
Sesosok tubuh yang masih tertutup selimut tebal itu mulai menggeliat. Pagi mulai menyapa, sang surya mulai menunjukan keperkasaannya namun pemilik tubuh yang masih kelelahan itu masih enggan untuk membuka mata.
yang masih terlelap itu, pelan. "Bangun," sambung Ratih kemudian.
Gadis itu menggeliat lagi, namun tetap dengan mata terpejam. Tidurnya benar-benar nyenyak saat ini.
Ratih mengulas senyum tipis. Ada kebahagiaan tersendiri yang terpancar dari wajah paruh baya itu kala melihat sang Nona terlepas dari derita.
Selepas menempuh perjalanan cukup panjang, rombongan baru sampai ke kediaman Thomas nyaris dini hari. Suasana mendadak haru saat keluarga Thomas menyambut kedatangan Isabel dan Praja yang memang sudah sekian tahun tak bisa ditemui dengan derai air mata.
Praja langsung mendapatkan penanganan khusus dari seorang dokter spesialis yang masih kerabat dekat Thomas di salah satu rumasakit di Ibukota. Praja memang kurang mendapat penanganan medis saat tinggal bersama Arum hingga membuat tubuhnya yang lumpuh kian memburuk hingga sekujur tubuh nyaris tak mampu digerakkan kembali.
Pada awalnya Praja hanya lumpuh di bagian kaki, namun seiring berjalannya waktu dan sangat kurangnya terapy atau pun obat-obatan yang pria itu konsumsi, membuat sekujur tubuhnya melemah dan kehilangan tenaga.
Laura, mendiang Ibunda Isabel bukanlah berasal dari keluarga biasa. Laura terlahir dari keluarga cukup berada yang juga memiliki berbagai macam usaha yang sudah tersebar di ibu kota. Begitu pun dengan Thomas, adik Laura pun yang juga mewarisi jejak sang Ayah.
Keluarga Laura bukanlah tak perduli akan nasib dan tumbuh kembang Isabel. Mereka pun sempat melakukan berbagai macam upaya untuk bisa membawa Isabel jauh dari Praja kala itu, hanya saja Laura-lah yang melarang. Bagaimana pun Praja tetaplah Ayah kadung dari putrinya yang sudah sewajarnya membesarkan juga menafkahi putri sematawayang mereka. Lagi pula Praja pun pernah mengancam akan menuntut keluarga Laura, andaikata ia dengan sengaja dipisahkan dari sang putri walau dengan alasan apa pun. Laura hanya bisa pasrah, ia tak bisa berbuat banyak selain meminta pada keluarganya untuk tak lagi mengungkit masalah Isabel juga kehidupan Praja. Terlebih dengan kondisi tubuhnya yang kini mulai memburuk akibat keputusan Praja yang menikahi Arum sebagai istri ke dua.
"Nona, bangun," ucap Ratih lagi. "Apa nona tidak lapar. Sekarang bahkan hampir memasuki waktu makan siang."
Isabel spontan membuka mata dan bangun.
"Apa! Benarkah?" Isabel menatap Ratih dengan pandangan tak percaya.
"Benar," jawab Ratih seraya menganggukan kepala.
"Oh, tidurku kali ini benar-benar lelap, bibi." Isabel menatap sekeliling. Sebuah kamar berukuran cukup luas dengan furnitur dan segala pernak pernik yang didominasi warna hijau muda. Kamar yang sudah sangat lama ia tempati. Sebuah kamar yang sengaja Thomas persiapkan untuknya, andaikata ia menginap sejak masa kanak-kanak dulu.
"Oh, aku begitu merindukan kamar ini, bibi." Isabel merebahkan kembali tubuhnya di atas kasur super empuk yang membuat tidurnya benar-benar nyaman semalam. Ia bahkan sudah lupa, kapan terakhir kali bisa tertidur selelap ini.
"Isabel." Seorang perempuan cantik dengan menggandeng gadis kecil berisia lima tahun, memasuki kamar Isabel dengan mengembangkan senyum di bibir tipisnya. Dia adalah Kinanty, istri dari Thomas.
