
Benda pipih berlogo apel tergigit sedari satu jam yang lalu tak pernah lepas dari jangkauan tangan Anastasya. Berulang kali ia menggulir layar untuk menghubungi satu nomor kontak namun selalu tak tersambung. Ia pun juga terus memeriksa apakah ada pesan masuk atau pun panggilan dari nomor yang ia hubungi. Nihil, tak ada pesan atau pun panggilan yang tersambung ke ponselnya.
Di ruang tamu ia hilir mudik, kesana kemari dengan wajah cemas. Natasya putrinya berkata ingin keluar sebentar namun nyatanya lebih dari tiga jam pergi namun belum jua kembali. Andaikan dapat dihubungi pastinya Anastasya tak kan secemas ini.
"Di mana kau, Nak. Kenapa belum pulang sampai sekarang?." Tidak biasanya Natasya seperti ini. Susah dihubungi dan pergi dalam waktu terlalu lama.
"Boodohnya aku yang tak bertanya ke mana perginya saat berpamitan tadi," rutuk Anastasya pada dirinya sendiri. Natasya berpamitan hendak keluar namun tak mengatakan tempat. Anastasya yang berfikir jika putrinya hanya ingin keluar sebentar, tak ambil pusing. Tanpa bertanya lebih lanjut ia pun langsung memberi izin.
"Andai bisa dihubungi tentunya aku tak akan secemas ini." Di kota ini Natasya tak banyak memiliki teman. Jadi Anastasya pun bingung hendak bertanya pada siapa.
"Pada Ernest," gumam Anastasya. "Ah, tidak mungkin. Andai bersama Ernest, pasti dari salah satunya sudah meminta izin padaku." Lagi pula untuk apa Putrinya keluar bersama Ernest, dan hari ini pun bukan hari kerja.
Sekali lagi Anastasya memeriksa ponsel pribadinya. Sepi, hanya grup khusus karyawan toko bunga lah yang terlihat aktif.
"Di mana kau, Nak."
Anastasya menoleh ke arah jedela berlapis kaca saat suara pintu gerbang seperti terbuka. Tanpa fikur panjang perempuan itu pun berlari membuka pintu utama untuk melihat siapa yang datang.
Sedan mewah berwarna merah memasuki pintu gerbang yang dibuka seorang penjaga keamanan. Anastasya menghela nafas, begitu kuda besi milik putrinya itu sudah kembali.
Pandangan Anastasya tak teralihkan dari kendaraan itu sampai terhenti di garasi. Tak berapa lama pintu terbuka dan tubuh putrinya keluar dari sana. Di pintu lainya tak ada pergerakan, itu tandanya sang putri pulang sendiri.
Tentu saja dia pulang sendiri, memangnya kau ingin putrimu membawa pulang siapa?.
Anastasya cepat-cepat mengerjap dan mengumpulkan kesadaran. Setelah fikirannya terbuka lebar ia pun bergerak menghampiri sang putri.
"Tasya, kau dari mana saja?."
Natasya yang baru menyadari keberadaan sang Ibu diantaranya, sontak terperanjat. Ia terkesiap.
"Aku hanya mencari udara segar, Ibu."
"Mencari udara segar, selama ini?." Jika hanya satu jam mungkin bisa diterima akal, tapi ini lebih dari dua jam. Apa tidak kembung makan udara?.
"He em."
"Kau juga tidak bisa dihubungi, Ibu khawatir."
Natasya tiba-tiba merogoh sesuatu di dalam tas dan mengeluarkannya.
"Batraiku habis," jawab Natasya seraya menunjukkan ponsel pintarnya yang mati total.
Anastasya hanya bisa menghela nafas dalam.
__ADS_1
"Ya sudah, masuk dan istirahatlah," titah Anastasya pada sang putri. Natasya sudah menundukkan kepala dan hendak pergi dari hadapan Ibunya. "Tasya, kau sudah makan," tanya Anastasya kemudian.
"Tadi sebelum pulang kami sempat makan lebih dulu, Ibu. Jadi sekarang aku masih kenyang."
"O, ya sudah. Istirahatlah."
