CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Obsesi


__ADS_3

Mendung pekat menyelimuti langit malam. Angin, bertiup kencang. Menggugurkan dedaunan hingga jatuh menyedihkan di atas tanah lapang. Praja menikmati kesendirian di temani segelas teh hangat sebagai penyirna dahaga.


Satu sisi hati pria paruh baya itu bahagia, selepas menyaksikan pesta pertunangan sang putri bersama seorang pria baik yang Praja yakini bisa menjaga sang putri untuk mengantikan dirinya kelak. Akan tetapi di sisi lain perasaan sedih masih jua menghantui. Kasus Arum dan Larasati sudah mulai bergulir di meja hijau. Kasus penusukan Erich sudah didalami begitu pula kasus-kasus lain yang pastinya dapat memperberat hukuman yang nantinya diterima oleh ibu dan anak tersebut.


Praja tak menyangka jika pernikahannya dengan Arum-lah pemicu terbesar dalam kehancuran rumah tangganya. Laura meninggal hingga penyakit mulai menyerang tubuhnya.


Andai aku bisa mengendalikan hawa nafsu, mungkin semua tidak akan berakhir seperti ini.


Pria paruh baya itu menghela nafas dalam. Rintik hujan mulai membasahi bumi. Praja mendekap lengannya sendiri yang terbungkus sweter untuk menghalau rasa dingin yang mulai menusuk hingga ke tulang.


Rupanya rencana kepulangannya ke ibu kota, hanya tinggal wacana saat Erich menahan dan memintanya untuk tetap tinggal hingga pernikahan Isabel digelar.


Selama beberapa hari ini pun ia mendapatkan perawatan khusus dari ahli terapis untuk memperlancar proses belajar berjalannya kembali. Sunguh perubahan pesat saat Praja sama sekali tak kesulitan untuk menggerakan kaki bahkan berjalan. Tak patah semangat ia terus berlatih untuk mengembalijan kondisi tubuhnya seperti sedia kala. Sekiranya itu pun akan menjadi kado terindah yang bisa ia berikan kepada sang putri dihari bahagianya nanti.


💗💗💗💗💗


Sementara itu sepasang kekasih yang masih malu-malu menunjukan cinta, tengah menghabiskan waktunya di dapur, berkutat dengan bahan-bahan pangan untuk makan malam.


"Kakak bisa memasak?" Isabel mencondongkan wajahnya kedepan. Melihat apa yang sedang dimasak sang kekasih lebih dekat.


Waw, udang saus padang.


"Wah, kakak benar-benar bisa memasak," pekik Isabel girang. Sementara Ernest tersenyum tipis seraya mengaduk masakan yang masih di dalam teflon dengan spatula.


"Sebelum menemukan bibi, aku mengurus keperluanku sendiri. Ya, seperti untuk urusan mengisi perut, aku kerap memasaknya sendiri." Bibi yang dimaksud Erich adalah Asisten rumah tangganya.


Sudut bibir Isabel melengkung. Kagum? Tentu saja. Untuk pria nyaris sempurna seperti Erich, rupanya ia tak segan memasak untuk dirinya sendiri tanpa mengharapkan orang lain. Luar biasa.


"Hebat," puji Isabel tanpa bisa menutupi kebenaran.


Erich tergelak, senang begitu mendapat pujian dari seorang gadis yang ia cinta.


"Kau bisa memasak?" Erich melirik Isabel. Gadis itu pun mengangguk seraya tersenyum simpul.

__ADS_1


"Ya, aku sering membantu pelayan di rumah untuk menyiapkan makanan. Seperti yang Kakak tau, aku diperlakukan lebih mirip seorang pelayan dari pada anak oleh Ibu Arum, jadi memasak memasang sudah menjadi rutinitasku beberapa tahun ini."


Deg.


Erich tersentak. Iya tak sadar dengan pertanyaan yang sepertinya membuat Isabel mengingat perlakuan buruk yang dilakukan Arum selama ini. Ia bahkan dipertemukan dengan Isabel saat gadis itu bekerja menjadi ofice girl khusus ruangannya.


"Em, maaf. Maksudku bukan begitu."


"Ah, kakak. Santai saja." Menyadari raut bersalah sang kekasih, Isabel mencari cara untuk kembali mencairkan suasana. Mungkin Erich belum terlalu tau tentang hidupnya di masa lalu, jadi wajar saja jika pria itu sedikit mengulik tentang kehidupan pribadinya yang masih dalam batas sangat wajar.


Erich kembali melanjutkan aktifitas memasaknya dengan ditemani Isabel yang menatap penuh kagum pada pria tampan yang kini sudah berstatus menjadi tunangannya. Erich tampak lues dan cekatan, hingga udang saus padang hasil karyanya sudah berpindah ke dalam piring saji berukuran sedang.


"Waw." Isabel bertepuk tangan riang saat Erich memindahkan piring saji berisikan masakan olahannya ke atas meja makan bersanding dengan beberapa makanan lain hasil olahan bibi pelayan.


