CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Di Toko Bunga Part. 2


__ADS_3

Sudut bibir gadis yang kini berdiri di ambang pintu tertarik, mengukir senyuman saat melihat pemandangan yang hadir di depan mata. Ibunya sedang duduk berhadapan dengan seorang pria di ruang kerjanya dan dari postur tubuh Natasya bisa menebak siapa sosok pria tersebut meski dengan posisi membelakangi.


Tuan Rangga, beliau ada di toko bunga dan sedang berbicara dengan Ibu?.


Saat ini sang Ibu belum menyadari akan kehadirannya. Perempuan yang sudah melahirkannya itu masih terlihat menanggapi ucapan Rangga dan sesekali melempar senyum kearah lawan bicaranya tersebut.


"Maaf, permisi." Berdiri beberapa saat dan hanya diam, gadis itu mulai bosan. Sengaja ia menyapa Ibu dan Rangga untuk menyadarkan dua insan tersebut jika di ruangan tersebut bukan hanya ada mereka berdua.


"Ta-tasya," jawab Anastasya yang terkekut akan kehadiran putrinya. Perempuan itu bangkit dari duduk, dan terlihat panik, menatap pada Rangga seakan meminta pada pria tersebuat untuk lekas keluar dari ruangannya. "Ka-kau sudah pulang Nak?." Kentara jelas wajah Anastasya memucat. Aliran daarah dalam tubuhnya seakan terhenti mengalir terlebih saat mendapati Rangga yang menanggapi dengan santai akan kedatangan putrinya.


"Ya, Ibu. Tadi aku hanya ingin singgah sebentar juga untuk mengajak Ibu pulang, Wah tidak taunya ada Tuan Rangga juga di toko bunga." Natasya lebih dulu menundukkan kepala kepada Rangga. Gadis berkulit putih itu lantas melangkah dan berdiri tak jauh dari Ibunya.


"Ya, tadinya aku memang hanya ingin membeli bunga tetapi karna pemilik Toko bunga ini ternyata Ibumu maka aku putuskan untuk berbicara sejenak." Rangga tersenyum. Tersenyum senang yang benar-benar senang dan bukan hanya formalitas. Tentu Natasya menangkap akan hal itu, dan rupanya apa yang ia inginkan sudah sesuai dengan harapan. Rangga rupanya bukan hanya mengandalkan dirinya untuk menaklukkan hati Ibunya.


"Y-ya, Nak. Tuan Rangga datang kemari memang untuk membeli bunga." Anastasya terlihat kikuk menjawab pertanyaan sang putri.


"Dan bunga yang Tuan Rangga beli rencananya akan diberikan untuk Ibu?."


"A-apa?." Anastasya mengangga, tak percaya akan pertanyaan sang putri yang sesungguhnya memang benar adanya. Di tempatnya Rangga tergelak. Sungguh, putri Anastasya ini memang paling pintar menebak.


"Ya karna aku melihat ada sebuket bunga di meja kerja Ibu." Natasya melirik ke arah bunga yang tergeletak di meja kerja Ibunya dan tak terlalu jauh dari hadapan Rangga. Gadis itu tersenyum lagi. "Aku fikir mungkin saja Itu bunga yang sempat di beli oleh Tuan Rangga." Sambung Anastasya lagi.


Rangga tergelak lagi. Sudahlah, Anastasya mungkin ingin menutipinya dari sang putri namun dirinya malah terlihat sedang tertangkap basah.

__ADS_1


"Ya, Natasya. Bunga ini memang bunga khusus aku pesan untuk Ibumu. Sebuket bunga mawar putih yang melambangkan kesetiaan, kemurnian, dan ketulusan hati."


Ah, manis sekali.


Mendengar ucapan Rangga, sontak membuat Anastasya menundukkan kepala, sementara sepasang mata sang putri justru terlihat berbinar senang. Natasya kemudian berfikir, memang apa yang sebenarnya sudah terjadi sampai Ibunya terlihat tak lagi menghindari Rangga. Apa jangan-jangan Ibunya berhubungan dengan Rangga tanpa sepengetahuannya?.


"Natasya, a-ayo duduk. Kau pasti lelah, biar ibu panggilkan seseorang untuk membuat minuman." Anastasya sudah ingin turun menemui karyawannya namun sang Anak lebih dulu mencegah.


