
Kini untuk kedua kalinya Erich menjejakan kembali kakinya ke halaman kediaman Praja yang dihuni oleh istri beserta putri tirinya. Sam memimpin langkah, Erich mengekori dengan satu tangan mengengam tangan lembut Isabel yang sedaru tadi terus memohon untuk ikut.
Ekspresi para pengawal kediaman Arum, cukup berbeda, nampak tak menunjukan keterkejutan seperti beberapa hari lalu pada saat pertama kali dirinya dan Isabel datang ke rumah ini. Mungkinkah mereka sudah bisa memprediksi akan kedatangannya saat ini? Atau justru tertangkapnya rekan-rekan mereka sudah diketahui?.
Penuh Wibawa Erich membawa langkah. Tak ada kecanggungan terlebih ketakutan. Pria tampan berpostur tinggi menjulang itu hanya membutuhkan ucapan permintaan maaf Arum dan meminta perempuan itu untuk mengakui semua kesalahannya.
Para pelayan membimbing langkah para tamu menuju Ruang tamu, sementara pelayan lain lekas mencari keberadaan sang majikan di kamarnya masing-masing.
Erich masih tak melepaskan gengaman tangannya dari Isabel. Pria itu justru meminta sang gadis untuk duduk di sampingnya dengan tangan masih setia terpaut.
"Ingat, apa pun yang terjadi kau harus tetap di sampingku." Erich memperingatkan. Isabel hanya mengangguk, menghela nafas berulang guna menghilangkan kegugupan.
Langkah hak sepatu yang terdengar, membuat beberapa tamu termasuk Isabel lekas menatap ke arah sumber suara. Arum bersama sang putri muncul, tersenyum tipis yang nyatanya sama sekali tak menyiratkan raut ketegangan yang nampak di wajah cantiknya.
"Selamat datang. Sungguh suatu kehormatan bagi kami bisa menjamu orang-orang hebat seperti para tuan-tuan." Arum berusaha setenang mungkin dalam berbicara. Dengan sebuah isyarat para pelayan tergopoh menyuguhkan minuman segar juga camilan hingga memenuhi meja.
"Cukup Nyonya Arum. Bukan maksud kami untuk menolak, hanya saja tanpa kami jelaskan pun pasti anda sendiri sudah tau akan tujuan kami datang ke rumah anda ini." Sam memasang wajah garang seperti biasa. Tegas dan tak bertele-tele.
Arum menautkan sepasang alis, seperti tengah memikirkan sesuatu.
"Maaf, maksud anda."
"Berhenti berpura-pura, Nyonya Arum. Kami tidak punya banyak waktu untuk sekedar mengikuti alur permainanmu yang terlalu berbelit-belit."
Larasati sendiri hanya terdiam. Berbeda dari sang ibu yang tetap terlihat tenang, gadis itu sesekali menunduk dengan gurat wajah cemas.
"Apa maksud anda?" Arum berpura-pura terkejut, ia memasang wajah menantang seolah-oleh dirinya memang tak mengetahui apa-apa. Tubuhnya bahkan menegak, menantang.
Sam tersenyum mengejek. Dirinya mulai geram ketika mendapatkan lawan yang benar-benar tak sepadan.
"Akui saja kelicikan anda sebelum saya membongkarnya. Tidak usah berlagak polos. Rubah tetaplah rubah yang tak bisa berubah begitu saja menjadi angsa."
Arum kalah telak. Dia tak bunya kata-kata untuk sekedar membalas ucapa Sam. Bibirnya terkatup, namun Rahangnya mengetat, menahan amarah.
"Kau masih tak ingin mengakui semua kejahatanmu?" Sam kembali bertanya saat Arum masih tak jua membuka suara.
Arum hanya menghela nafas dalam. Sesekali ia melirik ke arah sang putri yang hanya menundukan kepala di tempat duduknya.
"Apakah kasus penusukan yang terjadi di bandara xx tempo hari juga rencanamu? Kau juga yang berdiri di belakang para tersangka?"
