
Sosok perempuan dengan dres berwarna hitam, duduk angkuh seraya menyilangkan satu kakinya menatap kearah beberapa pria berbadan kekar yang berdiri di hadapannya.
Bibir perempuan itu menyerigai, kemudian melirik pada sang anak yang duduk di sampingnya.
"Sesuai rencana kalian akan bergerak pada malam hari. Mengepung rumah yang ditempati Isabel dengan cara mengedap, kemudian selepas memastikan semua aman, tuangkan bensin ke sekeliling bangunan dan bakar." Arum tergelak, membayangkan adegan dramatis yang berputar di otaknya.
Larasati pun demikian. Gadis berparas ayu itu menyungingkan sebuah senyuman yang entah apa maksudnya.
"Bagaimana, kalian faham?"
Beberapa pria itu sontak mengangguk.
"Faham, nyonya," jawab mereka serempak.
"Bagus. Aku harap kalian bisa bekerja dengan baik." Kibasan tangan mengisyaratkan pada beberapa pria itu untuk lekas menghilang dari pandangan Arum dan sang putri.
Arum dan Larasati saling berpandangan. Senyum tipis terukir di bibir mereka, hingga beberapa detik kemudian senyuman itu berubah jadi gelak tawa yang membahana. Memenuhi seluruh ruangan yang hanya ada tubuh mereka berdua.
Tawa kepuasan. Mungkin lebih tepatnya bisa diartikan demikian. Arum sendiri seratus persen yakin jika rencana yang ia susun matang akan berjalan sesuai dengan keinginan. Rumah yang menjadi incaran terbakar dan para penghuninya ikut terpanggang di dalam termasuk Isabel yang sejatinya menjadi target utama.
"Aku tidak menyangka jika ibu punya ide sebrilian ini," puji Larasati pada sang ibu yang kini tampak meneguk alkohol dari gelas kristal yang sedari tadi tersedia di atas meja. Katakanlah ibu dan anak itu tengah merayakan pesta, pesta sebagai luapan kebahagiaan jika sebentar lagi seluruh harta kekayaan Praja akan menjadi milik mereka.
Arum menyerigai, sementara tanggannya mengoyangkan gelas kristal dalam gengaman hingga cairan berwarna merah dalam wadah bening tersebut ikut bergerak.
"Jangan panggil ibumu 'Arum' jika tak berani bertindak segila ini. Cukup mempunyai banyak uang, maka rencana seliar apa pun, bisa terlaksana."
__ADS_1
Demi terwujudnya rencana malam ini, Arum benar-benar harus merogoh kocek dalam. Dia menyewa beberapa pengawal demi memperkuat benteng petahanan. Sekedar antisipasi, sebab ia mulai tau tentang siapa pria yang datang dan berpihak kepada putri tirinya itu.
"Erich Surya Atmadja," desis Arum seraya merapalkan nama pria yang rupanya cukup berpengaruh di kota tempat tinggalnya. Pria muda yang memiliki banyak bisnis dan departmen store yang tersebar di beberapa titik pusat keramaian kota.
Kenapa pria keren seperti dia bisa berada di kubu Isabel yang notabene hanya seorang gadis biasa. Cantik, Arum mengakui keelokan paras putri tirinya, tetapi modal paras pun tak mungkin menjerat pria kaya itu begitu saja. Apa mungkin mereka memiliki hubungan spesial? Ah tidak mungkin. Isabel bahkan hanya gadis kumuh yang tak pernah berdandan. Batin Arum berperang. Menerka-nerka kemungkinan yang sebenarnya terjadi di antara Erich dan Isabel.
Ibu dan anak itu kembali berpesta. Bersulang untuk merayakan peristiwa besar yang akan terjadi dalam hidup mereka.
💗💗💗💗💗
Senyap dan lengang. Segerombolan pria berpakaian serba hitam yang bersembunyi di balik rerimbunan, menatap keheranan pada rumah yang biasanya dikelilingi dengan penjaga tampak sepi tanpa ada siapa pun yang berlalu lalang. Tak ada aktifitas atau pun kehidupan. Lampu ruangan hanya dihidupkan sebagian, yang mana menguatkan keyakinan jika sang pemilik rumah sudah terlelap di atas ranjang.
Pengawal arum yang memimpin pergerakan memastikan sekali lagi jika kondisi benar-benar aman hingga memberi isyarat untuk bergerak. Hanya sebagian kecil pasukan yang mendekat ke arah kediaman Erich, sebagian lagi dibiarkan berpencar kesekitar jalan atau pun sekeliling bangunan. Sementara sebagian lagi Arum tahan untuk tetap bertahan rumah. Setidaknya untuk berjaga-jaga dan akan langsung meluncur andaikata mereka dibutuhkan.
