CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Menemui Sandy


__ADS_3

Tak ada yang berlebihan dari sosok Azzara biantika. Penampilannya sebagai istri pengusaha tak lantas membuatnya bermewah-mewah, memamerkan sebagian harta sebagai penunjuk kasta. Saat mendampingi sang suami, Zara hanya mengenakan anting-anting mungil dan cincin pernikahan yang tersemat di jari manisnya.


Rambut indahnya di sangul rendah dengan polesan make up natural yang membuatnya tetap awet muda. Wajah cantik jelita dengan dibarengi postur tubuh mungilnya, siapa yang mengira jika perempuan cantik itu sudah berkepala empat. Pesona Zara tak pernah luntur seiring usia yang terus bertambah dan itu semua tak luput dari penilaian seorang Sandy. Pria yang dulu nyaris menodainya serta masih menyimpan rasa cintanya pada perempuan tersebut dari dulu, hingga kini.


"Tuan, merekalah tamu-tamu anda." Ucapan salah seorang karyawan menyentak lamunan Sandy.


"Hem, aku akan menemuinya. Lanjutkan pekerjaanmu."


"Baik, Tuan."


Selepas kepergian sang karyawan, Sandy terdiam sejenak. Dibuat rikuh saat mengetahui jika tamunya adalah Arka, yang dulu sempat menjadi musuh bebuyutannya.


"Selamat datang," sapa Sandy begitu mendekati sofa ruang tunggu yang diduduki oleh ke dua tamunya.


Arka spontan bangkit dari posisinya, di susul oleh Zara.


"Maaf, sudah menyita waktumu dengan kedatangan kami." Arka tersenyum tipis, satu tangannya yang menggengam jemari sang istri, kian ia pererat. Sebagai bukti jika kemesraan pasangan itu tak akan pernah lekang oleh waktu.


Sandy lekas berdehem guna menetralisir ketegangan yang sempat melanda. Ia lekas membuang pandangan, saat sepasang matanya justru sempat tertuju sepasang tangan pasangan di hadapannya yang saling menggengam erat.


Benarkah jika hingga detik ini Sandy masih dibuat cemburu saat Zara bermesraan dengan seorang pria yang nyatanya adalanlh suami dari perempuan itu sendiri.


Sandy mempersilahkan tamunya untuk kembali duduk. Suasana Showroom yang cukup nyaman, sejujurnya membuat mereka tak leluasa untuk berbicara.


Sandy menitahkan seorang karyawan perempuan untuk menyiapkan minuman segar dan camilan, namun Arka lekas mencegah.

__ADS_1


"Maaf, tujuanku datang kemari adalah untuk membicarakan hal penting denganmu. Kita butuh suasana tenang dan nyaman tanpa orang lain yang melihat. Dan pastinya tempat yang dibutuhkan, bukanlah di sini."


Sandy menelan salivanya berat. Begitu pun dengan wajahnya yang mendadak pucat.


"Baiklah. Kita akan berbicara di ruang kerjaku. Ada di lantai teratas." Sandy bangkit, ia berjalan lebih dulu di susul Arka dan Zara yang mengekor di belakang.


Sepanjang jalan menuju lantai teratas, Arka tak segan bercanda dan mengoda Zara secara nyata di hadapan Sandy. Entah apa yang menjalari Arka untuk bertindak demikian, namun yang pasti pria itu tak akan menutupi keharmonisan rumah tangganya terlebih di hadapan pria semacam Sandy.


Saat memasuki lift, Sandy berdiri kaku di depan sepasang istri yang terus saling menggoda. Demi apa pun Sandy muak. Ia bahkan memohon pada tuhan untuk membuatnya tuli, agar tak bisa mendengar godaan-godaan Arka yang ditujukan untuk istrinya.


💗💗💗💗💗


Senyum sinis Arka terukir begitu dirinya sudah duduk dengan santai di sofa sebuah ruangan yang Sandy sebut sebagai ruang kerja. Pria itu di buat tak habis fikir. Bagaimana seorang pria yang dulu sempat ia hancurkan sehancur-hancurnya justru mampu bangkit bahkan belum ditahun pertama selepas pria itu ditahan.


