
Di hari pertama bekerja Anastasya masih terlihat menyesuaikan diri. Bukan hanya dari cara kerja namun juga berinteraksi dengan atasan atau pun rekan kerja. Selepas kepergian ketiga tamu penting Erich yang melihatnya seperti penuh tanda tanya, Natasya makan siang bersama para karyawan lain disebuah kantin khusus milik perusahaan Atmadja group.
Rupanya untuk urusan makanan para karyawan pun Atmadja group tidak setengah-setengah. Semua sajian dimasak oleh koki profesional dengan rasa yang tak peelu diragukan. Natasya berbaur dengan para staf lain yang juga terlihat ramah saat menyapanya. Mereka menikmati makan siang dengan sesekali bertukar cerita. Duh senangnya. Di tempat kerja dan di hari pertamanya ini Natasya seperti tak sendiri. Dia sudah punya banyak teman dan kenalan.
Lalu untuk urusan makan siang Ernest?.
Hah, bagaimana ini?.
Akibat rasa lapar yang melanda membuat Natasya yang semula menunggu Ernest yang tak kunjung keluar dari ruangan, membuatnya nekat bertanya pada seorang OB di mana kantin berada. Dan di sinilah dia. Makan siang enak tanpa mempedulikan sang atasan.
Natasya lekas mengusap sudut bibirnya dengan tisu. Ia bangkit bersiap untuk meninggalkan makan siang yang masih tersisa.
"Tasya kau mau kemana, makanan siangmu saja belum habis," tegur salah satu teman yang duduk tepat di sampingnya.
"Em, ini. Sepertinya aku harus cepat-cepat. Ada sesuatu yang harus aku kerjakan sekarang. Daaa." Natasya melambaikan tangan sebelum berlari mencari pintu keluar.
Ya tuhan, bagaimana ini?.
Natasya memaki dirinya sendiri. Menyesal sebab tidak sempat bertanya lebih dulu pada Langit perihal makan Tuannya. Gadis itu menaiki lantai demi lantai gedung dengan menggunakan lift. Begitu pintu terbuka di lantai teratas gedung, gadis itu terkesiap saat dua pria berbadan tegap muncul di depannya saat pintu lift baru saja terbuka.
"T-tuan," ucap Natasya setenah tergagap saat pandangannya bertemu dengan sepasang mata tajam milik Ernest.
"Dari mana saja kau?." Suara Ernest terdengar tajam di telinga Natasya.
Gadis itu menelan salivanya berat. Ia melirik pada Lagit seolah meminta pertolongan.
__ADS_1
"Sa-saya makan siang dengan karyawan lain di kantin, Tuan." Natasya langsung menundukkan kepala.
Di sana terlihat jika ke dua pria itu menghela nafas dalam. Mereka menyadari jika Sekretaris perempuan itu belum ada satu hari bekerja padanya.
"Natasya sepertinya ada satu poin penting yang belum aku jelaskan padamu perihal jadwal makanan Tuan Esnest saat berada di kantor." Kini langit yang bersuara. Seperti biasa ia akan selalu menjadi penengah.
Tak ingin banyak berdebat, ke dua pria itu pun lantas membawa natasya ke sebuah ruangan yang lebih terlihat seperti ruang makan. Ah, mungkinkah ini ruang makan Ernest dan Langit saat di kantor.
Langit menarik sebuah kursi dan mempersilahkan Ernest untuk menempatinya. Di sudut lain Natasya mengamati dengan teliti. Ia juga harus banyak belajar untuk melayani atasannya.
Dua orang pelayan mulai menyusun hidangan pembuka di atas meja. Lewat isyarat pandangan Langit meminta pada Natasya untuk ikut bergabung. Tak ada yang berbeda. Di meja makan itu baik Ernest, langit atau pun Natasya mendapatkan perlakuan yang sama.
Haduh, jadi sekarang aku makan siang lagi?. Natasya mengeluh dalam hati saat langit dan Ernest menikmati hidangan yang disajikan.
Perutnya bahkan sudah kenyang namun jika ia tak ingin makan, lantas seperti apa reaksi Ernest nanti.
Mau tak mau Natasya pun melahap makanan bagiannya yang sudah disajikan oleh koki. Demi apa pun perut ratanya seakan ingin meledak karna kekenyangan.
"Kau kenapa?." Ernest bertanya pada Natasya yang terlihat mengusap perut dengan wajah yang terlihat pucat.
"Ti-tidak apa-apa, Tuan. Saya baik-baik saja, hanya sedikit kekenyangan." Gadis itu meringis dan cepat-cepat menundukkan kepala. Duh, malu rasanya.
Selepas makan siang, mereka menikmati waktunya dengan berbincang. Ernest dan Langit tampak membicarakan sesuatu bisnis yang tak belum Natasya ketahui. Gadis itu hanya menjadi pendengar.
Selepas tiga puluh menit berlalu Ernest kembali ke ruang kerjanya begitu pun dengan Natasya. Sementara Langit, pria yang memiliki paras tak kalah tampan dari Ernest itu pergi entah kemana.
__ADS_1
Di balik meja kerjanya, putri dari Anastasya itu berkutat dengan beberapa pekerjaan yang sudah menjadi tangung jawabnya. Sebagai salah satu lulusan terbaik di salah satu universitas bergengsi di negara XX, hal tersebut bukan menjadi masalah yang besar untuknya.
Natasya menatap pada beberapa map yang tertumpuk di meja kerjanya. Itu adalah berkas dari beberapa kepala divisi yang perlu diserahkan kepada Ernest untuk mendapatkan persetujuan. Jadwal pertemuan Ernest untuk sore hari ini pun kosong, namun pada esok hari pertemuannya para kolega padat merayap.
Gadis cantik itu lekas bangkit dengan membawa serta beberapa map untuk diserahkan pada Ernest di ruang kerjanya.
Natasya mengetuk pintu beberapa kali, selepas mendengar jawaban dari seseorang di dalam, gadis itu pun mendorong pelan pintu sampai terbuka.
"Ada apa?." Ernest menatap pada sekretaris barunya. Pria tampan dengan rambut gondrong yang di ikat asal itu, terlihat menatap lekat yang membuat Natasya lekas menundukan kepala.
"Saya membawa berkas untuk mendapat persetujuan anda beserta tanda tangan." Jawab Natasya masih menundukkan kepala.
"Hem, bawa kemari."
"Baik." Natasya melangkah. Ia mengangkat sedikit dagunya dan menyerahkan map tersebut tepat di hadapan sang Tuan.
"Terimakasih." Ernest membuka map dan meneliti barisan kata dalam setiap lembarnya. "Sepertinya aku akan mempelajarinya lebih dulu." Pandangan pria itu masih tertuju pada isi map.
"Baik, Tuan. Saya permisi," pamit Natasya.
"Silakan."
Natasya pun menundukan kepala. Ia lekas memutar tubuh dan keluar dari ruangan Ernest. Begitu menduduki kursi kerjanya kembali, gadis itu menghela nafas lega. Rupanya Ernest tak semenyeramkan penampilannya. Ya walaupun dia tampan tapi rambut gondrongnya itu cukup membuat nyalinya menciut.
Gondrong tampan sih. Heeeee...
__ADS_1
Tbc