
"Nyonya Anastasya."
Bibir pria paruh baya itu bergetar seiring menyebut sebuah nama perempuan yang dulu pernah ia kenal. Pria yang tak lagi muda namun memiliki badan terjaga itu masih duduk terpekur. Di sebuah ruangan, ia memilih menyepi. Malam yang semakin larut tak jua menghantarkan rasa kantuk. Prama, pria itu justru terhanyut dalam fikirnya, sebuah kenangan yang sejatinya tak pernah ia lupa.
"Saya terima nikah dan kawinnya Azzara Biantika Binti Jamil Rusli dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
Pagi itu, terjadi sebuah peristiwa besar di sebuah rumah keluarga tempatnya bekerja. Kala itu, Prama masih menjadi pengawal junior di keluarga Atmadja. Sebuah peristiwa yang sejatinya tak akan pernah diduga oleh semua orang yang cukup mengenal Arkana Surya Atmadja. Pria yang Pram panggil dengan sebutan Tuan muda itu menikah. Akan tetapi ini bukanlah pernikahan pertama melainkan pernikahan yang ke dua. Siapa yang akan mengira, bahkan Prama yang notabene baru beberapa tahun bekerja saja tak pernah menyangka.
Para pelayan apalagi pengawal tak ada yang berani membahas apalagi mencari tau. Mereka hanya menjalankan tugas yang sudah diperintahkan tanpa banyak bertanya. Sebab bukan hanya pernikahan kedua sang Tuan yang menyita perhatian, pernikahan pertamanya pun juga dipenuhi prahara.
Nona Azzara Biantika, gadis bertubuh mungil dan memiliki para jelita itu resmi dipersunting Arka setelah beberapa hari sempat menginap di kediaman pria tersebut. Entah apa yang melandasi terjadinya pernikahan kedua tersebut, namun yang pasti Anastasya sebagai istri pertama justru terlihat bahagia. Berbanding terbalik dengan mempelai perempuan yang terlihat sedih.
Anastasya, Prama bahkan masih mengingat dengan jelas wajah mantan istri sang majikan. Meski hanya beberapa tahun menjadi istri dari Arka, namun siapa yang tau jika perempuan tersebut nyatanya masih dikenang oleh sebagian orang yang dulu pernah melayani keperluannya.
Beberapa waktu lalu Prama tak menyanggupi permintaan sang Nyonya, pun tak jua menolak. Pria itu masih menimang, antara ingin mencari tau atau justru bersikap tak mau tau.
Dalam hati sesungguhnya ia merutuki sikap sang Nyonya yang mengutus satu orang pengawal tanpa pertimbangan matang, dan apa yang terjadi tak pelak membuat dirinya sebagai pengawal senior terkena imbas.
Semalam nomor asing menghubunginya lewat panggilan selular. Seseorang di seberang meminta bertemu di sebuah tempat. Tempat yang rupanya cukup jauh dari keramaian.
Prama ditemani dua orang rekan lekas menuju lokasi. Rupanya sebelum mereka sampai ada sebuah mobil yang terparkir dengan beberapa pria berban tegap yang berdiri di beberapa sudut.
"Waktu kami tidak banyak, hanya ingin mengantarkan seseorang yang sudah berani memata-matai rumah orang lain, tanpa permisi." Seseorang dari beberapa pria itu buka suara.
Sementara dua orang lain bergerak membuka pintu bagasi dan mengeluarkan tubuh Reza yang tak berdaya.
__ADS_1
Prama terkesiap.
"Loh, ada apa ini?." Prama cukup tersulut emosi. Ia lekas mengambil alih tubuh lemah Reza seolah meminta penjelasan.
"Kami tidak bisa berbicara banyak, namun satu yang pasti. Dia sudah berusaha mengintai majikan kami dan kami pun tak akan pernah membiarkan itu terjadi." Selepas berucap, mereka pun lekas memasuki mobil dan meninggalkan Pram dengan segudang pertanyaan.
Pram dan ke dua rekannya kemudian membawa Reza ke rumah sakit. Memberi pertolongan pada Reza yang kala itu pingsan dengan luka-luka di sebagian tubuh dan wajahnya.