Meski ragu namun Arum menganggukkan kepala, meng-iyakan. Tubuh Isabel menegang, tangannya mencengkeram tangan Erich yang sedari tadi menggenggamnya.
__ADS_1
"Dan kau juga dalang di balik rencana pembakaran rumah Tuan muda Erich?"
Lagi, Arum mengangguk meski samar.
Isabel kian erat mencengkeram tangan Erich hingga pria itu menahan kesakitan saat kuku panjang Isabel tanpa disadari menusuk kulit.
"Lalu motif apa yang mendasari anda melakukan tindakan berbahaya seperti ini. Ini merupakan kasus kriminal yang bisa saja merenggut nyawa. Beruntung tuhan masih berlaku baik dengan menggagalkan semua rencana gila anda, nyonya Arum yang terhormat."
Arum sama sekali tak berkutik. Keangkuhannya mendadak lenyap. Tubuhnya terpaku di tempat. Juga terintimidasi dari tatapan beberapa pasang mata yang memandangnya tajam.
"Maaf, aku melakukan semua ini dengan tujuan menyelamatkan apa yang sudah menjadi hakku di rumah ini." Arum melakukan pembelaan.
"Bukankah sudahku katakan jika aku pun hanya ingin mengambil apa yang memang menjadi hakku. Aku sama sekali tak ingin mengambil atau pun mengusip semua yang sudah ayahku berikan untuk anda, nyonya Arum. Apakah itu memberatkan bagi anda hingga terus berusaha untuk menghabisiku?" Isabel, setelah lama bungkam gadis itu pun melemparkan pertanyaan pedas untuk sang ibu yang sudah kelewat batas.
"Bukan, nak. Bukan begitu maksud ibu, hanya saja.."
"Hanya saja apa? Hanya saja anda yang serakah ini kecewa setelah mengetahui sebagian besar harta pribadi Praja diwangka menjadi hakku, putri kandungnya dan anda hanya mendapatkan sebagian kecilnya saja?"
Arum sontak membuang pandangan. Giginya begesekan satu sama lain dengan tangan mengepal. Ucapan sang putri tiri seperti busur panah yang menghunjam jantung. Tepat sasaran dan terasa sangat menyakitkan.
"Ya, aku mengakui kesalahanku. Aku merencanakan semuanya agar bisa merebut harta milikmu, Isabel." Sungguh pengakuan yang mengejutkan. Semua terlihat menghela nafas, kecuali Larasati yang spontan melotot tajam ke arah sang ibu.
Bodoh.
"Bagus jika anda sudah mengakuinya dan itu semakin mempermudah pekerjaan saya," Sam kembali bersuara. "Dan akan lebih bagus lagi jika anda mengakuinya di depan para penyidik."
Larasati masih menatap tajam pada sang ibu. Bibirnya komat kamit merapalkan caci serta makian, mengumpat akan kebodohan sang ibu yang ia anggap terlalu dini untuk mengakui semua kejahatannya.
Setidaknya pakai otakmu dulu sebelum berbicara, ibu.
"Kami harap nyonya Arum faham dan bisa menyerahkan diri kepadapihak berwajib tanpa ada paksaan."
Wajah Larasati-lah yang justru pias. Tak dipungkiri gadis muda itu pun merasa ketakutan, andaikata dirinya hatus ikut terseret apalagi harus mendekam di dalam sel. Cih, membayangkannya saja Larasati tak sudi.
"Ibu, apa yang kau fikirkan? Kau tidak sepenuhnya bersalah. Tuan Praja-lah yang semestinya disalahkan sebab tak seimbang membagi kekayaan antara kita dan Isabel." Larasati menarik-narik tangan sang ibu. Mencari cara agar sang ibu berubah fikiran.
"Lara, apa yang kau katakan? Kita memang salah dan ibu sudah mengakui semuanya di hadapan mereka." Arum menenangkan sang putri, mengusap lengan gadis itu dan memberinya pengertian. "Lebih baik kita menyerah. Ibu sudah lelah, memperebutkan harta yang memang bukan milik ibu."
