CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Peninggalan Tak Terduga


__ADS_3

Bertemankan secangkir kopi Erich menjalani rutinitas pekerjaannya. Pria yang selalu berpenampilan sempurna itu rupanya memiliki sejumlah agenda untuk segera dituntaskan. Setelah beberapa lama menunda, kali ini ia tak mampu memberi alasan lagi saat kedua orang tuanya meminta untuk pulang walau untuk sekedar sehari saja.


Selepas menjalani meeteng penting di sebuah resto dengan beberapa klien dari luar pulau, Erich kembali berkutat dengan tumpukan berkas di atas meja kerjanya. Berkejaran dengan waktu dan rasa lelah, Erich berusaha menuntaskan pekerjaan sebelum ia tinggalkan.


Selama cuti, Agung memang bisa dipercaya untuk menggantikan peran pentingnya diperusahaan. Pria berusia awal empat puluhan itu memang bisa dihandalkan. Baik kinerja dan apresiasinya tak perlu diragukan lagi. Hal itulah yang membuat Erich tak perlu was-was untuk meninggalkan perusahaan dan bertemu dengan keluarga besarnya.


Cangkir kopinya sudah kosong, hanya menyisakan ampas dibagian dasar. Erich berdecak. Ia butuh suntikan energi. Setidaknya dengan secangkir kopi lagi bisa membuatnya agenda lembur kerjanya lebih bersemangat.


Lewat jaringan interkom Erich meminta pada Starla untuk dibuatkan secangkir kopi. Tentu bukan hasil racikan sekertarisnya itu melainkan Isabela.


Erich tersenyum tipis saat suara pintu diketuk dari arah luar. Entah apa alasanya, akan tetapi dari sudut hatinya ia sedikit senang saat gadis itu datang dengan membawa nampan berisi secangkir kopi di tangan.


"Masuklah."


Pintu ruangan pun terbuka pelan. Sesosok gadis cantik dengan seragam OGnya memasuki ruangan dengan langkah perlahan.


"Silahkan tuan."


"Hem, terimakasih."


Isabel mengerjap, kali ini bukan hanya sekedar kata 'hem' yang ia dapat, tetapi juga dengan tambahan 'terimakasih'. Tentu saja Isabel merasa tak percaya.


"Permi--"


"Temani aku bicara."


Ucapan Isabel terputus. Sebenarnya ia hendak pamit keluar ruangan, namun seperti biasa pria itu mencegahnya.


"Ya tuan,"


"Temani aku bicara." Erich bicara namun pandangan tetap terfokus pada lembaran kertas di atas map. Isabel sendiri kebingunan. Jika biasanya ia akan menemani bicara saat sang tuan selesai bekerja, tetapi ini apa? Pria itu bahkan masih memiliki banyak pekerjaan di atas mejanya.


"Em.."


"Duduk di tempatmu seperti biasa," titah Erich masih tetap fokus pada pekerjaannya.


"Baik tuan." Isabel menurut. Ia menuju sebuah sofa mungil yang memang biasanya ia duduki.


Hening. Erich tetap berada di balik meja kerjanya sementara Isabel duduk menunggu, sesekali memainkan tepian pakaian atasnya dari pada diam.


"Ehem."


Deheman Erich sontak membuat Isabel yang termanggu, terkesiap. Tubuhnya bahkan nyaris terlonjak andai tak pandai-pandai ia mengatur diri.


Sial, kau bahkan mengejutkanku. Dehemanmu saja bisa mengetarkan seiri ruangan, apalagi teriakanmu. Bisa-bisa gedung ini hancur lebur karenanya.


Pandangan Erich terangkat, hingga bisa menatap Isabel yang hanya duduk diam di tempatnya.

__ADS_1


"Em, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu?"


"Baik, perihal apa tuan?"


"Em, di mana tempat tinggalmu?" Bahkan Erich merutuki diri selepas melempar tanya. Sumpah demi apa pun, bibir sungguh tak mampu dikontrol, tak mampu menahan rasa ingin tahunya pada sosok Isabel.


Gadis itu terkesiap namun sepersekian detik Isabel memasang wajah setenang mungkin.


Aku harus jawab apa? Dan kenapa Tuan Erich menanyakan hal semacam ini padaku.


Bohong? Tentu Isabel tak memiliki keberanian sejauh itu. Bisa-bisa Erich langsung memecatnya, andaikata sampai ketahuan.


"Saya tinggal di perumahan xx yang terletak di daerah xx tuan." Isabel menyebut perumahan yang memang terletak di pusat kota. Ia berkata jujur, meski raut wajah Erich sama sekali tak menunjukan keterkejutan.


Benar juga. Tetapi untuk apa dia sampai rela bekerja di sini dengan menggantikan Bu Retno? Apa dia sendiri tidak takut jika tangan mulusnya berubah kasar dan kuku panjangnya akan patah? Bukankah semua gadis selalu seperti itu? Bermalas malasan dan hanya hobi berdandan.


"Bukankah itu salah satu perumahan elit di kota ini dan kau benar-benar tinggal di sana?" Pria itu bahkan rela meninggalkan kursi putarnya dan duduk di sebuah sofa tunggal yang letaknya tak jau dari Isabela.


"Benar tuan."


