
Ada yang berdiri seraya tersenyum senang saat kaki jenjang Emely keluar dari kendaraan pribadi selepas memarkirkannya lebih dulu di garasi. Ia melirik ke arah buket dalam dekapan sang adik seraya mengancungkan dua jari jempol.
"Hebat. Rupanya aku tak salah menyuruhmu, wahai adik tersayangku." Erich tersenyum lebar, menatap sang adik yang bermuka masam.
Emely berjalan dengan kaki menghentak untuk mendekati Erich. Bibir gadis itu pun mengerucut, berbeda jauh dengan ekspresi wajah yang ditunjukan Erich. Senang dan puas.
"Em, kenapa wajahmu terteku seperti itu? Kau lelah atau kau ingin meminta imbalan?" Sigap, pria berkaus polo berwarna putih itu merogoh sesuatu dalam saku celana. Dompet.
"Kak Erich! Jangan menyulut emosiku. Aku memang lelah tapi aku tidak meminta imbalan. Kakak pikir aku gila, hingga meminta upah," gerutu Emely tak terima.
Erich tergelak. Sejujurnya ia hanya bergurau, tapi kenapa Emely menanggapinya begitu serius.
"Ayo masuk. Berikan dulu bunganya padaku dan setelah itu, beristirahatlah." Erich mengulurkan tangan, namun Emely masih mendekap buket mawar itu dan belum berniat memberikannya.
"Kak, biar aku saja yang memberikannya pada Kak Isabel. Ya, hitung-hitung sebagai...".
"Tidak Em, biar Kakak saja."
__ADS_1
"Kenapa? Kakak tidak ingin mendekatkan kami berdua? Sama sepertimu, Isabel kini juga sudah menjadi Kakakku." Emely kian kesal. Buket pun kian erat ia dekap. Begitu berat memberikannya pada Erich yang seakan mempersulit dirinya untuk lebih mengenal dekat sosok Isabel yang kini sudah menjadi saudara iparnya.
"Bukan, maksud Kakak bukan begitu."
"Lalu kenapa?" Seperti bocah, Emely merajuk dengan bibir mengerucut.
Erich berdecak seraya menggelengkan kepala. Geli melihat adiknya yang merajuk bak anak kecil kehilangan mainan kesayangannya.
"Karna Isabel sedang tidur Emely. Apa kau berniat untuk membangunkannya?".
"Kak Isabel tiur?"
"Iya dia tidur karna kelelahan."
Emely mengernyit.
Tidur? Kelelahan. Hello, lalu apa kabar denganku yang berkeliling di tengah hari bolong d**emi sebuket bunga. Eh tapi benar juga, bukannya Kak Erich dan Kak Isabel baru saja melewati perjalan panjang dari kota xx sampai ke ibu kota.
__ADS_1
Emely meringis. Dengan gerakan pelan ia pun menyerahkan sebuket mawar itu ke tangan Erich.
"God job, sweety. Akan kukirim sesuatu ke rekeningmu sebagai ucapan terimakasih." Erich berbalik badan dengan buket bunga dalam dekapan. Pria itu berjalan ringan tanpa beban, meninggalkan sang adik yang masih kebingunga?.
Apa dia bilang, sesuatu di rekening, bukannya itu uang? Tapi akukan sudah bilang jika tak pinta upah.
Emely lekas merogoh benda pipih dari dalam tas saat bunyi notifikasi masuk terdengar.
Emely memekik. Kakinya spontan melonjak-lonjak saat sesuatu dalam ponsel menyita perhatian.
Gila, tidak-tidak.
Emely memekik senang. Ucapan Erich rupanya benar adanya. Pria itu bahkan mentransfer sejumlah uang yang membuat Emely bersorak senang. Ya meski pun Erich rutin memberi jatah bulanan pada Emely dalam jumlah cukup besar, namun kali ini cukup berbeda mengingat hanya untuk sebuket bunga.
"200 juta, Kak Erich menggantinya dengan uang 200 juta." Emely masih melompat-lompat kegirangan. Ia sampai lupa kedaan sekitar. Sementara para pelayan dan pengawal kediaman keluarga Atmadja yang tanpa sengaja melintas hanya bisa menutup mulut, menahan tawa dan berpura-pura tak melihat. Memilih aman dari pada Nona mudanya merasa malu.
💗💗💗💗💗
__ADS_1