
"Ibu, pria yang duduk di samping Ibu tadi siapa?."
Anastasya yang baru saja ingin mendaratkan kaki untuk menapaki anak tangga, menghentikan langkap. Sepasang matanya terpejam sesaat, sebelum berbalik badan dan menatap pada sang putri yang berdiri di belakang tubuhnya. Anastasya sempat memprediksi hal semacam ini akan terjadi. Putrinya akan bertanya tentang Rangga yang dengan tanpa izin mendekat dan sok akrab padanya.
"Pria yang mana, Nak?." Anastasya kini menatap wajah sang putri. Tersenyum tipis dan menyimpan rasa gelisah.
Natasya menghela nafas. Rupanya sang Ibu pura-pura lupa. Sebenarnya dirinya hanya ingin mempertegas. Natasya tau jika pria yang datang dan duduk di samping sang Ibu tadi adalah Rangga Wiratama. Akan tetapi yang ingin gadis itu ketahui adalah hubungan di antara mereka. Selama ini sedikitpun Anastasya tak pernah bercerita jika mengenal pewaris Wiratama group tersebut, tapi kenapa jika diperhatikan secara saksama, hubungan mereka terlihat dekat dan seperti sudah mengenal lama.
"Yang datang terlambat dan duduk di samping Ibu. Ayolah, Ibu, Tuan Arkana sepertinya hanya mengundang kita dan... Teman Ibu itu."
Mereka baru saja memasuki rumah. Natasya sadar, saat ini adalah waktu yang tak tepat baginya untuk bertanya. Tetapi bagaimana lagi, dirinya sudah terlanjur penasaran, dan jika tidak dituntaskan maka dalam mimpi pun pasti terbawa.
"Dia Tuan Rangga Wiratama," jawab Anastasya pada akhirnya.
"Ibu mengenal beliau?."
Anastasya mengangguk samar.
"Beliau adalah sahabat Tuan Arka jadi Ibu pun pasti mengenalnya."
"Benar juga," gumam Natasya seraya menganggukkan kepala.
"Natasya, Ayo masuk kamar," titah sang Ibu yang sesungguhnya hanya sebuah alasan untuk menghindar sebelum putrinya bertanya kemana-mana.
"Tapi, aku rasa hubungan Ibu dan beliau cukup dekat?."
Anastasya menelan ludah.
"Itu tidak benar, Nak. Kami memang berteman sedari dulu."
"Tapi, Bu. Sepertinya Tu--..."
"Natasya, masuk kamar. Ini sudah malam dan waktunya untuk beristirahat."
__ADS_1
Natasya menunduk lesu. Mau tak mau ia pun menaiki anak tangga menuju kamar. Sementara Anastasya menghela nafas lega, setidaknya saat ini dirinya terbebas dari segala pertanyaan serta keingintahuan putrinya tentang Rangga.
Di dalam kamar, Natasya menggerutu. Ia merasa seperti ada yang tidak beres pada Ibunya. Berbagai praduga mulai mengisi benak.
Tetapi kenapa Ibu seperti sedang berusaha menutupi sesuatu dariku. Andai Tuan Rangga adalah teman biasa di masa lalu, tidak mungkin Ibu enggan menjawab pertanyaanku dengan menggantinya dengan pembicaraan lain?.
Anastasya seperti sengaja mengalihkan pembicaraan ketika putrinya membahas tentang siapa Rangga.
Hanya teman.
Satu kalimat yang terus terngiang di benak Natasya. Bagi dirinya yang tak terlalu banyak memiliki teman pria, merasa sedikit aneh terlebih melihat sikap perhatian Rangga pada Ibunya yang cukup berlebihan jika dikatakan hanya seorang teman.
Entahlah. Natasya tak ingin berprasangka. Ia pun juga tak ingin lancang dengan mendesak Ibunya untuk berbicara. Sekarang dirinya memilih untuk beristirahat. Mengistirahatkan tubuh di atas ranjang sembari menatap sejenak ke arah atas nakas di mana album foto dirinya bersama kedua orang tuanya terpajang.
"Aku merindukanmu, Ayah," gumam Natasya yang entah mengapa pada malam ini terasa begitu merindukan mendiang sang Ayah.
"Aku harap Ayah selalu berbahagia di sana." Sepasang mata gadis itu terpejam, bibirnya menggumam seperti sedang memanjatkan Do'a.
