CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Ernest Dan Natasya


__ADS_3

Debar cinta dan malu-malu kucing yang sedang dialami Rangga dan Anastasya, rupanya berbeda jauh dengan Ernest dan Anastasya rasakan sekarang. Di ruangan berbeda dan hanya ada mereka berbua, muda-mudi yang lebih pantas disebut pasangan kekasih itu kini hanya saling diam dan melamun. Makanan yang sudah dipesan pun belum tersentuh. Mereka tak berselera, dan berulang kali menatap kearah pintu keluar, di mana Anastasya dan Rangga sedang bersama.


Natasya memejamkan mata, dan berulang kali memanjatkan doa. Sungguh, ia tak berniat memaksa sang Ibu, namun ia pun ingin melihat wanita yang sudah melahirkannya itu bahagia dengan seseorang dari masa lalunya, meski ia pun tak yakin sang Ibu mau membina hubungan kembali sepeninggal Ayahnya.


Sudah tak terhitung berapa kali Ernest memandangi wajah Anastasya yang hanya diam. Ia sendiri tak berniat mengganggu, justru membiarkan keheningan melingkupi diantara keduanya.


Siomay nikmat nan menggiurkan yang terhidang di atas meja, dan biasanya selalu dilahap Natasya lebih dulu saat mereka makan siang bersama, Nyatanya kini hanya dipandanginya tanpa minat. Ernest berfikir jika selera makan Natasya lenyap seiring Ibunya yang kencan di dalam ruangan bersama Rangga dan belum terlihat batang hidungnya sampai sekarang.


Merasa perutnya lapar, Ernest lekas mengambil beberapa buah siomay dan memindahkannya ke sebuah piring. Menguyurnya dengan saus kacang beserta kecap, kemudian mulai memakannya.


Dalam diam, bola mata Natasya mengikuti pergerakan sang atasan yang sedang melahap makanan di hadapannya.


"Mau?." Ernest menawarkan, urung menyuapkan makanan ke dalam mulut dan justru ingin menyuapi Natasya.


Seperti terhipnotis, mulut Sang gadis terbuka dengan sendirinya saampai makanan di sendok yang berada di tangan Ernest masuk ke dalam mulutnya.


Nyam


"Pintar," puji Ernest saat Natasya mengunyah makanan dari hasil suapannya seperti anak kecil.


"Kau terlihat begitu cemas?." Ernest masih sibuk dengan siomay di piringnya. Memotongnya menjadi kecil dan akhirnya bukan hanya memakannya sendiri tapi juga menyuapi Natasya. Sementara Natasya sendiri tak menolak. Mulutnya terbuka begitu saja saat Ernest menyuapinya.


"Entahlah."


"Kau tidak senang?." Nyam, Nyam. Ada perasaan tersendiri saat Natasya yang seperti setengah melamun, mengunyah makanan yang ia suapkan. Lucunya. Pipi putihnya yang bergerak-gerak saat mengunyah, terlihat begitu lucu di mata Ernest.

__ADS_1


"Entah, tapi yang pasti saya sedang merasa bingung."


"Bingung kenapa?."


Sang gadis menjawab dengan mengendikkan bahu.


"Ya, sebagai pria dewasa aku cukup mengerti akan apa yang kau rasakan. Memiliki keluarga utuh sejatinya memang dambaan, tapi siapa pula yang bisa menolak takdir?. Namun yang pasti aku selalu berharap agar kau bisa membebaskan Ibumu untu menentukan pilihan. Kau perempuan dan sudah dewasa, seperti gadis pada umumnya kau pun kelak akan berumah tangga. Meski tak sepenuhnya, kau pun akan meninggalkan Ibumu dan berjuang hidup dengan pasanganmu. Sedangkan Ibumu, jika kau tinggalkan bukan beliau hanya tinggal seorang diri?." Ernest hanya sedikit memberi gambaran. Ya, setelah menikah Natasya memang bisa saja tinggal bersama Ibunya. Akan tetapi tetap saja dalam artian jika Ibunya seperti hidup sendiri. Natasya pasti lebih banyak menghabiskan waktunya bersama suami, apalagi jika sudah memiliki buah hati. Ketahuilah, bila Ibunya pun butuh teman. Bukan hanya teman bicara tetapi teman berkeluh kesah serta berkasih sayang.


