CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Berdua Denganmu


__ADS_3

Memiliki lebih banyak waktu dihabiskan berdua dengan Isabel, rupanya membuat Erich sedikit banyak bisa mengenal kepribadan sang kekasih secara lebih dekat. Selepas mengunjungi taman, sepasang kekasih itu kembali menghabiskan waktu senja dengan berjalan-jalan disebuah pusat perbelanjaan.


Erich dengan senang hati menawarkan Isabel untuk membeli apa pun yang gadis itu inginkan. Perhiasan, pakaian, atau apa pun itu. Keduanya menyusuri lantai demi lantai bangunan dengan tangan saling menggengam. Begitu melewati toko perhiasan, Erich lekas mengiring langkah Isabel dan membawa gadis untuk mendekat.


"Wah." Bukan Isabel namun Erich-lah yang dibuat takjub saat beberapa desain satu set perhiasan tertangkap indra penglihatan.


"Isabel," ucap Erich.


"Ya." Gadis yang berada tepat di samping tubuh Erich itu menatap kekasihnya penuh tanya. Jika Erich dibuat takjub saat melihat perhiasaan yang ia suka, namun berbeda dengan Isabel. Gadis yang terbiasa hidup sederhana itu hanya menatap tanpa minat pada barang yang memiliki harga jual selangit tersebut.


"Lihatlah," tunjuk Erich pada satu set perhiasan yang sedari tadi berhasil mencuri perhatian. "Perhiasan itu pasti akan lebih indah jika yang memakainya adalah dirimu." Pandangan Erich yang semula terfokus kearah perhiasan, kini menatap Isabel lekat. Sudut bibir pria itu terangkat, membayangkan betapa cantiknya sang kekasih saat satu set perhiasan itu menghiasi tubuhnya.


Isabel menanggapinya dengan tersenyum kikuk. Sepasang matanya bahkan terpejam, tak bisa membayangkan semahal apa perhiasan yang baru saja Erich tunjukan.


"Apa kau menyukainya?"


Isabel menelan salivanya berat, terlebih saat Erich meminta pada seorang pekerja untuk mengeluarkan benda mahal itu dari tempatnya.


"Emm..."


"Kau menyukainya?" Tanya Erich seraya memperhatikan benda tersebut lebih dekat. Tanpa banyak bicara ia meminta Isabel untuk mencoba dengan bantuan salah seorang pekerja toko.


Isabel tak bisa menolak. Membiarkan pekerja itu memasangkan benda berkilauan itu kebeberapa bagian tubuhnya.


"Tepat dugaan, kau semakin cantik saat memakarinya. Meski aku tau, tanpa perhiasaan apa pun kau bahkan sudah sangat cantik seperti bidadari," puji Erich tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Isabel yang mana membuat gadis itu tersipu malu. Bukan hanya Isabel, beberapa pekerja toko yang tanpa sengaja mendengar pun lantas mengulum senyum. Tentu saja mereka juga ingin menjadi gadis seberuntung Ruby yang begitu dimanjakan serta diperhatikan oleh pasangannya.


"Bungkus yang itu untuk calon istriku."


"Baik, tuan." Erich masih sempat melirik beberapa perhiasaan dengan desain yang lagi-lagi mencuri perhatiannya. Ia sempat menawarkan pada Isabel untuk kembali memilih namun gadis cantik itu dengan tegas menolak. Apa yang Erich pilih sudah lebih dari cukup baginya. Membuat pria itu mendesah pasrah namun tetap memuja kesederhanaan sang kekasih yang kian membuatnya memantapkan hati.


Selepas keluar dari toko perhiasan, Erich membawa sang kekasih untuk membeli beberapa gaun rancangan desainer ternama. Tak cukup dengan gaun, Erich masih begitu bersemangat untuk mencari pakaian-pakaian santai yang sekiranya cocok dikenakanakan Isabel. Begitu mendekati jajaran gaun malam serta pakaian dalam khusus wanita, Erich pun menghentikan langkah.

__ADS_1


Isabel terbelalak. Ia bahkan tak mampu menatap kearah helaian kain minim dengan berbagai model tersebut. Wajahnya memaling, menutup mata dan berjalan cepat meninggalkan Erich yang tidak tau malunya sudah memasuki toko tersebut.


Erich tergelak. Mendapati Isabel setengah berlari meninggalkannya membuat pria itu geleng-geleng kepala.


"Tidak, sayang. Aku hanya bercanda." Erich menganggukan kepala kepada staf penjaga toko sebelum meninggalkan tempat yang membuatnya merinding itu untuk mengejar Isabel.


💗💗💗💗💗


Cafe menjadi tempat tujuan selanjutnya bagi sepasang kekasih itu melepas lelah sekaligus mengisi perut. Cukup lama berkeliling membuat kaki keduanya pegal. Makan dan bercerita mungkin bisa melepaskan rasa lelah yang sempat melanda.