Pram kembali tersadar dari bayangan peristiwa semalam. Jika melihat dari air mata dan wajah sendu sang Nyonya, mungkin jika dirinya kini yang akan bergerak. Tapi dia akan memulainya dari mana?. Lagi pula sang Nyonya juga berpesan agar masalah ini jangan sampai terendus oleh sang Tuan.
Ya, Tuhan. Aku harus apa?.
💗💗💗💗💗
"Ada apa lagi. Sepertinya masalah yang semalam tidak perlu diperpanjang lagi."
Tak sulit bagi Pram untuk bisa menemukan beberapa pria tersebut sebab sebelum mereka pergi semalam, Pram sudah mencatat plat mobil yang mereka pakai dalam ingatan, hingga di tempat inilah mereka kembali bertemu. Sebuah sudut taman yang
"Bukan, sebenarnya bukan untuk masalah itu aku meminta pada kalian untuk bertemu."
"Lalu untuk apa lagi?." Pria itu terlihat tak suka, nampak dari nada bicaranya yang sama sekali tak bersahabat.
Pram menarik nafas dalam. Sepertinya akan susah untuk menjelaskan maksud tujuannya pada pria yang sepertinya pengawal dari Anastasya tersebut.
"Sebelumnya atas nama Reza, aku meminta maaf sebab sudah mengganggu kenyaman dari Nona Natasya dan keluarga."
__ADS_1
"O, tentu saja. Dia bukan hanya mengganggu tapi sudah bersikap kurang ajar." Pria itu menatap tajam pada Pram.
"Maaf, sesungguhnya bawahanku bukan berniat seperti itu, hanya saja.."
"Maaf, aku tidak punya banyak waktu. Jika tak ada hal penting lagi yang ingin kau katakan, maka aku undur diri." Pria itu bangkit namun lekas di tahan oleh Pram.
"Tunggu!."
Pram berseru sementara tangannya menahan pergerakan tubuh sang lawan bicara.
"Aku butuh bantuanmu." Pram lekas mengulurkan puluhan lembar foto.
"Apa ini, sudah ku bilang, aku sedang tidak punya waktu untuk mengurusi masalahmu."
"Setidaknya lihat dulu foto ini, setelah itu baru kujelaskan duduk permasalahannya padamu."
Pria itu terlihat enggan, namun tak ayal rasa penasaran pun datang ketika melihat foto sang majikan.
Karim, dia adalah kepala pengawal Anastasya. Bukan Anastasya lebih tepatnya sebenarnya, sebab perempuan tersebut sama sekali tak mengetahui jika pergerakannya dipantau ketat oleh beberapa pria yang merupakan pengawal kelas atas.
Kenan, dipenghujung usia dirinya bahkan masih berfikir untuk melindungi istri dan putrinya meski sudah tiada. Beberapa bulan sebelum meninggal, bukan hanya mengurus hunian di tanah air, pria itu juga sempat merekrut beberapa pengawal yang kelak akan melindungi Anastasya dan Natasya saat kembali hidup di Indonesia.
Teror dan ancaman yang kerap di dapatkan dulu dari keluarga mendiang mantan istri, membuat Kenan harus extra waspada. Ia takut jika sepeninggalnya, keluarga mendiang sang istri akan berulah, hingga mengancam keselamatan istri beserta sang putri, dan sampai kapan pun Kenan tak akan terima hal itu.
Karim bekerja secara diam-diam. Tak terjangkau dari pandangan Natasya dan Anastasya, sampai dua perempuan itu tak pernah menyadari jika selama ini mereka telah dikawal.
__ADS_1
Begitulah adanya, mendiang Kenan memang tak pernah setengah-setengah jika menyangkut hidup istri dan buah hatinya. Bahkan kejadian pengeroyokan yang dialami Reza, baik Anastasya atau Natasya sekali pun tak mengetahui. Karim lekas menyeret Reza menjauh, agar pergerakannya tetap tak diketahui oleh sang majikan.
Tbc