"Maaf, apa kau salah satu anak pelayan yang bekerja di salah satu pemilik rumah di sana?"


"Bukan." Isabel mulai tertunduk.


"Maaf, maaf sekali. Bukan maksudku untuk,"


Gila. Apa yang sudah kulakukan.


Merutuki diri namun sudah kepalang tanggung jika tak dilanjutkan lagi.


"Lalu kenapa kau memilih pekerjaan sebagai seorang OG?"


"Hanya untuk sementara waktu saja tuan. Saya pun akan berhenti jika Bi Retno sudah sembuh dan bisa kembali bekerja."


Erich menggangguk.


Ya, benar juga.


"Maaf, aku hanya berfikir jika kebanyakan gadis enggan untuk bekerja sebagai OG. Selain gaji yang terbilang kecil, OG pun harus berkutat dengan debu dan kain pel selama waktu kerjanya."


Isabel mengulum senyum sembari berucap, "Saya sudah terbiasa melakukannya tuan."


Glek. Erich menelan salivanya berat. Apa? Sudah terbiasa dia bilang?


💗💗💗💗💗


Ekspresi wajah Ratih kini tampak berbeda. Begitu serius tanpa seulas senyum pun yang terbit di bibirnya. Isabel ia bawa masuk kesebuah ruangan yang beberapa hari lalu sempat ia masuki. Tentu Ratih pun tak gegabah. Selepas memastikan semua aman terkendali, barulah keduanya memasuki ruangan dengan cara mengendap dan tak lupa menutup pintunya rapat agar tak ada siapa pun yang menemukan keduanya tengah berada di ruangan tersebut.

__ADS_1


"Bibi, untuk apa kita ketempat ini?" Isabel menatap sekeliling ruangan. Seumur hidup, inilah kali pertama ia memasuki gudang yang berada di belakang bangunan rumah mewahnya.


"Hust." Ratih menempel jari telunjuknya di bibir. Memberi isyarat pada nonanya untuk tak keras-keras berbicara.


"Ayo ikuti bibi." Ratih menuntun langkah Isabel untuk membawanya ke depan lemari berbahan kayu jati yang masih tertutup rapat.


Sesuai permintaan, Isabel tak banyak bicara. Ia hanya mengikuti ke mana Ratih membawanya. Ratih pasti tak akan berbuat jahat dan Isabel meyakininya.


"Sebentar." Ratih merogoh sesuatu dalam saku pakaiannya. Hingga menemukan beberapa buah kunci dengan warna keemasan. Cekatan paruh baya itu mencoba anak kunci satu persatu hingga menemukan yang pas. Pintu lemari pun terbuka.


Isabel menautkan sepasang alis. Di dalam lemari itu hanya ada sebuah kotak yang entah apa isinya. Ratih mengeluarkan kotak tersebut ke tempat yang lebih lapang.


"Bibi, ini apa?"


"Brankas, nona."


"Milik?" Rasa ingin tahu Isabel kian merajalela.


"Milik Nyonya Laura yang sengaja disimpan untuk Nona."


Jawaban Ratih justru membuat gadis itu mengernyit.


"Maksudnya?"


Isabel yang semakin banyak tanya membuat Ratih harus bergerak cepat. Menekan beberapa digit angka pada brangkas hingga benda itu terbuka.


"Apa ini?" Isabel memberanikan diri untuk menyentuh sekuruh isi brankas. Di sana ada beberapa lembar surat-surat penting yang di antara salah satunya adalah sertifikat tanah atas nama Ibunya.


Isabel tak percaya. Ia mengaduk isi brankas itu lagi. Gadis itu justru lebih terkejut lagi. Beberapa perhiasan dan buku tabungan atas nama ibunya pun tersimpan di sana. Sepasang mata indah itu mulai berkaca-kaca.


"Bi, apa maksud semua ini?"


Ratih menatap haru, sepasang matanya pun juga ikut berkaca-kaca.


"Nyonya sempat memberi wasiat jika meminta bibi untuk menyimpan semua ini dan memberikannya saat nona sudah benar-benar siap menerimanya."


Isabel mulai terisak. Tak menyangka jika takdir kini seolah sedang memihaknya.


"Rupanya selepas pernikahan tuan besar, nyonya sudah mempunyai firasat hingga bergerak cepat untuk menyimpan harta benda miliknya yang nantinya akan diberikan kepada nona."


Isabel kian terharu. Rupanya sang ibu sudah bisa menerawang kehidupan sang putri selepas ia tinggalkan. Jika dilihat dari jumlah saldo tabungan dan banyaknya perhiasan, Isabel yakin jika mendiang sang ibu sengaja mengumpulkannya dalam waktu cukup lama.


"Bibi yakin, selepas ini keinginan Nona untuk bisa membawa tuan besar pergi dari rumah ini akan terwujud. Berjuanglah nona. Saya akan menjadi orang pertama yang berdiri di belakang nona."


Isabel tersenyum diantara derai air mata. Benar, keinginan terbesarnya untuk membawa sang ayah lari dari jerat sang ibu tiri, sudah ada di depan mata.


Baiklah Ayah. Kita harus hidup bahagia selepas ini. Setidaknya, perempuan yang pernah kau sia-siakan, adalah orang pertama yang sudi untuk membantumu.

__ADS_1


__ADS_2