
Gelayar aneh seakan menjalar keseluruh tubuh Isabel begitu Erich mengutarakan keinginan untuk menikahinya. Isabel kebingunan walau untuk sekedar memberi jawaban. Gerak cepat pria muda itu tak ayal menciptakan perang batin di diri Isabel antara ingin menerima atau justru menolaknya.
Hening. Isabel mengeser pandangan ke arah sang Ayah. Pria paruh baya itu tak bersuara, hanya seulas senyum terbit di bibir seolah menjadi jawaban. Ke lain arah Isabel menemukan wajah Arka yang juga duduk tak jauh darinya. Tak jauh berbeda dengan Praja, Arka juga tersenyum tipis tanpa menanggapi apa pun.
Bagaimana ini?
"Ikuti kata hatimu, putriku. Aku bebas menentukan jawaban. Menolak atau pun terima, ayah serahkan semua padamu." Sebagai seorang Ayah Praja tentu akan menyerahkan semua keputusan pada Isabel. Ia sadar sempat salah dengan membawa masuk Arum sebagai ibu sambung bagi Isabel dan kini Praja tidak ingin melakukan kesalahan untuk kedua kalinya dengan memaksa atau pun melarang keinginan sang putri yang berhubungan dengan masa depan yang akan dirajutnya kelak.
Gadis itu mengangguk patuh. Benar. Kini dirinya_lah yang berhak memutuskan. Bukan hanya tentang perasaannya tetapi juga tentang masa depannya.
Isabel kini beralih menatap Erich yang juga sedang menatapnya. Sepasang mata Elang itu menyiratkan kehangatan. Erich memang tegas namun juga memiliki sifat yang lembut. Tentu Isabel kerap menangkap basah sifat tersebut saat keduanya berada dalam situasi tertentu. Kala terhimpit ataupun dibeberapa kejadian yang mau tak mau membuat sifat asli sang pria muncul.
"Kak Erich?" Panggil Isabel pada Erich, yang dipanggil sontak melekatkan pandangan pada sang gadis.
"Ya," jawab Erich lugas.
"Apakah Kak Erich sudah yakin pada keputusan yang diambil untuk menikahi seorang seperti saya?"
"Tentu, Isabel."
"Kak Erich tidak akan menyesalinya?"
"Tentu, aku tidak akan menyesali apa pun keputusan yang sudah kuambil termasuk untuk menikahimu, Isabel."
Begitu mendengar jawaban lugas Erich, Isabel lekas membuang pandangan. Gadis itu enggan berada dalam posisi seperti ini. Tatapan menghunjam Erich, begitu mengintimidasi. Membuat Isabel tak kuat untuk terus menatap wajah tampan serta sepasang mata jernih yang seolah mampu meluluh lantakkan pertahanannya.
__ADS_1
"Aku rasa Kak Erich sangat mampu untuk mencari pendamping hidup yang lebih dari saya. Maaf, bukan bermaksud untuk menolak, hanya saja.."
"Kenapa? Aku tidak menginginkan penjelasanmu, Isabel. Akan tetapi aku hanya menginginkan jawabanmu. Kau mau menerima atau menolakku?"
Isabel gelagapan. Gadis cantik itu kembali menatap sang ayah seolah meminta pertimbangan. Sementara Erich, pria itu tetap pada posisinya semula. Tetap terlihat tenang meski jantungnya berdegub kencang.
"Ya, aku menerimamu, kak," jawab Isabel lirih seraya menundukan kepala, menutupi rasa malu yang mendera.
Erich tersenyum tipis. Hatinya meluap penuh kelegaan. Tanpa ragu pria tampan tersebut lekas meraih kedua tangan Isabel, menyentuh lantas menggengamnya erat.
Tak berbeda jauh dari sang putra, Arka pun tersenyum lebar di tempat duduknya saat ini. Sebagai seorang ayah tentu Arka mendukung keputusan sang putra. Isabel gadis baik, begitulah yang ia lihat selama mendampingi sang putra dalam menghalau masalah yang terjadi bertubi-tubi. Serta perjuangan yang sang putra lakukan, tak mampu menutupi kenyataan jika dua sejoli itu memang saling membutuhkan satu sama lain.
"Baiklah, jawaban sudah didengar. Nak Isabel sudah membalas ungkapan cinta dari putraku yang itu berarti bahwa, kita akan menjadi besanTuan Praja Diwangka."
