CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Penyamaran Isabela


__ADS_3

"Benar-benar biadab." Kalimat itu lolos begitu saja dari bibir Erich selepas mendengar penuturan langsung dari seorang Retno yang kini duduk di hadapannya dengan bersimpah air mata.


Rumah Retno terbakar. Lebih tepatnya memang sengaja dibakar selepas pengawal Erich melakukan penyelidikan. Dan kemungkinan besar pelakunya adalah Arum dengan bantuan para antek-anteknya.


Retno beserta putrinya masih terisak seraya berpelukan erat. Erich tak kuasa melihat, ia bisa merasakan kepedihan yang tengah perempuan paruh baya itu rasakan. Erich pun sebenarnya sudah meminta dua orang pengawal untuk berjaga di sekitar rumah Retno, namun rupanya orang suruhan Arum lebih pintar dengan memanfaatkan kelegahan pengawalnya untuk melancarkan aksi. Rumah Retno hangus terbakar. Tak ada barang sedikit pun yang bisa diselamatkan. Semua lenyap dan hanya menyisakan abu dan kepulan asap.


"Jika Rumah terbakar, mungkin saya bisa membangunnya kembali tuan, meski pun hanya gubung. Tetapi foto-foto mendiang suami saya, ha-hanya itu, hanya itu.." Retno tak mampu menyelesaikan ucapannya. Perempuan paruh baya itu kembali terisak. Begitu pun dengan putrinya. Mengingat begitu banyak kenangan yang tersimpan dalam rumah sederhana itu.


Beberapa kali Erich terlihat menghela nafas berat. Ia ingin sekali bertindak, tetapi ia juga tak bisa terlalu jauh mencampuri urusan lain mengingat semua adalah diluar ranah pribadinya.


"Lalu apa yang akan bibi lakukan, apakah kita perlu menuntutnya? Tetapi sepertinya sulit sebab tak ada saksi mata yang bisa dimintai keterangan." Rupaya anak buah Arum begitu rapi dalam bertindak, Hingga tak meninggalkan jejak atau pun saksi mata.


"Entahlah. Saya bingung, tuan." Retno kembali terisak. Ia tak bisa berbuat apa-apa selain mengiklaskan semuanya.


💗💗💗💗💗


Isabel menatut penampilan barunya di depan cermin. Rambut hitam nan indah miliknya ia tutup dengan wig cepak khas pria. Tak lupa ia memasang kumis di area bawah hidung juga menambahkan kaca mata berlensa tebal untuk menyempurnakan penyamarannya.


Dres rumahan selutut lekas ia ganti dengan kaos oblong dan celana jins milik pria.

__ADS_1


Lengkung tipis merah muda gadis itu mengulas senyum simpul. Isabela nan cantik jelita kini menjelma menjadi seorang pria nan tampan rupawan dengan kumis tipis menghiasi wajahnya.


"Sempurna," gumam Isabel seraya mengenakan jaket berbahan jins sebagai setuhan terakhir penampilannya.


Gadis itu menuruni tangga menuju lantai dasar kediamannya. Ratih dan Praja yang tengah duduk di sofa ruang keluarga dibuat ternganga. Keduanya menatap Isabel tanpa kedip dengan pandangan penuh tanya.


"Nona, apa yang nona ingin lakukan? Kenapa berpenampilan seperti ini?" Ratih spontan memberondong Isabel dengan banyak pertanyaan. Perempuan itu mendekat dan menatap penampilan Isabel dari puncak kepala hingga ujung kaki. Ratih tak habis fikir, tidak ada angin tidak ada hujan, kenapa nonannya justru berpenampilan layaknya pria seperti ini.


"Putriku, ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi?" Praja menelan salivanya berat. Apa maksud sang putri dengan merubah penampilannya ini.


Berbeda dengan Praja dan Ratih yang diliputi kecemasan saat melihat Isabel, gadis itu justru memasang wajah setenang mungkin dan tak lupa membubuhkan seutas senyuman di bibirnya.


"Tidak," sela Praja cepat. "Ayah tidak akan mengizinkanmu, isabel. Lagi pula dengan siapa kau akan ke sana?" Tidak, Praja sudah kehilangan Laura dan dia tak ingin kehilangan Isabel. Demi tuhan, ia tidak rela.


Sadar jika sang ayah begitu mengkhawatirkan dirinya, gadis itu lekas berlutut di hadapan sang ayah. Dengan sepasang mata berkaca-kaca, gadis itu menatap sang ayah penuh harap. Harapan agar pria itu bersedia melepasnya.


"Ayah, Isabel tau jika ayah begitu menyayangiku. Ayah begitu khawatir padaku. Tetapi apakah kita harus tetap berdiam diri saat orang lain membutuhkan bantuan?"


"Tapi nak," lirih Praja masih tak terima.

__ADS_1


"Kita bisa hidup dengan nyaman di sini, tetapi kita tidak tau seperti apa Bi Retno menjalani hari-harinya di sana. Apakah ia tertekan? Apakah ia bahagia? Kita tidak tau ayah."


Ratih mengigit bibirnya kelu. Benar. Apa yang Isabel katakan memang benar. Tidak mungkin mereka bisa hidup bahagia di atas penderitaan orang lain.


"Kita tidak boleh egois, ayah. Mungkin bi Retno sangat membutuhkan bantuan kita saat ini. Maka dari itu, biarkan Isabel pergi. Seorang diri tanpa siapa pun yang menemani."


"Tidak nak." Tentu Praja tak akan setuju begitu saja. Putrinya akan pergi dalam sebuah misi, dalam keadaan serang diri pula. Bagaimana pria itu akan memberinya Izin.


"Aku mohon ayah. Aku tidak ingin jika membawa serta orang lain justru menjadi pemicu bagi anak buah Ibu Arum untuk bisa mengenaliku. Maka dari itu aku memutuskan untuk pergi seorang diri. Bagaimana ayah?"


Mendengar penjelasan sang putri kini membuat Praja pasrah.


"Baiklah," jawab Pria itu lemah.


Isabel bernafas lega. Perjalanan kali ini cukup beresiko. Mungkin dengan cara merubah penampilan seperti ini membuat dirinya tak akan mudah dikenali.


Gadis itu mengayunkan langkah menuju halaman rumah selepas berpamitan pada Praja dan Ratih. Isabel bahkan tak meminta sopir pribadi untuk mengantarnya menuju bandara, tetapi memesan sebuah taksi yang melintas di depan gerbang kediamannya.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2