
Rasa haru tiba-tiba menyeruak begitu Isabel melihat wajah Retno yang berdiri menyambutnya di depan pintu kediaman Erich yang cukup megah. Spontan tubuh gadis itu berlari menuju kearah perempuan paruh baya itu, lantas memeluknya erat.
Sebelum kedatangan keduanya, Erich sempat memberitahukan lebih dulu perihal kedatangan Isabel pada Retno lewat jaringan telepon. Tentu Retno dibuat senang sekaligus sedih secara bersamaan. Tak menyangka jika gadis tersebut rela kembali ke kota xx untuk sekedar menemuinya.
"Bibi, maaf. Maafkan kami." Gadis itu tersedu, begitu pun dengan Retno. Kehadiran Isabel mau tak mau mengingatkan Retno pada Rentetan kejadian yang dialaminya beberapa hari ini. Rasa sedihnya yang semula mulai berkurang, kini seakan memuncak kembali.
"Tidak, nona. Tidak." Spontan Retno meregangkan pelukan, lantas menggelengkan kepala. "Jangan salahkan siapa pun atas semua yang sudah terjadi. Ini takdir, nona. Semua pasti sudah tergaris, namun sayangnya, kenapa harus dengan cara seperti ini." Retno tak menampik jika ia sangat bersedih atas kebakaran yang sudah menghabiskan semua harta benda miliknya juga kenangan tentang suaminya. Akan tetapi, tak ada gunanya untuk terus menangisi. Semua yang lenyap, tak mungkin kembali. Hingga perempuan paruh baya itu kini belajar ikhlas dan merelakan semua yang sudah terjadi.
"Ayo masuk. Akan lebih baik kita bicara di dalam saja." Erich yang sedari tadi menjadi penonton, menegur. Retno dan Isabel patuh. Mereka memasuki kediaman Erich untuk melanjutkan perbincangan sekaligus melepas lelah bagi Isabel.
💗💗💗💗💗
"Bermalamlah di sini. Kau tidak mungkin langsung melakukan penerbangan pada malam hari seperti ini 'kan?" Erich bertanya selepas ikut bergabung di ruang keluarga bersama Isabel, Retno dan juga putrinya. Pria itu terlihat lebih segar selepas membersihkan tubuh serta mengganti pakaiannya dengan yang lebih santai.
Isabel berfikir sejenak. Memang pada rencana awal dirinya akan langsung membawa Retno juga putrinya hari ini juga untuk kembali ke ibu kota. Akan tetapi rasanya mustahil mengingat hari yang beranjak malam pun dengan tiket penerbangan yang belum dipesan. Tawaran yang diberikan Erich mungkin tepat, Isabel akan bermalam di rumah ini sekiranya bisa mengumpulkan kembali tenaganya untuk perjalanan pulang esok hari.
"Apa tidak merepotkan?" Benar, gadis itu harus tau diri.
Erich tersenyum tipis. Pria muda itu tampak lebih manis di mata Isabel.
"Tentu tidak." Jawaban yang begitu ringkas. Osabel hanya menganggukan kepala. Berbeda dengan Retno dan sang putri yang nampak tersenyum senang.
Retno membawa Isabel ke kamar tamu sesuai arahan Erich. Sebuah kamar yang berukuran cukup luas dengan tatanan sederhana namun tetap berkelas.
"Nona tidak membawa baju ganti?"
Tentu Isabel menggelengkan kepala. Gadis itu tak membawa apa pun selain benda-benda penting yang tersimpan di tas mininya.
"Tadinya aku fikir kita akan langsung pulang, maka dari itu aku sampai tak membawa pakaian ganti selembar pun."
Retno dan sang putri saling berpandangan.
"Ibu, bagaimana jika nona memakai pakaianku saja? Sepertinya muat." Putri Retno yang masih belia coba memberi solusi. Meski usia kedua gadis itu terpaut beberapa tahun, namun postur tubuh Isabel yang cenderung mungil, seakan seimbang dengan ukuran tubuh putri Retno yang terbilang bongsor meski diusianya yang belum genap lima belas tahun.
Retno sepertinya ragu. Mana mungkin Isabel mau mengenakan pakaian milik putrinya, yang sejatinya hanya setara pelayan di rumahnya.
__ADS_1
"Boleh. Aku rasa ukuran tubuh kita pun hampir sama. Pasti pakaianmu pun akan muat jika kupakai." Isabe tentu menerima. Baginya tidak ada yang membedakan.
"Baiklah nona. Tunggu sebentar, akan bibi ambilkan lebih dulu pakaiannya." Retno membuka pintu kamar. Hendak mengambil pakaian milik sang putri yang terletak di kamarnya. Begitu pintu terbuka, Retno terkesiap. Pasalnya Erich kini tepat tengah berdiri di depan pintu kamar tamu. Entah apa yang pria itu tengah lakukan sekarang.
"Tu-tuan." Retno tak bisa menutupi rasa terkejutnya.
"Kenapa, apa ada masalah?" Erich seolah membaca situasi yang terjadi, perihal pakai ganti.
"Itu tuan, saya hendak mengambil pakaian putri saya untuk nona Isabel," terang Retno.
"Maksudnya, ada apa dengan pakaian putrimu dan Isabel?"
"Begini tuan, nona Isabel lupa membawa pakaian ganti hingga putri saya menawarkan pada nona untuk memakai pakaian miliknya sementara waktu." Erich mendengarkan penjelasan Retno. Pria itu terdiam, entah apa yang ia fikirkan.