"Aku heran, bukankah seharusnya kau masih mendekam di penjara? Tapi nyatanya apa yang kulihat. Kau sudah bebas. Jauh dan sangat jauh dari vonis hakim yang dijatuhkan." Arka menatap intens pada Sandy, yang mana membuat pria yang masih terlihat tampan itu seolah terkuliti.


Ketiganya duduk bersama. Dalam suasana hening, dan terasa membakar bagi seorang Sandy yang masih tak mampu menutupi raut cemas di wajahnya.


Ia bahkan tak punya kata-kata untuk bisa membalas ucapan Arka. Memang benar adanya. Seharusnya didetik ini dirinya madih terkurung di balik jeruji besi. Akan tetapi dengan sedikit politik uang yang dilakukan oleh Ayah Andara, membuatnya terbebas dari penjara dan bisa leluasa berkeliaran di luaran.


Arka kembali menyerigai saat Sandy masih enggan membuka mulut. Satu tangannya tetap menggengam tangan sang istri, seolah enggan dipisahkan.


"Tapi itu bukanlah menjadi topik utama pembicaraan kita. Aku cukup tau sepak terjangmu sekaligus sepak terjang mertuamu, Erlangga Wongso." Sepasang alis Arka terangkat, begitu pun dengan bibir tebalnya yang membentuk serigai pertanda megejek.


Wajah pria di hadapan Arka kian pucat pasi. Ia sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan Arka. Bukan hanya akan menyebutnya namun juga putrinya, Sandara.

__ADS_1


"Aku tidak tau ke mana arah pembicaraanmu?."


Arka terbahak. Ia masih tak mengira jika seirang Sandy tetap menjadi pria pecundang yang selalu berdiri di balik tubuh orang lain.


"Aku masih bisa memaafkan andaikata kau hanya berniat mengusik kehidupanku, namun saat kau sengaja menyangkut pakautkan istri dan anak-anakku, maka demi alasan apa pun aku tidak akan pernah mengampuni orang-orang yang berniat menghancurkan keluarga, termasuk dirimu!."


"Apa maksud ucapanmu?."


"Tidak perlu memasang wajah bodoh. Kau pasti tau bagaimana putrimu mempermainkan perasaan putraku demi ambisi keluargamu untuk bisa menghancurkan keluargaku!." Arka kian meninggikan nada bicara. Zara yang duduk di samping tubuh sang suami mulai diliputi ketakutan. Ia lekas mengusap punggung sang suami, untuk membuat pria di sampingnya lebih tenang dalam menyikapi masalah.


Sandy terperangah, jujur jika menyangkut Sandara, itu diluar kendalinya.


"Jika tentang Sandara, itu diluar kendaliku."


"O, benarkah? Tapi bukankah dia itu putri kandungmu? Lantas bagaimana ceritanya seorang Ayah tega cuci tangan atas perkara yang dialami putrinya sendiri. Lima tahun lebih, putrimu menjalin hubungan dengan putraku, apa setelah ini kau masih tetap mengatakan jika itu semua di luar kendalimu?. Omong kosong!." Arka tak ingin berpura-pura baik. Meski enggan, namu demi sang putra ia rela datang menyambangi musuh bebuyutan agar masalah yang menimpa sang putra menunjukan titik temu. Siapa yang berulah, maka dialah yang seharusnya bertanggung jawab.


Sandy menghela nafas dalam. Meski sekuat apa pun ia menyangkal, Arka sudah pasti tak kan mempercayainya.


"Aku memang tak begitu tahu akan kedekatan putra putri kita. Aku bahkan tak pernah melihat wajah putramu secara langsung."


"Itu karna putrimu yang mengaku hidup sebatang kara dan tanpa sanak saudara pada putraku." Arka tergelak lirih seraya geleng-geleng kepala. "Huh, kau bahkan dianggap mati oleh putrimu hanya karna sebuah ambisi. Ambisi untuk menghancurkan keluargaku. Agar keluarga kecil yang sudah kubangun dengan tawa dan airmata itu hancur demi misi balas dendam. Dendam atas istrimu pada istriku."


Sandy terkesiap. Rupanya hal sedalam itu pun bisa Arka ketahui. Ia mengusap peluh dingin yang membasahi pelipis. Mungkin, mempertemukan Arka dengan Andara akan menjadi jalan terakhir yang dipilih sebelum Arka memberi perhitungan padanya.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2