CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Tanpa Sadar Mengaguminya


__ADS_3

Semilir angin mengibarkan tirai tipis yang jendelanya dibiarkan sedikit terbuka. Cuaca diluar cukup terik dengan mentari yang tampak menyinari semesta. Di Tas ranjang perawatan seorang gadis yang masih terbaring, mengerjapkan mata sembari menatap langit-langit ruangan yang beberapa hari ini menjadi tempat tinggal untuknya.


Bosan.


Gadis itu hanya menghela nafas dalam. Ia melirik kearah pintu, berharap ada seseorang datang dan bisa menjadi teman bicara untuknya.


Beberapa saat lalu Praja memang sudah menemaninya dengan waktu cukup lama, hingga kondisi kesehatan pria paruh baya itulah yang membuat Arka berinisiatif untuk membawanya beristirahat terlebih dulu di ruangan yang sudah dipersiapkan dan mempercayakan penjagaan Isabel pada orang lain. Akan tetapi hingga tiga puluh menit berlalu seseorang yang diutus Arka tak jua menampakkan diri yang mana membuat Isabel mulai merasa bosan.


"Aku yakin ayah pasti bersedih begitu melihat kondisiku yang seperti ini." Isabel bergumam. Momen haru pertemuan Antara dirinya dan sang ayah kembali terngiang.


"Kenapa Tuan Erich beserta keluarga begitu baik padaku?" Selain karna takdir, keluarga Erich pun pastinya memiliki peran besar dalam menyelamatkan nyawanya kali ini.


Isabel berdesis. Rasa nyeri dibagian perut terasa menusuk meski tak sesakit saat ia baru saja sadar satu hari lalu. Entah berapa jahitan yang ia dapat, tapi gadis itu bisa merasakan jika luka tusuk di bagian perutnya cukuplah dalam bahkan sampai menyentuh beberapa bagian vital di dalam tubuhnya.


"Andai aku membiarkan mereka mengambil semua milik ayah, tentu kejadiannya tak seperti ini," sesal Isabel setelah ia tersadar jika jalan yang ia pilih justru menyeret orang lain untuk masuk ke dalam permasalahan keluarganya.


"Kau sudah bangun?" Tanya seseorang yang tanpa Isabel sadari sudah berdiri di dekat ranjang perawatan.


Isabel terkesiap. Ia tatap sesosok bertubuh tinggi menjulang yang kini menatapnya dengan seulas senyuman.


Isabel menganggukan kepala. Ia juga membalas senyum Erich dengan senyum serupa.


"Bagaimana, apa masih terasa sakit?" Erich kembali melempar tanya. Pria dengan stelan jas rapi yang membalut tubuh tegapnya itu menarik satu buah kursi untuk lebih mendekat pada Isabel yang terbaring di ranjang perawatan.


"Em, sedikit," jawab Isabel.


Erich menatap saksama pada gadis yang terbaring di hadapannya. Wajah ayu itu masih nampak pucat. Begitu pun dengan kondisinya yang masih terbilang lemah.


"Kau sudah makan?" Setelah bertanya spontan Erich menatap ke arah nakas, mencari keberadaan nampan berisi makananan yang biasanya disiapkan oleh para perawat. Pria itu menghela nafas begitu mendapati makanan dalam beberapa mangkuk berukuran sedang itu masih tak tersentuh.


"Kau masih belum makan?" Tanya Erich sekali lagi.


Isabel hanya menganggukan kepala sebagai jawaban dan didetik berikutnya gadis itu langsung menundukan kepala.


"Kenapa kau tidak memakannya?"


"A-aku, masih belum lapar," Tampak ragu Isabel memberi jawaban. Sebenarnya bukan itulah jawaban kenapa Isabel engan untuk makan. Delang infus yang membelenggu tangan, membuatnya tak leluasa bergerak. Terlebih tak ada seorang pun yang menjaganya bahkan perawat sekali pun.

__ADS_1


"Semula perawat yang membawakanmu makanan berniat untuk membantumu, hanya saja melihatmu yang sedang tertidur pulas membuat mereka tak berani membangunkan." Setelah berucap Erich tersenyum lembut ke arah Isabel. Ia pun lantas meraih nampan yang berada di nakas lantas melabuhkannya ke atas pangkuan.


"Baiklah, aku tau jika kau lapar. Maka dari itu, pilihlah satu dari beberapa hidangan ini untuk lebih dulu kau nikmati." Erich sengaja mendekatkan nampan ke hadapan Isabel. Wajah gadis itu sontak merah, menahan rasa malu yang tak terkira.


Haduh bagaimana ini? Aku malu.


Mendapati Isabel tak kunjung merespon ucapannya, Erich justru menjawil hidung lancip Isabel yang mana membuat gadis itu dibuat gelagapan.


"Kenapa melamun? Aku memintamu untuk memilih, bukan memelototinya," goda Erich yang membuat Isabel semakin malu tak terkira.


Erich tergelak, menampakkan kedua lesung di pipi kiri dan kanan yang kian menambah kadar ketampanan sang pria.


Isabel terpesona, dengan jarak sedekat ini gadis itu bisa melihat secara detail stuktur wajah sang pria yang seolah terkombinasi secara sempurna. Gadis itu tertegun. Tanpa sadar Isabel menatap wajah pria itu begitu dalam.


Erich mengernyit. Kebingungan saat Isabel justru menatapnya tanpa kedip. Ia menunduk. Meneliti penampilan, takut jika ada yang tak sesuai. Tidak ada yang salah, begitu fikir Erich setelah memastikan jika tak ada yang salah dengan penampilannya. Akan tetapi kenapa Isabel memasang wajah demikian?.