"Selama ini aku tidak pernah mengekang atau pun mencampuri masalah pribadi Ibu. Setauku beliau tidak pernah mengeluh dan tak pernah meminta izin untuk menikah lagi. Entah itu karna beliau tidak ingin menyakiti perasaanku, atau karna alasan lain." Selama ini yang Natasya tahu Ibunya hanya sibuk bekerja serta mengurusnya. Meski memiliki toko bunga namun sang Ibu selalu mempersiapkan kebutuhannya, mulai dari makanan serta pakaian. Anastasya yang selalu sigap untuk keperluan apa pun menyangkut sang buah hati, tak pernah absen mengurus semua kebutuhannya baik saat kecil dulu sampai sedewasa sekarang. Saat berbicara pun keduanya hanya membahas tentang pendidikan atau pun pekerjaan, selebihnya mungkin sekadar hal remeh temeh yang tidak ada hubungannya dengan asmara.


"Ibumu sangat baik, dan kau adalah putri satu-satunya. Aku rasa beliau selama ini diam karna tak ingin menyakiti perasaanmu."


Ya, sepertinya Natasya pun membenarkan. Sedangkan dirinya pun tak pernah bertanya.


"Untuk urusan itu, aku pun juga tak tau pasti sebab Ibuku lebih dulu mengatakannya padamu dan berusaha mentupinya dariku. Entah apa maksudnya, namun aku berfikir jika Ibu pun tidak akan sembarang membuka masa lalu orang lain kesembarang orang."


Natasya tak menjawab, ia sibuk mengunyah makanan yang disuapkan Ernest.


"Sudahlah, tak perlu dicemaskan. Aku yakin di dalam Ibumu akan baik-baik saja bersama Paman. Kau tidak perlu khawatir, sekarang lebih baik kita makan."


Begitu mendengar kata makan, Natasya terkesiap. Tersadar jika sudah sedari tadi dirinya makan dengan disuapi Ernest.


"Tuan, kenapa disuapi?." Natasya bertanya saat Ernest kembali ingin menyuapinya.


"Loh, kenapa. Kau baru sadar jika aku suapi?."

__ADS_1


Natasya meringis, tertawa menahan malu.


"Iya juga."


Ernest geleng-geleng kepala. Kini ia memilih makanan lain untuk disantap.


Makan siang seperti kencan, begitu yang dirasakan Ernest, dan bukan hanya ada satu pasangan, melainkan dua. Natasya sendiri yang semula tampak tak berselera, terlihat mulai menikmati meski terkadang masih melamun dan menatap ke arah pintu ruangan.


"Jika difikir-fikir, wajah kau dan Ibumu memang mirip, malah sangat mirip."


Natasya mengulas senyum simpul.


"Benarkah," tanya Natasya pura-pura tak percaya. "Mungkin tuan orang kesekian ribu bilang jika wajahku dengan Ibu sangat mirip. Mirip?. Ya tentu saja, bukankah kami memang Ibu dan anak?."


Ernest tergelak. Ya, memang benar. Akan tetapi bukankah biasanya anak perempuan lebih banyak mewarisi gen sang Ayah?.


Hem, tetapi sepertinya hal tersebut seperti pengecualian bagi Natasya. Meski Ernest sendiri belum tau seperti apa wajah mendiang Ayah Natasya, tetapi kemiripan wajah diantara kedua perempuan tersebut seperti sudah menjawab segala tanya.


"Dan Tuan sendiri, ya wajah Tuan memang perpaduan dari Tuan Arka dan Nyonya Zara. Barat dan chines, dua wajah itu memadu sempurna dan menghasilkan paras setampan tuan oopss..." Natasya terbelalak dan sontak membekap mulut rapat. Ya ampun, tanpa sadar Natasya sudah memuji ketampanan Tuannya.


"Natasya..."


Senyum Ernest melebar. Sepasang mata pria tampan itu pun berbinar. Sepertinya ia pun tak kalah terkejut dari Natasya namun berharap sang gadis mau mengulang ucapan, yang berisikan pujian untuknya.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2