya.
"Apa itu artinya Tuan sudah memiliki pilihan?."
"Ya," jawab Ernest tanpa ragu.
"Baiklah, Tuan." Lagit menghela nafas lega. Ia sempat berfikir jika akan kesulitan untuk mendapatkan sekretaris yang sesuai dengan keinginan sang Tuan, namun nyatanya tak sesulit yang ia bayangkan.
Ernest mengangsur lembaran kertas di hadapan dan memberikannya pada Langit.
"Besok, hubungi dia. Katakan jika dia terpilih dan berhasil menyingkirkan dua kandidat lain. Setelahnya kita akan membahas perihal kontrak kerja dan beberapa peraturan yang harus ia ketahui ketika bekerja menjadi sekretaris pribadiku."
"Baik, Tuan. Pasti akan saya sampaikan." Langit memilih bangkit. Sebagai Asisten pribadi Ernest dia pun unya kesibukan lain.
Duduk di kursi kebesaran, Ernest lagi-lagi termenung. Entah apa yang sedang pria itu fikirkan, namun satu yang pasti jika dia tidak sedang memikirkan Sandara. 😂
Tbc.
__ADS_1