"Baik, Ibu." Natasya berlalu pergi. Menolak tawaran sang Ibu serta mengabaikan rasa perih di dalam perut. Bohong jika dirinya kenyang, Pelayan kediaman Rangga memang mempersiapkan majanan saat dirinya bertamu. Akan tetapi Natasya menolak ajakan Rangga untuk makan. Entahlah saat itu dirinya sama sekali tak berselera untuk makan.
💗💗💗💗💗
Jadwal kerja yang padat merayap dilalui oleh Ernest dan juga sekretarisnya Natasya. Ada beberapa meting penting dan jamuan makan siang bersama investor dalam negeri yang mengharuskan kedua insan tersebut berpindah- pindah tempat pertemuan dalam satu hari. Lelah, tentu saja. Namun satu yang tak luput dari pandangan Ernest. Natasya terlihat tak fokus bekerja dan lebih banyak diam dari hari biasanya. Ada apakah gerangan?.
"Hei, ada apa?." Alis Ernest terangkat, mengarah pada Natasya seperti isyarat.
"ada apanya?." Gadis itu justru balik bertanya.
"Kau itu ada apa, kenapa jadi pendiam, kau sedang tak bersemangat?." Memakai bahasa formal seperti atasan dan bawahan pada umumnya?. Huh, lewat. Sejak prahara kedua orang tuanya di masa lalu yang berkaitan membuat Ernest dan Natasya tak lagi sungkan. Mereka sudah terlihat seperti teman, bahkan sahabat.
"Entahlah, aku memang sedang sedikit tidak bersemangat."
Ernest menganggukkan kepala, seperti faham akan ucapan gadis di depannya.
"Kira-kira apa yang membuatmu pada hari ini tampak tak bersemangat. Apa karna makananmu?. Bukankah kita sudah makan stek dengan daging kualitas terbaik hari ini atau jangan-jangan karna gajimu?." Ernest terdiam sejenak. "Baiklah, bulan depan gajimu akan naik dua puluh persen." Ernest berbicara sembari memainkan ponsel. Sementara Natasya terperanjat dan menggelengkan kepala.
"Lalu tentang apa?."
Natasya memejamkan mata sesaat, kini Ernest justru sedang menatapnya lekat. Pria yang berada di hadapan Natasya tersebut justru bangkit dan berpindah tempat. Kursi yang panjang membuat pria itu tak sungkan, hingga menjatuhkan bobot tubuh tepat di samping tubuh Natasya.
"Natasya, ada apa. Ayo ceritakan padaku." Mungkin keakraban yang akhir-akhir ini terjalin membuat Ernest semakin nyaman dengan Natasya dan tak ragu andai sang gadis mau berkeluh kesah. Hening, keduanya saling pandang namun dengan bibir saling bungkam.
Natasya menurunkan pandangan. Sejenak ia berfikir, antara ingin berbagi cerita pada Ernest atau tidak.
"Natasya."
Panggilan Ernest membuat pandangan Natasya kembali terangkat.
"Ini tentang Ibuku dan Tuan Rangga." Akhirnya kata-kata itu keluar juga dari mulut Natasya. "Kemarin aku nekat datang ke rumah Tuan Rangga seorang diri."
Ernest terdengar menghela nafas dalam.
"Lalu apa yang kau lakukan di sana?." Ernest tetap memandangi gadis di sampingnya. Ada rasa Iba menyusup relung hati. Manakala melihat Natasya dalam keadaan serumit ini.
"Aku hanya ingin mendengarkan penjelasan darinya. Aku hanya ingin tau alasan-alasan beliau sampai bisa meninggalkan Ibu dalam keadaan mengandung."
__ADS_1
Ernest tentu terkesiap.
Mengandung?.
"Mengandung?." Tanya Ernest.
"Ya."
Ernest terdiam. Ia bahkan tak tau jika Ibu dari Natasya dan Paman Rangga punya buah hati. Yang Ernest tau, dirinya memang memiliki Kakak, buah hati Ayahnya dengan Anastasya yang bernama Abigail. Akan tetapi untuk putra dari Anastasya dan Rangga, Ernest tak mengetahuinya.
Tentu saja sebab pada Ernest, baik Zara atau pun Arka tak menjelaskannya secara rinci. Zara hanya bercerita banyak pada Natasya sebagai pancingan agar dapat mempertemukan dengan Ibunya dulu.
