CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Apa kau Akan Percaya?


__ADS_3

Di keheningan malam Zara duduk termenung dengan menatap sesuatu di tangan, sebuah kartu nama Natasya yang ia minta dari putri Anastasya tersebut tanpa sepengetahuan Emely. Ada perasaan lega namun juga cemas selepas mendapatkan sesuatu yang amat ia inginkan. Sebab dari kartu nama tersebutlah dirinya bisa menghubungi Natasya dan meminta untuk bertemu.


Sampai saat ini ia sendiri belum menjelaskan apa yang ia ketahui pada Arka. Zara berfikir, mungkin jika semua sudah jelas dan tak ada rasa sungkan lagi untuk bertemu dengan Anastasya, pasti ia pun akan menceritakannya. Untuk saat ini, biarlah semua berjalan sebagaimana mestinya.


Hari-hari berlalu seperti hari sebelumnya. Zara tetap beraktifitas sebagaimana mestinya. Mengurus keperluan suami dan kedua buah hatinya serta memasak resep baru yang ia dapat dari majalah dan ponsel pintar miliknya.


Di akhir pekan ini Zara memiliki sebuah rencana dan sudah terfikirkan sejak beberapa hari lalu. Dirinya sudah meminta untuk bertemu dengan Natasya di sebuah tempat.


Perempuan harap-harap cemas. Ia takut jika ajakan di tolak atau Natasya memiliki alasan lain dan rencana mereka untuk bertemu tak terlaksana. Akan tetapi reaksi gadis tersebut justru berbalik dengan apa yang difikir Zara, Natasya langsung meng-iyakan. Ia pun lekas meminta alamat dan berkata jika di akhir pekan ini ia tak memiliki rencana apa pun.


Zara tersenyum senang. Akhir pekan ini bertepatan dengan Arka yang sedang di luar kota dan putra putrinya yang memiliki kesibukan sendiri, membuatnya leluasa untuk menemui Natasya sesuai dengan keinginan.


Tak ingin membuang waktu, perempuan itu pun lekas bersiap, mengingat waktu yang sudah dijanjikan hanya tinggal satu jam lagi.


💗💗💗💗💗


Seorang pelayan menyambut kedatangan Zara yang terlihat cantik dengan balutan dres berwarna peach dan hels yang menghiasi sepasang kaki jenjangnya. Restoran yang menjadi tempat tujuannya merupakan resto miliknya, dan dikesempatan ini dirinya sengaja memilih ruangan privat di mana hanya ada dirinya dan Natasya agar lebih leluasa berbicara.


Meski penampilan elegannya mampu menutupi rasa cemas, namun Zara tak yakin jika dirinya tetap dapat terlihat tenang saat berbicara dengan Natasya nanti.


Dua orang pelayan sudah mempersiapkan minuman untuk Zara, namun Natasya masih belum terlihat jua. Derap langkah dan gesekan bersumber dari pintu masuk ruangan, mengalihkan perhatian Zara. Natasya rupanya datang. Gadis itu menundukkan kepala pada Zara, kemudian berjalan mendekat.


"Maaf, Nyonya. Saya datang sedikit terlambat karna terjebak macet." Natasya masih berdiri. mungkin dia akan terus seperti itu sebelum dipersilahkan untuk duduk.


"Tak apa, aku pun baru saja sampai," jawab Zara. "Sekarang, duduklah," titahnya kemudian.


"Terimakasih, Nyonya." Sang gadis mengulas senyum dan kembali membungkukan tubuh pada Zara.


Natasya. Pandangan Zara terfokus pada gadis di depannya. Ah, rupanya dari segala sudut, Natasya memang banyak mewarisi gen Ibunya. Memang dirinya tak mengetahui seperti apa wajah Ayah dari Natasya, akan tetapi baik dari paras dan postur tubuh, Natasya memang sangat mirip dengan Anastasya. Mereka bak pinang terbagi dua.


Jika dalam situasi seperti ini, dirinya seperti diputar pada masa bertahun-tahun ke belakang. Saat mereka masih muda. Ketika Anastasya masih menjadi istri Arka dan dengan dirinya yang masih melajang. Ah, andaikan waktu bisa diulang.

__ADS_1


"Natasya, ayo pesanlah makanan. Kita akan makan sambil mengobrol." Tidak mungkin 'kan mereka hanya berbicara tanpa ada sajian apa pun.


Pelayan bergerak sigap memberikan buku menu. Setelah melayani Zara mereka pun menyajikan makanan pilihan Natasya. Pada awalnya Zara dan Natasya berbicara seputar hal pekerjaan. Natasya juga bercerita tentang suka dukanya menjadi sejretaris pribadi Ernest yang terkenal otoriter dan menuntut kesempurnaan dalam bekerja.


Zara sesekali tergelak mendengar cerita gadis di depannya yang terdengar menggelitik. Keduanya mulai terlihat akrab meski sesungguhnya fikiran Natasya pun dipenuhi tanya. Sebenarnya untuk apa dirinya diundang makan seperti ini dan kenapa mereka hanya berdua?. Akan tetapi karna menghargai, Natasya tak ingin memperjelasnya. Mungkin saja Ibu dari Atasannya itu sedang butuh teman untuk bicara. Sedangkan Emely, Ibunya berkata jika akhir-akhir ini gadis tersebut sedang disibukkan dengan kuliah yang membuatnya jarang berada di rumah ketika siang hari. Oh, baiklah. Nyonya Zara memang butuh teman bicara, begitu fikir Natasya.


