CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Mencari Keputusan.


__ADS_3

Waktu berjalan begitu cepat. Tak terasa tiga hari sudah Erich menikmati bulan madu bersama sang istri di kediaman orang tuanya. Sebuah rumah di mana begitu banyak menyimpan kenangan manis bahkan sebelum dirinya dilahirkan hingga sebesar sekarang.


Rumah bak istana itu terasa ramai begitu ia pulang. Sam beserta keluarga pun terkadang ikut makan malam bersama sebagai ajang kumpul keluarga yang belum tentu terjadi setiap satu tahun sekali.


Isabel tentu merasa bahagia luar biasa. Ia masih tak mengira jika dapat dengan mudah masuk ke dalam keluarga besar sang suami, jauh dari pemikirannya. Di sini Isabel diperlakukan layaknya putri kandung. Zara dan Arka sama sekali tak membedakan dalam memperlakukan antara dirinya dan emely.


Berbicara tentang Emely, Erich dibuat bertanya-tanya saat si bungsu tersebut tampak menekuk wajah saat memberikan bunga pesanannya semalam.


"Em, kenapa cemberut?." Erich menelisik raut wajah sang adik yang tak bersahabat. Ada apa kiranya? Apa imbalan yang ia berikan masih kurang?.


Gafis itu tak menjawab. Hanya bibir manyunnya yang semakin maju.


"Apa imbalannya masih kurang?."


"Bukan," jawab Emely seraya menggelengkan kepala.


"Lantas kenapa?."


"Aku salah." Emely kemudian menceritakan kejadian di toko bunga saat dirinya yang berniat menghubungi Erich justru tersambung pada Ernest. Erich tentu tergelak, mengetahui jika Ernest mengomel pada sang adik yang sayangnya telat sadar jika orang dihubungi bukanlah dirinya.


"Kakak tau 'kan, semenjak putus dari Kak San sifat Kak Ernest banyak berubah." Emely masih cemberut. Akhir-akhir ini sifat Enest memang banyak berubah. Kerap berbicara dengan nada tingga dan tak selembut dulu lagi.


Erich menganggukkan kepala. Ia membenarkan ucapan sang adik yang bisa membedakan sifat kakaknya kini. Saat ini mungkin Ernest masih berada pada titik yang pernah ia lalui beberapa waktu lalu. Saat Sandara menolak cintanya, hingga Erich memilih menjauh.


"Ya sudah. Kita hanya bisa memberi dukungan pada Ernest. Merangkulnya agar tak berlarut-larut dalam kesedihan." Erich mendekap tubuh sang adik, menenangkannya sebelum kembali ke kamar untuk menemui Isabel. Memberikannya bunga Lily seperti apa yang istrinya inginkan.

__ADS_1


Isabel memandang buket bunga lily dalam dekapan. Lengkung tipis bepoles tipis itu mengulas senyum tipis. Meski Erich tak membeli bunga itu seorang diri, namun dari niat pria tersebut untuk bisa mewujudkan inginnya, itu saja sudah sangat cukup bagi Isabel. Cinta tak butuh pembuktian, akan tetapi Isabel tau jika Erich adalah pria romantis namun tidak pandai menunjukannya.


Erich sosok pria kaku namun berhati hangat, dan Isabel sangat menyukai hal itu. Isabel seperti kasmaran. Sedangkan Erich adalah candu baginya.


"Sayang," panggil Isabel saat melihat sang suami yang masih berkutat dengan barang pribadinya yang ia kemas dalam tas kecil. Rencananya Erich dan Isabel akan kembali ke kota XX. Menyudahi bulan madunya untuk kembali mengurus bisnis yang sempat ditinggalkan beberapa hari ini.


"Ya," jawab Erich seraya mengeserkan pandangan, kini menatap sang istri dengan seulas senyuman.


"Aku mencintaimu," lirih Isabel malu-malu dengan menundukan kepala. Senyum di bibir gadis itu terukir, masih dengan mendekap erat buket bunga Lily di dada.


Erich tertegun saat kalimat begitu manis itu terucap dari bibir ranum sang istri. Pria itu sedikit tak percaya, namun dari wajah malu-malu yang ditunjukan oleh sang istri, Erich yakin jika ia tak salah dengar. Pria tampan berkemeja abu itu lantas bergerak, mendekat ke arah ranjang di mana tubuh sang istri tengah terduduk.


