CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Permintaan Maaf Andara


__ADS_3

Apa saja yang akan dilakukan kedua orang perempuan yang tengah berseteru berada dalam satu ruangan yang sama? Saling memaki, menjerit atau bahkan saling jambak?.


Di tempat duduknya Arka merasa gelisak. Duduknya tak tenang. Juga Sandy duduk di sofa yang berada di hadapannya. Ke dua pria itu tengah bergelut dengan fikiran masing-masing. Antara membiarkan, namun juga tak rela jika ke dua istri mereka terkurung di dalam ruangan yang sama dan hanya berdua saja.


"Aku benar-benar tak akan membiarkan kau dan istrimu hidup, jika sampai istriku terluka walau sedikit pun."


Sandy tak menjawab. Ia menelan salivanya berat. Dirinya juga tak menjamin jika Zara akan kembali tanpa tergores sedikitpun, mengingat akan sikap brutal sang istri bila sudah merasa tersudut. Sandy pun tak mampu menatap wajah Arka yang memasang ekspresi garang seakan-akan ingin melahapnya hidup-hidup.


Peristiwa saat dirinya dihajar oleh tangan kosong Arka masih membekas jelas diingatan. Bagaimana tangan kokoh itu membabak belurkan bukan hanya wajah tapi juga bagian lain dari tubuhnya.


Sandy bergidik ngeri. Tak bisa membayangkan sebonyok apa wajah sang istri jika sampai mendapatkan pukulan dari pria yang kini duduk di hadapannya.


Berbeda dari kedua pria yang sedang bertarung dengan fikiran masing-masing, dua orang perempuan dengan usia berbeda itu juga saling berpandangan namun tidak ada kobaran kebencian di sana.


"Dari hati terdalam, aku memintamu untuk bisa memaafkan semua kesalahanku padamu, Zara." Andara menatap iba pada Zara. Sesekali ia menunduk, seraya mengigit bibir bagian bawahnya.


Zara masih terhenyak. Ia tak menunjukan respon apa pun. Masih dibuat terkejut dengan ucapan permintaan maaf Andara. Entah itu sebuah kebenaran yang harus ia percayai ataukah justru hanya jebakan?.


"Kau pasti mengira jika ucapanku hanya bualan semata 'kan? Ya aku sadar, kau memang pantas untuk tidak akan percaya pada ucapanku."


Zara sendiri masih menatap Andara lekat. Perempuan lemah lembut itu kini menunjukan sikap tegasnya. Mungkin sekedar ingin menunjukan jika seorang Zara bukanlah perempuan selemah yang Andara kira.


"Kau pasti ingin mengetahui tentang motif apa yang mendasariku untuk melakukan semua hal itu. Mengiring putriku untuk masuk ke dalam keluargamu. Mengambil hati kemudian mengadu domba, hingga keluargamu tercerai berai."


"Benar," jawab Zara lantang. "Saat ini kita hanya berdua, dan aku ingin dengar dari mulutmu langsung tentang apa yang melandasimu, hingga tega melakukan hal selicik ini pada keluargaku?."


Andara tercekat. Terlebih menatap kearah sepasang mata Zara yang seakan begitu mengintimidasi.


"Apa kau membenciku?."

__ADS_1


Sejenak Andara masih terdiam kemudian menjawab, "Ya."


"Alasan apa yang membuat menjadi membenciku sedangkau kau sendiri tau, kita tak saling kenal?."


Pertanyaa Zara seakan menohok Andara. Benar, mereka memang tak saling kenal jika dari pandangan Zara.


"Kau memang tak mengenalku, tapi aku cukup mengenalku."


Zara mengeryit. Bingung ketika mendengar jawaban dari bibir perempuan di depannya.


"Apa maksudmu?."


"Sebentar." Andara bangkit, dia menuju sebuah meja kemudian menarik laci di salah satu sisi meja. Sepertinya Andara mengambil sesuatu yang tersimpan di dalam laci tersebut.


Andara kembali. Mendudukan kembali tubuhnya di sofa kemudian mengangsur sebuah amplop berwarna putih yang ia ambil dari laci ke hadapan Zara.


"Bukalah, dan itu adalah jawaban atas pertanyaanmu."


Perlahan Zara memberanikan diri untuk menyentuh amplop dan mulai membukanya.


Foto?.


Rupanya isi dalam benda tersebut adalah lembaran foto. Zara terbelalak saat selembar foto berhasil ia tarik keluar.


"Loh, kenapa....?" Zara dibuat tak percaya saat selembar foto itu adalah fotonya saat muda dulu. Lebih tepatnya sebelum ia merantau ke kota. Zara kembali menarik lembaran foto di dalamnya sampai habis, dan alangkah terbelalaknya, rupanya seluruh foto dalam amplop tersebut adalah dirinya sebelum menikah dulu.


"Kau sudah tau jawabannya sekarang?."


Wajah Zara masih tampak syok. Ia masih sulit mengartikan maksud Sandy dengan cara mengambil foto dirinya secara diam-diam terlebih dalam jumlah sebanyak ini.

