
Seperti bumi yang terus berputar. Langit yang semula menggelap, kini berganti pagi dengan hadirnya sang surya yang masih mengintip malu-malu di ufuk timur. Seperti yang sudah direncanakan, pagi ini akan menjadi hari paling bersejarah bagi seorang Erich Surya Atmadja. Pria muda nan rupawan ini tak lama lagi akan melepas masa lajang dengan menikahi gadis pujaan hati, Isabela Praja Diwangka.
Peristiwa tadi malam nyatanya tak berpengaruh pada rencana yang sudah tersusun matang. Selepas meluruskan permasalahan tentang Sandara, Keluarga Arka langsung bertandang ke sebuah hotel yang akan menjadi tempat berlangsungnya akad. Meski lelah dan kantuk masih mendera, sudah tak lagi mereka rasa. Asal pernikahan Erich dan Sandara berjalan lancar tanpa kendala, tentunya sudah menjadi berkah yang luar biasa bagi keluarga besar Atmadja.
Erich, pria muda itu terlihat gagah dengan tuxedo dan jas berwarna abu yang membalut tubuh sempurnanya. Di sebuah ruangan ia dibantu beberapa pria sedang memperbaiki penampilan.
Kali ini perasaannya tak secampur aduk saat menerima pesan cinta dari Isabel. Cemas dan grogi, tentu Erich pun merasakannya. Hanya saja selepas peristiwa semalam, rasa cemasnya berubah menjadi iba mana kala tepat dihari bahagiannya sang saudara kembar justru dilimpahi cobaan yang begitu berat.
Ernest.
Erich memastikan penampilannya lagi di depan cermin untuk terakhir kali sebelum keluar dari ruangan.
"Seperti biasa penampilanmu selalu sempurna, putraku."
Erich terkesiap saat Zara masuk secara tiba-tiba ke dalam ruangan.
"Ibu." Dalam situasi seperti ini Erich tak mampu lagi menyembunyikan perasaannya terlebih pada sosok perempuan yang sudah melahirkannya. Erich mendekati sang Ibu dan memeluknya Erat. Erich menangis. Menangis dalam pelukan ibunya.
Tak ada sepatah kata yang terucap dari bibir Erich. Pria itu masih bergelut dengan tangis. Zara yang sepasang matanya sudah berkaca-kaca, mengusap punggung putranya lembut untuk menenangkan.
"Kenapa harus terjadi peristiwa semacam ini, ibu? Kenapa Sandara tak tulus mencintai Ernest dan hanya memanfaatkannya saja?" Seperti bocah, Erich terisak dan merengek dalam dekapan Ibunya. Sifatnya tegasnya seakan memudar jika menyangkut saudara kembarnya.
__ADS_1
"Tenanglah," bujuk Zara meski ia pun tak bisa menahan kesedihan yang tiba-tiba menyeruak. Disatu sisi hari ini akan menjadi hari bahagia bagi putranya namun di sisi lain satu putra lainnya justru menerima cobaan besar dalam hidup yang seakan mampu menggoyahkan akal warasnya. Zara sadar, putra kembarnya memiliki batin yang terikat. Jika satu anak merasakan kesedihan, satu anak lainnya pun merasakan dan begitu pun sebaliknya. Dan pada saat ini pun Erich yang sepatutnya tengah berbahagia, seakan tak mampu menggiring dirinya untuk ikut bahagia saat saudara kembarnya tengah terluka.
"Erich, sudah. Jangan menangis," titah Zara seraya mengusap air mata sang putra saat keduanya melepaskan pelukan. "Hari ini, akan menjadi hari bersejarah dalam hidupmu. Tersenyumlah. Isabel tidak boleh melihatmu dalam keadaan seperti ini. Gadis cantik bisa berfikir macam-macam andai melihatmu menangis seperti ini," goda Zara dengan mencubit gemas kedua pipi putra tampannya.
Erich menghela nafas dalam. Pria itu berdehem dan mulai mengatur nafas yang tak beraturan.
"Isabel tidak seperti itu, ibu. Dia gadis yang sangat baik dan bisa memahi perasaanku." Katakan jika Erich tak terima akan ucapan sang ibu yang menyangkut Isabel. Meski sejujurnya Zara hanya bergurau.
