
Andai di dunia nyata, hanya dengan menjentikan satu jari tangan bisa membuat tubuhnya menghilang, maka dengan suka hati akan Isabel lakukan. Menghilang sejenak dan akan kembali setelah semua aman.
"Ehem."
Hingga suara deheman, membuat fikir yang sempat berkhayal itu tersadar.
Isabel gelagapan. Tangannya mencengkeram tangan keriput milik sang pelayan rumah seolah meminta bantuan.
"Ayo, beri salam pada tuan besar dan juga Nyonya, nona," titah paruh baya itu seraya berbisik.
Masih setegah menunduk, Isabel coba mengikuti ucapan paruh baya di sampingnya.
"Se-selamat siang tuan, nyonya dan semua." Sepasang mata bening itu coba menatap kearah beberapa pasang mata yang tengah duduk di sofa ruang tamu yang juga sedang menatapnya.
"Siang," jawab Arka diikuti lainnya.
"Kemari. Bergabunglah bersama kami." Zara bersuara. Satu tangannya bergerak menepuk ruang kosong yang berada di sisi kanan tubuhnya.
Ragu, Isabel lebih dulu melirik pada bibi pelayan seolah meminta persetujuan.
"Duduklah di samping nona."
Isabel mengangguk dan mulai melangkah mendekati Zara.
"Ayo, duduk bersamaku."
"Baik." Kikuk. Isabel perlahan menjatuhkan bobot tubuh di sofa hingga duduk berdampingan dengan Zara. Di ruangan tersebut Isabel hanya bisa mengenali Ernest. Selebihnya gadis itu tak mengenal siapa-siapa.
__ADS_1
"Gadis cantik, siapa namamu?" Tanya Zara coba memecah kecanggungan.
"Isabel, nyonya."
"Hem, Isabel. Sejak kapan kau tinggal di rumah ini?"
Deg.
Meski pertanyaan Zara terkesan santai, namun terdengar begitu menghunjam di dada Isabel. Inilah hal yang tak ia inginkan. Orang tua Erich pasti salah sangka akan keberadaan dirinya di rumah putra mereka. Secara, mereka berbeda gender dan juga sama-sama lajang.
"Sekitar satu hari ini, nyonya."
Arka dan Zara sontak berpandangan. Baru satu hari tinggal tetapi sudah membuat putranya terluka. Sebenarnya seperti apa hubungan yang terjalin di antara sang putra dengan gadis di hadapannya kini?.
"Maaf sebelumnya, apakah putra kami adalah kekasihmu?"
"Lalu, apa hubungan kalian sebenarnya. Teman dekat atau..."
"Maaf nyonya. Sebenarnya kami hanyalah teman biasa, em tidak. Lebih tepatnya saya adalah mantan OG diperusahan yang dipimpin oleh tuan Erich. Maaf jika saya lancang dengan menyeret tuan Erich untuk masuk dalam permasalahan keluarga saya, tapi demi tuhan, saya tidak mengira jika tuan Erich akan melindungi saya dan justru tuan Erich-lah yang terluka. Saya benar-benar minta maaf nyonya, tuan." Tubuh Isabel merosot, hingga bersimpuh mengapai kaki Zara yang semula duduk di sampingnya.
Zara gelagapan. Tak mengira dengan respon berlebih yang ditunjukan gadis di sampingnya sebagai bentuk rasa bersalah. Bukan hanya Zara, tetapi mereka yang berada di ruang tamu pun dibuat sama terkejutnya.
"Hei, jangan seperti itu," ucap Zara seraya mendekap kedua bahu sang gadis, memintanya untuk bangun dan duduk ke tempatnya semula. "Jangan berlutut seperti itu. Bangunlah," titah Zara saat sang gadis masih belum jua beranjak.
Sesegukan, Isabel coba bangkit dengan bantuan Zara. Apakah gadis itu merasa malu? Tentu tidak. Isabel justru kian merasa bersalah saat orang tua Erich tak menunjukan kemarahan pada dirinya.
Diluar dugaan Isabel, Zara justru menyeka sisa air matanya denga jemari lentik perempuan paruh baya itu.
__ADS_1
"Berhentilah menangis. Aku tau jika semua terjadi karna kecelakaan. Lagi pula kondisi Erich juga baik-baik saja. Kau tidak perlu takut, kami datang kemari dan bertanya padamu hanya untuk mencari kejelasan. Bukan apa-apa, hanya saja kami pun ingin tau sosok gadis seperti apa yang diam-diam tinggal di rumah putraku sekaligus dilindungi oleh putraku." Sudut bibir Zara tertarik, begitu pun dengan Arka. Sebagai orang tua, tentu mereka faham akan sikap dan sifat yang diam-diam sang putra tunjukan pada seorang gadis. Meski mereka menampik dan mengatakkan tak ada hubungan, tapi siapa yang tau jika seiring berjalannya waktu, keduanya bisa menyadari satu sama lain akan perasaanya masing-masing.
"Ada apa ini?" Erich dan Agung muncul. Wajah pria itu terkejut dan penuh tanya begitu mendapati orang-orang terdekatnya sudah berkumpul di ruang tamunya.
Ernest dengan senyum menyebalkan mulai bangkit dari posisinya. Bersiap mendekati sang saudara kembar, lantas menggodanya.
"Hai Brother. Senang bertemu lagi denganmu." Ernest mendekap erat tubuh Erich dan dengan sengaja menyentuh lengan pria itu yang terluka hingga pria itu menggeram.
"Oh maaf. Tapi aku sengaja melakukannya." Ernest tersenyum jahil sementara Erich menatap jengah sang saudara kembar yang menurutnya kelewatan menggodanya.
"Ernest, apa yang kau lakukan," lerai Zara dengan suara lembutnya. Ia segera memisah kedua putranya dan membawa Erich untuk duduk di sisi kiri tubuhnya. Hingga nampak Zara berada di tengah, di apit oleh Erich dan Isabel di sisi kiri dan kanannya.
"Cie," goda Ernest yang entah apa maksudnya. Sementara Sam, dan langit, putranya ikut tersenyum tipis yang mana membuat Erich kian kebingungan.
"Ibu, ada apa ini. Dan sejak kapan kalian sampai kemari?" Erich menyapu pandang kesekeliling. Orang terdekatnya berkumpul, itu sudah menunjukan tanda tanya besar. Mungkin mereka datang selepas mendengar kabar jika dirinya terluka. Ah mungkin saja, begitu fikir Erich. Akan tetapi setelah ia melihat jika Isabel-lah yang duduk di samping kanan sang ibu dengan wajah sembab, membuat benak Erich kian bertanya-tanya.
"Menurutmu?" Zara mengedipkan mata. Ikut menggoda sang putra.
Erich menelan salivanya berat. Wajah Isabel sembab, mungkinkah gadis itu menangis? Tapi karena apa? Atau jangan-jangan seluruh keluarganya justru menyalahkan gadis tersebut atas luka yang ia derita?.
"Ibu, ada apa sebenarnya? Dan Isabel, kenapa kau menangis?"
Erich tergelak kencang. Sementara yang lain tersenyum tipis. Hanya raut wajah Erich dan Isabel-lah yang kebingungan.
"Ibu, katakan. Ada apa sebenarnya?" Tak menjawab, semua kompak tersenyum tipis yang mana membuat Erich frustrasi dan menjambak rambutnya sendiri.
Tbc
__ADS_1