CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Penjelasan Anastasya


__ADS_3

Pertemuan yang rasanya seperti kencan, tak ayal sedikit merubah penilaian Anastasya pada Rangga. Entah penilaian dari segi mana namun yang pasti hubungan keduanya kembali dan kerap kali bertukar kabar meski hanya melalui pesan singkat.


Beberapa hari terlewati sudah pasca kencan saat itu namun Anastasya sendiri belum ingin menjelaskan apa yang sudah terjadi pada sang putri. Selepas kencan Ibu dan anak tersebut memang pulang bersama, tetapi baik Anastasya atau pun Natasya sama-sama bungkam dan tak membahas sedikit pun perihal pertemuan mereka dengan pasangan kecan masing-masing.


Jika Anastasya masih belum siap untuk bercerita, berbeda halnya dengan Natasya yang memang membiarkan Ibunya dan tak ingin mengusik sampai perempuan itu yang mau membahasnya lebih dulu. Natasya berusaha menghargai privasi dan kehidupan pribadi sang Ibu. Ucapan Ernest kala kencan seperti membuka lebar fikirnya. Ya, sebagai wanita dewasa, sepatutnya ia membebaskan sang Ibu andaikata berkeinginan untuk menikah kembali. Selama pilihan sang Ibu tak salah dan membuat perempuan yang sudah melahirkannya itu bahagia, Natasya pasti tak keberatan.


Seperti hari-hari biasa, Ibu dan anak itu masih beraktifitas seperti sedia kala. Anastasya ke toko bunga, dan Natasya keperusahaan yang di pimpin keturunan Atmadja.


Sampai pada saat selepas makan malam, Anastasya seperti tak mampu lagi untuk menyimpan masalahnya dari Natasya. Keterdiaman sang putri rupanya menciptakan rasa bersalah dalam diri Anastasya.


"Nak, Ibu ingin bicara." Anastasya mencegah sang putri yang sudah bangkit dari kursi dan ingin membawa piring bekas makan ke wastafel.


"Ya, bicara saja, Ibu," jawab Natasya. Gadis itu mengurungkan niat untuk berdiri dan memilih duduk kembali.


Anastasya menghela nafas dalam dan membuangnya perlahan. Sepertinya ia sedang mempersiapkan diri, berbicara dengan tenang, dan fikiran terang agar tak salah ambil keputusan.


"Tentang yang kemarin, dan tentang hubungan Ibu dengan Tuan Rangga di masa lalu." Anastasya mengatur nafas, ia menatap pada sang putri yang masih belum bereaksi namun seperti memberinya waktu untuk berbicara. "Kami memang menjalin kasih di masa lalu, sebelum Ibu menikah dengan Tuan Arkana, dan mengenal mendiang Ayahmu." Serasa ada yang berdesir dalam dada Anastasya. Mengungkap masa lalunya sama saja dengan mengorek luka lama yang sekian tahun coba ia sembuhkan, namun gagal. Semula ia berharap pernikahannya dengan Kenan menjadi penawar rasa sakit serta berakhirnya penderitaan. Akan tetapi, garis takdir kembali menentuk. Kenan meninggal di usia yang terbilang muda, dan kembalinya Anastasya ke Indonesia justru menjadi awal takdir dipertemukannya kembali dengan cinta pertamanya.


Natasya kesusahan menelan saliva. Ia berpura tenang di hadapan sang Ibu. Mendengar perempuan itu bercerita tentang masa lalunya, namun dalam hati ia berusaha berlapang dada, tegar meski di saat-saat seperti ini wajah mendiang sang Ayah seperti terbayang di pelupuk mata.


"Selama ini Ibu merahasiakannya darimu bukanlah tanpa alasan. Ibu hanya ingin mengatakannya bila benar-benar siap dan kau sudi untuk mendengarnya." Ragu, hati Anastasya selalu meragu. Ia ingin berkata jujur namun takut jika putrinya tersebut justru akan membencinya.


"Bu, selama ini apakah putrimu ini pernah mencampuri urusan yang menyangkut kehidupan pribadi Ibu, tidak 'kan?. Jadi, untuk apa Ibu takut bahkan sebelum menceritakannya kepadaku?."

__ADS_1


Anastasya tiba-tiba tertunduk.


"Ibu takut andaikan kau membenci Ibu setelah mengetahui seperti apa kehidupan Ibu di masa lalu." Secara tiba-tiba sepasang mata Anastasya berkaca. Ketakutannya kali ini benar-benar nyata. Bagaimana jika Natasya jadi membencinya andai tau semuanya.


"Ibu, aku sudah dewasa. Segala apa pun di masa lalu yang ingin diceritakan, ceritakan saja. Aku akan siap mendengarnya."


"Baiklah."


Seperti sedang kembali kekehidupan bertahun silam, Anastasya secara perlahan menceritakan kehidupannya ketika masih tinggal di perkampungan dan diasuh oleh Bibi serta sang Paman.