__ADS_1


"Aku memang istri Sandy tetapi kaulah penguasa hati dan fikirannya."


Penuturan Andara sontak membuat sepasang mata bening Zara terbelalak. Spontan ia menggelengkan kepala. Menolak pemikiran Andara yang menurutnya salah besar.


"Hei, aku sudah memiliki suami. Aku juga tidak memiliki hubungan apa pun dengan Sandy. Baik itu dulu apa lagi sekarang. Lagi pula foto yang kau tunjukan, semuanya Sandy ambil tanpa sepengetahuanku," elak Zara tegas. Ia sebenarnya sudah malas untuk berhubungan dengan pria breng*sek seperti Sandy, tapi apa daya. Semua harus diluruskan, hingga menemui kejelasan. Biarlah kisah cinta Ernest dan Sandara hancur, tetapi harus ada pihak bertanggung jawab yang semula berniat mengobarkan api peperangan.


"Aku tau, tapi tidak bagi Sandy. Selama ini pernikahan kami tidak bahagia, seperti pernikahanmu."


Kali ini mungkin adalah saat yang tepat bagi Andara untuk membuka semuanya. Hubungan pernikahan tidak sehat yang dijalani dengan Sandy hingga membuatnya nyaris depresi dan memilih untuk menjalankan sebuah misi yang semula ia yakini bisa membalas rasa sakit hatinya pada Zara.


Sebuah dendam yang nyatanya membutakan mata hati. Rencana yang susun bertahun lalu dengan mengumpankan sang putri yang tak tau apa-apa.


Bibir Andara mulai berucap. Ia membeberkan pernikahannya dulu bersama Sandy yang berawal dari sebuah kesalahan. Kesalahan yang membuatnya hamil sebelum menikah. Orang tuanya yang merupakan pejabat penting daerah, murka. Mencari-cari Sandy untyk dimintai pertanggungjawaban.


Bahkan saat Sandy terkurung dalam tahanan pun, nyatanya bukanlah sesuatu yang sulit untuk membebaskannya. Hukum bisa dibeli dengan uang, dan saat itu Arka yang masih manis-manisnya membangun biduk rumah tangganya dengan Zara sama sekali tak menyadarinya.


Pernikahan itu pun berlangsung meski secara tertutup. Jauh dari pemikiran Andara yang akan menjalani indahnya hidup berumah tangga dengan seorang pria, nyatanya berbeda jauh dari kenyataan. Sandy tak mencintainya. Ia justru mendapati sebuah kebenaraan saat sang suami memiliki koleksu foto seorang gadis yang merupakan cinta dari masa lalunya.


Andara tak terima. Ia berniat untuk mengakhiri pernikahan namun dilema akan nasib janin dalam kandungan jika terlahir tanpa Ayah.


Andara mencoba kuat menjalani hidup yang ada, namun justru janinnya yang menyerah. Buah cintanya meninggal bahkan masih dalam kandungan saat dirinya mengalami stres berkepanjangan saat dalam kondisi hamil. Itulah pemicu besar dirinya mengalami keguguran.


Sesekali Andara menyeka air mata saat menceritakannya pada Zara.


Pasca keguguran Sandy mulai berubah. Ia berjuang untuk membenahi diri sekaligus perasaan. Mungkin pada saat itu ia berjuang sekuat mungkin untuk bisa melupakan Zara dan mengantikannya dengan Andara. Awalnya baik-baik saja. Hingga suatu malam dalam lelap Sandy mengigau, memangil nama Zara untuk meminta maaf, dan itu terjadi bukan hanya sekali dua kali. Di ranjang yang sama Andara membekap kedua telinga dengan bantal. Ia muak saat nama 'Zara' disebuatkan meski Sandy dalam keadaan tak sadar.


Rupanya Andara menyadari jika sang suami masih tak mampu untuk membuang Zara dalam benaknya. Sampai mereka dikarunia seorang putri, hingga bayi kecil itu tumbuh besar dan menginjak dewasa, Sandy masih belum mampu memusnahkan Zara dalam fikirannya. Hal tersebut yang membuat kesabaran Andara habis hingga mulai menyusun strategi dengan membawa serta sang anak menjadi alat balas dendamnya.


"Sejak kepulangan putraku dari kota xx beberapa waktu lalu, dia menjadi pendiam dan mengurung diri. Aku yang semula menyalahkan kebodohannya kini tak tega dengan keadaan putriku yang seperti mayat hidup. Andai diizinkan, bisakah Ernest menemui putriku barang sebentar saja. Aku tau, semua memang salahku. Mungkin dengan kedatangan Ernest akan mengurangi rasa bersalah putriku pada keluargamu. Apa kau bisa mengabulkannya?."

__ADS_1


Zara menghela nafas dalam. Bibirmya masih tetap bungkan. Tak meng-iyakan atau pun menolaknya.


Tbc.


__ADS_2