"Ibu, aku mohon. Jangan katakan seperti itu." Larasati tetap tak rela. Ia masih tak habis fikir kenapa sang ibu yang biasanya garang kini lembek seperti kerupuk tersiram air.
Erich dan Isabel saling pandang. Merasakan keanehan pada dirimu Arum yang pada saat ini bersikap cukup kalem dari hari-hari sebelumnya.
__ADS_1
"Lara, sudahlah. Kita memang bersalah." Arum kini menatap wajah Sam. "Sebelum aku menyerahkan diri kepada pihak berwajib, bolehkah aku mengucapkan permintaan maaf pada putriku, Isabel?" Pinta Arum memelas.
Sam kini melempar pandang ke arah Isabel dan Erich. Untuk beberapa saat semuanya terdiam. Erich sendiri ragu untuk bisa mengabulkan, tetapi setelah mendapat usapan tangan dari Isabel, pria itu pun mengizinkan.
Isabel tersenyum senang. Menurutnya lumrah bagi Arum untuk meminta maaf padanya. Bukankah itu tindakan yang terpuji. Setidaknya setelah saling memaafkan kini bisa membuat lega kedua belah pihak. Dirinya akan memafkan, begitu pun Arum yang bisa mengikhlaskan.
"Silahkan," ucap Sam mempersilahkan.
Arum spontan berbinar senang. Ia bangkit dan berjalan untuk mendekati Isabel. Sementara itu Isabel pun melakukan hal yang serupa. Bangkit dan mendekati Arum.
"Isabel, putriku. Bolehkan ibu memelukmu?"
Isabel mengangguk. Mengiyakan dan tak berfikir macam-macam. Sebagai seorang putri, tentunya Isabel merindukan dekapan seorang perempuan yang dulu sempat memperlakukannya begitu baik layaknya putrinya sendiri.
"Kemarilah nak," pinta Arum dengan merentangkan ke dua tangan. Isabel tentu menyambutnya. Hingga kini keduanya saling mendekap erat dengan mata saling terpejam.
Hening, dua perempuan berbeda usia itu tampak begitu haru menikmati momen yang tercipta. Erich dan Sam ikut tersenyum tipis. Menyadari jika hubungan yang sempat merengang bahkan memanas itu kini mulai menghangat kembali. Dimaafkan dan memaafkan. Sungguh pandangan yang menyejukkan.
"Aaaaaa...."
Brakk..
Tanpa diduga tubuh Isabel ambruk ke lantai.
"Matilah kau, matilah kau anak sialan." Arum berteriak seperti orang gila selepas mendorong tubuh Isabel kelantai. Sam dan Erich terkesiap. Mendapati darah merembes dari perut Isabel selepas tubuh itu terjatuh ke lantai.
Tawa Arum membahana. Dalam gengamannya terlihat belati yang terlumuri darah.
"Kau mati Isabel, kau mati. Aku berhasil membunuhmu, aku berhasil membunuhmu Isabel."
"Pengawal, tangkap dia." Teriak Sam mengultimatum para pengawal yang bersiaga di luar. Untuk lekas meringkus Arum juga putrinya.
"Isabel!" Erich lekas menubruk tubuh Isabel. Mendekap tubuh sang gadis dengan begitu Erat.
"Isabel, bertahanlah." Tanpa terasa bulir bening menitik disudut mata Erich. Tergesa ia mengangkat tubuh lemah Isabel menuju mobil yang terparkir saat menyadari jika darah yang keluar dari area perut sang gadis, semakin banyak.
Sial, aku tidak akan memaafkan kalian berdua.
Diluar prediksi, nyatanya Arum sudah mempersiapkan diri. Menyimpan belati di dalam saku pakaian dan saat Isabel dan yang lainnya lengah, Arum lantas menghunuskan belati itu tepat diperut sang gadis sampai dalam.
Arum terus tertawa saat para pengawal membekuknya. Ia juga berteriak dan mengamuk seperti hilang kewarasan saat tubuhnya dimasukan dalam mobil tahanan.
__ADS_1
Tbc.