Visual Anastasya dan Natasya
Rasa penasaran yang meluap rupanya bukan hanya diraskan Natasya tetapi juga Ernest. Pria muda yang sejak makan malam terlihat tak banyak bicara itu sejatinya menyimpan banyak sekali tanya yang pada malam ini harus ia dapatkan jawabnya dari mulut sang Ibu.
Beberapa saat lalu dirinya mencari waktu yang tepat dan kesempatan untuk berbicara empat mata dengan sang Ibu. Ia hanya bisa mondar mandi di ruang keluarga saat Ibunya masih berada di kamar bersama sang Ayah.
"Ernest, kau belum tidur?."
Suara yang datang menyapa membuat pria tampan itu menghela nafas lega. Ibunya sudah keluar kamar.
"Belum," jawab Ernest seraya menatap pada wajah sang Ibu yang terlihat lelah. "Ibu, boleh aku bertanya sesuatu."
"Tentang?."
__ADS_1
Ernest lebih dulu melirik ke arah sekitar, memastikan jika tak ada seorang pun yang melindas dan mendengar pembicaraan mereka. Sementara Zara, perempuan itu seperti mampu membaca isi fikikiran sang putra jika sesuatu yang akan pria itu tanyakan adalah seputar Anastasya atau pun Rangga.
"Tentang keluarga Natasya dan... Paman Rangga."
Benar.
Zara menghela nafas. Sama seperti Ernest, perempuan itu pun menyisir pandang ke sekeliling.
"Ikut Ibu," titah Zara kemudian.
Ernest pun mengikuti langkah kaki sang Ibu, menuju ke lantai teratas kediaman mereka yang letaknya juga berjauhan dari kamar pribadi milik kedua orang tuanya.
Sebuah taman buatan yang terletak di balkon sebuah kamar. Zara membawa sang putra untuk dusuk di sana. Selain tak ada orang lain, kondisi taman terasa begitu tenang dengan aroma bunga-bunga segar yang senantiasa menyapa indra penciuman.
"Apa yang ingin kau tanyakan, Nak. Perihal keluarga Natasya dan Paman Rangga?." Zara rasa jika putranya pun sudah dewasa. Apa yang ia lihat dan sekiranya tak wajar bagi dirinya, tentu pria muda tersebut akan merasa penasaran. Sama seperti kejadian beberapa jam lalu. Kedekatan diantara orang tua Natasya dengan kedua orang tuanya serta perlakuan Rangga pada Anaatasya, tentu menimbukan pertanyaan tersendiri dalam diri Ernest yang perlu dituntaskan, dan kinilah waktunya. Mungkin dengan Zara dirinya bisa menemukan jawaban dari segala tanya yang bersarang dibenak.
"Tentang keluarga Natasya. Kenapa Ibu Natasya seperti sudah dekat dengan Ibu dan juga Ayah?." Bukankah selama ini mereka tidak pernah mengenal keluarga Natasya.
"Putraku, apa kau masih tentang mengingat Ayahmu, saat menikah jika Ibu bukanlah perempuan pertama yang dinikahi oleh Ayahmu?."
Ernest mengangguk pelan. Ya, dirinya tentu mengingat. Mereka juga kerap mendatangi pemakaman di mana mendiang Kakak mereka, Abigail dimakamkan. Hanya saja sampai sekarang dirinya tak tau siapa mantan istri dari Ayahnya tersebut.
"Anastasya, Ibu dari Natasya lah mantan istri Ayahmu."
"Apa!." Ernest terkejut luar biasa. "Ibu Natasya adalah ...." Ernest sampai tak mampu menyelesaikan ucapan. Jantungnya berdegub cepat.
"Ya, dialah mantan istri Ayahmu sebelum menikahi Ibu."
Ernest menelan salivanya susah payah. Jika Ibu dari sekretarisnya itu adalah mantan istri Ayahnya, berarti hubungan mereka dulunya sangatlah dekat. Tetapi kenapa ia baru mengetahuinya sekarang. Mengetahui jika Ibu dari Anastasya lah yang pernah ada diantara kehidupan pernikahan orang tuanya.
Ya tuhan. Ernest tak mampu lagi berkata-kata. Ia sungguh tak mengira jika keluarga Natasya nyatanya berhubungan dekat dengan keluarganya.
Tapi apakah Natasya juga tau jika orang tua kita dulu memiliki hubungan?.
__ADS_1
Mendapati wajah syok sang putra, Zara hanya bisa menghela nafas. Biarlah, ini memang sudah waktunya. Pelan-pelan ia akan jelaskan dan semoga dengan perlahan putranya itu bisa mengerti.
Tbc.