"Hei, Isabel. Kau baik-baik saja?" Erich bahkan mengoyang-goyangkan tangan untuk membangun kesadaran Isabel dan begitu gadis itu mengerjap, Erich pun menyudahi gerakan tangannya.


"Ya, ada apa?" Terlalu gugup Isabel justru balik bertanya.


"Tidak, tidak ada apa-apa. Aku akan membantumu untuk makan. Ayo, pilihlah salah satu dari mereka yang ingin lebih dulu kau makan." Erich mendekatkan kembali nampan yang dipegang ke hadapan Isabel. Meski pun sempat malu-malu, namun Isabel pun mengikuti ucapan Erich.


Malu-malu Isabel mulai membuka mulutnya.


"Huup." Erich berperan layaknya tengah menyuapi bocah saat ini. Sesendok berisi nasi dan kawan-kawan mulai masuk ke dalam mulu Isabel.


"Pintar," puji Erich setelah beberapa suapan lancar mendarat tanpa kendala. Tak terkira semerah apa pipi Isabel saat ini. Rasanya begitu malu luar biasa. Terlebih ini untuk kali pertama dirinya disuapi oleh laki-laki selain ayahnya.


"Ka, sudah. Aku sudah kenyang." Isabel memasang wajah memelas. Meminta pada Erich untuk menghentikan aksi suap menyuapinya. Selain rasa malu, perutnya pun sudah terasa kenyang. Selepas penusukan mungkin perutnya masih memerlukan adaptasi agar jangan lebih dulu banyak di isi.


"Benarkah? ini bahkan belum habis separuh?"


"Sudah. Cukup, kak." Isabel menolak tegas.


"Ya, baiklah. Aku mengalah." Erich menyerah. Ia merapikan bekas makan dan mengembalikan nampan tersebut ke tempatnya semula.


Hening. Suasana mendadak hening, hanya ada suara jam dinding yang berdentang.

__ADS_1


Isabel memberanikan diri untuk menatap wajah Erich. Setelah begitu banyak peristiwa yang terjadi, gadis itu kembali tak bisa menahan diri untuk berterimakasih pada pria yang belakangan ini sukses menjadi hero dalam hidupnya.


"Ka, sekali lagi, terimakasih."


Erich yang tengah merapikan posisi duduknya agar terasa nyaman itu menghela nafas dalam.


"Apakah tidak ada kalimat lain yang bisa kau ucapankan selain kata itu? Aku bosa Isabel, kau terlalu sering mengatakannya akhir-akhir ini." Sudut bibir Erich tertarik. Rupanya pria itu menahan untuk tak tertawa. Ya begitulah adanya. Isabel terus saja berterimakasih, padah al Erich menganggap jika apa yang ia lakukan adalah bentul kewajaran, di mana sat melihat seseorang yang butuh bantuan maka kita pun harus bersedia untuk mengulurkan tangan.


Isabel memanyunkan bibir. Merasa jengkel saat ucapannya ditanggapi ledekan oleh Erich. Sementari Erich yang tanpa sengaja melihat pemandangan itu spontan mengalihkan pandangan.


Kenapa dia semenggemaskan ini.


Erich nyaris tak bisa menahan diri. Bibir cemberut itu justru kian membuat wajah Isabel semakin menggemaskan.


"Seperti yang pernah aku katakan padamu sebelumnya, selama kau tinggal di rumahku maka kau pun menjadi tanggung jawabku. Tentu kau masih ingat 'kan, Isabel?" Tanya Erich tegas.


Isabel sontak menganggukkan kepala.


"Bagus. Jadi berhentilah untuk terus mengucapkan kata 'Terimakasih' padaku. Aku tidak sebaik itu, Isabel. Di luaran sana pasti banyak sosok penolong yang lebih baik dariku."


Lagi, Isabel menganggukan kepala.


"Sekarang, beristirahatlah," titah Erich yang langsung ikut membantu merebahkan tubuh Isabel hingga terbaring. Menarik selimut hingga sebatas dada yang membuat tubuh gadis itu terasa hangat.


Erich mengeser kursi tempat duduknya kembali ke tempat semula. Isabel memantau seluruh gerak gerik Erich. Mulai dari pria itu melepaskan jasnya dan menaruhnya begitu saja di atas sofa, hingga pria itu duduk di sofa yang letaknya tepat berdampingan dengan jendela kaca yang memperlihatkan pemandangan kota dari ketinggian.


Isabel membulatkan sepasang mata. Dibuat keheranan sebab Erich tak kunjung pergi dari ruangannya dan justru duduk di sofa seraya membaca surat kabar yang memang sudah tersedia.


Isabel sontak memejamkan mata. Pura-pura tertidur, saat Erich menoleh ke arahnya.


Huh, untung tidak ketahuan.


Merasa tak ada suara atau pun pergerakan dari Erich. Isabel memberanikan diri membuka sedikit matanya. Dari celah sempit itu Isabel bisa melihat begitu fokusnya Erich pada lembaran kertas yang sedang ia baca. Jas yang semula ia lepas dan kini hanya menyisakan kemeja berwarna putih yang bagian lengannya digulung hingga kesiku, kian menambah kesan berwibawa seorang Erich Surya Atmadja.


Isabel kembali memejamkan mata saat tanpa sengaja bisa menangkap dada sixpack Erich ketika kancing kemeja itu tanpa sengaja terbuka dibeberapa bagian. Entah terbuka, atau Erich sengaja dibuka karna kepanasan.


*Ya tuhan, mata perawanku sudah ternoda sekarang.

__ADS_1


Tbc*.


__ADS_2