"Sayang, coba katakan sekali lagi agar aku dapat dengan jelas mendengarnya." Erich bertanya selepas berlutut di hadapan sang istri. Satu tangan sang pria terangkat untuk menyentuh dagu terbelah sang istri, agar wajah yang tertunduk itu balas menatapnya.


"Aku.. Mencintaimu, sayang."


Spontan bibir pria tampan itu terbuka, hingga beberapa detik kemudian tersenyum bangga. Tak ingin nuasa bahagia ini terbuang begitu saja, Erich lantas menyatukan bibirnya dengan bibir ranum milik sang istri. Isabel sempat teebelalak oleh sikap spontanitas dari sang suami, namun selepas bisa mengendalikan diri, Isabel pun terlihat menikmati dan membalas cumbuan mesra sang pujaan hati. Kedua insan itu terhanyut dalam kabut gairah cinta. Menyatukan dua tubuh di atas ranjang dengan saling berbagi kehangatan.


💗💗💗💗💗


Sepasang suami istri tampak bergandengan tangan saat melangkahkan kaki di area lobi bangunan bertingkat yang akan menjadi tempat tujuan mereka saat ini. Meski tak lebih dulu membuat janji dengan si empunya pemilik bangunan, akan tetapi keduanya yakin jika kehadiran mereka pasti akan diterima dengan tangan terbuka.


Seorang pria bertubuh tegap menyambut kedatangan Arka dan Zara. Mengingat tempat yang mereka datangi adalah showroom mobil cukup besar di ibukota, pria berdan tegap itu mengira jika tamu yang datang adalah calon pembeli mereka.


Jajaran mobil mewah berbagai merk dan warna menjadi pemandangan utama yang disuguhkan bagunan berlantai tiga tersebut. Arka yang tak ingin berbasa-basi lekas menyebutkan tujuannya pada pria yang sedari tadi menyambutnya.

__ADS_1


"Kami memiliki keperluan dengan Tuan pemilik tempat ini. Apakah beliau ada di tempat?."


Pria itu terkesiap, ia mengira jika spasangan itu adalah calon pelanggan namun justru seseorang yang ingin bertemu dengan sang atasan.


"Apakah Tuan sudah membuat janji lebih dulu?."


Arka menggeleng kemudian menjawab, "Belum. Kami terburu-buru hingga tak sempat membuat janji lebih dulu." Arka mengelabuhi.


"Baiklah. Tunggu sebentar, saya akan konfirmasi lebih dulu dengan atasan saya." Pria itu mempersilahkan Arka dan Zara menuju ruang tunggu. Sofa yang nyaman dengan sunguhan minuman dingin beserta camilan, cukup membuat pasangan suami istri itu tak merasa jenuh menunggu.


"Sayang, apa kau yakin? Bagaimana jika dia terus mengelak. Kau tentu tau jika dia pandai bersilat lidah." Puluhan tahun menjalani biduk rumah tangga bersama Arka, Zara tentu khatam akan sikap dan sifat dari sang suami. Dia bisa lembut, tapi juga bisa dingin, tergantung dari lawan yang menjadi seterunya.


"Kau tenang saja, sayang. Lagi pula, bukan lebih nyaman jika semua kita bicarakan secara baik-baik. Sebuah pembicaraan, hingga menghasilkan keputusan."


Zara menganggukan kepala. Yakin jika apa pun cara yang akan ditempuh sang suami adalah yang terbaik. Sepasang tangan mungil perempuan itu menggengam tangan kokoh sang suami. Seolah mengatakan jika semua bisa mereka lewati dengan baik-baik saja.


Sementara itu seseorang pria yang merupakan pemilik bagunan berlantai tiga tersebut di buat terpaku. Langkahnya terhenti saat seorang karyawan memintanya untuk turun, menemui sepasang suami istri yang datang bertamu.


Dari jarak beberapa meter, pria itu bisa melihat sepasang suami istri yang duduk di ruang tunggu dengan tangan saling berpaut.


Hawa panas mulai menjalar di tubuh sang pria pemilik bangunan. Kedua tangannya terkepal begitu melihat kemesraan dari kedua insan yang sejatinya adalah pasangan halal.


Tbc.


Step by Step. Dibikin alurnya santai dulu ya. Karna di sini bukan hanya ada satu pasangan tetapi dua. Jika yang satu udah bahagia, maka secara perlahan kita bikin yang satu juga ikut bahagia. Trims 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2