Pembicaraan pun mulai melebar kemana-mana. Zara memancing dengan menceritakan hobi suami beserta putra putrinya.


"Aku sendiri memang hobi memasak. Mungkin hanya itu saja keahlianku sampai umurku setua ini." Zara tergelak. Memang dirinya tergolong tak memiliki hobi khusus.


"Dan kau sendiri, hobimu apa. Lalu hobi orang tuamu?." Zara bertanya pada Natasya. Sementara yang ditanya tersenyum tipis dan sedang merangkai kata-kata untuk dijadikan jawaban.


"Aku juga tidak memiliki hobi khusus, Nyonya. Berbeda dengan Ibuku yang hobi mengoleksi berbagai jenis bunga. Sedangkan mendiang Ayah, saat masih hidup beliau pun memiliki hobi yang tak berbeda jauh dari Ibu. Penyuka tanaman." Ada binar kebahagiaan yang tergambar dari raut wajah Natasya. Mungkin saja ia sedang mengingat tentang sang Ayah dan tiba-tiba merindunya.


"Em, Natasya, sepertinya aku ingin mengatakan tentang sesuatu hal padamu." Ah apakah saat ini memang sudah waktunya.


"Tentang apa, Nyonya?. Katakan saja." Natasya menjawab dengan nada santai. Mungkin saja karna gadis itu sudah merasa nyaman walau yang sedang makan bersamanya ini adalah Ibu dari atasannya. Zara yang ramah dan terkesan terbuka, tak ayal membuat rasa rikuh dan tak nyaman Natasya berangsur pudar, berganti dengan perasaan senang dan juga nyaman saat mereka saling berbicara.


Hah?.


Natasya menautkan sepasang alis, menatap bingung akan kalimat dan sebaris pertanyaan yang baru saja keluar dari mulut Zara.


"Maksud, Nyonya?." Rupanya sang gadis belum mengerti.


Sebelum menjawab Zara menghela nafas dalam. Mungkin saat inilah waktu yang tepat bagi Natasya untuk tau semuanya, tentang hubunga dirinya dan juga Anastasya di masa lalu.


"Natasya, andai ku katakan jika aku, dan suamiku sudah lama mengenal Ibumu, apakah kau akan percaya?."


"Nyonya, dan juga Tuan mengenal Ibu saya?." Natasya masih kebingungan. Pewaris Atmadja group mengenal Ibunya, bagaimana bisa?. "Ta-tapi selama ini Ibu saya tinggal di ..."


Natasya tak mampu melanjutkan kalimat saat beberapa lembar foto Ibunya dikeluarkan Zara dari dalam tas. Gadis itu terdiam. Menatap pada lembaran foto di mana wajah Ibunya terlihat masih sangat muda.

__ADS_1


"Ibumu bernama Anastasya 'kan?."


Natasya mengangguk patah-patah, sementara tangannya bergerak untuk melihat lembaran foto lebih dekat.


Benar, itu wajah Ibunya?.


Kini pandangan sang gadis beralih pada Zara. Seolah meminta penjelasan.


"Natasya, maaf. Mungkin ini terlihat tidak sopan juga membuatmu bertanya-tanya, tapi percayalah, aku tidak mempunyai maksud lain yang bisa mengusik kenyamanmu serta Ibumu." Zara bisa mengerti akan rasa kebingungan yang ditunjukan Natasnya. Mungkin saja selama ini Anastasya sengaja menutup rapat kisah masa lalunya dari siapa pun, termasuk putrinya karna alasan tertentu.


Lagi, Zara mengulurkan selembar foto lawas yang membuat Natasya kembali terkejut luar biasa. Sebuah foto pernikahan Arka dan Anastasya bertahun silam.


"Nyonya, i-ini?."


"Ya, Natasya. Dulu Ibumu pernah menikah dengan suamiku, Arkana Surya Atmadja."


Natasya membekap mulut dengan kepala yang menggeleng. Tidak, benarkah yang ia lihat ini. Ibunya pernah menikah dengan Ayah Ernest. Tapi kapan?.


"Maaf, jika lancang. Seharusnya Ibumulah yang lebih berhak mengatakannya dari pada aku." Zara menjeda ucapan begitu mendapati wajah syok gadis di depannya. " Mungkin saja Ibumu belum pernah bercerita sampai kau tak mengetahuinya. Tapi, perlu kau tau jika hal ini yang menyangkut ibumu pun perlu kau ketahui."


"Ta-tapi, Nyonya. Bagaimana bisa Ibuku dan .. " Ah, Natasya tak sanggup lagi berbicara. Ia tak sanggup. Bagaimana bisa Ibunya hadir diantara pernikahan orang lain?.


"Bukan aku yang lebih dulu dinikahi oleh Tuan Arka, tetapi Ibumu."


Natasya terperanggah. Gadis itu tertegun.


"Ya, maka dari itu aku ingin menemui dan berbicara denganmu. Di sini aku akan menjelaskan semua agar kau pun tau. Setidaknya dengan demikian bisa mengurangi rasa bersalahku terhadap Ibumu."


Natasya masih terdiam namun dengan fikiran yang melayang. Ibunya punya kehidupan masa lalu dengan keluarga Atmadja, kenapa ia tidak pernah mendengar?. Ah bukan, bukan itu. Lebih tepatnya Bukan ia yang tak pernah mendengar namun Ibunya lah yang tak pernah bercerita.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2