"Ibu selalu berkata jika Tuan Rangga pria baik, andaikan baik kenapa dulu beliau sampai meninggalkan Ibu. Itulah yang selalu menjadi pertanyaanku."
"Dan kau mendapatkan jawabannya?." Ernest menanggapi. Pada akhirnya Natasya mengangguk.
"Aku rasa baik Ibuku atau pun Tuan Rangga masih sama-sama memiliki rasa." Natasya menatap Ernest, kini sepasang matanya mulai berkaca-kaca. Sesak mulai memenuhi dada. "Tapi bagaimana dengan Ayah?." Air mata itu luruh jua. Gadis itu tertunduk, menyimpan tangisnya dari Ernest.
"Natasya," panggil Ernest dengan suara lembut. Secara spontan tangan Ernest menyentuh bahu Natasya lalu mengusapnya pelan. Pria itu tau jika sang gadis tengah berduka. "Tenanglah. Jangan menangis, semua akan baik-baik saja."
Tangis Natasya bukannya mereda tetapi semakin kencang. Beruntung kondisi sekitar sepi dan tak ada satu orang pun yang melintas. Ernest yang tak tega lekas merengkuh bahu Natasya dan mendekapnya. Natasya menangis dalam dekapan Ernest.
"Tenanglah, semua akan baik-baik saja." Natasya masih menagis. Wajahnya bersembunyi di dadaa bidang Ernest yang berbalut jas. Sementara tangan Ernest bergerak mengusap puncak kepala sang gadis dan terus berusaha menenangkannya. "Tentu kau masih ingat dengan kata-kataku beberapa hari lalu. Seperti dirimu, Ibumu pun berhak mencari kebahagiaannya sendiri. Kau butuh teman hidup, begitu pun Ibumu, Natasya." Kata-kata yang pernah keluar dari mulut Ernest kini terucap kembali. Keduanya masih berpelukan, bahkan Natasya merasa begitu nyaman. Entahlah, karna terbawa perasaan dirinya bahkan tak lagi sungkan saat memeluk atasannya sendiri. Beruntung pria itu tak menolak.
"Ya, aku tau tapi hal ini masih terasa berat untukku."
Berat, tentu saja. Terlebih diusia sang ibu yang tak lagi muda. Entahlah, kenapa setelah mendengar cerita langsung dari Ibunya membuat Natasya dihantui kecemasan mendalam serta ketakutan.
"Jalani lebih dulu. Aku akan berdiri di sampingmu. Jadikan aku sandaranmu, gengam tanganku agar kau tak merasa takut. Aku berani bersaksi, jika Paman tidak akan menyakiti Ibumu lagi andai diberi kesempatan untuk bertaruh. Jika Paman sampai mengulang kesalahannya kembali, maka akulah orang pertama yang akan melenyapkannya dari muka bumi ini dengan tanganku sendiri."
"Tuan, kau ini berkata apa!."
"Aku tidak main-main, Natasya. Paman pernah bilang jika tak menikah sampai detik ini pun karna masih mencintai Ibumu. Andai diberi kesempatan untuk bersama dan Paman masih menyakiti, bukankah ucapannya hanya palsu?." Rangga yang berulang kali mengatakan menyesal. Apakah masih sampai hati untuk menyakiti lagi?. Tentu tidak mungki?.
"Lalu aku harus apa?."
"Biarkan mereka, jangan cegah mereka untuk kembali dekat. Beri mereka ruang dan tempat yang nyaman untuk berfikir dan introspeksi diri dari kesalahan mereka di masa lalu. Kedepannya tentu mereka bisa berfikir sendiri, antara ingin melanjutkan atau menghentikan hubungan cukup menjadi teman. Bagaimana?."
Masih dalam dekapan Ernest, Natasya berfikir. Tangisnya sudah mereda, menyisakan basah di jas Ernest.
"Ya, aku akan ikuti saran anda."
"Good job, baby." Satu kecupan dari Ernest mendarat di puncak kepala Natasya. Dalam dekapan tibuh Natasya menegang, tentu Ernest pun merasakan. Akan tetapi pria itu abai. Dia sudah nyaman dengan posisi ini. Memeluk Natasya yang menangis, menenangkannya dan sudah mirip seperti sepasang kekasih. Ernest tergelak dalam hati dan tersenyum samar dalam diam.
__ADS_1
Tbc.