
"Ibu?."
Rangga terpaku begitu membuka pintu kamar yang semula diketuk dari luar. Pria itu terkejut begitu mendapati seraut wajah sang Ibu muncul dari balik pintu yang terbuka.
"Ya, ini Ibu." Seorang perempuan baya berbicara. Duduk di atas kursi roda dan dibantu seorang perawat, sosok Ibu Rangga luar biasa senang ketika melihat wajah sang putra setelah bertahun-tahun tak berjumpa.
Ragu, Rangga berlutut di hadapan sang Ibu lantas memeluk perempuan itu dengan perasaan haru. Sang Ibu pun menangis, dalam pelukan sang putra perempuan terisak dan mengeluarkan air mata.
Rasa haru menyelimuti. Perawat yang sejatinya sudah bekerja pada Ibu Rangga cukup lama itu pun tak kuasa meneteskan air mata. Perawat tersebut rupanya sudah tau akan perselisihan diantara Majikan dan putranya yang sudah berjalan sekian tahun lamanya.
Rangga mengurai pelukan. Ia tatap kemudian usap pipi Ibunya yang basah dengan telapak tangan.
Semalam dirinya memang menghubungi sang Ibu dan menceritakan semua. Pertemuannya dengan Anastasya, hubungan mereka yang kembali dekat serta keinginannya untuk bisa mempersunting kekasihnya di masa lalu tersebut. Ibunya dari sambungan telefon tak menanggapi ucapannya, dan Rangga kira hal tersebut berarti jika Ibunya masih tetap tak merestui hubungannya dengan Anastasya, lalu untuk apa paruh baya ini datang kemari. Apakah untuk mencegah keinginannya untuk bisa bersama Anastasya?.
"Ibu datang kemari untuk ...?." Rangga menatap Ibunya penuh tanya. Tidak, jika Ibunya berniat untuk mencegahnya menikahi Anastasya, maka demi apa pun ia tak akan pernah mengabulkannya.
"Bukankah semalam kau bilang jika ingin menikahi A-anastasya?."
Seperti tersengat listrik. Tubuh Rangga menegang. Benarkah itu tujuan Ibunya datang kemari?.
"Apa tujuan Ibu datang kemari untuk menghalangi impianku lagi?." Rangga bangkit dari posisi berlutut di hadapan sang Ibu. Wajah basah oleh air mata itu merah, seperti menahan amarah. Sementara tubuh sang Ibu gemetar. Ia menggelengkah kepala, seolah mengatakan jika ucapan putranya tidaklah benar.
"Jika Ibu ingin memisahkan kami lagi, maaf aku tidak bisa." Rangga menarik nafas dalam kemudian berbalik badan. Ia hendak meninggalkan sang Ibu namun suara berat yang memanggilnya dari belakang, membuat langkah kakinya terhenti.
"Rangga, Tunggu!. Dengarkan ucapan Ibu. Bukan untuk tujuan itu Ibu datang kemari tetapi sebaliknya. Ibu merestui hubungan kalian."
Rangga berbalik badan. Ia tatap sang Ibu lagi-lagi dengan pandangan tak percaya. Benarkah, atau ia yang salah dengar.
"Apa, tadi Ibu bicara apa?." Rangga bertanya untuk lebih memastikan.
__ADS_1
"Ibu merestui hubungan kalian."
Apa?.
Tubuh Rangga nyaris limbung mendengar jawaban Ibunya. Tanpa kata-kata ia peluk lagi tubuh renta perempuan yang sudah melahirkannya kedunia.
"Benarkah, Ibu tidak sedang membohongiku 'kan?."
Hanya gelengan kepala sebagai jawaban. Keduanya kini berpelukan dan menangis bersama. Meluapkan rasa senang dan kebahagiaan yang tak mampu diungkapkan dengan kata-kata.
"Maaf jika dulu Ibu sempat memisahkan kalian. Sekarang Ibu sadar, walau sekuat apa seseorang menjauhkan, namun takdir tuhan melebihi segalanya. Kalian memang ditakdirkan untuk bersama." Ibunda Rangga mengakui itu. Ketidak inginan putranya untuk menikah serta meninggalnya suami Anastasya, serta pertemuan kembali keduanya mungkin memang sudah menjadi jalan untuk bersama.
"Terimakasih, Ibu. Aku sangat menyayangimu."
Tangis Ibunda Rangga semakin menjadi terlebih saat sang putra menciumi wajahnya penuh kasih. Suatu hal dan bentuk kasih sayang yang sejatinya tak lagi perempuan itu rasakan bertahun-tahun lamanya. Hubungan Ibu dan anak itu tak berjalan sebagai mana mestinya. Pasca menghilangnya Anastasya, Rangga menjaga jarak dari keluarga yang selama menjadi sumber utama penyebab kandas hubungannya dengan Anastasya. Rangga memilih menjauh karna sakit hati. Sampai dengan sang Ayah wafat, hubungannya dengan sang Ibu tak berubah, tetap rengang meski sang Ibu sudah meminta maaf, dan saat ini Ibunda Rangga seperti menemukan putranya yang bertahun lalu hilang. Paruh baya itu seperti kembali merasakan dekapan hangat dari seorang putra yang pernah ia lahirkan.