"Bibi Kinan," ucap Isabel dengan wajah berbinar. Gadis itu lekas menuruni ranjang kemudian memeluk tubuh Kinanty juga keponakan kecilnya.
__ADS_1
"Bagaimana tidurmu, nak. Nyenyak?" Kinanty bertanya dengan antusias. Ia usap puncak kepala Isabel penuh sayang, seperti yang kerap ia lakukan dulu.
"Sangat. Sangat-sangat nyenyak hingga aku bangun kesiangan." Keduanya tergelak. Pandangan Isabel kini beralih pada gadis kecil berpipi gembil yang begitu menggemaskan. Tangan gadis itu bergerak usil hingga akhirnya menjepit kedua pipi gembil bocah itu sebab saking gemasnya.
"Hai gadis," sapa Isabel.
Gadis kecil itu tersenyum lebar, namun terlihat jika ia malu-malu dan memilih bersembunyi di belakang tubuh sang ibu.
"Namanya Anabel. Aku sengaja memberinya nama yang cukup mirip denganmu. Jujur, beberapa tahun ini bibi sangat merindukanmu, bibi selalu ingat padamu, hingga pada saat mengandung dan melahirkan Ana, aku dan Thomas sepakat untuk memberinya nama Anabel. Anabela."
Isabel terharu. Ia berlutut guna menyamakan tinggi badannya dengan gadis kecil yang memandangnya dengan raut kebingungan itu. Ini untuk kali petama mereka bertemu. Wajar jika Ana masih merasa takut pada Isabel.
Isabel lekas mendekap tubuh Anabel erat. Ia ciumi pipi gadis itu seraya mengucapkan kata terimakasih. Gadis kecil itu kebingungan, namun ia membiarkan Isabel untuk memeluknya dan tak berniat untuk melepaskannya. Bagaimana pun gadis kecil itu tau, jika gadis yang sedang mendekapnya kini adalah bagian dari keluarganya.
💗💗💗💗💗
Praja menatap nanar langit-langit ruangan. Begitu sampai di ibukota, Thomas langsung membawanya untuk menjalani perawatan disebuah rumasakit yang ditangani langsung oleh dokter speaialis.
Praja merasa benar-benar tak berguna kini. Ia juga malu pada keluarga mendiang sang istri yang dulu ia jauhi.
Pintu ruang perawatan terbuka. Seorang dokter besarta perawat memasuki ruangan. Thomas pun juga terlihat mengekor di belakang.
Perawat memeriksa keadaan Praja dengan pengawasan dokter. Sang Dokter pun mendekati Thomas, keduanya seperti membicarakan hal yang cukup serius tentang keadaan Praja. Sesekali Thomas terlihat mengangguk dengan mimik wajah yang serius. Tak berselang lama, dokter beserta perawat itu meninggalkan ruangan hingga menyisaka Praja dan Thomas.
Sejenak senyap menyergap. Keduanya masih diam, tanpa ada pembicaraan. Jika Thomas mungkin enggan, tapi tidak dengan Praja yang sejujurnya merasa malu saat akan memulai pembicaraan lebih dulu.
"Thom, terimakasih." Lamat-lamat suara Praja menyapu indra pendengaran Thomas.
Adik dari mendiang Laura itu menghela nafas dalam kemudian berucap, "Untuk apa?"
"Karna sudah membawa kami pergi jauh dari Arum."
Jawaban Praja, spontan membuat Thomas menyerigai.
__ADS_1
"Jika bukan atas permintaan Isabel, tentu aku tidak akan sudi membawa serta dirimu untuk ikut bersamaku. Tapi bagaimana lagi, keponakanku itu keukeuh tak mau pergi andaikata tidak bersamamu."
Sudut mata Praja mulai memanas. Pria dengan posisi berbaring itu nyaris meluncurkan bulir bening dari kedua sudut mata, namun sebisa mungkin ia tahan.
"Jangan kaget dengan ucapanku. Aku rasa semua tak sepadan dengan apa yang sudah kau lakukan pada saudara perempuanku dulu." Thomas sengaja menyibak memori masa lalu untuk membuka mata hati Praja.