Isabel melirik ke arah beberapa paper bag yang tergeletak di samping kaki Erich. Bibir gadis itu kembali mengulas senyum simpul saat mengingat betapa lucunya Erich yang sama sekali tak kesusahan menenteng begitu banyak kantong belajaan yang hampir memenuhi kedua tangan. Bahkan saat ia menawarkan untuk ikut membantu, Erich tegas menolaknya.


"Kau sampai berkeringat rupanya," Erich tergelak lirih. Ia usap kening Isabel yang berkeringat dengan sapu tangan. Meski di dalam ruangan ber Ac, peluh sang gadis masih tersisa saat beberapa saat lalu lelah berkeliling.


"Hari ini aku merasa sangat bahagia." Gadis itu tersenyum pada Erich. Mendapatkan perhatian dan menjadi seseorang yang diperdulikan membuat rasa bahagia meluap dalam diri Isabela. Andai masih hidup bersama Arum, tentu ia bahkan tak akan berani bermimpi untuk hidup dengan layak seperti ini. Dicintai oleh seorang pria nyaris sempurna, mungkin hanya menjadi bunga tidur semata.


Isabel pun menghela nafas dalam. Ia kembali teringat pada sosok Arum yang kini bahkan menjalani hari-harinya di rumah sakit jiwa.


Ernest yang sedang meneguk minuman yang ia pesan, mendengar secara seksama kalimat yang diucap sang kekasih. Rupanya gadis itu teringat kembali pada Arum, begitu fikir Erich.


"Obsesi dan ketamakan pasti menjadi pemicu terbesar. Ia tak siap kalah, hingga tanpa sadar harus membayar perbuatan dengan jiwa raganya."


Isabel membenarkan. Mungkin ini adalah buah dari apa yang pernah Arum tanam. Andai Ibu tirinya tak selicik dan setamak itu mungkin prahara semacam ini tidak akan pernah terjadi.


Keduanya berbincang seraya menikmati makanan yang dipesan.


"Jujur, aku sangat membenci Ibu Arum saat ia dengan sengaja masuk dan menjadi orang ketiga dalam pernikahan orang tuaku. Dia rela menjadi orang kedua demi ingin menguasai harta Ayah."


Erich masih setia menjadi pendengar yang baik untuk Isabel. Segala keluh kesah dan curahan hati pasti mampu pria itu tampung dengan suka hati.


"Sebagai seorang wanita aku sempat juga membeci Ayah karna ketidak setiaannya. Jadi di sini pun aku tidak sepenuhnya menyalahkan Ibu Arum sebab Ayah pun memiliki peranan besar atas perselingkuhan yang terjadi." Rasa trauma sempat menghantui Isabel dalam membangun sebuah hubungan saat orang-orang terdekatnya terbukti berkhianat. Praja dan Steven adalah dua pria terdekat yang nyatanya justru menorehkan luka terdalam di hatinya.

__ADS_1


"Aku faham, tetapi aku rasa kita tidak bisa menyamakan semua orang yang masuk kedalam rumah tangga orang lain sebagai perusak."


Isabel tentu terkesiap. Jawaban Ernest begitu tak sesuai dengan ekspektasinya. Apakah dia seorang pria jadi bisa berfikir demikian?.


"Apa maksud kakak?" Hal tersebut tentunya menciptakan tanda tanya besar pada diri Isabel.


"Kau lihat bagaimana kehidupan pernikahan orang tuaku?"


Isabel lantas mengannguk. Meski hanya beberapa kali bertemu namun dari pandangan saja ia bisa melihat seharmonis dan seromantis apa pasangan paruh baya tersebut.


"Lalu, apa yang bisa kau lihat dari hubungan pernikahan orang tuaku."


"Mereka pasangan yang saling menyayangi satu sama lain." Mungkin itu bisa mencakup seluruh gambaran akan sebahagia apa keluar Erich selama ini.


"Lalu, apa kau pernah mengira jika Ibuku juga memiliki setatus yang sama dengan Arum, ibu tirimu, sayang?"


Gadis cantik itu hanya menautkan sepasang alis. Rupanya tak mengerti akan ucapan sang kekasih.


"Maksud kakak?"


"Ya, Ibu adalah istri kedua dari Ayah. Akan tetapi Istri pertama Ayahlah yang justru meminta pada Ibu untuk bersedia menjadi adik madu."


Isabel sontak menelan salivanya berat. Ia menundukkan kepala, salah tingkah.


Benarkah?


Sungguh di luar dugaan. Kenapa mereka seakan memiliki jalan hidup yang nyaris sama.


"Maka dari itu aku mengatakan jika kita tidak bisa menyama ratakan setiap orang ketiga yang masuk dalam satu hubungan pernikahan sebagai perusak. Bisa saja mereka datang dengan cara diundang atau adanya alasan lain yang mau tak mau menyeret orang ketiga tersebut untuk masuk."


Isabel tak merespon. Otaknya masih dipenuhi dengan fakta mengejutkan dari orang tua Erich yang tak pernah ia sangka.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2