"Kemiskinanlah yang pada akhirnya membawa Ibu untuk merantau ke Ibu kota." Dengan seksama Natasya mendengarnya. Sampai-sampai gadis itu bisa membayangkan seperti apa hidup Ibunya dulu.


Kehidupan yang tak mudah dilalui Anastasya. Bekerja di sebuah kedai sampai pusat perbelanjaan, sampai pada akhirnya menjadi seorang model berkat campur tangan seorang teman yang pada kenyataannya justru mengiringnya ke lembah hitam.


Rangga pria kaya nan bersahaja. Dari cerita sang Ibu Natasya berkesimpulan jika Kasta bukanlah halangan untuk urusan perasaan.


Sesekali Anastasya tersenyum saat menceritakan seperti apa kisahnya dengan Rangga dulu. Disitulah Natasya mampu membaca ekspresi wajah Ibunya. Rasa cinta itu masih tersisa meski sang Ibu pernah menikah dengan orang lain.


"Sepertinya Ibu sangat mencintainTuan Rangga." Natasya tersenyum miris. Apakah selama ini kebahagiaan yang terlihat di wajah sang Ibu saat bersama mendiang Ayahnya adalah sebuah kepalsuan.


"Ketahuilah, Nak. Meski pun dulu Ibu mencintai Tuan Rangga, tetapi Ayahmu adalah sumber kehidupan Ibu. Kami bertemu atas garis sang pencipta. Kami, dua insan yang sama-sama pernah merasakan sakitnya hidup karna sebuah ikatan, justru dipersatukan oleh takdir." Anastasya bercerita seperti apa kisahnya dengan Kenan dulu. Perjuangan mereka sampai pada akhirnya memantapkan diri untuk menikah. Semuanya tidaklah mudah dan Anastasya ingin putrinya tau akan hal itu.


"Lalu hubungan Ibu dengan Tuan Arka?." Lebih tepatnya Natasya pun penasaran. Ibunya pernah menikah dengan Tuan Arkana, Lalu dengan Tuan Rangga?.

__ADS_1


"Tasya, Ibu ingin kau berjanji untuk tak membenci Ibu setelah kau tau semuanya. Bagaimana?." Anaatasya menatap penuh harap pada sang putri. Wajahnya terlihat mengiba. Entahlah, perempuan itu bahkan tak bisa lagi untuk berfikir jernih.


"Kau adalah Ibuku, perempuan hebat yang sudah melahirkan serta membesarkanku jadi mana mungkin putrimu ini akan membencimu."


Anastasya yang tak kuasa menahan haru, menciumi punggung tangan sang putri dengan mata berkaca-kaca. Perempuan itu benar-benar takut. Takut jika dirinya akan dibenci sang putri karna masa lalunya.


"Malam itu, karna jebakan seseorang Ibu dan Tuan Rangga mengonsumsi minuman beralkohol. Kami tak meminum banyak, namun Ibu yang memang tak terbiasa mendadak tak sadarkan diri sama Tuan Rangga mengantar Ibu pulang ke apartemen. Sampai pada malam itu, menjadi awal dari segala prahara yang ada. Kami melakukannya, dengan kondisi Ibu yang tak sadar."


Natasya terkesiap. Ia tersentak namun berusaha untuk tetap tenang meski kedua tangannya terkepal erat.


"Pada akhirnya Ibu mengandung, ditengah situasi pelik antara Tuan Rangga dengan orang tuanya yang menentang hubungan kita." Kini air mata Anastasya benar-benar luruh. Perempuan itu menangis di hadapan putrinya yang mematung. Antara marah terkejut namun juga menangisi kisah Ibunya.


"Tuan Arka yang pada akhirnya menjadi dewa selamat. Beliau yang merupakan sahabat karib Tuan Rangga, mengambil alih kewajiban Tuan Rangga untuk menikahi Ibu saat Tuan Rangga sendiri dikirim ke negara XX oleh orang tuanya untuk urusan kerja." Anastasya tertawa mirip. "Sedangkan kami tau jika kami sengaja dipisahkan sebab orang tuan Tuan Rangga memang tak menghendaki Ibu menjadi menantunya."


"Lalu, kandungan Ibu dan di mana bayi itu?. Jadi, aku punya saudara?."


Anastasya mengangguk samar lalu menjawab, "Ya, tapi dia sudah meninggal hanya selang beberapa jam setelah Ibu lahirkan."


Natasya menghela nafas dan spontan menubruk tubuh sang Ibu. Kini, Natasya menangis. Tersedu dalam dekapan sang Ibu yang teramat ia sayangi.


Tbc.


Membahas kehidupan Anastasya di masa lalu pasti membuat air mata otor ikut menetes. 😢

__ADS_1


__ADS_2