CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Tidak Boleh Terjadi


__ADS_3

Semilir angin menerbangkan dedaunan kering yang berguguran sebelum akhirnya terhempas kerumputan hijau membentang yang hampir memenuhi setengah area taman rumah sakit. Di sebuah kursi panjang, tampak dua orang pria berbeda usia tengah duduk terpekur seraya menatap lurus ke depan. Di mana pengunjung dan pasien rumah sakit yang tengah berlalu lalang.


"Tuan Praja," panggil Erich yang spontan membuat pria paruh baya yang disebut namanya itu menatapnya. "Maaf, karna saya tidak bisa menjaga putri anda dengan baik," lanjut Erich yang kini menundukan kepala. Raut penyesalan tergambar jelas di wajah rupawan berkulit putih tersebut.


Praja menghela nafas. Ia menepuk pelan bahu pria yang kini duduk di sampingnya.


"Sebelumnya, trimakasih karna sudah berbaik hati memberikan tempat tinggal serta perlindungan untuk putriku. Jujur, selama ini Isabel tidak pernah mengatakan jika tinggal bersamamu. Apalagi rencananya agar bisa membawa Retno ikut bersamanya ke ibu kota." Praja mengingat kembali momen saat dirinya melepas keberangkatan Isabel, saat gadis itu berniat menjemput Retno demi keselamatan nyawa perempuan paruh baya tersebut. Gadis itu pergi, seorang diri dan hanya berbekal kenekatan.


Sebagai seorang ayah, tentu Praja tak kuasa menolak keinginan sang putri terlebih gadis itu sendiri terus meyakinkan jika dirinya bisa menjaga diri dan akan kembali tanpa suatu kekurangan apapun.


"Semenjak peristiwa pembakaran rumah bibi Retno, saya membawa beliau untuk tinggal bersama, dengan harapan agar bi Retno lebih aman dan terhindar dari kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi." Erich spontan tersenyum tipis. Dia teringat akan peristiwa saat Isabel melakukan penyamaran dengan kumis beserta rambut palsunya. Sanggat menggemaskan.


Satu titik bulir bening, luruh. Erich menundukan kepala dalam. Teringat Wajah mengemaskan milik Isabel saat itu kini berganti dengan wajah pucat pasi serta kedua mata tertutup rapat. Isabel dalam kondisi kritis dan mungkin hanya kemurahan hati sang ilahi, bisa membuat gadis itu sadar dan terbangun lagi.


"Saya jugalah yang berinisiatif untuk menawarkan bantuan pada putri tuan, semenjak peristiwa penusukan sebelumnya yang juga didalangi oleh.." Erich menjeda ucapan, ia kini memandang pria paruh baya yang duduk di sisi kanan tubuhnya. "Maaf, Istri anda," sambung Erich yang mana membuat Praja sontak menghela nafas dalam.


"Maaf sudah menyeretmu untuk masuk kedalaman masalah keluargaku, anak muda."


Erich hanya tersenyum tipis. Ia kembali menatap pandangan lurus kedepan.

__ADS_1


"Tidak masalah, tuan. Aku hanya tidak bisa melihat gadis semuda Isabel, harus berjuang sendiri menghadapi orang-orang kejam yang berada di sekelilingnya, karna bagaimana pun putri tuan pernah menjadi karyawan saya yang otomatis saya pun harus memastikan keselamatan dan kenyamanannya selama bekerja."


"Putriku," lirih Praja dengan sepasang mata berkaca-kaca. Benar, putrinya pernah bekerja beberapa bulan lalu. Kondisi kesehetannya-lah yang membuat Isabel harus banting tulang mencari uang tambahan kesana kemari untuk membeli obat dengan harga yang tak murah.


"Aku benar-benar tak menyangka, keputusanku untuk menikahi Arum beberapa tahun lalu, menjadi keputusan yang akan aku sesali seumur hidup. Aku tau jika Arum-lah yang berniat untuk menghabisi putriku."


Praja mulai menceritakan pada Erich peristiwa beberapa tahun lalu di mana dirinya dipertemukan dengan Arum yang notabene janda beranak satu yang sudah dibawa Laura dari tempat kumuh.


Tipu daya dan pesona Arum-lah yang membuat Praja terperdaya. Erich menjadi seorang pendengar yang baik. Sejauh ini, pria muda itu pun sejujurnya ingin mengenal sosok Isabel lebih dalam begitu pun dengan keluarganya.


Praja membuka semuanya. Bagi pria paruh baya tersebut, sosok pria muda di sampingnya, seperti dapat dipercaya. Bisa menyimpan rahasia untuk dirinya sendiri.


"Semenjak kehilangan sosok Ibunya, saya sadar jika sikap Isabel mengalami banyak perubahan. Putriku yang dulu periang dan banyak bicara, menjadi pendiam juga pemurung. Putriku terlihat ketakutan, pabila kudekati. Luka serta lebam sering kudapati di tubuhnya meski dia sendiri tak pernah mengaku saat kupaksa bicara. Hingga suatu hari aku mendapati sebuah kenyataan, Arum tak memperlakukan putriku dengan baik selayaknya ia memperlakukan putrinya sendiri." Sesal yang dirasakan Praja adalah hal yang percuma. Upaya apa pun yang ditempuh pria tersebut tentulah tak bisa menghilangkan Trauma yang terlanjur Isabel derita semenjak remaja. Momori kelam tersebut tentunya masih akan bersarang di benak Isabel dan takkan hilang begitu saja meski sebisa mungkin dimusnahkan.


Kehilangan Isabel, sama saja dengan kehilangan detak jatung. Mungkin, ia tak akan lagi bernyawa, andai Isabel tak jua membuka mata.


"Tuan, tenanglah," hibur Erich seraya menepuk pelan bahu Praja. "Percaya akan takdir sang kuasa dan yakinlah jika putri anda akan selalu dalam lindungannya." Saling menguatkan. Erich yang sejujurnya rapuh, harus bisa mengendalikan diri, berusaha tegar meski nyatanya remuk redam. Erich sadar, disaat seperti ini bukan hanya dirinya yang merasa gagal, akan tetapi masih ada orang lain yang nyatanya merasa lebih gagal dari dirinya.


Keduanya tak mampu lagi berkata-kata. Larut dalam tangis dan kesedihan hingga tanpa sadar seorang pria dengan stelan jas rapi berlari kearah mereka.

__ADS_1


"Tuan," ucap Agung setengah berteriak dengan nafas tersenggal selepas berlari.


Kedua pria berbeda usia itu terkesiap, lantas melempar pandang kearah suara.


"Kenapa? Apa yang terjadi?" Tanya Erich tak sabaran.


"No-nona Isabel tuan."


"Isabel, ada apa dengan Isabel?" Erich bangkit dari posisi duduknya, setengah berlari guna mendekati agung.


"Ada apa? Apa yang terjadi dengan putriku?" Praja juga nampak tak sabaran. Tangisnya bahkan nyaris tak terbendung lagi.


"Nona Isabel...."


Kedua pria itu menelan saliva berat. Terlebih saat melihat ekspresi wajah agung yang mendung seakan menyimpan banyak beban.


Tidak, Ini tidak boleh terjadi.


"Isabel," teriak Erich yang langsung berlari menuju lorong rumasakit. Fikirannya benar-benar kacau. Memperkirakan hal terburuk sekalipun yang tengah menimpa Isabel tanpa memperdulikan Agung dan Praja yang masih terpaku di tempatnya semula.

__ADS_1


Tbc...


Kira-kira ada apa dengan Isabel ya?😢


__ADS_2