"Benar, Tuan Arkana. Kita akan menjadi besan." Keduanya saling berjabat tangan sebagai bentuk perayaan.
💗💗💗💗💗
Berbeda dari rencana awal sepasang ayah dan anak, Praja dan Isabel kini tetap tinggal di kediaman Erich sembari menungu proses lamaran yang rupanya akan digelar Erich dengan meriah pada esok hari.
Sesuatu yang lagi-lagi mengejutkan Isabel dan Praja. Tak meminta persetujuan, Erich merencanakan semua secara mendadak namun tetap ingin terlihat sesempurna mungkin.
Seorang WO yang ditunjuk sudah dibebani begitu banyak keinginan guna mensukseskan pesta yang menjadi idaman Erich jauh-jauh hari.
Isabel masih terlihat syok. Gadis cantik itu hanya bisa patuh saat Erich membawanya kehadapan seorang perancang busana yang ditunjuk khusus mempersiapkan sepasang pakaian yang akan mereka kenakan saat lamaran.
__ADS_1
"Kak, bukankah ini hanya acara lamaran kita?" Tanya Isabel saat menatap gaun mewah dengan hiasan batu savir di area dada.
"Ya," jawab Erich sekenanya.
"Bukankah ini terlalu berlebihan?" Pertanyaan Isabel diucap begitu lirih. Takut jika sampai menyingung perasaan Erich.
Erich tersenyum tipis. Pria itu sama sekali tak tersinggung akan pertanyaan sang kekasih. Wajar, begitu fikir Erich. Mungkin gadis itu juga belum terbiasa.
"Tidak. Aku hanya akan mengundang keluarga dan beberapa kolega. Lagi pula Ibuku bisa marah jika aku melangsungkan pertunangan tanpa adanya pesta." Tentu jawaban Erich adalah akal-akalan pria itu saja. Pesta itu mungkin tidak ada hubungannya dengan Zara. Meski diawal sang ibu cukup terkejut begitu mendengar jika sang putra bermaksud untuk melamar Isabel, namun Zara pun merasakan kebahagiaan yang sama yang dirasakan oleh putranya pula.
Pesta yang sengaja dirancang Erich mungkin atas luapan kebahagiaan yang pria muda itu rasakan. Kehadiran Isabel yang tanpa sengaja masuk ke dalam hidupnya, menjadi keberkahan tersendiri untuknya.
Isabel adalah sosok gadis impiannya selama ini. Isabel rupanya mampu mengisi ruang khusus dalam diri yang selama ini belum mampu dimasuki oleh gadis mana pun.
Meski bingung, Isabel meng_iyakan saja ucapan Erich beserta kemauannya. Bukan hanya menyesuaikan pakaian yang nanti akan dikenakan, Erich juga mencari sepasang cincin sebagai alat utama kelancaran pertunangan yang digelar esok hari.
"Kau ingin yang mana?" Tawar Erich pada Isabel. "Maaf, karna waktu yang cukup mendesak aku bahkan tidak sempat meminta desain khusus untuk sepasang cincin pertunangan kita." Tergambar raut penyesalan di wajah Erich. Semua terkendala oleh waktu. Cincin yang dipesan khusus pastinya membutuhkan cukup banyak waktu untuk segala prosesnya dan waktu hanya satu hati tentu tak mungkin untuk mewujudkannya.
"Tidak apa Kak, lagi pula cincin hanyalah sebuah simbol dan yang paling terpenting adalah makna yang terkandung di dalamnya. Bagaimana kita menjalani hubungan untuk tetap berjalan semestinya. Cincin bisa saja rapuh tapi hubungan kita akan terus kokoh seiring bertambahnya waktu." Penjelasan Isabel tak ayal membuat seulas senyum di bibir Erich terbit. Pria itu menahan segala gejolak untuk tidak memeluk Isabel saat ini juga, di hadapan para pengunjung toko perhiasan.
"Ya ya ya, maka dari itu aku sangat-sangat yakin pada keputusanku. Kau benar-benar orang yang aku cari selama ini, Isabel. Menikahlah denganku dan akan kubahagiakan seluruh hidupmu dengan cintaku. Inilah janjiku padamu Isabel. Kau bisa mencatatnya di hati dan fikiran. Aku tidak akan pernah ingkar janji. Aku bersumpah padamu, Isabel, kekasihku."
Abai pada keadaan sekitar. Janji itu terucap lantang dari bibir Erich hanya untuk Isabel seorang.
Tbc.
__ADS_1