"Apa kau tidak merasa curiga?" Seseorang bertanya pada pemimpin pasukan. Menilik kondisi ganjil pada bangunan kokoh yang gerbang utamanya sama sekali tak dibentengi penjagaan.
Menghela nafas dalam. Pria itu kini memilih diam. Enggan berdebat, siap menjalankan tugas namun tetap mawas diri.
Tiga puluh menit lebih segerombolan pria itu melakukan pengintaian. Tak ada yang berbeda. Rumah itu tetap senyap. Tak berpenghuni dan tak ada orang yang keluar masuk gerbang. Sang pimpinan bayaran Arum menyerigai. Mengiring aba-aba pada sang anak buah untuk bergerak. Hingga dalam hitungan ketiga para pria berpakaian serba gelap itu mulai mendekati bangunan. Bergerak perlahan tanpa menimbulkan suara. Merapat di dinding gerbang utama sebelum menyentuh gembok pagar guna memastikan apakah kunci tersebit bisa dibuka paksa? Namun ajaib, seakan mendapatkan durian runtuh, pintu gerbang dalam keadaan tak terkuci hingga mempermudah langkah mereka untuk menyusup kedalam rumah tanpa perlu bersusah payah.
"Wow, amazing. Sang pencipta seolah berpihak pada kita. Lihatlah, pintu gerbang bahkan tidak terkunci." Pengawal lain kembali berbicara dengan binar penuh kebahagiaan. Berbeda dari misi-misi sebelumnya yang terbilang cukup berat, misi kali ini justru bagai keberuntungan baginya. Rumah sepi, gerbang yang terbuka lalu keberuntungan semacam apa lagi yang akan didapat. Pria itu bahkan sudah tak sabar. Melancarkan aksi kemudian menikmati segepok uang sebagai imbalan yang sudah dijanjikan.
Berbeda dari satu pengawal tadi, pengawal yang sedari tadi diliputi kecurigaan, justru tubuhnya kian gemetar. Cemas jika sewaktu-waktu kejadian buruk menimpa mereka. Akan tetapi ia pun enggan berbuat banyak, protes pun percuma. Sang pemimpin pasti akan memakinya hingga pasrah dan mengikuti alur menjadi pilihan terbaikbaginya.
Segerombolan pria itu berpencar. Mencari celah bebatuan ataupun tumbuhan untuk menjadi tempat persembunyian. Mendekat dan kian mendekat. Beberapa pria yang menyusul dengan membawa tangki berisi cairan bahan bakar ikut bergabung. Mencari tempat setrategis yang tepat untuk melancarkan aksi.
__ADS_1
Kondisi sekitar yang memungkinkan membebaskan pergerakan kawanan penyelinap tersebut. Mereka bergerak terpisah, membagi untuk berpencar kesegala penjuru rumah. Samping kiri kana, depan dan belakang rumah megah Erich. Dari mereka masing-masing membawa satu tangki cairan bahan bakar yang rencananya akan diguyurkan ke dinding dan seputaran rumah. Meski cukup sulit sebab dinding bangunan terbuat dari bahan yang tak mudah terbakar, namun dengan banyaknya cairan bahan bakar yang dituang, maka merela yakin jika lambat laun bangunan megah itu pun akan terbakar dengan sendirinya.
Byur
Byur
Byur
Begitu bersemangat mereka menguyurkan cairan tersebut seperti menguyurkan air dilahan pertanian yang gersang. Tak ada belas kasih dari wajah-wajah mereka saat melakukan aksi. Akibat dari perbuatan mereka tak difikirkan lagi. Yang terlintas dalam benak mereka hanyalah uang imbalan yang seolah melambai untuk lekas diraih dan dinikmati.
Seluruh isi tangki telah berpindah. Bau menyekat begitu menusuk indra penciuman saat cairan berwarna itu mulai memenuhi dinding hingga mengalir ke tanah.
Merogok korek api dari dalam saku pakaian, salah satu sudut bibir pemimpin pasukan menyerigai. Satu percikan api saja dipastikan sudah bisa melahap rumah megah ini dan merubahnya menjafi arang.
Klik
Benda dalam gengaman itu menyala. Sang pimpinan berniat melemparkan benda yang sudah mengeluarkan cahaya api tersebut kearah dinding lembab oleh cairan bahan bakar.
Satu, dua, tiga.
Grepp.
Korek api terlempar, namun bukan kearah dinding namun bergeser ke semak semak. Tubuh pemipin terjengkak. Terjerembab kebelakang saat seseorang menghempas tubuhnya begitu kencang.
"Sial," pekik sang pimpinan saat mendapati puluhan pria bersenjata mengepung tubuhnya.
__ADS_1
Tbc.
Tetap kasih dukungan biar tambah rajin up😁😁😁