Makan malam kali ini hanya mereka nikmati berdua. Penghuni rumah lain seakan memberikan waktu dan tempat bagi sepasang kekasih itu lebih dekat. Lebih mengenal satu sama lain selama menunggu hari pernikahan terjadi.


"Hem, ini enak," puji Isabel pada masakan Erich begitu masuk ke dalam mulut. Sungguh, Isabel tak berdusta, rasa masakan itu benar-benar enak.


"Heem, benar." Isabel bahkan memberinya dua jempol sebagai simbol kata 'mantap'.


"Seenak apa?" Lagi, Erich terus menggoda yang mana membuat Isabel salah tingkah.


Erich terpana. Wajah Isabel terasa kian menggemaskan saat malu-malu dan salah tingkah ssperti saat ini. Sumpah demi apa pun Erich semakin kecanduan untuk terus menggoda sang pujaan hati hingga kedua pipi gadis itu merona.


"Kakak, hentikan," rengek Isabel yang tak mampu lagi untuk menatap wajah sang kekasih saking malunya.


Eric tergelak. Makan malam kali ini terasa begitu istimewa baginya.


💗💗💗💗💗


Seorang sipir mengiring langkah Larasati kesebuah ruangan yang tersembunyi dari beberapa sel milik narapidana lain. Menyusuri lorong gelap, Larasati terus merapal doa seiring langkah kakinya. Samar, dari radius beberapa meter terdengar teriakan seseorang yang begitu familiar saat menyapa indra pendengaran Larasati.


Langkah gadis itu kian berat. Mendengar teriakan dan raungan perempuan yang sudah melahirkannya dari kejauhan saja sudah seperti meremukan seluruh tulang dalam tubuhnya.

__ADS_1


Bulu kuduknya meremang. Berbagai bayangan mengerikan tetang kondisi sang ibu sudah bergentayangan di kepala.


"Aaaaaa" Suara teriakan diikuti benda-benda yang terlempar, kembali mengejutkan Lara. Tepat di satu ruangan seorang sipir yang berjalan di depannya menghentikan langkah.


Brak


Brak


Larasati sontak menengok ke arah sumber suara.


"Ibu," lirih Larasati begitu pandangannya menangkah sosok tubuh yang ia yakini sebagai ibunya. Rambut gimbal dengan pakai robek di beberapa sisi membuat Arum nyaris tak dapat dikenali meski oleh putrinya sendiri.


"Ibu." Larasati berlari hingga menubruk teralus besi yang mengurung tubuh sang ibu. Arum sendiri tak menanggapi, ia justru terlihat berbicara sendiri kemudian melempar barang-barang di sekitarnya kesegala arah hingga menimbulkan suara bising.


"Ibu, hentikan!" Larasati berteriak saat sang ibu berusaha menyakiti dirinya sendiri dan mengoyak pakaiannya dengan kedua tangan.


"Ibu, apa yang sudah ibu lakukan? Sadarlah! Ibu bisa terluka, hentikan ibu!" Tak tega, bulir bening lolos begitu saja dari sudut mata Lara. Gerakan kasar kedua tangan Arum pada tubuhnya menyebabkan luka cakar hingga menimbulkan darah. Arum pun meracau dan tak segan berteriak juga mengumpat kata-kata kasar. Tertawa senang kemudian menangis tersedu. Arum kian kehilangan kewarasan. Larasati hanya bisa membekap mulut, membungkam tangis agar tak bersuara.


"Seperti yang anda lihat. Ibu Arum mulai kehilangan akal sehat. Beliau bisa menyakiti diri kapan pun. Kami tidak berani untuk memborgol ibu Arum, sebab tak ingin jika beliau semakin terluka. Tidak ada cara lain, kami harus membawa Ibu Arum ke rumah sakit jiwa untuk mendapatkan penangan sebelum beliau tak dapat lagi dikendalikan."


Ya tuhan.


Larasati tak lagi mampu menyembunyikan tangis. Setragis inikah hidupnya dengan sang ibu saat ini?


Cobaan seperti apa lagi yang harus kami lalui.


"Bersabarlah." Sipir tersebut menepuk bahu Larasati yang terguncang akibat tangis. Ia tatap lagi tubuh sang ibu yang tengah tertawa dengan mulut komat kamit mengucap beberapa kalimat.


"Hai, kenapa terus menatapku? Kau iri padaku? Hem, iri pada kecantikanku?" Arum tergelak sembari menujuk Larasati yang masih terpaku di tempatnya semula.


"Katakan jika kau iri padaku? Iya padaku, Arum Praja Diwangka, Istri dari Praja Diwangka yang kaya raya." Arum tergelak begitu merampungkan ucapannya. Ia mengusap kedua tangan yang penuh luka seakan memamerkan seluruh perhiasannya.


Larasati menangis kian kencang. Kepalanya menggeleng-geleng tak percaya. Sang ibu bahkan sampai kehilangan kewarasan karna obsesinya. Obsesi kaya yang berakhir menjadi gila.

__ADS_1


__ADS_2