CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Naluri Seorang Ibu


__ADS_3

Kabar pertunangan Erich dan Isabel rupanya sudah sampai di telinga para petinggi perusahan juga seluruh staf yang berada dalam naungan Perusahaan yang dipimpin oleh pria tampan tersebut. Tak terkecuali Starla, gadis cantik yang menjabat sebagai Sekretaris pribadi Erich, awalnya dibuat tak percaya saat Isabel-lah yang ternyata menjadi tunangan sang atasan yang diam-diam ia kagumi.


Saat Erich berjalan dengan penuh wibawa sembari menebar senyum kepada para staf yang berpapasan, sepasang mata Starla memicing. Gadis yang duduk di balik meja kerjanya itu meneliti sikap Erich yang akhir-akhir ini berubah drastis dari biasanya.


Lihatlah bibirnya yang terus tersenyum. Gigimu bisa kering, tuan jika terlalu lama terpapar angin.


"Selamat pagi," sapa Erich pada staf sekretaris yang spontan berdiri dan menunduk kepala saat dirinya melintas.


Dia juga menyapa para staf. Sekian tahun aku bekerja padanya, baru pagi ini aku melihatnya menyapa seseorang. Aku yang menjadi sekretarisnya saja tak pernah disapa.


"Pagi, Starla. Kau sudah sarapan?"


Gadis yang disebut namanya tergagap dan langsung bangkit dari tempat duduknya. Ia bahkan hampir terjungkal saking terkejutnya.


Ya tuhan, aku harap tuan Erich tidak bisa membaca fikiran orang lain hingga berniat memecatku. Demi apa pun aku takut. Sekian tahun tak disapa, aku justru ketakutan saat kau menyapaku, tuan.


" Hei, kenapa diam? Selamat pagi? Kau sudah sarapan?" Erich bahkan berhenti tepat di hadapan Starla yang mana membuat gadis itu kesulitan bernafas.


Ya tuhan, kenapa aku baru sadar kalau tuan Erich begitu tampan dalam jarak sedekat ini.


"Starla!"


"ya, ,tuan. Selamat pagi dan saya belum sarapan" Starla berteriak. Terkejut. Menjawab cepat dengan wajah ketakutan. "Ups" Starla meringis dan menyembunyikan sekotak roti isi di atas meja saat sadar jika sepasang mata Tuannya menatap tajam kearah kotak bekalnya.

__ADS_1


"Em, maksudnya saya sudah sarapan, Tuan." Starla kembali tergelak, namun lekas ia bungkam sebelum sang tuan berubah murka.


"Baguslah. Setidaknya dengan sarapan kau bisa mengatur kerja otakmu dengan benar. Membagi porsinya dengan tepat kapan waktunya bekerja dan kapan waktunya untuk melamun. Kau faham?"


"Fa-faham, faham Tuan. Maaf." Starla menjawab cepat sebelum masalah bertambah runyam.


"Bagus." Selepas berucap Erich kembali melangkah menuju ruang kerjanya letak ruangannya berada tepat di depan meja kerja Starla saat ini.


Selepas kepergian Erich, Starla menghela nafas lega. Ia mengusap dada dan menetralkan detak jantung yang bertalu.


Mengerikan sekali. Dia sampai sadar jika aku melamun. Isabel, dia bahkan menjadi calon suamimu sekarang. Pria kasar yang bisa memarahi bawahannya kapan saja.


Starla masih tak habis fikir. Bagaimana Starla bisa menjadi kekasih Tuannya mengingat kedua sejoli terlihat tak akur saat satu kesempatan dengannya. Isabel yang terkadang lalai dalam pekerjaan, kerap mendapatkan teguran dari Erich bahkan hingga dimaka. Lah sekarang kenapa kondisinya berbeda.


Saat pesta pertunangan tempo hari gadis itu ingin sekali mengorek informasi dari Isabel tentang kisahnya sampai berada dititik pertunangan. Apakah banyak kejadian-kejadian mengejutkan yang tak tertangkap oleh indra penglihatannya. Akan tetapi, sayang. Jangankan bertanya, mendekat pun ia kesulitan sebab selepas pesta berakhir, Isabel bahkan diminta Erich untuk masuk ke dalam ruangan berbeda. Starla tau, mungkin Erich sengaja menjaga privasi. Tak ingin bicara banyak sampai pernikahan digelar.


