CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Membutuhkan Bantuan


__ADS_3

Orang tua Erich sudah berkemas. Permasalahan yang sempat menimpa sang putra cukup menyita waktu dan fikiran. Akan tetapi juga ada hikmah di baliknya, pasalnya dengan kasus penusukan Erich beberapa waktu lalu membuat anak dan orang tua yang hidup saling terpisah jarak itu kembali berkumpul untuk melepas rindu.


"Lalu apa keputusan mereka?" Arka melontarkan pertanyaan kepada Erich. Arka sengaja mengumpulkan orang seisi rumah sebelum kepulangannya ke ibukota.


"Mereka belum memutuskan apa pun sedangkan aku hanya memberi dua penawaran. Meminta mereka menyerahkan semua hak Isabel atau memperkarakan kasus ke meja hijau," jawab Erich tegas.


Arka menganggukkan kepala. Cukup puas dengan jawaban sang putra. Sementara itu Isabel yang duduk di samping Zara hanya bisa menundukan kepala. Wajahnya nampak pucat dan kelelahan atas segala konflik yang mendera.


"Setiap harinya aku akan mengirimkan utusan ke kediaman mereka guna meminta kejelasan dan andaikata tetap tak mendapat respon, maka mau tak mau kami pun akan bergerak." Erich menatap sang ayah kemudian beralih pada Sam. "Ayah, paman, aku harap kalian bisa membantuku dalam menyelesaikan masalah ini. Aku butuh kalian sebagai penengah sekaligus pengambil keputusan agar masalah ini cepat selesai dan tak berlarut-larut. Aku faham jika Isabel bukanlah siapa-sia bagi kita, dia hanya gadis asing yang tanpa sengaja bertemu dengan kita. Akan tetapi sebagai bentuk kemanusian, tidakkah hati kita tersentil andaikata saudara perempuan kita diperlakukan secara tidak manusiawi, ditindas lalu diambil haknya secara paksa orang lain tanpa belas kasih. Apakah kita akan diam saja? Tidak tergugah atau berniat sedikit saja meringankan penderitaannya?"


Isabel semakin tertunduk dalam. Ucapan Erich seakan meremukan seluruh persendian tulangnya. Benar, dirinya memang bukan siapa-siapa bagi keluarga Erich. Jadi wajar saja jika pria tampan itu berucap demikian. Akan tetapi kenapa rasanya begitu sakit saat mendapati kenyataan yang ada.


Arka dan Sam saling berpandangan. Kedua pria itu seolah berbicara dari sorot mata. Begitu pun dengan Ernest dan Lagit. Suasana mendadak senyap dan hanya hembusan nafas yang terdengar.


"Baiklah. Sejatinya memang itulah tujuan kami berada di sini. Kami sudah sepakat untuk membantumu dalam menuntaskan persoalan ini. Jadi kau tak perlu khawatir, putraku. Kami akan selalu ada di sampingmu. Sementara menunggu keputusan dari kedua belah pihak, Ayah beserta ibu dan lainnya akan kembali lebih dulu ke ibu kota. Cukup banyak pekerjaan yang ayah tinggalkan juga Ernest diperusahaan. Jadi, segera hubungi kami jika kau membutuhkan bantuan." Arka menepuk bahu sang putra. Senyum tipis di bibir pria paruh baya yang masih begitu tampan itu terukir. Menyadari sikap tak biasa sang putra yang ditunjukan akhir-akhir ini padanya. Putraku sudah dewasa, begitu batin Arka.

__ADS_1


"Ya, fix. Kita pasti akan datang begitu kau membutuhkan." Ernest ikut bersuara. Pria yang memiliki wajah sama persis seperti Erich itu terlihat antusias. Sesekali ia melirik ke arah Isabel lalu berganti ke arah saudara kembarnya. Senyum di bibir pria itu terukir, menyadari jika ada sesuatu hal yang terjadi di antara kedua sejoli berbeda jenis kel*min itu.


Beberapa orang yang berkumpul pun memberi persetujuan. Menenangkan Erich agar tetap bersikap tenang dalam mengikuti alur permainan yang diberikan Arum. Beruntung disamping sikap tegas yang Erich miliki, pria muda itu pun tak mudah terprofokasi meski dalam keadaan terhimpit sekali pun. Itulah yang membuat keluarga Erich tak khawatir untuk meninggalkan meski tengah berada di pusaran permasalahan. Erich pasti bisa mengatasinya dengan kepala dingin.


💗💗💗💗💗


Pria utusan Erich memasuki ruang kerja. Erich mendongak, mengalihkan sejenak pekerjaannya pada sosok pria berbadan tegap yang sudah ia percaya untuk menyambangi kediaman Arum selama beberapa hari ini.


"Bagaimana, apa keputusan mereka?"


Pria dengan stelan jas rapi itu menghela nafas sejenak sebelum berbicara. Memilih kata-kata tepat sesuai informasi yang ia dapat.


Ck.


Erich berdecak. Cukup dipusingkah dengan tingkah Arum yang tak mudah tertebak.

__ADS_1


"Akan tetapi di balik sikap keterdiaman mereka, sepertinya ada rencana lain yang sedang mereka susun."


Erich menyipitkan pandangan, dengan tatapan pria muda itu seolah meminta kejelasan dari pria di hadapannya.


"Kami terus mengintai pergerakan mereka, termasuk para pengawal kepercayaan mereka. Dan dua hari ini mereka tampak mendatangi tempat-tempat yang menyediakan jasa pengawal juga pembunuh bayaran. Saya berasumsi, jika mereka sedang mengatur stragi untuk memperbanyak pasukan agar bisa menyerang kita lebih dulu."


Erich sontan mengepalkan kedua tangan. Rahangnya mengeras dengan gigi saling bergesekan. Perkiraan sang anak buah cukup masuk akal. Terlebih menurut keterangan Isabel, Arum tergolong pribadi yang licik juga licin. Bisa saja mereka berpura-pura diam sekedar untuk mengecoh lawan. Menyusun Strategi matang yang akan membuat lawan kelabakan hingga mati kutu.


"Tidak, ini tidak boleh dibiarkan." Pria itu bangkit, mendekati pria kepercayaannya masih dengan emosi yang nyaris meledak.


"Umumkan pada para pengawal untuk tetap waspada. Pasang keamana berlapis terutama untuk rumah dan perusahaan. Kita tidak boleh lengah sedikitpun. Aku akan segera menghubungi Ayah dan Paman. Meminta bantuan sekaligus mencari jalan penyelesaian. Aku percayakan penjagaan kepadamu dan kuharap kau tak akan mengecewakanku."


Pria berbadan tegap itu spontan mengangguk.


"Siap, laksanakan." Ia pun menganggukan kepala sebelum berlalu pergi meninggalkan Erich yang sibuk dengan ponsel pribadi milik sang tuan.

__ADS_1


"Ayah, aku butuh bantuanmu sekarang."


Tbc.


__ADS_2