"Ibu, tidak usah. Saat perjalanan pulang aku sempat membeli minuman untuk kita." Natasya memperlihatkan dua cup minuman yang ia beli pada sang Ibu. "Tapi hanya dua, aku tidak tau jika Tuan Rangga ada di sini. Maaf."


"Tidak apa, Natasya. Lagi pula Ibumu sudah membuatkan segelas kopi untukku. Bukan begitu, Anastasya." Rangga melirik pada Anastasya yang gelagapan. Senang rasanya bisa melihat wajah Anastasya sepanik ini. Cantik dan semakin membuatnya ingin memiliki. Sadarlah, Rangga. Kalian sudah tak muda lagi.


"Ehem ehem," goda Natasya dan sukses membuat Ibunya semakin salah tingkah.


Natasya hanya menangkupkan tangan di dadaa sebagai permintaan maaf.


💗💗💗💗💗


Di ruang kerja Anastasya, lagi-lagi ketiga insan berbeda usia itu terlihat seperti keluarga lengkap. Ayah, Ibu dan Anak. Duduk di sofa yang masih berada di ruang kerja Anastasya, Rangga sempat meminta pada orang kepercayaannya untuk mengirimkan beberapa makanan serta minuman ke toko bunga. Mereka masih berbicara. Hal remeh temeh, ini juga itu dan tak ayal membuat interaksi ketikanya semakin dekat. Mereka sudah akrab, begitu pun Natasya. Gadis itu cukup menyukai gaya bicara Rangga. Tegas, berwibawa dan masih terasa nyambung saat membahas banyak hal tentang anak muda zaman sekarang. Meski pun sudah akrab namun Natasya selalu membatasi diri. Ia menghormati Rangga sebagai seseorang yang lebih tua dan juga masih termasuk atasannya.


"Natasya, ayo makan yang banyak," titah Rangga seraya menyodorkan banyak makanan ke hadapan sang gadis. Natasya sendiri hanya tersenyum. Tidak enak menolak namun perutnya pun sudah terasa kenyang.


"Anastasya, ayo makan lagi. Kau juga belum mencicipi alpukat kocok ini. Kau tau, aku meminta pada Budi untuk membelinya di Kedai XX, kedai alpukat kocok yang kau sukai sejak dulu. Tapi sayang, koki yang membuatnya dulu sudah tiada dan kini digantikan oleh putranya." Rangga merasa bersalah. Ia memberikan cup berisi alpukat kocok tersebut pada Anastasya. Perempuan itu menerimanya dengan tangan gemetar.

__ADS_1


Alpukat kocok Kedai XX, pemiliknya sudah meninggal dan kini digantikan putranya?. Ya tuhan, mungkin Kedai yang dimaksud adalah kedai tempat Ibu membeli alpukat kocok dua puluh tahunan lalu.


Natasya memandang Rangga dan Anastasya secara bergantian. Saat ini Ibunya sedang menikmati Alpukat kocok pemberian Rangga, dan pria itu sedang memandang Ibunya dengan senyum terkembang di bibirnya.


Tidak. Mereka saling cinta. Ia sendiri tak yakin jika Ibunya akan menanggapi perasaan Rangga jika bukan karna permintaannya, dan apakah dirinya hanya diam saja saat Rangga terus berusaha namun Ibunya hanya diam?.


"Tuan Rangga."


"Ya," jawab Rangga tanpa mengalihkan pandangan dari Anastasya.


"Maukah Tuan menjadi Ayah untuk saya?."


"Apa?." Rangga dan Anastasya menjawab serempak.


"Ya, maukah Tuan Rangga menjadi Ayah untuk saya. Menikahi Ibu saya, dan kita menjadi satu keluarga yang lengkap?." Natasya mengerjapkan mata ke arah Rangga. Bibirnya mengulas senyum tipis seolah sadar betul akan pertanyaan yang baru saja ia lemparkan pada Rangga.


"Natasya, kau ini bicara apa?." Wajah Anastasya memerah. Ia malu tapi ia juga marah pada sang putri yang pada saat ini bertindak semaunya sendiri. Sementara Rangga, tubuh pria itu mematung. Rangga terlihat terkejut atau lebih tepatnya syok.


Ia tersadar namun ucapan Natasya laksana sengatan listrik yang nyaris menampar kesadarannya.


Apa dia bilang, maukah aku menjadi Ayahnya?.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2