Merasa jika sudah menjelaskan semua, Retno hendak meninggalkan ruang kamar tamu menuju kamarnya.
"Permisi tuan." Tubuh Retno sedikit membungkuk dengan kaki yang mulai diayunkan dan...
"Tunggu sebentar," cegah Erich pada Retno. Spontan pergerakan Retno terhenti saat suara berat ini menghentikannya.
Suasana hati Erich memang tak tertebak dan bisa berubah kapan saja juga tanpa memandang situasi. Isabel pasti sedikit banyak tau akan hal itu. Hanya saja cukup semu bagi Isabel untuk bisa membaca karakter Erich secara mendalam mengingat akan sifat Erich yang penutup dan lebih suka menyendiri.
Isabel tak berkomentar. Ia bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri selepas kepergian Retno dan sang putri yang menurutnya hendak mempersiapkan hidangan untuk makan malam.
💗💗💗💗💗
Tentu tak pernah terbayang sebelumnya saat Erich akan datang mengetuk pintu dan menyerahkan paper bag pada seorang gadis selepas pintu terbuka.
"Sedikit longgar sih," gumam Isabel seraya mematut tubuhnya di depan cermin.
Erich datang dengan paper bag berisikan tiga potong pakaian wanita. Satu stel piyama, satu pakaian santai dan sebuah dres cantik berwarna maron. Isabel tentu tak mengira. Meski otaknya sibuk menerka apakah Erich sendiri yang membelinya atau kah orang lain. Namun Isabel tentu tak akan selancang itu untuk menanyakan hal yang sepatutnya tak ia tanyakan.
"Nona, sudah waktunya makan malam." Retno berbicara dari balik pintu kamar yang tertutup.
"Ya, aku akan segera bergabung." Isabel memastikan kembali penampilannya. Sudah cukup rapi, begitu fikirnya. Gadis dengan stelan pakaian santai itu lekas keluar dari kamar. Ikut bergabung dengan pemilik rumah untuk makan malam.
__ADS_1
💗💗💗💗💗
Pemandangan macam apa ini? Duduk terdiam, di kursi meja makan Isabel masih tak percaya dengan apa yang ia lihat. Di Meja makan berukuran panjang dengan beraneka ragam hidangan menggugah selera itu bukan hanya ada Erich dan dirinya, melainkan Retno beserta sang putri serta seorang perempuan paruh baya yang gadis itu yakini sebagai pelayan di rumah Erich.
Perempuan paruh baya itu mulai menciduk nasi putih juga memindahkan beberapa makanan lain kedalam piring Erich sesuai titah pria itu sendiri. Retno pun demikian, perempuan itu mengambil makanan untuk sang putri dan dirinya sendiri tanpa rasa sungkan seolah sudah terbiasa.
Isabel sendiri masih tak bergerak, bingung hendak melakukan apa.
"Nona." Sontak sebuah suara yang menyapa indra pendengaran membuat gadis itu tersentak.
"Ya?"
Perempuan paruh baya yang semula melayani Erich kini berpindah tempat. Berdiri dan hendak mencidukkan nasi untuk Isabel, namun dengan cepat gadis itu menolaknya.
"Tidak bibi, aku bisa sendiri." Isabel tak ingin dilayani. Terlebih oleh seseorang yang usianya lebih tua darinya. Terbiasa hidup mandiri, membuatnya tak suka bergantung pada siapa pun untuk melakukan hal remeh temeh yang mampu dikerjakan oleh ke dua tangannya.
Dari jarak dua meter Erich bisa menatap wajah Isabel dengan jelas. Entah sebab apa hingga membuat senyum di bibir Erich terukir. Pria itu merasa bahagia, benarkah demikian?.
Tentu Isabel tak menyadarinya. Gadis yang terlihat cantik dengan pakaian rumahan itu tengah sibuk mengambil makanan untuk dirinya sendiri juga menawarkan pada yang lain.
Isabel pribadi yang supel, begitulah yang Erich tangkap semenjak keduanya mulai dekat semasa gadis itu bekerja padanya dulu. Dan hingga saat ini pun sifatnya tak berubah. Mudah bergaul dan cepat akrab dengan siapa pun meski baru pertama bertemu.
Makan malam kali ini sepertinya cukup istimewa untuk Erich. Ia memiliki banyak teman untuk menghabiskan santap malam plus suasana hangat dan kekeluargaan yang jarang ia rasakan saat berada di rumahnya.
Sendiri membuatnya selalu kesepian. Meski sudah terbiasa, namun Erich tak menampik jika sejatinya ia pun butuh teman. Teman untuk berbagi keluh kesah, teman untuk sekedar bertukar pendapat atau bahkan seorang teman yang kelak akan menjadi teman hidup untuknya.
Pria itu menghela nafas dalam. Benarkah jika ia mulai mengagumi sosok Isabel? Benarkah secara tidak sadar gadis itu sudah mencuri hatinya?.
Erich mengalihkan pandangan dari wajah Isabel, namun dengan senyum dibibirnya yang masih terukir.
Benarkah jika Erich sedang jatuh cinta?.
*Tidak tidak. Terlalu dini bagimu untuk menyimpulkan sesuatu rasa yang kau sebut itu jatuh cinta.
Tbc*
__ADS_1