💗💗💗💗💗
Anastasya terkejut dengan kedatangan Rangga yang tanpa pemberitahuan. Terlebih pria itu kini datang tidak sendiri.
"Anastasya."
Perempuan yang disebut namanya menatap pada perempuan paruh baya yang duduk di kursi roda. Wajah itu, tentu Anastasya tak akan pernah melupakan sosok dari pemilik wajah Ayu tersebut.
"N-nyonya?." Pandangan Anastasya masih tertuju pada sosok yang dulu saat berbicara tak pernah berani ia tatap. Sosok perempuan kejam yang di masa lalu pernah sesuka hati menghinannya namun beberapa tahun setelahnya menangis dan meminta maaf.
"Anastasya, kami boleh masuk?." Rangga yang faham situasi, lekas mencairkan suasana. Kondisi sekitar mendadak tegang saat tanpa pemberitahuan Rangga membawa Ibunya kehadapan Anastasya.
"Si-silakan."
__ADS_1
Rangga sebisa mungkin memposisikan diri. Ia sadar jika kondisi disekitarnya sekarang tidak baik-baik saja. Berada di antara dua wanita yang dulunya pernah bersitegang untuk disandingkan. Rangga duduk tak jauh dari Ibunya sementara Anastasya memilik mendaratkan tubuh di sofa tunggal yang letaknya cukup berjauhan dari beberapa tamunya.
"Maaf jika kami datang tanpa memberi kabar." Rangga memulai pembicaraan. Sebisa mungkin ia mencairkan suasana. Membuat kedua perempuan itu pun juga nyaman berbicara. Akan tetapi baik Anastasya atau pun Ibunya masih banyak diam, hanya menanggapi jika ditanya dan menjawab seperlunya. Suasana masih terasa kaku.
"Anastasya, maksud kami kemari sejatinya bukan hanya ingin sekadar bertamu namun juga memiliki tujuan." Rangga mulai mengutarakan maksud dan tujuan. "Seperti yang pernah kukatakan padamu semalam. Anastasya, aku tak pernah main-main. Aku kini datang bersama Ibuku untuk melamarmu," sambung Rangga.
Anastasya masih terdiam. Disaat yang bersamaan, Natasya muncul dari tangga. Gadis yang mirip Natasya itu ikut bergabung setelah memberi salam pada tamu Ibunya.
"Ya Tuhan, wajahmu begitu mirip dengan Ibumu." Ibunda Rangga berkaca-kaca selepas melihat wajah Natasya yang begitu mirip Ibunya. Lalu seperti apa wajah anak yang sempat ia pinta gugurkan itu andai dia masih hidup?. Ibunda diliputi rasa bersalah yang teramat sangat. Andai waktu bisa diulang, tentu ia akan merestui pernikahan Rangga dan Anastasya duku tanpa memikirkan kasta.
"Natasya, ayo bicaralah. Ibu serahkan keputusan ini kepadamu." Anastasya menatap sang putri. Ia gengam tangan gadis itu yang menjadi sumber kekuatan untuknya hingga bisa berdiri tegak sampai detik ini. Bukan hanya tentang dirinya, tetapi keputusan ini seluruhnya ia serahkan pada sang putri.
"Maaf, sebelumnya, Tuan Rangga dan Nyonya. Untuk pernikahan ini memang Ibu menyerahkan keputusan ada pada saya. Kisah di masa lalu Ibu dan Tuan, saya pun sedikit banyak pernah mendengarkan dari seseorang, dan salah satu pemicu kandasnya hubungan kalian di masa lalu adalah restu dari orang tua. Nyonya," tanya Natasya pada Ibunda Rangga. "Lalu sekarang apakah Nyonya benar-benar merestui mereka atau hanya karna ada alasan lain?." Begitu tajam terdengar. Ibunda Rangga lekas menggeleng-gelengkan kepala.
"Tidak, Nak. Demi tuhan dan demi apa pun itu Aku sudah merestui hubungan Ibumu serta putraku."
"Apakah Nyonya bersungguh-sungguh."
"Harus dengan apa lagi aku membuktikan." Ibunda Rangga tersedu. "Penyakit yang pernah bersarang ditubuhku adalah bentuk peringatan dari tuhan atasku yang pernah melukai hati Ibumu. Aku mohon, Nak. Percayalah dengan ucapanku." Ibunda Rangga benar-benar mengiba dan membuat Natasya tak tega.
"Baiklah, aku percaya pada Nyonya, dan untuk Tuan Rangga." Kini pandangan Natasya tertuju pada Rangga. "Seperti keinginan Tuan sebelumnya. Silakan halalkan Ibuku dengan segera sebelum ada pria lain yang mendekatinya."
Rangga terperangah.
"Apa itu berarti jika kau juga merestui Aku untuk menikahi Ibumu?."
"Kenapa tidak?." Natasya menjawab santai. Sementara sang Ibu masih tak percaya. Bukankah mereka belum membicarakan apa pun tentang rencana ini tetapi kenapa sang putri sudah menyetujuinya.
"Yes." Rangga tak mampu menutupi rasa bahagia yang meluap. Sungguh, hari ini doa-doa yang ia panjatkan selama ini seakan didengar kan dikabulkan oleh Tuhan. Kali ini dirinya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan. Menikah dengan Anastasya adalah impian, dan menua bersama adalah harapan.
__ADS_1
Tbc