"Sadarlah Starla. Melihat dia melotot saja kakimu langsung lembek seperti jeli. Apalagi sampai mengamuk, nyawamu bahkan bisa hilang karnanya." Starla bergidig ngeri. Gadus itu bahkan langsung bersembunyi di balik meja saat suara deheman terdengar dari dalam ruang kerja Erich.


💗💗💗💗💗


"Ehem."


Erich mengendurkan dasinya yang terasa mencekik. Rasanya lebih kencang dari biasanya, tapi pria itu menyukainya. Pasalnya pagi ini Isabel-lah yang sudah memasangkan dasi untuknya. Cie Cie

__ADS_1


Meski sebatas memasang dasi, tetapi kenapa rasanya sebahagia ini? Senyum masih terus terukir di bibir Erich. Setiap kebersamaannya dengan Isabel menjadi momen tak terlupakan baginya. Ia bahkan tak sabar untuk cepat-cepat meresmikan hubungan hingga keduanya menjadi pasangan halal.


Erich memeriksa kalender di atas meja kerja. Seperti yang sudah direncanakan, pria itu hanya tinggal mencari tanggal dan hari baik untuk acara Akad. Untuk persiapan pun pria rupawan itu hanya tinggan menunjuk WO dan menyerahkan urusan lain pada beberapa orang yang telah ditunjuk. Mungkin hanya butuh waktu sekitar satu minggu maka pernikahan impiannya akan terwujud.


💗💗💗💗💗


Muak bercampur benci, mungkin perasaan semacam itulah yang dirasakan Zara saat ini selepas memergoki sang putra dan kekasihnya bercumbu mesra di salah satu kamar di rumahnya. Selepas kejadian Zara hanya meminta Sandara untuk pulang, kemudian memangil Ernest untuk menghadap.


Zara mengusap bulir bening yang sempat luruh dari sudut netra. Sebagai seorang ibu dirinya merasa gagal mendidik anak. Berulang kali ia mencecar sang putra untuk berkata jujur tentang sejauh mana mereka melakukan hubungan, jawaban Ernest tetap sama. Sebatas berciuman dan tidak lebih.


Zara menghela nafas lega tetapi ia masih dicekam ketakutan andai apa yang diucapkan sang putra hanya dusta belaka.


Sementara waktu perempuan itu ingin menyimpan masalah ini dari sang suami. Akan tetapi ia pun tak akan tinggal diam. Terlebih dibeberapa kejadian membuat Zara ragu akan kepantasan Starla untuk bisa menjadi pasangan tepat untuk sang putra.


Luka ini?


Zara pandangi lengan kirinya yang berbalut perban. Luka itu masih menyisakan perih yang seakan membakar kulit.


Awalnya ia hanya ingin mengetes kepekaan Sandara. Andaikata ia berbohong apakah gadis itu mau mengakui perbuatannya meski dilakukan tanpa sengaja? Nyatanya sungguh diluar prediksi Zara. Sandara bahkan tak menyangkal dan justru diam saat Zara menyembunyikan kebenaran. Ditambah dengan Sandara yang berkeliaran dan masuk ke kamar Ernest, demi apa pun Zara teramat mengutuk perbuatannya.


Bertahun menjadi kekasih Ernest, rupanya tak membuat Zara bisa mengenal sosok Sandara secara dekat. Mengaku tak memiliki sanak saudara membuat ibu dari Ernest itu tak tau banyak tentang pergaulan dan kehidupan sang gadis baik sebelum atau pun sesudah menjalin kasih dengan putranya.


Sandara tinggal di sebuah kost sempit hingga Ernest memberikannya Apartemen, Zara pun tau akan hal itu. Akan tetapi ia merasa kesulitan saat ingin mencari tau lebih jauh tentang Sandara ini seakan-akan ada yang sengaja menutupi.

__ADS_1


Saat Erich meminta izin untuk menikah, Zara tak pikir panjang untuk mengabulkan begitu pun dengan Arka, tetapi berbeda dengan Ernest. Bertahun berpacaran, Ernest pernah mengucapkan keinginannya untuk mempersunting San, tetapi Zara dan Arka masih ragu dan meminta sepasang kekasih itu untuk tak terburu-buru. Menikmati proses yang semakin mengukuhkan hubungan hingga benar-benar yakin untuk memutuskan hubungan. Rupanya keraguan itu semakin nyata di mata Zara hingga tak yakin jika pilihan satu dari kedua putranya ini adalah benar.


Tbc.


__ADS_2