Zara tergelak. Ia usap lembut rambut hitam legam putraya.
"Ya ya ya. Ibu tau jika calon istrimu adalah gadis yang sangat baik dan pandai memahamimu. Maka dari itu kami pun menerima Isabel untuk bersanding denganmu tanpa harus mencari bukti lebih dulu."
Benar. Arka dan Zara bahkan langsung menyetujui keinginan Erich tanpa penolakan apalagi drama seperti kisah Sandara. Erich semakin bernafas lega. Pasalnya ia bisa menikah dengan gadis yang dicinta sekaligus mendapatkan restu dari orang tua.
Zara dan Erich menghela nafas dalam. Arka tiba-tiba muncul dan berdiri di depan sang putra. Memegang kedua bahu putranya diiringi kalimat wejangan yang membuat Erich beberapa kali menganggukan kepala.
Zara pun demikian. Ia menepuk-nepuk pakaian sang putra. Memastikan jika penampilannya benar-benar sempurna sebelum melepasnya keluar ruangan.
Erich berjalan dengan gagah ketika pintu ruangan terbuka disusul kedua orang tuanya yang berjalan seraya saling mengapit lengan.
💗💗💗💗💗
__ADS_1
Erich tak mampu mengalihkan pandangan dari wajah Isabel yang sedang berjalan ke arahnya dengan dampingi Emely, adiknya.
Deheman dari Arka barulah membuat pria itu tersadar dan spontan menundukan pandangan meski bibirnya masih terus mengulum senyum.
Isabel terlihat begitu cantik dan manis dengan balutan gaun pengantin berwarna putih yang menjuntai kelantai. Rambut panjangnya disanggul rendah dengan hiasan mutiara. Riasan wajah yang natural membuat gadis itu benar-benar mempesona sesuai usianya. Erich, keluarga besar dan tamu undangan bahkan tak bisa berkata-kata. Isabel benar-benar mempelai yang auranya begitu terpancar di saat hari pernikahannya.
Erich mulai berdebar saat Isabel sudah duduk di sampingnya. Di hadapannya kini sudah duduk seorang pemuka agama yang akan mengesahkan status mereka sebagai suami istri yang sah di mata hukum agama dan negara.
Begitu tangan sang pemuka agama terulur, Erich sigap menyambut. Dengan lantang Erich mengucap satu kalimat dalam satu tarikan nafas, yang mana spontan membuat seluruh tamu undangan dan keluarga yang menyaksikan mengucap kata, "SAH"
"Alhamdulilah."
Sepasang kekasih yang kini sah menjadi suami istri itu saling berhadapan. Erich tersenyum, tak mampu menyembunyikan rasa bahagia. Sementara Isabel tersenyum malu-malu. Pipinya kian merona merah saat Erich terus saja menggodanya dengan kedipan mata.
Erich mengangsur kotak berwarna merah marun yang di dalamnya tersimpan sepasang cincin pernikahan yang bahkan sempat akan dicuri Sandara semalam, untuk disematkan ke jari manis Isabel. Cincin berlian yang ditaksir memiliki harga cukup fantastis itu rupaya begitu pas saat melingkar jari manis nan lentik milik Isabel. Selepasnya kedua insan itu saling berhadapan, mengatur jarak agar lebih dekat, hingga Erich mendaratkan sebuah kecupan di kening Isabel yang disambut riuh para tamu undangan.
"Aku mencintaimu," bisik Erich sesaat selepas ciuman kening itu berakhir.
Isabel tak menjawab. Ia hanya bisa tertunduk dengan pipi memerah karena malu.
Beberapa kerabat mendekat, memberi ucapan selamat dan berjabat tangan dengan kedua mempelai. Canda dan tawa mulai memenuhi ruangan akad. Bukan hanya ke dua mempelai saja yang berbahagia, tetapi juga kerabat dan tamu undangan pun merasakan. Akan tetapi, ada yang luput dari penglihatan. Seorang pria tampan tampak duduk disebuah kursi yang berada di sudut ruangan. Pria itu menatap kosong kedepan. Diam, berusaha terlihat senang dan hanya menyaksikan keriuhan pesta saudara kembarnya meski hatinya remuk redam.
__ADS_1
Tbc