"Maaf," lirih Praja penuh sesal.
"Aku bahkan masih tak percaya dengan melihat kondisimu sekarang. Rupanya, lima tahun berlalu begitu banyak yang sudah berubah." Thomas menjeda sejenak ucapan. Ia perhatikan secara seksama kondisi tubuh Praja saat ini.
Thomas tergelak lirih.
"Perempuan yang berhasil menggeser posisi kakakku benar-benar berperan apik hingga berhasil membuat pria setangguh dirimu menjadi seorang pria lumpuh yang tak berguna," sindir Thomas yang mana membuat mental Praja kian lemah. Pria itu tertunduk lesu dengan bola mata berkaca-kaca.
"Mana Praja yang aku kenal dulu? Pria ambisius yang akhirnya takluk oleh nafsu. Mana Praja yang dulu, pria penuh wibawa yang tega menyia-nyiakan istrinya sendiri demi perempuan lain, yang ia klaim lebih baik." Thomas menatap lawan bicaranya tajam. Pria itu seakan tengah meluapkan rasa sakit hatinya atas kejadian beberapa tahun lalu yang membuat kakak perempuannya menderita hingga kehilangan nyawa.
Meninggalnya Laura menjadi sebuah hantaman terbesar untuk seluruh keluarga. Mereka cukup tau jika sakit yang diderita laura, hanya perantara akibat tak mampu lagi memendam luka batin yang selama ini suaminya torehkan dengan mendatangkan wanita lain dalam mahligai rumah tangga yang sejatinya dibangun dengan ribuan luka dan air mata.
Dulu kala orang tua Laura memang tak merestui pernikahan putrinya dengan Praja. Entah masalah apa yang melandasinya, bahkan Laura sendiri tak tau persis alasannya.
Akan tetapi kerasnya Praja untuk bisa meluluhkan hati orang tua Laura, membuat sepasang paruh baya itu akhirnya mengabulkan keinginan sang putri untuk bisa menikah dengan pria yang ia cintai.
Dan kini setelah semua prahara yang terjadi apakah orang tua Laura menyesal akan keputusan yang diberikan? Entahlah. Sepasang suami istri itu bahkan sudah menjemput ajal tak berselang lama setelah Laura dipanggil sang pencipta.
Thomas sesak di dada saat kenangan pedih itu kembali terlintas di benak. Sumpah demi apa pun jika bukan karna Isabel, pria yang sedang terbaring di atas ranjang pasien ini, sudah pasti mati di tangannya.
"Demi tuhan, a a-ku benar-benar menyesal." Lirih Praja berucap.
Thomas tergelak, seolah mengejek.
"Terlambat. Sesalmu tak akan mampu mengembalikan nyawa kakakku, juga trauma yang pasti yang dirasakan keponakanku."
Praja kembali tertunduk dalam. Memang, sesalnya kini sudah tiada guna. Sesalnya pun sudah tak mampu mengembalikan apa pun yang sudah ia hancurkan dulu. Kini yang ada hanyalah kenyataan pahit yang harus ia terima di mana Arum, sosok perempuan yang ia cintai dengan sepenuh hati, tega menorehkan luka yang amat dalam serta membuat hidupnya hancur remuk redam.
__ADS_1
"Ingat! Jika bukan karna Isabel, kau pasti sudah mati ditanganku. Jadi, jangan salah artikan kebaikanku sebab sudah membawamu ke rumasakit ini. Semua hanya sebagai bentuk rasa sayangku pada Isabel dan tidak lebih. Aku harap kau tetap sadar siapa dirimu. Pria pengecut yang tega menghancurkan rumah tangganya sendiri." Thomas pergi. Ia melangkah keluar selepas menutup pintu dengan cukup kencang. Amarah jelas masih tergambar di wajah tampannya. Bertemu dengan Praja kembali sejujurnya bukanlah sesuatu yang ia inginkan. Akan tetapi, bagaimana lagi. Isabel sudah seperti putrinya sendiri, dan selamanya pun akan tetap seperti itu. Mungkin ia harus belajar berdamai dengan masa lalu, setidaknya untuk membuat Isabek kembali tersenyum.